
Selesai bersholawat bersama, acara dibuka secara resmi oleh Ibu Kepala panti. Acara kali ini tak hanya dihadiri oleh anak-anak panti, relawan dan donatur saja, warga sekitar juga diundang. Beberapa anak panti yang sudah diadopsi atau yang sudah selesai sekolah dan keluar dari panti juga datang untuk ikut memeriahkan.
Airi tak bisa menikmati acara itu karena sejak tadi, Ryu yang ada didekat panggung menatap kearahnya. Meskipun begitu, dia sama sskali tak melepas genggaman tangannya dengan White. Bukan untuk membuat Ryu cemburu atau makin sakit hati, dia hanya ingin Ryu tahu jika dia tidak terpaksa. Airi ingin Ryu menyerah dan tak lagi mengharapkannya.
Sebuah tepukan dibahu mengejutkan Ryu. "Ada yang bisa aku bantu gak?" Ternyata Lovely yang datang. Gadis itu tersenyum lebar padanya.
"Kamu disini Love?" Ryu bahkan tak tahu jika sejak tadi, Lovely yang duduk dikursi penonton, menatap kearahnya.
Lovely membuang nafas kasar. "Makanya matanya jangan hanya fokus kesatu titik aja. Cobalah buat melihat yang lain. Sekarang kamu pahamkan Ry, apa yang aku katakan hari itu. Aku gak jahat, aku gak fitnah Airi. Dia memang terlihat mesra dengan suaminya."
"Kadang apa yang kita lihat, gak selalu bener Love."
Lovely berdecak pelan. Harus seperti apa dia menyadarkan Ryu jika Airi telah memilih pria lain. Dan itu artinya, dia harus mundur. "Jadi menurutmu, Airi cuma pura-pura bahagia dengan suaminya? Ayolah Ry, buka matamu lebar-lebar, mereka tampak seperti pasangan yang sangat serasi. Apalagi aku dengar, sebentar lagi suami Airi akan mendapatkan donor. Dia akan segera bisa melihat kembali. Memang sih belum pasti kapannya, tapi secepatnya. Dan saat itu, gak ada lagi alasan Airi buat ninggalin dia. Dia pria yang sempurna. Ya meskipun bagiku, kamu yang paling sempurna."
"Tapi ini gak adil Love. Harusnya aku yang bersama Airi, bukan pria itu."
"Adil?" Lovely tersenyum getir. "Ini juga gak adil buat aku Ry. Aku jauh lebih dulu kenal kamu, aku jauh lebih dulu cinta sama kamu. Tapi kamu malah milih Airi. Ini juga gak adil buat aku," Lovely hampir saja meneteskan air mata.
"Raisa, Raisa," teriakan dari seorang wanita yang baru masuk kehalaman panti membuat semua orang langsung menoleh kearahnya, tak terkecuali Ryu dan Lovely. "Raisa, mana Raisaku, kembalikan dia padaku." Wanita itu terus berteriak sambil mengacak acak apapun yang ada disana. Melihat itu Ryu dan beberapa orang relawan pria langsung mencoba menghentikan wanita tersebut.
Mendengar suara teriakan dan barang-baranh jatuh, White yang tak tahu apa yang teradi, jadi gelisah. Tangannya menggengam erat tangan Airi. "Ada apa Ai?"
"Gak tahu Bang, ada wanita yang tiba-tiba datang dan ngamuk-ngamuk."
__ADS_1
"Apa dia orang gila?"
"Mungkin, aku juga tidak tahu."
Wanita tersebut berontak saat dua orang pria memegangi lengannya. Acara langsung terhenti, anak-anak yang ada diatas panggung seketika semburat karena ketakutan. Begitupun dengan tamu yang ada dibangku belakang. Pekerja panti dan relawan wanita terlihat sedang menenangkan anak-anak.
"Kembalikan Raisaku, kembalikan," teriak wanita itu sambil menangis. Dia masih berusaha melepaskan tangannya dari cekalan 2 orang pria yang memeganginya.
"Astaghfirullah Bu Dini," Kepala panti mendekati wanita yang dia kenal tersebut.
"Pembunuh, kamu telah membunuh anakku. Kembalikan Raisaku," teriak wanita itu sambil menatap nyalang kearah kepala panti.
"Kami tidak membunuh Raisa Bu. Raisa sakit dan meninggal," ujar kepala panti pada wanita bernama Dini itu. Raisa adalah bayi yang dititipkan oleh Dini dipanti asuhan An-nur. Dia yang melahirkan tanpa suami, terpaksa menitipkan anaknya dipanti karena dia harus bekerja.
"Raisa, Raisa." Suara Dini mulai melemah, dia menangis tersedu-sedu. Tak tega melihat wanita depresi itu, kepala panti menyuruh 2 orang yang memegangi Dini untuk melepaskannya. Dia paham perasaan Dini saat ini, wanita itu masih terpukul atas kematian putrinya.
Kepala panti mendekati Dini yang terduduk ditanah sambil menangis. "Maafkan kami Bu. Tapi kami sudah mengusahakan yang terbaik untuk Raisa. Tapi Allah berkehendak lain, Allah lebih sayang Raisa."
Dini yang awalnya menunduk, mengangkat wajahnya. Tampak lilat amarah ditatapan matanya. Nafasnya memburu, dan wanita depresi itu, tiba-tiba mengambil pisau lipat yang dia sembunyikan disaku jaketnya.
Kepala panti yang melihat itu langsung berteriak dan menjauh.
"Kamu harus mati, kamu telah membunuh Raisaku, kamu harus mati," Dini berusaha menyerang kepala panti.
__ADS_1
Suasana makin kacau lagi. Beberapa orang pria telihat berusaha mengamankan Dini, tapi karena wanita itu mengacungkan pisau, mereka jadi kesulitan untuk mendekat.
Sekarang, Dini tak lagi hanya mengincar kepala panti. Dia menyerang siapapun yang mencoba menghentikannya.
Semua undangan berbondong-bondong menyelamatkan diri, begitupun dengan Airi dan White. Tapi kerena tak bisa melihat, tentu saja White kesulitan. Apalagi banyak orang yang sama sama panik, jadi bersenggolan dan bertabrakan.
"Ayo Bang, cepat jalan Bang." Airi menarik lengan White, tapi sialnya, tangan mereka malah tertabrak orang hingga genggaman itu terlepas dan White malah tersungkur.
Airi segera membantu White berdiri, tanpa dia sadari, Dini ada dibelakangnya.
"Ai, awas," teriak Ryu.
Airi yang terkejut langsung menoleh dan,
Sreet
Lengan Airi tergores pisau yang dipegang Dini.
"Awww," teriak Airi yang melihat Dini mengangkat pisaunya.
Jleb
Ryu mengerang saat pisau yang dihujamkan Dini menancap dilengannya saat dia berusaha melindungi Airi.
__ADS_1