Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 42


__ADS_3

Ryu berdiri didekat pintu ruangan tempat dia dan Airi tadi diobati. Bersandar pada dinding sambil menatap nanar punggung Airi dan White yang semakin menjauh. Cintanya telah pergi bersama perginya Airi. Dan sekarang, mau tidak mau, berat ataupun sangat berat, dia harus merelakan Airi. Dia teringat kembali obrolannya dengan Airi tadi.


"Kenapa Abang ngelakuin ini? Gak seharusnya Abang ngorbanin diri Abang buat Ai." Ujar Airi setelah dokter yang mengobati dia dan Ryu keluar dari ruangan.


"Kamu adalah prioritasku Ai. Aku akan selalu ada dan melindungimu. Aku tak akan lupa dengan janjiku saat melamarmu dulu. Aku akan menjadi guardian angel kamu." Ryu meraih tangan Airi dan menggenggamnya. Tapi tak lama, karena Airi segera menarik tangannya.


"Lupakan janji itu Bang. Aku sudah berkhianat, jadi Abang tak perlu lagi menepati semua janji Abang padaku." Airi melihat kearah lain. Dadanya terlalu desak melihat luka di kedua mata Ryu. Luka dimana dia adalah penyebab utamanya. Dia akan lebih lega jika Ryu marah, Ryu memakinya. Sayangnya, jangankan memaki, pria itu justru mengorbankan diri untuk melindunginya.


"Aku tidak bisa Ai."


"Bisa Bang," lirih Airi sambil menunduk. "Saat ini, aku adalah istri orang. Jadi aku mohon, jangan membuatku makin bersalah karena cinta dan pengorbanan Abang. Lepaskan Ai Bang. Carilah wanita lain untuk menggantikan posisi Ai dihati Abang."


"Aku tidak bisa Ai," Ryu menggeleng dengan air mata yang terus keluar. "Aku hanya mau kamu yang menjadi pendamping hidupku. Menemaniku menghabiskan sepanjang umurku, dan menuai bersamaku." Ryu hendak meraih tangan Airi tapi lebih dulu Airi menjauhkan tangannya.


"Kadang hidup memang terasa tidak adil. Apa yang kita mau, belum tentu itu yang akan kita dapatkan. Tapi ingatlah satu hal Bang. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Disaat Tuhan tidak menakdirkan kita bersama, mungkin itu memang yang terbaik."


"Aku dengar pria itu akan segera mendapatkan donor mata. Bercerailah dengannya saat dia bisa kembali melihat. Kembalilah padaku Ai."


Airi menggeleng cepat. "Pernikahan adalah janji yang dibuat didepan Allah, bukan permainan Bang. Disaat Airi sudah memustuskan menikah dengannya, itu artinya, Airi sudah berkomitmen. Airi akan mengabdikan diri pada suami Ai, karena surga Ai ada padanya Bang."


"Tapi apakah kau akan bahagia dengannya Ai?"


Airi mengangguk dengan air mata berderai. "Insyaallah. Selama Airi ikhlas menjalani semua yang ditetapkan Allah pada Airi, insyaallah Ai akan bahagia. Jadi Ai memohon pada Abang, lupakan Ai, Bang." Airi mengatupkan kedua tangannya didada. "Jangan lagi mengharapkan cinta Ai."


Ryu menunduk sambil memegangi dadanya yang nyeri. Airi memohon padanya, mungkinkah dia bisa mengabaikan permohonan itu? Tapi rasanya dia tak sanggup untuk kehilangan Airi. Tapi isakan Airi yang terdengar sangat memilukan, membuatnya lebih sakit lagi. Dengan kedua netra yang memerah, dia menatap Airi dalam.

__ADS_1


"Apa kau yakin akan bahagia dengannya?" Airi yang mesih sesenggukan hanya bisa mengangguk. Tapi rasanya Ryu masih belum bisa rela. Dia masih ingin memohon sekali lagi pada Airi. "Tinggalkan pria itu saat penglihatannya kembali. Kembalilah padaku." Dan jawaban Airi masih sama, dia menggeleng.


Tepukan dibahu menyadarkan Ryu dari lamunannya. Ternyata ada Haidar yang berdiri disebelahnya. Terlalu larut dalam lamunan, membuatnya tak menyadari kapan Haidar datang.


