
"Yang, harus gitu kayak gini?" tanya White saat Airi mendadaninya sebelum berangkat kerumah sakit. Topi putih, kaca mata hitam, masker hitam. Penampilannya sudah mirip artis yang lagi nyamar dari kejaran paparazi. "Aku udah kayak artis aja."
"Ya kan sekarang Abang udah jadi artis," celetuk Airi. Tapi sesaat kemudian, dia menyadari kalau sudah salah ngomong. "Maaf," dia langsung memeluk pinggang White yang saat ini berdiri dihadapannya. Menarik maskernya kebawah lalu mengecup bibirnya sekilas. "Becandaku keterlaluan ya, Bang?"
"Aku kan memang udah jadi artis sekarang." White bersyukur karena memakai kaca mata hitam saat ini. Karena kalau tidak, Airi pasti tahu kalau matanya berkaca-kaca. Menyedihkan sekali jika ingat sekarang dia sudah terkenal, dan terkenalnya dari jalur viral video syur.
Airi mengeratkan pelukannya sambil menyandarkan kepala didada bidang White. "Aku hanya gak mau Abang sakit hati dengan omongan orang. Kita gak mungkin menutup mulut semua orang, karena tangan kita hanya ada dua. Menghindar adalah cara paling tepat untuk menjaga kewarasan saat ini."
White melingkarkan lengannya dipinggang Airi, dia paham maksud dibalik Airi menyembunyikan identitasnya seperti ini. Istrinya itu hanya ingin menjaga hatinya, menjaganya kewarasannya. Andai saja bukan wanita seperti Airi yang menjadi istrinya, mungkin saja dia tak akan setegar ini menghadapi masalah. Dan mungkin istrinya sudah kabur karena kecewa dan malu.
"Kalau pelukan terus, kapan sampai rumah sakitnya," seloroh White yang langsung disambut tawa oleh Airi.
"Udah gak sabar banget kayaknya suamiku ini. Udah kepengen banget ya, bisa kembali melihat dunia?"
White menggeleng, "Aku sudah tahu seperti apa dunia, aku sudah pernah melihatnya. Yang aku tidak sabar, adalah melihatmu."
Bukannya tersipu malu, Airi justru makin gelisah. Dia melepaskan pelukannya pada White. Hatinya diliputi perasaan cemas.
__ADS_1
"Ada apa Ai?"
"Bagaimana jika Ai tak sesuai ekspektasi Abang? Bagaimana jika aku tak secantik wanita yang selama ini Abang bayangkan?"
"Kecantikan fisik bisa pudar seiring termakan usia, tapi tidak untuk kecantikan hati. Bagiku, wajah adalah pancaran dari hati. Jika hati cantik, wajahpun pasti akan mengikuti."
"Aku takut Abang kecewa," Airi kembali memeluk White.
"Percayalah, aku bukan orang yang hanya menilai kecantikan dari wajah saja." Dibelainya rambut panjang Airi penuh kasih. "Aku sudah sangat jatuh cinta padamu Ai. Dan seperti apapun wajahmu nanti, aku akan tetap mencintaimu."
White meraih tangan Airi, menempelkan telapak tangannya didada. "Kamu bisa merasakan debaran jantungku. Hanya kamu satu-satunya wanita yang mampu membuat jantungku berdebar begitu dahsyat."
Diary ungu, sengaja Airi menulis keinginannya disana. Dia takut dikala sudah berharap banyak, justru cinta White padanya hilang. Jika White benar-benar mencintainya, pria itu akan mencari tahu sendiri apa keinginannya melalui diary ungu itu tanpa dia minta sekalipun.
"Ayo kita berangkat, aku sudah tidak sabar," ajak White.
Keduanya lalu berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya disana, ternyata Mama Nuri dan Papa Sabda sudah menunggu disana. Sepertinya mereka juga tak sabar ingin putranya bisa melihat kembali. Meski hari itu Papa Sabda tampak sangat marah, dia tetap menyayangi White. Bahkan hari ini, dia sudah seperti lupa dengan kejadian tempo hari saat hendak menghajar White, pria itu malah yang tampak paling semangat mengantar White bertemu dokter yang akan melakukan pemeriksaan sebelum operasi.
__ADS_1
Setelah melalukan beberapa pemeriksaan, diputuskan jika besok pagi, White akan menjalani transplantasi kornea mata.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar dokter saat melihat wajah-wajah tegang keluarga White. "Tinggal keberhasilan transplantasi kornea mata mencapai 90 persen. Prosesnya juga bisa dibilang cepat, hanya sekitar 1 jam. Tekhnologi sekarang sudah sangat maju, bahkan pasien bisa langsung pulang setelah operasi jika tak ada hal yang serius."
"Apa saya langsung bisa melihat setelah operasi Dok?" White benar-benar tak sabar ingin segera mendapatkan kembali penglihatannya.
"Semua butuh proses, Pak. Begitupun dengan kornea mata. Jika tak terjadi penolakan, anda akan bisa melihat, namun."
"Namun apa?" tanya White.
"Tidak bisa langsung jelas seperti dulu sebelum mengalami kebutaan. Mungkin dalam minggu-minggu awal, penglihatan masih buram. Tapi makin lama, akan semakin jelas."
White bernafas lega, begitupun dengan kedua orang tuanya maupun Airi.
Pagi ini, sesuai jadwal, White sudah bersiap untuk melakukan transplantasi kornea.
"Apa Abang takut?" Airi merasakan jika tangan White mulai dingin. Pria itu tampak sangat gugup.
__ADS_1
"Sedikit."
Airi menyentuh gelang tali ditangan White. "Airi selalu pegang tangan Abang. Dan Ai juga akan terus berdoa untuk Abang. Abang akan segera bisa melihat lagi. Semangat!" Airi mengecup pipi White agar lebih tenang.