
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Ahad pagi itu Hanif sedang mengelap motornya. Dia bersiap akan ke rumah sakit seperti biasa. Ibu sedang pergi, jadilah rumah sepi.
Di dapur Rima sedang sibuk dengan beberapa peralatan masaknya. Terdengar suara kelontengan dan suara deru blender. Samar-samar aroma bawang putih yang sedang digoreng terbawa angin pagi yang ditemani sedikit mendung.
Hanif fokus mengelap motornya. Jam 8.00 dia sudah harus stand by di rumah sakit.
"Nif, Rima ada?"
Suara khas perempuang menyapa Hanif. Membuat dia menoleh dan menemukan Yulia berdiri di luar pagar.
"Eh mbak Yulia, ada mbak. Masuk mbak."
Hanif membukakan pagar.
"Langsung ke dapur aja mbak."
Yulia mengangguk.
Yulia melangkah ke dapur mengikuti aroma wangi masakan yang membuatnya lapar. Dia melihat Rima dengan spatula di tangan kanan sedang sibuk mengaduk sesuatu di wajan.
"Ehemmm,"
Rima yang sedang asyik di depan kompor menoleh.
"Hey Yul, udah lama?"
Rima berusaha bersikap biasa. Seharusnya dia marah karena foto-foto yang dikirimkan Yulia pada Tyo. Kadang Yulia memang bisa bertindak nekat. Tapi Rima tak ingin membuat Yulia berdrama hari ini. Dia lelah dan butuh sedikit ketenangan untuk memikirkan persiapan akad nikah.
Ya akad nikah dengan Tyo yang harus dipersiapkan dengan serius!
"Barusan, lagi masak apa?"
"Cuma goreng ayam sama cah kangkung. Udah makan?"
Rima menata masakan di meja makan.
"Belum,"
"Kesini dianter mas Dani?"
"Engga aku naik taksi online."
"Oh, makan yuk."
Rima mengangsurkan piring pada Yulia.
"Bikinin kopi dong,"
Yulia menyentuh tangan Rima, Rima mengacungkan jempol dan mengucap ‘oke’.
Tak lama mereka sudah duduk berdua, menikmati sarapan.
"Mbak, Hanif berangkat ya."
Hanif berpamitan, dijawab Rima dengan anggukan dan pesan untuk berhati-hati.
"Yul, kamu kirim foto apa sama Mas Tyo?"
Rima berusaha menekan suaranya selembut mungkin. Dia tak ingin Yulia bereaksi berlebihan. Yulia hanya melirik Rima, ekspresinya tak bersalah.
"Foto apaan? Aku ga ada ngirim apa-apa. Dia gr amat sih."
"Yakin?"
Rima meletakkan tangannya di punggung tangan Yulia. Yulia mengangguk tak peduli. Rima tahu betul, Yulia berbohong.
"Kenapa Yul? Kenapa kamu ga suka sama Mas Tyo?"
"Ya ga suka aja, orang ga suka kan ga pakek alasan."
__ADS_1
"Yul, aku akan menikah sama mas Tyo."
Uhukk uhukk
Yulia terbatuk. Dia terkejut dengan keputusan Rima.
"Ga ada cowok lain? Kenapa harus sama dia sih?"
Rima menatap Yulia.
"Hatiku yang milih Yul. Tolong, jangan rusak hubunganku sama Mas Tyo."
Yulia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Rima. Kemudian bersedekap.
"Aku benci sama Tyo!!! Aku ga mau kamu nikah sama dia!!"
"Yul, tenang dulu ya. Kita bicarakan ini baik-baik."
Rima menoleh ke arah ruang tamu ketika terdengar suara salam. Dia segera beranjak hendak membukakan pintu.
"Adhi?!"
"Hai Rim."
Adhi berdiri di depan pintu. Mengenakan kaos hitam dan celana jeans, Adhi terlihat cool. Rima menoleh ke arah ruang makan, khawatir Yulia akan bereaksi mendengar kedatangan Adhi.
"Kok ga seneng sih liat aku?"
Adhi pura-pura cemberut.
"Biasa aja, kamu datang ga bawa oleh-oleh lagi."
"Yaelah Rim, sahabat datang malah ditodong oleh-oleh. Tanyain kabar kek apa kek?"
"Tokek kek. Crewet ah. Sana duduk."
Rima memberi kode dengan gerakan dagunya.
"Kenapa ga di dalem aja sih? Dingin di teras."
"Pakek jaket kalo dingin."
Adhi terkekeh. Dia ga bisa melukiskan perasaannya bisa melihat Rima hari ini.
"Ibu ada?"
"Ga ada lagi pergi, kenapa?"
