
Airi menyandarkan punggungnya dijok belakang sambil menatap keluar melalui jendela. Dia dan White tepaksa pulang naik taksi karena lengannya terluka dan tak memungkinkan untuk menyetir. Meskipun matanya menatap kendaraan dijalan serta deretan ruko dan gedung, tapi pikirannya tak kesana. Sibuk menerka-nerka apa yang tadi dibicarakan White dan Ryu. Sejak masuk kedalam mobil, White sama sekali tak berbicara apapun.
"Ai," panggil White sambil menyentuh paha Airi. "Kamu tidur?"
"Enggak Bang," sahut Airi sembari menoleh kearah White yang duduk disebelahnya. "Ada apa, Abang mau sesuatu? Minum, atau apa?"
White tersenyum sambil menggenggam tangan Airi. "Abang mau kamu."
Airi seketika terperangah, apa maksudnya ini? Dia sontak melihat driver melalui spion tengah. Agaknya driver itu tak terlalu mengambil perhatian pada percakapannya dan White, buktinya tampak biasa saja. Atau hanya dia saja yang mengartikan kalimat tadi luar biasa?
"Ma-mau Ai?" tanya terbata.
"Hem," sahut White sambil mengangguk. "Abang mau kamu bersandar dibahu Abang." White menyentuh leher Airi lalu menariknya lembut agar bersandar dibahunya. Airi tak kuasan menahan senyum. Bisa-bisanya dia malah kepikirannya yang enggak-enggak. "Setidaknya, seperti ini membuat aku merasa dibutuhkan, meski hanya bahunya saja."
"Kenapa Abang bicara seperti itu?"
"Maaf Ai."
"Maaf? Untuk apa?" Airi mendongak menatap White. Dia sama sekali tak paham kenapa White minta maaf padanya.
"Maaf karena menjadi suami tak berguna dan hanya bisa menyusahkanmu saja."
__ADS_1
"Abang," Airi berdecak pelan. Dia mengangkat kepalanya dari bahu White lalu menatapnya dalam. "Tolong jangan pernah bicara seperti itu lagi. Abang tak pernah menyusahkan Ai. Merawat Abang adalah kewajiban, dan semua itu adalah ladang pahala untuk Ai." lanjutnya.
Kalimat itu terdengar sangat tulus dan seketika membuat hati White sejuk. Ditambah dengan kecupan yang Airi daratkan dipipinya, membuat White merasa melambung. Hatinya membuncah, merasa sangat dicintai dan beruntung karena memiliki Airi.
"Abang janji Ai, saat Abang bisa melihat nanti, Abang akan selalu jaga Ai."
"Tak perlu menunggu nanti. Karena sekarang saja, aku sudah merasa aman dan nyaman saat bersandar dibahu Abang seperti ini. Hanya berada disisi Ai seperti ini saja, Abang sudah menjaga Ai." Airi melingkarkan lengannya diperut White sambil memejamkan mata. "Bang, boleh Ai tahu, apa yang Abang bicarakan tadi dengan Bang Ryu?"
Entah kenapa, mendengar Airi menyebut Ryu bang, mampu membuat hatinya bergejolak. Ya, dia cemburu, tapi tak mampu mengatakan. Ryu lebih dulu mendapatkan panggilan itu daripada dia, rasanya terlalu egois kalau harus meminta Airi berhenti memanggil Ryu abang.
Airi berdecak pelan saat White tak segera menjawab dan malah mencium pucuk kepalanya. beberapa kali. Lalu memejamkan mata dan menyandarkan kepala di jok.
"Bang, kok ma_"
terpejam. Airi menghela nafas berat, White benar-benar tak mau membahas soal itu. Jadi makin penasaran saja dia.
"Tidurlah," White mengulagi perintahnya. Dan seketika, terdengar helaan nafas berat Airi. "Hanya sesuatu yang tak penting buatmu yang kami bicarakan. Jadi berhentilah ingin tahu. Sekarang cepat tidur. Tapi aku minta, jangan berharap saat sampai rumah nanti, akan ada adegan romantis aku menggendongmu masuk kedalam kamar, karena itu tidak mungkin," lanjut White sambil tersenyum.
