Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Yes I Do!


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


"Rainbow isn't only created by nature, everyone can always create their own rainbow. It depends on how you mix love and smile"


-mh-


Tyo PoV


Melelahkan...


Drama yang terjadi dalam hubunganku dengan Rima. Hampir saja aku meragukan Rima karena ulah Yulia. Perempuan sinting itu!! Apa sih yang ada di dalam otaknya yang sakit itu? Aku yakin dia perlu dokter jiwa. Sikap posesif nya pada Rima bener-bener di luar nalar. Syukurlah, Allah menunjukkan yang benar dan yang salah.


Sudah satu bulan lebih, bertemu Rima hanya dua kali. Padahal kangen kayanya sudah di atas ubun-ubun. Tapi demi memenuhi persyaratannya dan menjadi imam terbaik buat dia, aku ikhlas. Aku semakin rajin mengikuti kajian islam di mesjid ustadz Abdullah, kebetulan Bram juga kenal dengan beliau. Jadilah aku semakin intens berdiskusi langsung dengan ustadz.


Awalnya memang aku ikut kajian untuk memenuhi syarat dari Rima. Tapi lama-lama aku mulai menikmati. Menyadari bahwa sebagai imam kelak aku harus mempunyai bekal ilmu, supaya ga salah dalam membimbing istriku.


Ketika kata 'istriku' muncul, langsung muncul wajah Rima di benakku. Terakhir kali kami ketemu, dia memakai jilbab berwarna coklat dan gamis senada. Ga sabar rasanya menjadikan dia halal. Wah kalo Bram tau isi pikiranku pasti aku diledek habis-habisan. Katanya aku sudah jadi bucin.


Aku sempat galau, ketika 2 hari yang lalu Syarifa bilang Rima nitip sesuatu. Memang sejak aku mengajukan lamaran, pelan-pelan aku mulai jarang anter jemput Emira. Ponakanku yang bawel itu yang gantiin aku.


"Om, ini ada titipan dari Bu Rima."


Syarifa memberikan kotak cincin beludru itu. Aku langsung down. Kenapa Rima mengembalikan cincin itu? Apa dia menolak lamaranku? Aku langsung lemas, kehilangan semangat.


"Om, kok mukak nya jadi jelek gitu sih?"


"Gapapa,"


"Om dibuka dulu itu kotaknya, sapa tau ada suratnya."


Aku menggeleng. Melihat kotak itu kembali saja aku sudah seperti mati rasa, apalagi membaca surat yang isinya penolakan. Pasti hatiku jadi semakin hancur berkeping.


"hemm ada yang hatinya hancur berkeping-keping nih....Om kata orang, suatu benda yang berkeping itu jika disatukan kembali dengan lem berwarna emas akan menjadi jauuhh lebih indah."


"Indah gundulmu Fa!"


Aku berdiri, hendak berjalan masuk kamarku. Sepertinya aku butuh sendiri dulu.


Ga aku pedulikan teriakan Syarifa yang mengingatkanku untuk membawa kotak cincin itu.


Aku memicingkan mata ketika ada notifikasi pesan dari Rima. Apa kira-kira isinya? Apa dia akan minta maaf sudah menolakku dan mendoakan supaya aku dapat seseorang yang lebih baik? Gimana bisa aku dapat yang lebih baik? Hatiku sudah nyangkut di Rima. Ck..kacau.


Aku membiarkan pesan itu, aku lebih memilih berwudhu dan sholat maghrib kemudian berdzikir lama. Mengadukan kegalauanku pada sang Pemilik hati. Setelah merasa tenang aku memberanikan diri membuka pesan dari Rima. Dan..aku langsung tertegun. Aku zoom gambar yang dia kirim itu.


Aku mengucek mataku beberapa kali, memastikan penglihatanku tidak salah. Itu benar gambar jari manis Rima dengan cincin pemberianku?!


"Bismillah, mas Tyo saya menerima lamaran Mas Tyo."


Aku mulai tersenyum, menatap gambar itu lama. Lalu kenapa dia mengembalikan kotak cincinnya?!


Aku berlari ke ruang tamu, tempat aku meninggalkan kotak itu. Dengan terburu-buru aku buka kotaknya. Ternyata...kosong.


Aku tersenyum sendiri, mengingat betapa bodohnya aku tidak langsung membuka kotak itu tadi.


