
"Abang, diamlah sebentar," desis Airi yang merasa sedikit geram.
"Tapi ini geli sekali sayang." White berusaha menahan geli saat Airi bermain-main dengan shaving foam yang ada dijanggutnya. Istrinya itu seperti sengaja ingin berlama-lama mencukur jenggot serta kumisnya.
"Kalau Abang gerak terus, jangan salahin aku kalau nanti kena pisau cukurnya."
"Iya, iya, aku akan diem."
Saat ini, keduanya tengah duduk diatas sofa panjang dengan posisi saling berhadapan. Airi dengan telaten mencukur jenggot White. Meski memangjangkan jenggot itu sunah dan menurut orang memberi sensasi geli saat bercinta, tetap saja, dia lebih suka penampilan pria yang bersih.
"Ai, nanti saat Abang udah bisa lihat, apa kamu masih mau nyukur kumis dan jenggot Abang?"
Airi tergelak mendapat pertanyaan seperti itu. "Apaan sih Bang, ya jelas mau lah. Sampai kapanpun, Airi bakal nyukurin jenggot dan kumis Abang. Motongin kuku juga." Dia berhenti sejenak menggerakkan alat cukur lalu mengecup hidung White. White yang merasa dapat kesempatan, langsung memajukan wajahnya hingga foam yang ada dijanggutnya mengenai wajah Airi.
"Abang!" pekik Airi. "Wajah Ai jadi kotorkan?" rengek Airi sambil menyentuh pipinya yang kena foam.
"Biar adil," sahut White sambil terkekeh. Dia lalu menyentuh wajah Airi, meraba foam yang ada disekitaran pipi, hidung, bahkan bibir Airi. "Kamu pasti makin cantik banget sekarang."
"Dih, ngeledekin," sewot Airi dan langsung disambuta tawa oleh White. Dia mengambil tisu yang kebetulan ada diatas meja depannya lalu mengelap foam yang ada diwajahnya. Setelah itu lanjut mencukur jenggot.
"Makin ganteng aja suamiku," puji Airi sambil menyentuh rahang White yang sudah bersih.
"Kau yakin?" White melingkarkan lengannya dipinggang Airi. Menariknya kedepan agar lebih dekat lagi. "Apa aku lebih tampan dari Ryu?"
"Apaah sih," Airi menarik diri dari belitan tangan White. "Aku gak suka Abang bahas soal mantan."
"Maaf." Sebenarnya bukan mau membahas mantan. White hanya penasaran saja, seperti apa wajah Ryu, apakah dia tampan, atau sangat tampan? Jika wanita sekelas Lovely saja, mengejarnya mati-matian, dia yakin Ryu sangat tampan.
Setelah jenggot selesai, giliran mencukur kumis. Airi tak suka melihat orang berkumis. Tapi baru menyemprotkan shaving foam di atas bibir White, ponselnya yang ada didalam kamar berdering.
"Aku lihat dulu ya Bang siapa yang telepon. Takutnya penting." Airi meletakkan alat cukurnya atas meja lalu turun dari sofa.
"Jangan lama-lama, entar aku kangen," seru White saat Airi baru beranjak.
" Lebai," teriak Airi sambil berjalan menuju kamar.
"Orang jujur dibilang lebai," gerutu White.
Airi diam diam tersenyum, menoleh kearah White sebentar lalu masuk kedalam kamar. Semoga saja benar-benar jujur, karena itu akan membuatnya sangat bahagia jika selalu dirindukan.
__ADS_1
Baru saja hendak meraih ponsel yang ada diatas nakas, tapi deringnya sudah lebih dulu berhenti. Airi melihat siapa yang menelepon, ternyata Abian.
Ada kiriman video dari Abian. Saat hendak menekan tombol play, ponselnya kembali berdering. Abian kembali meneleponnya.
"Hallo Bi," sapa Airi.
"Udah lihat video yang aku kirim?"
"Baru aja mau buka, kamu udah telepon," sahut Airi sambil menghela nafas.
"Jadi Kakak belum tahu tentang video yang viral itu?"
"Video apaan sih, penting banget emang?"
"Sayang, lama banget sih." Terdengar suara teriakan White dari luar.
"Iya, bentar Bang," teriak Airi.
"Buruan buka videonya." Abian menutup telepon setelah mengatakan itu.
"Astaga, anak ini. Video apaan sih, yang mau dia tunjukin." Airi membuka video tersebut. Matanya langsung melotot melihat wanita yang tak memakai apa-apa tengah dicumbui seorang pria. "Astaga anak itu." Airi menghentikan video tersebut. Dia pikir Abian salah kirim video. Dia segera menelepon balik Abian, berniat memarahinya yang telah menonton adegan yang tak sesuai umurnya. Abian memang sudah 19 tahun sekarang, tapi menurutnya, video itu lebih cocok untuk 21 keatas. Ah tidak, 21 itupun belum cocok jika belum menikah.
