Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 69


__ADS_3

Kalau ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku. Seperti itulah kira-kira yang Airi ucapkan dalam hati. Mata wanita itu berkaca kaca saat menatap lokasi resepsi yang telah disiapkan White. Dekorasi serba putih, sesuai keinginan yang pernah Airi ucapkan dulu. Kala itu, White bertanya, seperti apakah pernikahan impiannnya. Dan hari ini, suaminya itu telah mewujudkan semua mimpinya.


"Ayo kita turun, Nak." Ajak Bu Soraya yang duduk disebelah Airi. Supir sudah membukakan pintu untuk Airi. Begitu pula dengan Abian yang sudah mengulurkan tangan untuk membantu sang kakak turun dari mobil.


Dengan digandeng Bu Soraya dan Abian, Airi berjalan menuju tempat resepsi. Didepan sana, sudah tampak White yang berdiri sambil membawa sebuket mawar putih yang akan dia berikan pada Airi.


Bu Soraya tampak berkali kali menyeka air matanya, begitupun Abian. Cowok itu ikut terharu. Hari ini, semua rasa bersalahnya pada sang kakak, langsung lenyap seketika.


White tak berkedip melihat Airi yang begitu cantik dengan balutan gaun pengantin putih pilihannya. Meski perutnya sedikit buncit, sama sekali tak mengurangi kecantikannya. Justru dimatanya, Airi tampak makin seksi.


Bu Soraya menyerahkan tangan Airi pada White. Dan setelah menyerahkan buket yang dia bawa, White menggandeng Airi menuju pelaminan. Dengan diiringi lagu beautifull in white milik Shane Filan, keduanya berjalan dikarpet merah bertabur bunga mawar. Melewati para undangan yang sebagian besar mengarahkan kamera ponselnya kearah mereka dan tampak ikut larut dalam kebahagiaan mereka.


Diantara para undangan itu, tanpa sengaja, Airi bersitatap dengan Ryu. Pria itu tersenyum padanya. Untuk pertama kalinya setelah mereka putus, hari ini Airi melihat Ryu tersenyum begitu tulus padanya. Senyum yang mampu membuat rasa bersalah Airi sedikit demi sedikit menguap. Dan disebelahnya, tampak Lovely yang tak mau lepas, terus menggandeng lengan pria itu.


Sesampainya didepan pelaminan, mereka langsung disambut dengan tepuk tangan para undangan.


Karena acara itu dibuat tak terlalu formal, tak ada MC atau apapun. White mengambil mikrofon untuk mengucapkan janji pernikahan pada Airi. Sebelah tangannya tetap menggeggam tangan Airi dan kedua matanya menatap dalam netra sang istri.


"Airi Daniza, istriku, calon ibu dari anak-anakku. Aku berjanji akan selalu menggengam tanganmu dalam suka maupun duka. Selalu ada untukmu dan manjadikanmu prioritas utama dalam hidupku. Siang boleh berganti malam, dan daun yang hijau, bisa perlahan menguning, layu, kemudian gugur, tapi tidak dengan cintaku. Sekarang, nanti dan selamanya, aku akan mencintaimu. Airi Daniza, maukah kamu selalu bersamaku. Menemaniku menghabiskan sisa hidup sampai maut memisahkan. Hingga kita dipertemukan kembali di surganya Allah?"


Airi mengangguk, bersamaan dengan itu, air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Riuh tepuk tangan langsung terdengar menggema ditempat itu.


White mengecup kening Airi lalu menunduk untuk mengecup anaknya yang ada diperut.


"Cium, cium ,cium." Entah siapa yang memulai, teriakan itu mulai kompak terdengar. Wajah Airi memerah karena malu. Tak mau membuat sang istri makin malu, White mencium bibirnya sekilas.


"Sepertinya istri saya malu untuk berciuman didepan umum seperti ini." Selorohan White langsung disambut tawa oleh semua tamu undangan.


Karena sudah ada cincin pernikahan dijari manis masing-masing, White memberikan kado kalung berlian di hari anniversary kali ini. Dia memasangkan kalung tersebut lalu kembali mengecup kening Airi.

__ADS_1


Setelah itu mereka berdansa, begitupun dengan beberapa tamu undangan lain membawa pasangan.


"Makasih," ujar Airi sambil menatap kedua manik mata White. Kedua lengannya melingkar dileher pria itu.


