
Begitu Neha membalikkan badan dan sedikit bergeser, Ryu bisa melihat jelas dengan siapa Neha bicara.
"Airi," gumam Ryu. Dia bergeming menatap nanar Airi yang sedang memegang lengan suaminya. Ryu memalingkan wajah, berusaha mengenyahkan bayangan kejadian beberapa hari yang lalu, saat Airi berciuman dengan White didepan mata kepalanya.
Neha, wanita itu pamit pada Airi dan White lalu menghampiri Ryu. "Butuh bantuan apa?" Meski Ryu tak berkata apa-apa, dia bisa melihat luka yang sangat dalam dimata Ryu. Bagaimana tidak, dia saksi seperti apa cinta Airi dan Ryu dulu. Bahkan saat Ryu melamar Airi, dia juga disana. Ikut bahagia untuk keduanya. "Sabar Ry," Neha menepuk bahu Ryu sebagai bentuk dukungan. Dia tahu ini tidak mudah, tapi sesulit apapun itu, berdamai dengan takdir adalah hal yang paling tepat.
Ryu mencoba untuk tersenyum, Mengajak Neha kedalam untuk membantu anak-anak yang sedang bersiap dibelakang panggung.
"Aku tak ingat dialognya," seorang gadis kecil hampir menangis karena cemas. Beberapa saat lagi, dia harus naik panggung, tapi dia malah lupa dialog yang harus dia ucapkan.
"Jangan nangis, dibuat tenang, lalu hafalin lagi," ujar Neha sambil mengusap kepala gadis kecil itu.
"Kak, coba dicek hafalanku, takutnya ada yang salah," bocah laki-laki kecil menghampiri Neha.
"Sama Kakak Ryu ya, Kak Neha sibuk." Anak itu langsung menghampiri Ryu. Tapi sudah memanggil beberapa kali, tapi Ryu sama sekali tak merespon. Neha yang melihat itu seketika mendekati Ryu.
"Bukan saatnya bengong Ry," Neha menepuk bahu Ryu pelan. "Fokus ya, kasihan anak-anak, mereka kayaknya nerves banget mau naik panggung."
Ryu memijit-mijit pangkal hidungnya. Kenapa juga Airi dan suaminya harus ada disini juga. Bagaimana dia bisa fokus coba.
Sementara diruangan lain, Airi dan White bertemu dengan kepala panti. Selain menyerahkan sumbangan amanah dari Papa Sabda, mereka juga menyumbang atas nama keduanya sendiri.
"Maaf, Mama dan Papa saya berhalangan hadir," terang White.
"Tidak apa-apa, kami paham dengan kesibukan mereka. Dan kami selaku pengurus panti, ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan yang keluarga Pak Sabda berikan selama ini. Dan kami juga senang sekali atas kedatangan Pak White dan Airi kesini," Ibu kepala panti tersenyum pada Airi dan juga White. "Ibu sungguh tak menyangka Ai, kalau kamu jadi menantunya Pak Sabda." Beliau memegang tangan Airi sambil tersenyum.
__ADS_1
Tadi mereka sudah sempat mengobrol sebentar. Dan sebagai relawan yang sering membantu disini, Ibu kepala panti masih mengenali Airi.
"Saya juga tak menyangka jik istri saya, ternyata sering kesini dulunya. Bahkan jadi relawan disini," timpal White.
Mereka lalu mengobrol sebentar, kemudian menuju tempat yang sudah disediakan panitia karena acaranya sudah hampir dimulai. Baru saja mereka hendak duduk, datang Lovely dengan kedua orang tuanya, Pak Saga dan Bu Anna.
Tatapan Lovely seketika terkunci pada Airi, dia tak menyangka akan bertemu Airi disini. Dan yang artinya, Ryu sudah bertemu dengan Airi karena dia tahu Ryu ada disini. Dan karena alasan itulah, Lovely mau ikut dengan orang tuanya keacara ini. Kalau bukan untuk menarik simpati Ryu, mana mau dia datang keacara yang menurutnya membosankan seperti ini.
