
Melihat Airi melepas seatbelt, White langsung panik. Apalagi saat wanita itu membuka pintu, dua kali lipat kepanikannya.
"Loh Yang, kok turun sih?" Dengan tergopoh-gopoh, dia juga ikut turun untuk mengejar Airi.
Airi melepas gelang couple ditangannya lalu membuangnya begitu saja. Berjalan cepat untuk mengejar mobil Pak Sapto. "Mamah, Pak Sapto." Dia melambaikan tangan kearah mobil yang sudah berjalan itu. Sayangnya mobil tersebut sudah melaju cukup jauh, jadi rasanya mustahil mereka mendengar.
"Sayang, Sayang, aku tadi hanya becanda." White yang panik langsung memegang lengan Airi. Takut istrinya itu akan pergi. Mungkin mencari taksi atau apa, dan dia tak mau itu terjadi. "Jangan ngambek dong, aku hanya becanda, suer." Dia tak menyangka jika akal-akalanya membuat Airi cemburu, malah berakhir seperti ini.
"Lepas." Airi menarik tangannya kasar sambil memelototi White.
"Maaf, aku hanya becanda tadi. Mereka gak ada apa-apanya dibanding kamu." White menarik Airi kedalam pelukannya. Tak peduli jika saat ini, mereka ada ditempat umum. Dan beberapa pasang mata, tampak memperhatikan mereka. Namun justru Airi yang merasa risih.
"Jangan kayak gini, dilihatin orang."
"Ya udah aku lepas. Tapi janji kembali ke mobil."
Airi mengangguk, membuat White langsung lega. Saat menuntun Airi menuju pintu mobil, dia tak sengaja menginjak gelang yang tadi dibuang Airi. Memperhatikan sejenak lalu menunduk dan mengambilnya. "Ini gelang kamu Yang?" Tadi dia sama sekali tak melihat saat Airi membuangnya.
__ADS_1
Airi tak memberi jawaban apa-apa. Menarik kasar gelang tersebut dari tangan White lalu masuk kedalam mobil.
White menghela nafas berat lalu menyusul Airi masuk kedalam mobil. Dia memperhatikan Airi yang membuang pandangan kearah jendela dengan buket bunga dipangkuannya. Diraihnya sebelah tangan Airi lalu dia genggam erat.
"Maaf, becandaku keterlaluan ya?" White sungguh menyesal.
"Gak papa, mungkin aku aja yang terlalu baper, terlalu sensitif," jawab Airi tanpa melihat White. Saat ini pikirannya berkecamuk. Mungkin benar yang tadi hanya becanda, tapi kedepannya, dia tak yakin. Sekarang White bisa melihat. Pria itu bisa tahu jika masih banyak diluaran sana wanita yang lebih cantik dan seksi darinya. Tak menutup kemungkinan, jika suatu saat White akan tergoda. Bukankah pria yang mapan dan tampan, jadi incaran banyak wanita. Jaman sekarang, bahkan banyak wanita yang udah gak malu lagi jadi pelakor.
White melepaskan tangan Airi lalu menyalakan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang, Airi hanya menjawab setiap pertanyaan White dengan singkat, seperti orang yang malas diajak bicara.
"Bagus sekali buketnya, Ai."
Airi menoleh saat mendengar suara Mama Nuri. Wanita itu sedang berjalan kearahnya, menatap takjub buket mawar putih yang dibawa Airi.
"Mama pikir kalian bakal pulang malam, mau kencan dulu. Eh tahunya udah nyampek aja." Mama Nuri masih terkesima dengan buket ditangan Airi. "Gak nyangka kalau White seromantis ini. Papa harus dikasih tahu nih, biar niru," ujarnya sambil terkekeh pelan. Tapi melihat Airi yang tak senyum sama sekali, kekehannya langsung terhenti. "Mana White?"
"Dibelakang, Mah. Airi ke kamar dulu ya, Mah." Setelah pamit, dia langsung masuk kedalam kamar. Meninggalkan Mama Nuri yang masih terbengong karena yakin ada sesuatu yang telah terjadi.
__ADS_1
"Ada apa dengan Airi?" gumam Mama Nuri. Tak mau mati penasaran, dia mencari White kedepan untuk tanya secara langsung.
"Mah." Sapa White sambil mengeluarkan tanaman mawar dari bagasi.
"Kamu berantem sama Airi?" Bukan mau ikut campur, tapi hanya ingin tahu duduk perkara, siapa tahu bisa memberikan solusi.
"Enggak kok Mah, hanya salah paham."
"Salah paham gimana?"
White lalu menceritakan keusilannya tadi, dengan membuat Airi cemburu. Alih-alih membela anaknya, Mama Nuri malah langsung menjewer telinga White. Sampai-sampai White mengaduh kesakitan.
"Bisa-bisanya bumil kamu kerjain kayak gitu, White," geram Mama Nuri. "Bumil itu moodnya naik turun, bukannya dijaga moodnya, malah kemu isengin. Udah gitu keterlaluan pula becandanya. Biarin, nanti Mama suruh Airi ngunciin kamu diluar, biar tidur sama nyamuk."
"Mah, Mah, Mah, jangan dong," pinta White sambil memelas. Dan sebelum mamanya ngomong sesuatu pada Airi, dia cepat-cepat masuk.
"Ish, anak itu," desis Mama Nuri sambil melotot.
__ADS_1