Airi mendesisi pelan, mana mungkin dia berharap sesuatu yang mustahil seperti itu. "Aku tidak akan berharap, tapi aku akan memimpikannya dalam tidurku." Airi mengecup pipi White lalu kembali bersandar dibahu White dan memejamkan mata.
Setelah merasakan nafas Airi yang menerpa lehernya mulai teratur, White kembali membuka mata. Karena sebenarnya dia memang tidak tidur, hanya pura-pura tidur agar Airi tak lagi membahas tentang obrolannya dengan Ryu tadi.
__ADS_1
Jika biasanya saat menempuh perjalanan, White berharap segera sampai ditempat tujuan, beda halnya dengan kali ini. Dia berharap perjalanan ini masih akan panjang. Dia ingin puas merasakan pelukan Airi seperti ini. Meski menurut orang biasa saja, tapi momen kedekatan seperti ini, bagi White sangat berharga. Dia ingin selalu bisa berada sedekat ini dengan Airi.
Sesampainya dirumah, White langsung menyuruh Airi istirahat. Dia tak mau Airi banyak gerak hingga membuat lukanya tak kunjung membaik. Dia sudah menelepon orang dirumah mamanya, meminta dikirim seorang ART untuk beberapa hari bekerja disini. Mengambil ART baru dengan tergesa gesa tanpa tahu latar belakanganya lebih dulu, dianggap terlalu beresiko oleh White. Karena alasan itulah, menurutnya mengambil ART dari rumah mamanya lebih aman.
...----------------...
Saat terbangun disore hari, Airi tersenyum mendapati White memeluknya dari belakang. Pelan-pelan dia membalikkan badan menghadap White. Bisa dia dengar, dengkuran halus suami tampannya itu. Sepertinya pria itu sangat lelah hari ini, biasanya dia tak pernah mendengar White mendengkur.
Airi menatap wajah White. Sungguh sempurna ciptaan Allah yang saat ini tidur dihadapannya itu. Saat White bisa melihat nanti, pria itu pasti terlihat jauh lebih tampan dari sekarang, dan dia, pastinya harus menyiapkan hati untuk lebih sering cemburu.
Airi memainkan jemarinya diwajah White. Menyentuh pipi, hidung, rahang, dan terakhir bibir White. Entah kenapa, bibir merah itu seolah sedang menggodanya. Dan sebuah kecupan langsung Airi daratkan disana.
Tapi rupanya sebuah kecupan masih membuat Airi merasa kurang. Dia kembali mendekatkan bibirnya pada bibir White lalu memagutnya lembut. Tak terlihat tanda-tanda White bangun meski Airi makin memperdalam ciumannya. Sampai akhirnya dia melepaskan pagutannya karena kehabisan nafas.
"Apa hobimu mencuri?" Airi langsung terperangah mendengar suara White. "Sudah puas mencuri ciuman dariku?" tanyanya sambil menahan tawa.
Airi bersyukur White tak bisa melihat wajahnya saat ini. Kalau tidak, dia pasti akan lebih malu lagi saat White tahu wajahnya semerah tomat.
"Apa masih mau nambah?" Airi kembali dibuat terlejut saat White tiba-tiba sudah berada diatanya dan mengungkungnya dengan kedua lengan. Jantung Airi makin berdegup kencang saat wajah White makin turun dan mengikis jarak diantara mereka. Bibir White mendarat di hidungnya, tapi terus bergerak hingga berlabuh tepat pada bibirnya. Mereka berciuman panas sampai kehabisan nafas dan akhirnya melepaskan pagutan bibir.
"Ai, setelah ini buatlah list apa saja yang kau ingin lakukan denganku saat aku bisa melihat nanti."
__ADS_1
"Apa saja?"
"Ya, apa saja. Karena aku akan mengabulkan setiap keinginanmu."