"Pak Saga," sapa Ibu panti yang langsung menyalami Saga dan keluarganya. Orang tua Lovely juga donatur tetap disini.
Begitupun dengan Airi dan White, tanpa mengurangi rasa hormat, mereka juga ikut bersalaman dengan Lovely dan keluarganya.
"Dia putra dan menantu Pak Sabda," Kepala panti memperkenalkan.
White hanya menanggapi dengan senyum, begitupun dengan Airi. Meski Airi pernah kerja diperusahaannya, Pak Saga tidak mengenalnya. Karena harus menyerahkan sesuatu, Pak Saga mengajak kepala panti untuk bicara berdua didalam. Meninggalkan istri dan anaknya yang lebih memilih menunggu diluar karena acara pembukaan sudah dimulai.
"Gak nyangka bakal ketemu kamu disini." Ujar Lovely sambil menatap Airi sinis.
"Teman kamu sayang?" tanya Mama Anna.
"Bukan," sahut Lovely. Sejak dulu, meski sudah beberapa kali ketemu dan ngobrol, Lovely tak pernah menganggap Airi teman.
"Ayo kita duduk," ajak White pada Airi. Meski tak tahu ada apa sebenarnya antara Lovely dan istrinya, dari nada bicara Lovely yang ketus, dan juga pertemuan dimall waktu itu, dia yakin pasti pernah terjadi masalah.
Salah satu pegawai panti, mempersilakan Lovely dan Mama Anna duduk dikursi baris depan sebelah Airi, tapi Lovely langsung menolaknya.
__ADS_1
"Kami duduk disana saja," Lovely menunjuk kearah kursi yang ada dibaris lain. Tentunya yang jauh dari Airi. Meski Airi sudah menikah dengan White, dia belum bisa untuk bersikap baik padanya, karena Ryu belum bisa move on. Sejak dulu, Lovely membenci Airi, karena kehadiran Airi membuat dia kehilangan Ryu. Cinta pertama, bahkan satu-satunya sampai saat ini.
"Kalau bukan teman kamu, kok kamu kenal?" tanya Mama Anna.
"Dia mantannya Ryu."
Meski Lovely dan mamanya sudah berjalan beberapa langkah, White masih bisa mendengar suara Lovely barusan. Akhirnya dia mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mengusik pikirannya.
Sama seperti White, Airi juga mendengar ucapan Lovely barusan. Melihat raut wajah White yang tadinya bersemangat mendadak berubah sendu, dia segera menggenggam tanganya.
"Hanya masa lalu, Bang. Seperti Abang yang punya Raya dimasa lalu." Airi mencoba menjelaskan.
Sebenarnya masa lalu memang tak perlu dipermasalahkan, tapi ada sesuatu yang mengganggu dipikiran White.
"Apa kalian putus kerena kamu terpaksa menikah denganku?"
Untung Kepala Panti belum duduk ditempatnya, dan suara anak anak yang sedang bersholawat lumayan keras, jadi Airi tak khawatir obrolan mereka terdengar orang lain.
"Katakan Ai, apa karena aku kalian putus?"
Airi mengeratkan genggaman tangannya dan White.
"Jodoh, maut, rezeki, semua ada ditangan Tuhan. Kami putus karena bukan jodoh, bukan karena Abang." Jawaban yang Airi pikir tak akan membuat White merasa bersalah, justru membuat White menarik suatu kesimpulan. Ya, putusnya mereka karena Airi terpaksa harus menikah dengannya.
Dan sekarang, White tahu alasan Lovely membuat pesta perayaan saat dia dan Airi menikah. Karena gadis itu senang akhirnya Airi dan Ryu berpisah. Maknanya, pernikahan inilah yang memaksa keduanya berpisah.
__ADS_1