Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 60


__ADS_3

Dengan diantar supir, Mama Nuri dan Airi mengunjungi sebuah klinik kecantikan. Mereka ingin menyenangkan diri sendiri, sekaligus kalau makin cantik, juga menyenangkan suami.


Mama Nuri memilih perawatan lengkap, demikianpun dengan Airi, tentu saja dengan memilih produk yang aman untuk ibu hamil.


Saat mereka berdua tengah dilulur, Mama Nuri menggunakan kesempatan ini untuk bicara dengan Airi dari hati ke hati.


"Gimana tinggal dirumah Mama, betah gak?"


Airi tersenyum simpul, pertanyaan yang terlalu to the point. Dan jawabannya harus dipikirkan lebih dulu matang-matang sebelum keluar dari mulut. Takut melukai hati Mama Nuri pastinya.


"Betah kok, Mah." Sedikit berbohong demi kebaikan, itu yang ada dipikiran Airi.


"Tapi pasti lebih betah tinggal dirumah sendirikan?"


Ya, semua orang pasti berfikiran demikian. Dan tak mau menyangkal, Airi menganggukkan kepala.


"Apa yang membuat kamu kurang nyaman tinggal dirumah Mama, Ai?"


Kenapa pertanyaannya balik lagi kesana, jadi bingung lagi kan mau jawab.


"Apa Mama galak? Atau ada fasilitas yang kurang?" lanjut Mama Nuri.


Airi menggeleng cepat. "Enggak kok, Mah. Justru disana fasilitasnya sangat lengkap. Dan Mama juga terlalu baik. Mungkin itu yang membuat Airi sungkan."


Dua orang yang sedang melulur Airi dan Mama Nuri tampak menahan tawa. Mungkin lucu bagi mereka, fasilitas lengkap dan mertua baik, kenapa malah bikin tak nyaman? Padahal 2 hal itu, adalah keinginan semua wanita ketika sudah menikah.

__ADS_1


Mama Nuri tersenyum sambil menatap Airi yang menunduk. Dia teringat mertuanya, teringat bagaimana alm. Mama Yulia memperlakukannya dulu. Tahu seperti apa rasanya diperlakukan buruk oleh mertua, membuatnya bertekad akan menjadi mertua yang baik. Tak mau ada Nuri generasi baru yang merasakan seperti apa yang dia rasakan dulu.


"Mama tidak tahu seperti apa Bu Soraya mempelakukanmu. Tapi Mama hanya berusaha untuk tidak membedakan antara memperlakukanmu dan White. Mama menganggap kalian berdua adalah anak Mama."


Airi menoleh kearah Mama Nuri. Melihat wanita paruh baya yang kecantikannya belum luntur itu menunduk sambil tersenyum. Airi tahu wanita itu sangat baik, tapi tetap saja, rasa sungkan itu ada. Dia belum terbiasa untuk menganggap Mama Nuri seperti ibunya sendiri.


"White adalah anak kami satu-satunya. Dulu, kami sangat bahagia saat White masih kecil, rumah terasa ramai. Dan Papa Sabda, dia sangat menyukai anak-anak. Tapi saat White beranjak dewasa, rumah terasa kembali sunyi. Mama dan Papa seperti hanya hidup berdua. Apalagi saat Papa kerja, Mama kesepian. Dulu ada Mbak Tutik, Bi Diah, teman ngobrol yang asyik, tapi mereka sudah berhenti. Dan ART yang sekarang, kami tak bisa terlalu dekat, masih ada jarak, mungkin karena mereka terlalu sungkan."


Airi bisa menarik kesimpulan, jika mertuanya berharap dia dan White bisa terus tinggal disana. Paham apa yang dirasakan Mama Nuri. Wanita itu kesepian. Padahal tadi pagi dia sudah membulatkan tekad untuk mengajak White kembali kerumah mereka. Tapi melihat kesedihan dimata Mama Nuri, dia jadi tak tega mau meninggalkannya. White adalah putranya satu-satunya, apakah tak egois namanya jika dia ingin memiliki White sendirian?


"Mama ingin punya seorang putri yang bisa diajak bertukar pikiran. Bisa diajak shoping, nyalon bareng, dan mungkin mencoba resep baru didapur. Hanya itu Airi, bukan menginginkan menantu yang bisa membantu mengurus rumah tangga. Seperti apa Bu Soraya memperlakukanmu, seperti itu juga Mama ingin memperlakukanmu."


Mata Airi mulai berkaca-kaca. Mertuanya itu sangat baik, tapi demi keegoisannya dengan dalih nyaman, dia ingin merebut putranya. 1 rumah dengan 2 ratu, mungkin tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkinkan.


Airi hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Sebenarnya Mama dan Papa berharap kalian bisa tinggal selamanya bersama kami. Tapi kami tidak akan memaksa. Semua kami kembalikan pada kamu dan White. Dimana tempat yang membuat kalian nyaman."


