Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 56


__ADS_3

Selama hampir seminggu, Airi dan White hanya bisa mengobrol lewat telepon. Jangan ditanya seperti apa rindu yang mereka rasakan, sudah pasti sangat menggunung.


"Besok Abang kontrol ke rumah sakit?" tanya Airi yang malam itu telepon dengan White.


"Iya. Apa kamu bisa nemenin Abang Ai?"


"Maaf."


Terdengar helaan nafas berat White. Meski tak mengatakan ataupun melihat wajahnya, Airi tahu suaminya itu kecewa. "Abang rindu Ai?"


"Sangat." White tak bisa mengungkapkan seperti apa rindunya saat ini pada Airi. Selama menikah, mereka memang belum pernah berpisah sekalipun.


"Bukankah biasanya juga cuma bisa denger suara Ai ya, apa bedanya sama teleponan kayak sekarang?"


"Ya bedalah, Abang gak bisa nyentuh kamu." Airi seketika tergelak.


"Jangan bilang kalau Abang pengen," cibir Airi.


"Pengen apa?" White malah balas menggoda.


"Emmm...enaknya pengen apa ya??" Masih terdengar kekehan Airi, yang membuat White senyum-senyum sendiri. Membayangkan seperti apa wajah Airi saat tertawa, pastilah sangat cantik. "Abang, Ai ngantuk." White bisa mendengar suara Airi menguap.


"Abang masih kangen." White masih enggan mengakhiri panggilannya. Bahkan kalau boleh, dia ingin terus teleponan dengan Airi sepanjang malam. Padahal hampir seharian mereka ngobrol ditelepon, hanya berhenti saat makan, tidur, dan mandi saja. Tapi rasanya, itu masih belum cukup untuk mengobati rindunya, yang ada malah makin rindu. "Ai, Abang jemput kerumah ibu ya?"


"Airi udah gak tahan, ngantuk." Ponsel yang dipegang Airi hampir saja tejatuh saking ngantuknya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu. Mimpiin Abang ya,"


"Hem," hanya itu yang bisa keluar dari bibir Airi. Wanita itu sudah sangat mengantuk.


"I love you." White bahkan tak bisa mendengar Airi menjawab I love you too. Sepertinya wanita itu sudah tertidur. "Sayang, kamu udah tidur?" Setelah menunggu cukup lama dan tak mendengar suara Airi, White dengan berat hati menutup panggilannya.


...----------------...


Hari ini, White kembali menemui dokter untuk mengecek kondisi matanya. Sudah 1 minggu pasca operasi, tapi penglihatan White masih saja buram. Jangankan untuk membaca tulisan, melihat wajah orang saja belum jelas.


"Ini sudah seminggu Dok, tapi masih saja buram," keluh White. Dan Dokter tampan yang menangani nya hanya bisa tersenyum. Pertanyaan seperti ini kerap sekali dia dapatkan dari para pasiennya pasca transplantasi korneo. Ekspektasi mereka, pasca operasi akan langsung bisa melihat, padahal semua butuh proses. Kornea mata juga butuh penyesuaian. Asal tak ada penolakan pada kornea, hanya tinggal menunggu waktu saja.


"Sabar Pak, nanti juga akan jelas seiring berjalannya waktu," jawab Dokter tersebut.


"Kita jenguk seseorang dulu yuk," ajak Mama Nuri setelah mereka mendapatkan obat.


"Kita ke rumah Airi saja Mah," tolak White. Dia tak peduli lagi Airi mau dijemput atau tidak, yang pasti dia sudah bertekad, hari ini, dia harus bisa membawa Airi pulang. Meski harus memohon, dia tak masalah, rindunya sudah sangat menggunung pada Airi.


"Sebentar saja," paksa Mama Nuri.


"Mah," desis White.


"Sebentar." Mama Nuri tetap menuntunnya menuju bangsal rawat inap VIP.


Dengan sangat terpaksa, White mengikuti kemauan mamanya. Entah siapa yang mau dikunjungi, dia tak ingin tahu. Karena saat ini, dia hanya ingin bertemu Airi, bukan lainnya. Apalagi menjenguk orang tak dikenal, buang-buang waktu saja, batinnya.

__ADS_1


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Mama Nuri langsung membuka pintu dan mengucapkan salam.


White yang kesal, hanya diam saja dengan wajah ditekuk. Siapapun yang melihat, akan langsung tahu jika pria itu sedang kesal. Dia bisa melihat ada seseorang yang berbaring diatas ranjang. Dan satu orang lain sedang duduk disofa.


"Bu Nuri," sapa seorang wanita yang tadinya duduk disofa. Dia berdiri lalu menyalami Mama Nuri dan White.


White merasa tak asing dengan suara ini. Tapi siapa? Terlalu banyak mendengar tanpa tahu siapa yang bicara, kadang membuat White sedikit bingung.


Mama Nuri mengajak White mendekat kearah brankar. Dan lagi-lagi White hanya bisa menurut. White tahu ada seseorang yang berbaring disana, tapi dia tak bisa melihat seperti apa wajahnya.


"White, apa kau tak ingin menyapanya? Wanita yang ada dihadapanmu ini sangat cantik loh," ujar Mama Nuri.


"Mah," geram White. Saat ini dia sedang tak mood diajak becanda, apalagi disuruh menyapa wanita. Mau secantik apapun wanita itu, dia tak peduli. Dia hanya ingin bertemu Airi, titik.


Mama Nuri tak bisa menahan tawa melihat wajah kesal White.


"Harusnya tadi kita membawa bunga saat kesini. Maaf ya, White lupa membawakanmu bunga."


"Mah, apa-apaan sih," desis White. Dia benar-benar bingung dengan mamanya. Bisa-bisanya bicara seperti itu pada seorang wanita disaat dia sudah memiliki istri. "Maaf, Mamaku suka kelewatan kalau becanda. Saya sudah menikah, saya sudah punya istri."


"Tapi yang ada didepanmu sangat cantik loh, White." Mama Nuri masih saja terus memojokkannya.


"Mah," geram White. "Lebih baik kita pulang saja." White membalikkan badan, tapi tiba-tiba, sebuah tangan menahan lengannya.


Seketika White bergeming. "Airi," ucapnya sambil membalikkan badan kembali.

__ADS_1


__ADS_2