Rima...Rima...dia menerima lamaranku. Akhirnya, dia resmi menjadi calon istriku. Tapi, dia juga bilang di pesan teks untuk ga terlalu sering ketemu, takut fitnah katanya. Oke..oke aku ngerti. Aku juga takut khilaf kalo keseringan liat dia.


"Tuh kan nyesel! Makanya tadi Ifa bilang buka dulu kotaknya Om."


Suara Syarifa terdengar dari belakangku, dia cekikikan.


Aku hanya menggaruk kepalaku sambil nyengir.


"Cie..ciee yang lagi hepi. Traktir dong Om. Kan Ifa tadi messenger of love nya."


"Iya..beressss"


Aku mengacak jilbab Syarifa dan masuk kamar lagi, melakukan video call pada calon istriku. Sudah kangen banget rasanya.


Ketika wajahnya muncul di layar ponselku, ingin rasanya langsung aku peluk dia. Eits, tapi belum halal.


"Hai sayang..."


"Assalamualaikum mas,"


Dia menunduk malu.


"Waalaikumsalam, maaf lupa,"


Duh saking senengnya aku sampe lupa bilang salam.


"Hmm, aku kangen nih."


Dia hanya tersenyum.


"Tunjukin dong cincinnya."


Dia menunjukkan jari manis dengan cincin emas putih itu. Langsung aku screen shot. Mau aku buat story ah hehehe. Sekali-sekali berlaku alay gapapa kan?! Asal alay pada tempatnya.


"Kapan bisa ketemu kamu?"

__ADS_1


"Belum tau mas."


"Cuma ketemu bentar kok, besok ya pas jemput Emira?"


"Tapi sebentar aja ya mas,"


"Iya sayang, kenapa kalo lama-lama?"


"Nanti aja mas kalo udah halal."


Dia menutup mukanya dengan bantal berbentuk jerapah. Ah kenapa aku jadi deg-deg an gini ya?


"Kalo udah halal ga cuma ketemu sayang, tapi...diapa-apain juga."


"Ih mesum ah."


Dia tertunduk malu.


"Udah ya mas, Rima mau nyiapin materi buat besok."


"Iya..sungkem buat Ibu ya..dari calon mantu."


Dia tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi yang membuatnya semakin manis.


Ah hatiku rasanya meleleh.


Panggilan video call itu berakhir. Aku masih termenung mengingat wajah Rima.


"Ayahh, boleh Mira masuk?"


Emira mengetuk pintu kamarku.


"Iya sayang, masuk sini."


Aku membuka pintu.


"Ayah, boleh engga Mira beli terang bulan? Terang bulan yang isi coklat Toblerone itu loh Ayah."


Hmm aku curiga nih sama permintaan Mira.


"Boleh dong, tapi yang pengen terang bulan Mira apa Kak Ifa ya?"


Terdengar suara tawa Syarifa meledak. Dasar anak sableng.


"Om kita belii terbul yuk, kita beliin juga buat bu Rima, trus kita mampir ke rumahnya. Modus dikit lah om biar bisa ketemuan."


Syarifa menepuk dadanya dengan gaya sombong.


Aku tertawa lepas. Ponakan sableng ini oke juga akalnya.


"Iya deh, tumben pinter kamu!"


"Iyaa kan muridnya bu Rima gitcuh."


Kami tertawa bersama.


Ga lama kami bertiga sudah meluncur ke tempat penjual terang bulan. Syarifa sudah memesan lewat telpon, sehingga kami ga perlu mengantri lama.


30 menit kemudian kami sudah meluncur menuju rumah Rima.


Jam menunjukkan pukul 8.15. Kompleks perumahan itu sepi. Syarifa mengucap salam dan ga lama Hanif keluar membukakan pagar.


"Masuk mas, saya panggilkan mbak Rima dulu ya."


Ga lama kemudian Rima keluar bersama ibu. Dia memakai jilbab berwarna ungu muda, lembut dan sesuai dengan warna kulitnya. Pandangan mataku langsung tertuju pada jari manisnya, dengan cincin emas putih dari aku. Aku tersenyum, dia juga tersenyum. Wah kayanya nanti aku bakal susah tidur nih.


