Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Kejutan Yulia


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah


❤️❤️❤️


Selamat membacaa readers 🤩


Kasi bintang juga yaa 🤩🤩


Rima sedang bersiap berangkat ke sekolah, ketika ponselnya berdering menampilkan nama Yulia.


"Assalamualaikum, ada apa Yul?"


"Rim..nanti abis ngajar bisa nemenin aku ga?"


"Kemana?"


"Ketemuan sama Adhi di 19 Celcius."


Rima menghela nafas.


"Aku ga bisa Yul, ada murid les abis ngajar."


"Satu jam aja ga bisa Rim? Please,"


"Ga bisa Yul, aku udah janji dari kemaren. Lagian..kamu harus belajar menjauhi Adhi."


"Mmm..ya udah deh. Tapi ntar kalo mas Dani nanyain aku ke kamu,bilang kita pergi bertiga ya."


Rima menghela nafas lagi. Diam, tidak menjawab.


"Ya udah deh, met ngajar ya Rim. Babay sayang."


Percakapan itu berakhir. Rima melangkah keluar kamar, berpamitan pada ibu dan mengendarai motor matiknya menuju sekolah.


😢😢😢


Jam menunjukkan pukul 14.00. Hujan turun perlahan, kemudian semakin deras. Rima tergesa mengenakan jas hujannya. Dia harus membeli beberapa alat tulis dan memperbanyak materi untuk Emira.


Motor matiknya melaju perlahan. Rima sudah memarkir ketika menyadari toko langganannya tutup. Dia pun melajukan motornya ke toko lain yang lebih jauh. Rima bersyukur toko itu buka, di tengah hujan yang semakin deras.


Rima sedang berbicara pada pegawai toko yang melayaninya, ketika seseorang menyapanya.


"Rim..tumben maennya jauh."


Rima menoleh, jilbabnya sedikit basah membuatnya agak telat menyadari siapa lelaki di sebelahnya.


"Mas Dani?!"


Rima membelalakkan matanya.


"Iya, ini aku. Kenapa gitu amat? Kaya liat hantu aja Rim."


Dani terkekeh. Sementara Rima langsung pucat, teringat percakapan telpon tadi pagi dengan Yulia. Dia memejamkan mata mencoba merancang jawaban jika Dani bertanya tentang Yulia.


"Eh ini mas fotokopi materi sama mau beli boardmarker."


"Oo gitu, kok jauh amat belinya?"


"Toko biasanya tutup mas, mas Dani lagi ngapain?"


"Lagi ngopi, ya lagi belanja ATK lah Rim."


Dani terkekeh lagi. Rima ikut tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya.


"Eh, kata Yulia kamu pergi bareng dia? Kok kamunya disini?"


Deg.


Rima sudah tahu pertanyaan ini akan diajukan Dani, walaupun sedetik yang lalu dia berharap Dani lupa.


"Saya..eeemm...ga jadi ikut mas."


"Loh kok ga jadi, kan si Adhi nya pengen ketemu kamu."


"Eh, iya sih mas... "

__ADS_1


"Dih langsung nervous begitu nama Adhi disebut."


Dani tersenyum menggoda Rima yang memang terlihat salah tingkah. Bukan karena mendengar nama Adhi, tapi karena bingung mencari alasan.


"Udah segerain aja sama Adhi, kalian cocok."


Cocok dari Hongkong!!


Rima membatin.


"Iya mas, inshaAllah."


"Aku dan Yulia mendoakan kamu yang terbaik."


"Makasih mas."


"Eh tapi..Yulia kemana ya?"


"Eh..mmm tadi katanya mau ketemu temen mas."


Rima menyesal membohongi Dani.


"Oh gitu, ya udah deh. Hati-hati ya baliknya Rim, hujannya tambah deres."


"Iya mas, saya duluan ya mas."


Rima segera berlalu, khawatir Dani akan bertanya tentang Yulia lagi.


😔😔😔


"Yul kamu dimana?"


Rima langsung menelpon Yulia begitu sampai di rumahnya. Tak peduli bajunya basah kuyup dan dia kedinginan.


"Di 19 Celcius, kan aku udah bilang tadi Rim."


"Yul, pulang sekarang!"


"Rim, kamu kenapa sih?"


"Mas Dani nyariin kamu!"


"Mas Dani nelpon kamu?"


"Aku ketemu suamimu Yul, dia nanyain kamu."