White menggeleng sambil tersenyum. "Ini tak sebanding dengan ketulusan kamu merawatku saat aku tak bisa melihat. Tak sebanding juga dengan cinta kamu buat pria biasa dan menjengkelkan ini. Dan ini tak ada artinya apa-apa dibandingkan kebahagiaannya yang kamu berikan padaku." Lagi dan lagi, Airi dibuat baper. Air matanya meleleh dan langsung diseka oleh White.


"Jangan bikin aku nangis dong." Rengekan Airi membuat White tergelak. Wanita itu melepaskan lengannya dari leher White lalu ganti memeluk pinggang dan menyandarkan kepala didada bidang suaminya. Sandaran ternyaman yang membuat dia merasa aman dan damai.


"Kita akan selalu berpegangan tangan. Aku tidak akan pernah melepaskan tangan kamu apapun yang terjadi. Aku mencintai Ai." White mengecup puncak kepala Airi. Matanya memanas, ikutan baper dan pengen nangis juga.


"Bang, dia gerak." Airi reflek melepaskan pinggang White dan menyentuh perutnya. Hari ini untuk pertama kalinya, dia merasakan pergerakan janin didalam perutnya.


"Benarkah?" White ikut-ikutan meletakkan telapak tangan diperut Airi.


"Yah, udah gak gerak lagi," Ujar Airi lemas.


Airi mengangguk sambil tersenyum. Usia kandungannya sudah 21 minggu, tapi baru hari ini dia merasakan janinnya bergerak. Tapi kata dokter 3 hari yang lalu saat dia periksa, keterlambatan merasakan gerak janin itu wajar terjadi jika pada kehamilan pertama.


"Sepertinya dia ikutan bahagia hari ini," ujar Airi.


White berjongkok lalu mengecup perut Airi. "Hai sayangnya Mama sama Papa, kamu lagi apa didalam? Baik-baik disana, Mama sama Papa sayang kamu."


Setelah semua acara selesai, termasuk potong kue dan melepas balon, para undangan dijamu dengan makanan yang memanjakan lidah. Setelah itu, mereka bergantian mengucapkan selamat.


Saat Ryu dan Lovely menghampiri, Airi masih merasa sedikit gugup, beda dengan White yang tampak biasa saja.


"Selamat," Ryu mengulurkan tangannya kearah Airi. Sebelum menjabat, Airi lebih dulu menoleh kearah White, setelah suamianya itu mengangguk, barulah dia menerima uluran tangan Ryu. "Selamat juga atas kehamilan kamu. Aku yakin kamu akan jadi ibu yang hebat nanti."


"Makasih," sahut Airi sambil tersenyum.

__ADS_1


Ryu lalu memberikan selamat pada White. Beberapa hari yang lalu, mereka sudah bicara panjang lebar. Dan hari ini, yang terdengar hanya obrolan ringan diselingi canda tawa yang membuat Airi seperti tak percaya. Sejak kapan mereka akrab seperti ini?


Lovely, jika dulu dia selalu jutek dan melempar tatapan sengit, hari ini untuk pertama kalinya, gadis cantik itu tersenyum ramah pada Airi.


"Selamat ya Ai. Aku ikut bahagia." Lovely memeluk Airi dan mengusap punggungnya.


"Sama-sama, Love."


"Maaf jika selama ini, aku gak pernah baik sama kamu."


"Kamu orang baik, Love. Aku tahu kenapa kamu seperti itu, tapi itu sangat wajar. Semoga kamu dan Bang Ryu segera nyusul aku dan Bang White."


Lovely melepaskan pelukannya lalu menatap Airi. "Nikah dulu dong, masa langsung nyusul hamil." Airi tak kuasa menahan kekehannya, begitupun dengan White dan Ryu yang juga mendengar.


"Jangan lupa undang kami saat kalian nikah nanti," ujar White sambil menatap Lovely dan Ryu bergantian.


"Nikah?" Ryu mengerutkan kening menatap Lovely. "Aku belum kepikiran buat nikahin dia."


"Ryu!" Pekik Lovely sambil memukul lengan Ryu. Dan seketika, tawa mereka pecah.


.


TAMAT


Makasih buat yang udah ngikutin Airi dan White sampai tamat. Doakan mereka menang even terjerat benang merah. Jika menang, pasti akan ada hadiah buat 3 orang pendukung teratas. Jadi jangan di unfavorit dulu biar kalau ada pengumuman, bisa langsung tahu.


Terimakasih semuanya, salam hangat dari Airi dan White 🥰🥰🥰🥰🥰


Yang penasaran sama kisah Ayleen, bisa baca di pelabuhan terakhir sang bad boy

__ADS_1


__ADS_2