"Pengen ngomong aja sama beliau."
"Ngomong apa?"
"Ehmm..kasi tau engga ya."
"Nyesel aku nyuruh kamu duduk, udah ah sana pulang."
"Ya salam, gini amat ya calon istri aku."
Mata Rima membulat mendengar ucapan Adhi. Dia berharap salah dengar.
"Kamu bilang apa?!"
"Calon istri,"
Adhi menatapnya tak berkedip.
"Guyonan kamu tumben ga mbois banget."
"Bukan guyonan ini Rim. Aku serius!"
Rima semakin shock. Si Adhi mimpi apa sih kok bisa seberani itu?!
"Aku mau bilang sama Ibu, mau ngelamar kamu jadi istriku. Aku sudah bilang mamaku juga, beliau setuju banget Rim. Emang kamu yang diinginkan beliau jadi menantu."
"Dhi..kamu lagi demam atau apa? Kok tiba-tiba ngomongnya aneh?!”
__ADS_1
Rima kehilangan kata-kata untuk menjawab Adhi. Dia sungguh tak menyangka Adhi memilih hari ini untuk membicarakan topik se mengejutkan ini! Tiba-tiba kepalanya pening.
Adhi melamarnya! Bukankah itu yang diinginkan Rima sejak lama?! Sejak mereka sama-sama masih berseragam putih biru.
"Rim, aku cinta sama kamu. Aku yang bodoh baru menyadari ini Rim. Sudah beberapa bulan aku galau dengan perasaanku."
Adhi mengeluarkan kotak beludru berwarna biru dari sakunya. Jantung Rima semakin berlarian. Oh Ya Allah ini tak pernah dibayangkan Rima.
"Rim, aku menyadari perasaanku ke Yulia cuma obsesi. Yang aku cinta itu kamu Rim. Dan aku ingin kamu nikah sama aku. Aku memutuskan Yulia karena aku cinta sama kamu Rim,"
Adhi membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin menyembul anggun.
Rima menutup mulutnya. Dia semakin tak bisa mengatakan apa-apa.
"Rim, please terima lamaranku ya. Kita kan sudah kenal lama. Kamu tahu bagian terburuk dari aku. Aku pengen kita secepatnya resmi Rim."
Rima mengangkat tangannya perlahan, menunjukkan cincin dari Tyo yang tersemat di jarinya. Adhi mengernyitkan kening.
"Maksudmu apa Rim?"
"Aku..sudah bertunangan Dhi."
"Apa?!!!"
Adhi berdiri, wajahnya pucat.
"Sama siapa??!! Kenapa ga bilang sama aku Rim?! Ga ada laki-laki yang bisa milikin kamu Rim. Cuma aku. Ga mungkin kamu udah tunangan kan? Kamu bercanda ya Rim. Bilang kamu bercanda!!"
Adhi mengguncang bahu Rima.
"Adhi!! Lepass!!"
Rima mendorong Adhi. Lelaki itu mundur, keningnya berkeringat. Pandangan matanya penuh kesedihan.
"Aku sudah bertunangan sama Mas Tyo."
"Oh jadi duda sialan itu?! Dia yang ngambil kamu dari aku?!"
Rima tak menyangka Adhi akan bereaksi seperti ini. Tadinya Rima berharap Adhi akan menerima dengan lapang dada dan berdoa untuk kebahagiaan Rima. Tapi Rima salah. Adhi ternyata tak seperti yang dipikirnya selama ini.
"Rim, aku ga rela kamu nikah sama dia. Apa sih hebatnya dia?! Aku bisa kasih kamu lebih dari yang dia kasih."
Adhi meraih tangan Rima dan berusaha keras melepaskan cincin Tyo.
"Dhi!! Lepass!! Apaan sih?!"
Rima berusaha melepaskan diri dari Adhi yang seperti kehilangan akal sehat.
"Adhii!!"
Suara bentakan itu menyadarkan Adhi. Yulia berdiri dengan air mata berderai.
Adhi terkejut, tak menyangka Yulia ada disitu.
Yulia melangkah mendekati Adhi, dan...
Plakkkk
Sebuah tamparan keras membuat pipi Adhi memerah.
"Dasar cowok pengecut!!"
Yulia langsung melangkah pergi.
"Yul, Yuliaa, tunggu Yul."
Rima mengejar Yulia. Yulia menghempaskan tangan Rima yang baru saja meraih lengannya.
Yulia memandangnya dengan marah.
"Aku benci sama kamu!!"
Yulia berteriak keras di depan Rima. Kemudian perempuan itu melangkah pergi begitu saja.
Meninggalkan Rima yang termangu.
__ADS_1
Adhitama Zakaria