Rima mulai terdengar putus asa.


"Trus kamu bilang aku kemana?"


"Aku bilang kamu ketemu sama temen."


"Yaa bagus deh."


"Yul..udahlah, pulang sekarang! Aku ga mau mas Dani habis ini nelpon nanyain kamu. Aku capek bohong terus!!"


"Rim, tenang dulu napa sih?! Disini hujan deres, Adhi ga bisa nyetir karena bahaya juga."


Rima mulai menggigil. Merasakan kepalanya pening menghadapi Yulia yang tenang-tenang saja, sementara dia ketakutan.


"Usahakan pulang Yul!! Aku ga akan ngasi tau lagi!"


Sambungan telpon terputus. Rima menangis, frustasi dengan keadaan itu.


😢😢😢


"Rima nelpon yang?"


Adhi menatap Yulia yang sedang meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Iya, dia ketemu mas Dani."


"Trus?"


"Dia minta aku pulang sekarang, dia terlalu parno."


"Ya, ayo kita pulang yang."

__ADS_1


"10 menit lagi lah Dhi, kopiku belum habis nih."


"Nanti mas Dani nyariin loh yang."


"Yaa, biar aja dia nyariin."


Yulia mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya dengan galau.


"Yang sejak kapan kamu ngerokok?!"


Adhi terbelalak, memandang Yulia yang tangannya sedikit gemetar menyulut rokok.


"Sejak minggu lalu."


"Udah deh yang, buang. Ga baik buat kesehatan kamu."


"Aku sumpek Dhi, pernikahanku...ga sesempurna yang dipikir orang-orang. Aku kesepian Dhi."


"Iya, tapi kamu jangan aneh-aneh gini, aku akan selalu ada buat kamu yang."


"Aku..kangen Rima, udah seminggu dia sepertinya menghindari aku."


"Itu cuma perasaanmu aja yang, mungkin Rima lagi sibuk."


Yulia mulai menghisap rokoknya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Yang kok nangis sih?"


Adhi beranjak menghampir Yulia, menarik rokoknya dengan paksa.


"Udah yang, jangan begini. Kamu kenapa sih?"


Yulia tiba-tiba memeluk Adhi, menyembunyikan kepalanya ke dalam dada Adhi dan terisak-isak.


Adhi membelai punggung Yulia, menenangkannya. Derai hujan turun semakin deras bersama angin yang seakan menyanyikan lagu pilu.


"Aku capek Dhi, capek begini terus."


Adhi diam mendengarkan Yulia mengeluarkan keresahan hatinya.


"Mas Dani tu sibuk sendiri, aku kesepian."


Air mata Yulia mengalir semakin deras. Dia tak peduli beberapa pengunjung memperhatikannya.


"Aku juga bingung, Rima jarang mau nemuin aku, padahal cuma dia yang bener-bener temen buat aku Dhi."


Entah kenapa, tiba-tiba bayangan Rima yang sedang merengut muncul di kepala Adhi. Rima yang 'stabil' dan teguh dengan pendiriannya. Yang selalu menjawabnya dengan judes. Semua itu baru disadari Adhi dan menciptakan perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Ada semacam perasaan rindu dan jantungnya berdetak lebih cepat setiap nama Rima disebut. Adhi juga ga ngerti perasaan apa itu.


"Dhi, apa Rima masih balas chat kamu?"


Adhi melepaskan pelukannya, menatap Yulia dan menghapus air mata yang berderai di pipi putihnya.


"Masih kok,"


"Dia ga jaga jarak sama kamu?"


"Yaa, seperti biasa. Galak, judes...gitu lah."


Yulia menghapus sisa air mata dengan tisu.


"Dhi, aku pengen kita nikah."


Hah?!


Adhi tersentak mendengar ucapan Yulia, nikah?! Ga terpikir sama sekali.


Adhi membatin, wajahnya berkerut.


"Maksudmu gimana Yang?!"


"Aku mau minta cerai sama Mas Dani."


Adhi tertegun, menatap Yulia yang sedang menatap ke kejauhan.


Hujan bergemeretak di atap kafe, menimbulkan perasaan galau yang semakin besar bagi Adhi. Sementara wajah Rima yang merona mengisi kepalanya membuat semakin sempit ruang bagi Yulia sekalipun.


Komenn dan like yukss readers!!

__ADS_1


🤩🤩🤩


__ADS_2