
Merasa risih pada dua orang terus memperhatikan White, Airi mempercepat makannya. Padahal sudah sejak beberapa hari yang lalu dia teringin nasi goreng ini, tapi kedua orang yang duduk dimeja belakang, membuatnya kehilangan selera makan. Ingin sekali dia menegur, tapi nanti yang ada malah terjadi keributan. Dia tak mau White tahu jika saat ini, ada orang yang sedang memperhatikan sekaligus membicarakannya.
Sampai saat inipun, mereka masih terdengar bercakap-cakap lirih. Meski tak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi feeling Airi mengatakan jika mereka masih berghibah tentang suaminya.
"Bang, kalau udah selesai, kita lanjut jalan yuk. Biar pulangnya gak terlalu malam."
"Makanan kamu sudah habis?" White mengerutkan kening. Biasanya dia yang menunggu Airi makan karena dia yang selalu habis lebih dulu.
"Tinggal dikit?"
"Baiklah." White lalu mempercepat makannya. Dan setelah selesai, mereka segera meninggalkan food court untuk jalan-jalan. Kali ini, Airi sengaja menjauhi kerumunan bahkan sebisa mungkin memilih toko sepi untuk dimasuki. Dia tak mau kejadian seperti waktu dibioskop terulang kembali.
"Kamu mau beli apa sih Ai?" tanya White saat mereka belum juga memasuki satu tokopun.
"Nanti Abang juga tahu."
Akhirnya Airi sampai didepan toko yang hendak dia datangi, sayangnya toko tersebut dalam kondisi ramai, jadi Airi urung masuk kesana. Mencari toko lain yang lebih sepi. Sampai akhirnya, dia menemukan sebuah toko aksesoris yang saat itu, tak ada satupun pembeli didalamnya.
"Ini toko aksesoris Bang." Airi menjelaskan saat mereka mulai masuk.
"Mau beli apa? Jepit."
"Hem," Airi mengangguk. "Buat nguncir rambut Abang yang udah mulai panjang." Lanjutnya sambil terkekeh pelan. Menarik-narik pelan rambut White yang sudah tumbuh sedikit panjang. "Habis ini kita ke barber shop ya Bang?"
"Terserah kamu aja. Yang penting aku terlihat tampan dimata kamu." Airi kembali terkekeh mendengar selorohan White.
Sambil terus menggandeng suaminya, Airi mulai melihat-lihat aksesoris di toko tersebut. Sebenarnya koleksinya lumayan bagus-bagus, gak kalah dengan di toko langganannya. Tapi mungkin karena harganya sedikit lebih mahal, jadi sepi pembeli.
Airi melewati deretan jepit rambut, bando dan aksesoris rambut lainnya. Karena yang dia cari bukan itu, melainkan gelang. Ya, dia ingin membeli gelang tali untuk White.
Matanya berbinar saat menemukan apa yang di cari. Banyak sekali pilihan membuat dia sedikit bingung.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu beli Ai?"
"Gelang." Airi mengambil sebuah gelang yang ada didalam plastik lalu meletakkan ditelapak tangan White.
__ADS_1
White merabanya sebentar, tapi karena masih didalam plastik, dia sulit mengetahui kira-kira seperti apa bentuknya.
"Itu gelang tali," ujar Airi.
"Jangan bilang kalau kamu ingin membeli gelang couple untuk kita?" tebak White.
"Yaps, bener banget."
Airi mengambil gelang yang ada ditangan White lalu memperhatikan detailnya.
"Ck, gak kreatif banget sih," ejek White. "Kamu niru Mama sama Papa? Merekakan juga pakai gelang couple ginian."
Airi mengerutkan kening. Dia sudah sering sekali bertemu dengan mertuanya itu, tapi tak sekalipun dia melihat mereka memakai gelang seperti ini. "Perasaan mereka gak pakai deh."
White mencoba mengingat-ingat, sampai akhirnya dia ingat jika gelang itu sudah tak lagi dipakai. Tentu saja semua itu karena protesan White. Dia merasa kedua orang tuanya sudah terlalu tua untuk memakai gelang seperti itu. "Aku kira saat aku tak bisa melihat, mereka memakainya lagi." White lalu menceritakan tentang gelang tali warna hitam yang selalu ada dipergelangan tangan kedua orang tuanya. Setelah berkali-kali dia protes, akhirnya gelang itu dilepas oleh mereka.