"Ikhlas Bro. Cinta gak harus memiliki," tutur Haidar. Tadi dia sempat berpapasan dengan Airi dan White didepan rumah sakit.


Ryu tersenyum getir. Cinta tak harus memiliki? Dia benci sekali pada kalimat itu. Terlalu mudah diucapkan, tapi sulit direalisasikan. Karena setiap orang yang mencintai, pasti ingin memiliki.


Haidar memperhatikan luka yang sudah ditutup perban dilengan bagian atas Ryu. "Aku tidak harus menanyakan tentang luka dilenganmu kan? Karena aku yakin, luka tak berdarah dihatimu jauh lebih parah dan membuatmu sakit."


"Sialan," maki Ryu sambil menatap sengit sepupunya itu.


"Kamu ingatkan Ry, sebelum janur kuning melengkung, artinya masih ada kesempatan untuk menikung. Tapi janur kuning udah terlanjur melengkung, jadi jangan coba-coba menikung."


Ryu berdecak pelan mendengar kalimat sok bijak Haidar. "Disini, aku yang ditikung."


"Ngomong-ngomong, kok kamu bisa tiba-tiba ada disini?" tanya Ryu.


"Dikasih tahu kembaran kamu."


Kembaran, Ryu mengernyit bingung. Sejak kapan dia punya kembaran. Orang yang paling mirip dia adalah papanya, Romeo serta adik bungsunya, Sakura. Tapi darimana mereka tahu kalau dia ada diklinik ini?


"Dia yang ngasih tahu aku kamu ada disini," Haidar menunjuk dagu kearah seorang gadis yang diam-diam mengintip dari jarak yang lumayan jauh.


"Lovely," gumam Ryu sambil melihat kearah Lovely.

__ADS_1


"Dia sama kamu kembar, sama-sama cinta mati. Sayangnya yang dicinta beda. Kamu cinta Airi, dia cinta kamu. Rumit, rumit, rumit," Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Heran aku sama kalian-kalian ini, sudah tahu cinta itu resikonya patah hati, tapi masih aja jatuh cinta, masih mau pacaran. Dan kalau sudah sakit hati, Allah yang disalahin, takdir yang disalahin, padahal yang salah ya ka_"


"Stop," potong Ryu. "Lenganku makin nyut-nyutan dengar kamu ceramah."


"Kok bisa gitu Ry. Perasaan kemarin pas aku ceramah disalah satu acara, semua orang tampak seneng gitu dengar tausiah aku. Terutama emak-emak sama remaja putri. Mungkin karena yang ceramah ganteng kaliya?"


"Kamu tausiah Dar?" Ryu langsung tertawa mengejek. Meski dia tahu Haidar adalah cucu pemimpin pondok pesantren yang lumayan terkenal, tapi Haidar tak secakap itu untuk menjadi seorang pendakwah. Disuruh mondok aja dia gak mau, malah milih ngelanjutin kuliah di UK.


"Ya," Haidar manggut-manggut.


"Beneran?" Ryu terlihat mulai percaya.


"Ya, setidaknya kebohonganku bisa membuatmu tertawa dan melupakan sakit hati."


"Sialan," Ryu langsung memukul lengan Haidar, tapi sialnya, dia malah lupa jika lengannya sedang sakit.


"Aduh," Ryu meringis sambil memegangi lengannya.


"Karma dibayar kontan. Makanya jangan main-main sama cucu Kyai," Haidar tampak puas sekali menertawakan Ryu. "Ry, coba deh lihat kesana." Dia menunjuk kearah Lovely. "Kamu gak ada rencana buat jatuh cinta sama dia? Kasihan loh, ngejar kamu sampai bertahun-tahun. Mulai SD Bro, bayangin."


"Gak sama sekali."


"Bagus."


"Apanya?"

__ADS_1


"Sesuatu yang direncanain, kadang malah gak terlaksana. Tapi yang gak direncanain, kadang malah terjadi dengan sendirinya. Kalau kamu gak ada rencana buat jatuh cinta sama Love, jadi kemungkinan jatuh cintanya makin besar."


"Hadeh," Ryu hanya bisa geleng-geleng.


__ADS_2