"Buu, kita habis beli terbul. Trus mampir kesini juga. Bawain terbul buat bu Rima dan Oma,"


Syarifa menjadi juru bicara, sementara aku cuma diam dan menatap Rima. Emira, jangan ditanya. Dia sudah langsung nempel sama Rima sejak kami nyampe tadi. Aku jadi pengen nempel juga #eh 🤭


"Sama anu bu..ada yang kangen juga,"


Syarifa terkikik sambil menutup mulutnya. Aku langsung grogi, halah kaya abg labil aja. Padahal di luar dingin, tapi aku malah berkeringat.


Rima tersenyum malu. Duh ekspresinya bikin gemes. Pengennya sekarang juga aku nikahin trus aku bawa pulang ke rumah. Bisa ga keluar rumah seminggu kalo gitu.


"Hmm, bu saya akan datang bersama orang tua saya.  InshaAllah seminggu lagi untuk acara lamaran resmi."


"Oh iya nak Tyo, untuk waktu pastinya kapan ya? Biar ibu bisa siap-siap."


"Bagaimana kalo sabtu pagi bu, sekitar jam 10.00."


"Iya wes, nanti tolong ibu dikasi tau berapa orang dari pihak keluarga nak Tyo ya."


"Iya bu, mm boleh saya bicara sama Rima sebentar bu."


Rima menoleh gugup pada Ibunya.


"Boleh, tapi di teras aja ya. Kalo boleh ibu minta, jangan pergi berduaan dulu. Kan masih belum halal,"


Ibu tersenyum penuh arti. Aku mengiyakan dengan sopan.


Sekarang aku dan Rima sudah duduk berdua di teras, jangan kuatir Ibu, Syarifa, Emira dan Hanif ada di ruang tamu. Ga ada pihak ketiga, adanya pihak keempat, kelima, dan seterusnya.

__ADS_1


"Rim, makasih ya sudah nerima lamaran saya."


"Iya mas,"


"Rim, liat sini dong."


Dia menatapku sebentar, kemudian memalingkan wajahnya.


"Aku kangen..banget."


Aku memutuskan tidak lagi menggunakan 'saya', kami kan akan jadi suami-istri. Rasanya formal banget kalo harus menggunakan 'saya'.


"Iya mas,"


"Kamu ga kangen?"


Dia mengangguk.


"Kangen?"


Aku sengaja menggodanya, ingin mendengar kalimat itu dari mulutnya.


"Kangen..sama."


Dia menjawab lirih.


"Kalo akad nikahnya bulan depan gimana Rim?"


"Iya mas, saya ikut saja."


"Kamu mau mahar apa?"


"Yang paling mudah saja mas,"


"Kamu pengen apa?"


"Hmm apa ya mas? Bingung."


Dia tersenyum.


"Apa? Perhiasan? Alat sholat? Atau apa?"


"Terserah mas Tyo saja,"


"Kamu pengen apa sayang? Bilang dong,"


"Cincin aja, terserah beratnya. Yang ga sulit buat mas Tyo."


Aku mengangguk, ga ada yang berat kalo buat calon istri. Wah aku bener-bener jadi bucin nih. Gapapa deh, yang penting Rima sudah menerima lamaranku.


"Udah ya mas, udah malem. Ga enak sama ibu, lagian kasian Emira sudah waktunya tidur."


Aku mengangguk, walaupun berat ninggalin dia. Boleh engga langsung aku bawa pulang sekarang?


Huffff


Pikiranku mulai aneh.


Kaya mimpi aja, aku yang duda nyaris 40 tahun ini dapet calon istri single, salihah, cantik lagi.


Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan..


"Rim, ada satu lagi."


Aku berbalik lagi menghadap Rima.


"Apa mas?"


Dia menatapku heran.


"Aku ga mau kamu berhubungan dengan Yulia lagi, aku serius Rim."


Aku menatap Rima, dia terlihat gelisah.


"Hey, kok diem?"


Aku melembutkan suaraku. Jangan-jangan dia takut mendengar nada bicaraku tadi.


"Iya mas,"


Dia menjawab dengan ragu. Paling tidak aku sedikit lega.


🌷🌷🌷



Tyo hepiii setelah menerima jawaban Rima


Gimana ceritanya? Part ini manis yaa kan?!


Hihihi


Makanya kasi like dan bintang dong 😍😍😍hihihi

__ADS_1


__ADS_2