"Ini beneran ideku, bukan copas ide mereka. Abang tahu gak apa alasan aku milih gelang, bukan lainnya?"
"Apa?"
"Maksud kamu?" White memotong sebelum Airi selesai bicara. "Kamu mau ninggalin aku?"
"Makanya, kalau ada orang ngomong didengerin sampai akhir, jangan main potong aja," omel Airi sambil menarik tali gelang agar ukurannya pas dengan tangan White. "Maksud aku, kayak pas nanti Abang operasi. Aku gak mungkinkan nemenin Abang didalam. Saat seperti itulah, gelang ini menggantikanku. Anggap aja, aku yang lagi megang tangan Abang." White lega setelah mendengar penjelasan Airi. Padahal tadi, dia udah mikir yang enggak-enggak.
Airi membuka plastik satunya lagi, lalu meminta White memasukkan ketangannya. Meski kesulitan karena dia tak bisa melihat, tapi dengan bantuan Airi, gelang tersebut bisa melingkar indah dipergelangan tangan wanita itu.
"Bagitupun dengan kamu. Saat aku tidak ada disisimu, anggap gelang ini sebagai gantiku. Anggap aku yang sedang memegang tanganmu," ujar White sambil menyentuh gelang ditangan Airi. "Ngomong-ngomong, gelang ini warna apa Ai?"
"Pink."
"What!" White langsung melongo. Pria sekeren dan segagah dia pakai gelang warna pink, apa kata dunia coba?
Airi tak bisa menahan tawa melihat ekspresi White. Tapi saat penjaga toko datang untuk memberikan kembalian, terpaksa dia mengakhiri tawanya.
"Ini kembaliannya Kak." Gadis muda yang Airi taksir usianya sepantaran dengan Abian itu, menyodorkan uang kembalian padanya.
__ADS_1
"Ambil aja Mbak."
"Benaran Kak, makasih." Gadis itu terlihat girang. Hanya uang dengan nominal kecil, tapi bagi sebagian orang, sudah mampu membuat bahagia. "Kapan-kapan datang kesini lagi ya Kak."
Airi hanya menyahuti dengan anggukan dan senyum.
White terlihat masih galau. Sebabnya apalagi kalau bukan gelang ditangan yang mungkin membuat orang akan menertawakannya. Pink, astaga, membayangkan sebuah gelang tali warna pink dipergelangan tangan, White geli sendiri.
"Warnanya hitam Bang, aku hanya becanda tadi." White seketika bernafas lega. "Bagus banget dipergelangan tangan Abang yang berkulit putih." Airi menyentuh gelang ditangan White sambil senyum-senyum sendiri.
"Ai, boleh Abang tahu?"
"Apa?"
"Warna kulit kamu....?"
Airi langsung mengerutkan kening. "Nanti Abang juga akan tahu. Udah ayo kita keluar, katanya mau potong rambut." Airi menggandeng tangan White keluar dari toko, tak lupa berpamitan pada gadis muda penjaga toko lebih dulu.
Mereka lanjut masuk kedalam barber shop yang lumayan ramai tapi tak sampai antri karena pekerjanya lumayan banyak.
"Kayak gini ya Mas." Airi menunjukkan foto White saat masih bisa melihat dulu yang menurutnya potongan rambutnya paling cocok. Dia mendapatkan foto itu dari akun ig milik White.
Barber tersebut langsung mengangguk paham dan segera mengeksekusi rambut White sesuai foto. Karena sudah sangat profesional, hasilnya benar-benar seperti difoto. Selain itu, kerjanya juga cepat. Tapi sepadanlah dengan uang yang harus dibayarkan Airi. Tenaga profesional dan tempat sebagus dan senyaman ini, bukan rahasia lagi kalau tarifnya juga mahal.
"Kak, apa jambangnya mau dibersihkan juga?" tanya Barber tersebut.
"Tidak perlu, Mas," sahut Airi cepat.
Selesai membayar, mereka keluar dari barbershop, dan langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, White yang masih penasaran, bertanya pada Airi.
"Kenapa jambangnya gak boleh dicukur Ai? Apa menurutmu aku lebih tampan kalau berjambang?" Kalau boleh jujur, White sebenarnya kurang suka dengan jambang. Merasa tak cocok kalau dia harus memelihara jambang.
"Bukan."
"Lalu?"
__ADS_1
"Karena itu tugas Ai." White langsung tersenyum, selama ini, yang mencukur jenggot, kumis, serta memotong kukunya adalah Airi.