"Mana bisa baik baik saja, kalau tontonan kamu kayak gitu," semprot Airi. "Apa kamu tidak ma_"
"Kakak udah lihat belum sih?" Abian bingung, kenapa malah dia dimarahi. Ok, dia salah karena melihat video yang tidak pantas. Tapi bukankah ada masalah yang lebin serius daripada memarahinya.
"Kurang ajar kamu. Masa Kakak kamu suruh lihat video menjijikkan seperti itu."
Abian membuang nafas kasar, helaannya bahkan sampai terdengar Airi. Ternyata Kakaknya belum melihat secara full. Mungkin hanya awal dan langsung mematikan, batinnya.
"Itu video Kak White."
Airi terdiam sejenak, mencoba menelaah arti ucapan Abian barusan.
"Pria dalam video itu Kak White. Dan wanita itu, seorang model internasional yang kariernya tengah melejit di US. Katanya sih, mantannya dulu."
Airi menjauhkan ponsel dari telinganya tanpa mematikan sambungan telepon, dia kembali melihat video tadi. Dengan tangan bergetar, dia menekan tombol play. Memperhatikan pria yang hanya tampak belakang divideo itu. Tangannya mulai mencemgkeram bantal karena meski dari belakang, sudah terlihat mirip White.
Enggak, ini bukan kamu kan Bang?
__ADS_1
Deg
Jantung Airi seperti berhenti berdetak saat wajah pria divideo itu terlihat jelas. Tubuhnya terasa lemas, dan ponsel itu seketika terjatuh dilantai karena posisi duduk Airi dipinggir ranjang.
Air mata Airi mengalir deras. Suara desa han dari bibir dua insan yang sedang mereguk kenikmatan itu membuat jantungnya seperti dihujam belati yang sangat tajam. Sakit sekali. Definisi sakit tapi tak berdarah.
Suara kecipak bibir yang diselingi desa han memaksa Airi menutup kedua kedua telinganya. Ini terlalu menyakitkan baginya. Meski video ini diambil saat mereka belum menikah, tetap saja, ini sakit sekali.
Airi menepuk nepuk dadanya yang terasa sakit. Dadanya seperti dihimpit sesuatu yang sangat berat sehingga membuatnya kesulitan bernafas.
Punyamu besar sekali Sayang.
Kau nikmat sekali Sayang.
Airi kembali menutup telinga saat mendengar suara menjijikkan dari bibir White dan Raya. Meski dia tak melihat, suara dari video itu sudah bisa menjelaskan adegan apa yang saat ini mereka lakukan.
"Sayang, kamu ngapain, lama sekali?" White kembali berteriak. Tak kunjung mendengar sahutan Airi, dia akhirya memutuskan untuk menyusul ke kamar.
"Ai, kamu dikamar?" teriaknya saat tangannya sudah menyentuh kusen pintu.
Melihat White diambang pintu, Airi segera mengambil ponselnya yang tergelatak dilantai lalu mematikannya. Dia tak mau White tahu. Pria itu pasti akan terpukul jika tahu video masa lalunya viral. Meski ini menyakitkan baginya, tapi dia tak tega kalau White sampai tahu diriya viral berkat video syur.
"Ai, kamu didalam?" tanya White sambil berjalan memasuki kamar.
"I-iya Bang." Airi menyeka air mata sambil berusaha menormalkan suaranya. Dia tak mau White bertanya kenapa dia menangis.
"Kamu ngapain dikamar, aku nungguin dari tadi?"
Airi melihat foam yang masih ada dikumis White. Ya, dia belum selesai melakukan pekerjaannya tadi.
"Bang, kita kembali kedepan yuk. Aku selesaiin nyukur kumisnya." Airi menghampiri White lalu menuntunnya kembali kesofa ruang tengah. Setelah White duduk, dengan tangan gemetar, Airi kembali meraih alat cukur lalu mencukur kumis White. Berusaha mati-matian menahan isakan agar tak terdengar suaminya itu.
"Tadi siapa yang telepon?"
"A-Bian Bang."
"Kamu nangis Ai?" Suara Airi terdengar bergetar, dan telinga White sayup sayup mendengar sisa sisa isakan.
"Eng-engak kok Bang." Airi terus mencukur. Tapi saat menatap wajah White, bayangan adegan di video tadi kembali melintas dikepala. Meski dia hanya melihat bagian depan, otaknya seperti bisa membayangkan adegan selanjutnya. Suara de sahan mereka kembali berdengung ditelinganya. Airi tak sanggup lagi, dadanya kembali sesak, dan airmatanya menetes.
__ADS_1
"Kamu nangis Ai?" White menyentuh air yang menetes dipunggung tangannya.