"Nanti, Ai akan bicarakan dengan Abang tentang ini, Mah." Mama Nuri mengangguk. Rasanya plong setelah mengungkapkan isi hatinya.


...----------------...


White menatap rumah bercat putih satu lantai dihadapannya. Meski sudah pernah tinggal disana sekitar 8 bulan, ini untuk pertama kalinya dia melihat seperti apa wujud rumah itu.


Berbekal kunci ditangan, White membuka gembok pagar lalu masuk kehalaman. Melihat taman yang dulu hampir setiap pagi selalu menjadi tempat favorit Airi. Taman itu tampak tak terurus, bahkan beberapa tanamannya terlihat layu. Diantara tanaman yang layu itu, ada tanaman mawar yang sedang berbunga. Warna bunganya putih, meski beberapa kelopaknya sudah tampak berguguran, tapi tetap saja terlihat paling indah diantara tanaman yang lain.

__ADS_1


Meninggalkan halaman, White mulai membuka pintu bercat coklat didepannya. Begitu pintu itu terbuka, aroma pengap langsung tercium. Baru juga 3 bulan, tapi rumah itu sudah terlihat berdebu dan sudah mulai muncul sarang laba-laba.


White menyentuh dinding sambil memejamkan mata. Dinding ini yang dulu selalu dia jadikan pegangan saat hendak mencapai suatu ruangan. Jika dibandingkan dengan rumah orang tuanya, rumah ini sangat jauh berbeda, mulai dari ukuran, perabot, dan semuanya. Ya, rumah ini terlalu sederhana dan kecil. Dan Airi, tak pernah mengeluh saat diajak tinggal disini. Mungkin jika wanita lain, pasti akan protes.


White memasuki kamar utama, tempat dia dan Airi biasanya tidur. Meraba ranjang yang menjadi tempat mereka menghabiskan malam. Tatapan White terkunci pada sebuah foto yang ada diatas nakas. Diambilnya foto berukuran 5R tersebut lalu membersihkan kaca frame nya mengunakan tisu. Dia tersenyum menatap fotonya bersama Airi. Tak ingat kapan mereka berswafoto, tapi yang pasti, foto itu diambil disebuah taman. White menduga, itu adalah taman komplek dimana hampir setiap minggu pagi, dia dan Airi menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan kulineran kaki lima.


"Kamu sangat cantik Ai." White tersenyum sambil mengusap wajah Airi difoto tersebut. Rasanya tak bosan-bosan menatap foto tersebut, sampai dia menyadari sesuatu, dia merindukan Airi saat ini.


Setelah cukup lama menatap foto, White mengembalikan foto tersebut keatas nakas. Kembali pada tujuan utamanya, yaitu diary warna ungu yang ada didalam laci.


White menarik laci nakas, melihat yang dia cari ada didalam sana, dengan tak sabar, segera diraihnya diary tersebut.


Dia tertawa ringan melihat diary bergambar princess sofia. "Apa ini tokoh kartun kesukaannya?"


Saat membuka halaman pertama, matanya dibuat berbinar. Airi menempelkan foto pernikahan mereka disana. Dengan kebaya putih dan rambut disanggul, Airi sungguh sangat cantik. Sedangkan dia, White memijit puncak hidungnya, sumpah, penampilannya hancur. Kemeja putih, jas hitam, dan kopiah hitam. Tak ada yang salah, cuma ekspresi wajahnya saja yang tidak tepat. Terlihat sekali dia tak bahagia, raut wajah terpaksanya sangat kentara.


"Maaf," gumamnya. Airi pasti sedih melihat pengantin prianya berwajah sinis dan tampak ogah ogahan menikah. Kalau saja waktu bisa diulang kembali, dia pasti akan tersenyum lebar dihari itu. Menunjukkan pada seluruh dunia jika dia adalah pria paling beruntung dimuka bumi.


White tak sabar untuk segera membuka halaman selanjutnya. Ingin tahu apa saja yang Airi tulis disana. Bayangannya tentang list yang sangat panjang, mendadak lenyap saat dia hanya menemukan foto genggaman tangannya dengan Airi. Dan hanya ada tulisan sedikit dibawah foto itu. Karena tak bisa melihat jelas, White mengambil kacamata yang ada disaku kemejanya lalu memakainya.


Saat Abang sudah bisa melihat nanti, Ai hanya ingin terus bisa menggenggam tangan Abang. Melewati seluruh sisa hidup bersama, hingga maut memisahkan.


White tak kuasa menahan air matanya. Meski tak butuh tangan Airi untuk menuntunnya dalam beraktifitas, tapi dia butuh tangan itu untuk pegangan hidupnya.


"Kita akan selalu bersama Ai. Abang akan selalu genggam tangan kamu. Kita akan melakukan segala hal bersama, dengan bergenggaman tangan."

__ADS_1


__ADS_2