Menjadi Mata Untuk Suamiku

Menjadi Mata Untuk Suamiku
BAB 65


__ADS_3

Selesai melakukan video call dengan seseorang, White menuju dapur. Sejak tadi, dia sudah penasaran dengan suara canda tawa yang berasal dari tempat itu. Entah apa yang dilakukan mama dan istrinya, sepertinya sangat seru hingga tak habis habis mereka berceloteh dan tertawa bersama. Selain itu, aroma cake yang baru keluar dari oven, juga menyeruak ke indra penciumannya.


White melihat Airi yang tengah sibuk menghias cake. Dan mamanya, seperti sedang fokus memperhatikan oven.


Tak mau mengganggu, dia berdiam diri didekat pintu. Bersandar didinding sambil bersedekap dengan mata tak lepas dari Airi. Menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.


"White, kamu ngapain disitu?" tanya Mama Nuri yang kebetulan melihat White.


Karena sudah kepergok, mau tidak mau, White mendekat. Duduk disalah satu kursi dapur sambil menatap Airi yang sedang menghias cake didepannya.


White mencolek sedikit butter cream yang ada didalam mangkuk lalu mencicipinya.


"Enak gak? Ai dan Mama bikin sendiri loh, gak beli jadi." Airi membanggakan pencapaiannya. Meski memasak dia bisa dibilang jago, tapi urusan bikin membikin cake, dia belum pandai. Dan hari ini, dia nekat mengajak Mama Nuri untuk membuat cake. Spesial untuk anniversary-nya nanti malam dengan White.


"Lumayan."


Jawaban itu tentu saja bukan yang diharapkan Airi. Dia sedikit mendelik hingga White mengubah jawabannya.


"Enak kok." Ralat White sambil tersenyum simpul.


"Lagian kamu, White. Muji istri itu jangan tanggung-tanggung. Lumayan, jawaban apaan itu." White hanya nyengir mendengar ceramah mamanya. Wanita paruh baya itu tampak sedang membuka oven. Dan seketika, aroma cake yang baru keluar dari oven langsung menyeruak. Entah kue apalagi yang mereka buat. Sepertinya cukup banyak kue untuk merayakan anniversarynya nanti malam.


Airi lanjut menghias cake, tapi karena baru belajar, jadinya tak bisa mulus kayak bikinan toko.


"Susah banget sih," keluh Airi yang gagal terus membuat hiasan disamping cake.


"Udah tinggalin aja. Nanti aku beliin yang bagus," celetuk White. "Kenapa nih?" Dia bingung saat Airi dan Mama Nuri menatapnya sengit, seperti ngajak berantem.

__ADS_1


"Ngomong apa barusan?" tanya Mama Nuri. Suaranya terdengar sangat halus, tapi seringainya terlihat sangat menakutkan.


White menelan ludahnya susah payah. Sepertinya dia sudah salah ngomong, nantangin emak-emak. Bukan cuma satu, tapi dua.


"La-lanjutin, Yang. Ba-bagus banget kok."


"Yakin bangus, Bang?" tanya Airi sambil menyeringai.


"I-iya, bagus banget."


"Bagus mana sama yang ditoko?"


"Bagus di toko. Eh, maksud aku bagusan ini." Buru-buru dia meralat ucapannya sebelum mamanya dan Airi ngereok.


Airi membuang nafas kasar lalu meletakkan paping bag yang dia pegang. Duduk sambil menatap nanar cake buatannya. Kalau dibandingkan dengan toko, jelas kalah jauh.


"Beli aja deh. Ini jelek banget." Raut wajah Airi terlihat putus asa.


Mama Nuri langsung memelototi White. Harusnya dia menyemangati, bukan malah membuatnya putus asa seperti tadi.


White berdiri, mendekati Airi lalu memegang keduanya. "Kita lanjutin sama-sama yuk," ajaknya. "Kita hias cake ini susuai kemauan kita."


Airi menggeleng. "Jelek banget, Bang. Kita beli aja deh."


"Beli emang lebih bagus, tapi urusan rasa, Abang yakin, gak ada cake yang lebih enak dari ini. Cake yang dibuat dengan cinta, Abang yakin rasanya juga bakal senikmat dan semanis cinta."


Diam-diam Mama Nuri menahan tawa mendengar kata-kata manis White. Paham jika putra dan menantunya ingin bermesraan, tanpa diminta, dia meninggalkan dapur.

__ADS_1


"Kita hias bareng-bareng yuk." White mengambil paping bag berisi butter cream yang ujungnya udah dipasang. Membuka telapak tangan Airi lalu meletakkanya disana. Pelan-pelan dia membantu Airi untuk berdiri lalu memeluknya dari belakang. Sebelah tangan memeluk pinggang Airi, dan sebelahnya lagi memegang tangan Airi yang memegang paping bag.


Diperlakukan semanis ini, tentu membuat Airi baper. Perasaannya membuncah, dan senyumnya langsung mengembang.


"Kita buat bunga disini yuk," bisik White didekat telinga Airi. Menarik tangan Airi kebagian pinggir cake lalu membuat bunga-bunga kecil. Jantung Airi berdegub sangat kencang. Tubuh mereka menempel erat, dan bisikan ditelinga membuat darahnya berdesir. Dan bunga yang mereka buat, hasilnya lebih buruk daripada bunga buatan Airi tadi. Mungkin karena 2 tangan yang melakukan, jadi makin susah. Ditambah debaran yang membuat hilang fokus dan sedikit gemetar. Tapi ini menyenangkan. Apapun hasilnya, mereka tak peduli lagi. Yang penting, menikmati proses. Apapun yang dibuat dengan cinta, pasti hasilnya luar biasa.


Keduanya tak bisa menahan tawa melihat cake hasil buatan mereka. Nanti malam saat berswafoto bersama cake tersebut, seluruh dunia pasti dibuat gagal fokus dengan bentukannya. Hasilnya sunggh diluar ekspektasi, lebih parah dari bayangan Airi.


"Yakin nanti malam kita akan berswafoto dengan cake ini?" tanya Airi.


"Kenapa tidak," sahut White sambil membalikkan badan menghadapnya.


"Tapi kuenya jelek banget."


"Karena cakenya minder sama kamu. Terlalu cantik sih." White mencolek sedikit butter cream lalu mengoleskan dipipi Airi.


"Abang," rengek Airi sambil mengelap pipinya. Memasang wajah cemberut, pura-pura marah karena White menertawakannya.


"Eh, bukannya dulu kamu sudah pernah bikin cake ya?" Seingat White, saat dia buta dulu, Airi sudah pernah membuatkannya cake.


Airi terkekeh pelan. Saat itu, bagaimanapun bentukannya, dia tak risau. Karena apa, karena White tak bisa melihat.


"Apa dulu juga seperti ini bentukannya?"


Airi mengangguk malu-malu.


Nanti malam, rencananya mereka akan membuat acara candle light dinner kecil-kecilan. Airi sudah memilih halaman belakang rumah, didekat kolam sebagai tempat yang akan mereka gunakan untuk dinner tengah malam. Tak ada surprise apapun, karena keduanya merancang acara ini bersama-sama. Mungkin hanya kado yang akan jadi surprisenya, karena mereka sama-sama tak tahu kado apa yang sudah disiapkan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2