Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Adhi oh Adhi


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Mulai setiap langkah dengan nama Allah


❤️❤️❤️


"Om Tyo...udah ngobrolnya?"


Syarifa yang belum memahami situasi itu tiba-tiba datang dan merangsek kembali ke tempat duduknya.


"Eh..maaf saya ga tahu kalo ada tamu."


Syarifa mengangguk sopan pada Adhi yang wajahnya terlihat tegang.


Dua pria itu melepaskan jabat tangannya karena kedatangan Syarifa. Rima diam-diam bernafas lega. Entah kenapa dia merasa tegang melihat interaksi Tyo dan Adhi.


"Ifa..ayok pulang dulu. Kasian Emira nungguin."


Tyo memandang Syarifa masih dengan ekspresi datar. Ada bagian di dalam hatinya yang cemburu, enggan meninggalkan Rima dengan Adhi berdua saja.


"Saya..juga mau pulang mas."


Rima menatap Tyo dan tersenyum tipis. Tyo bernafas lega, setidaknya Rima ga akan berduaan dengan Adhi.


"Kamu naik apa Rim? Aku anter deh, sekalian aku ketemu Ibu."


Tyo mendengar kalimat itu dengan jelas, menohok bagian hatinya yang ga kelihatan. Sepertinya Adhi sengaja membuat Tyo semakin panas dingin."


"Aku naik motor kok Dhi, ga usah dianter."


Rima menjawab, melirik Tyo.


"Oh gitu, ya udah aku ngikutin kamu aja. Tadinya mau beli burger buat Nina, tapi ntar aja habis nganterin oleh-oleh buat Ibumu."


"Iya..boleh."


Rima menjawab lirih. Dia kemudian pamit pada Syarifa dan Tyo dan melangkah menuju tempat parkir diikuti Adhi. Dua pria itu sama-sama diam, tak ada kata-kata untuk bersopan santun. Hanya ekspresi kaku  dan tak bersahabat yang menggantung di udara.


😤😤😤


"Om, kok diem aja sih?"


Syarifa sudah ga tahan dengan kesunyian yang melingkupi di dalam mobil. Dia tahu Om nya kelihatan bad mood, entah karena apa.


"Capek."


"Tadi ngobrol apa aja sama bu Rima? Sukses kan pdkt nya?"


Syarifa menatap Om nya sambil senyum-senyum.


"Belum tau."


"Ih! Om lagi bete ya? Kok jawabnya irit banget sihh?!"


"Cowok tadi itu siapa sih Fa?"


"Oooo itu toh yang bikin bete,"


Syarifa mengikik.


"Yaa itu yang Ifa bilangin cowok putih sipit yang suka nyegat bu Rima di depan sekolah."


"Nyegat gimana? Ngajak Rima jalan?"


"Cemburu nih ceritanya."


Syarifa mengikik lagi menggoda Om nya, yang digoda hanya melirik sinis. Tyo tetap menatap jalanan, mengatupkan rahangnya kuat menahan rasa nyeri karena cemburu.


"Om, bu Rima itu bukan tipe yang gampangan. Setau Ifa dia belum pernah mau semobil sama cowok itu. Kayanya cowok itu yang suka maksa bu Rima untuk ikut sama dia deh."


Tyo bernafas lega. Sepertinya dia tidak salah pilih. Rima bukan hanya perempuan baik, tapi juga shalihah.


"Trus om Tyo sudah ngobrol apa aja tadi?"


"Ngajak jalan."


"Bu Rima mau?"


"Ya belum mau lah."

__ADS_1


"Trus?"


"Yaa saya mau minta ijin sama ibunya, mau ngajak dia jalan. Tapi dia ga mau jalan berdua aja."


"Ya iyalahh..kalo ngajak jalan bu Rima harus ngajak eyke donk."


Syarifa mengibaskan tangannya bergaya alay.


"Yaa kalo gitu kamu pihak ketiga...alias syaiton."


Tyo terbahak keras, sedangkan ponakan centilnya sudah merengut. Sepanjang perjalanan pulang Tyo tak bisa melepaskan pikirannya dari Rima. Dia sudah bertekad untuk meraih hati Rima dan menjadikan Rima istrinya.


😤😤😤


Rima sampai di rumahnya pas ketika adzan maghrib berkumandang. Motor Hanif, adiknya sudah terparkir rapi di garasi mungil rumahnya. Tak lama sebuah mobil Fortuner berhenti di depan rumahnya, Adhi turun sambil menenteng sebuah paper bag.


"Rim..cowok tadi itu siapa?"


Rima mengernyitkan keningnya. Tumben Adhi begitu peduli pada urusannya.


"Kenapa sih Dhi? Dari tadi topik itu aja yang dibahas."


"Yaa aku kan cuma pengen tau. Kamu biasanya ga mau aku ajak jalan berdua, ini tadi kenapa berduaan?"


"Ya Allah Dhi, kamu ga liat aku tadi sama siapa? Aku ga berduaan, ada Syarifa juga disitu."


"Iya ada Syarifa, tapi dia sengaja ninggalin kamu berdua kan?"


"Dhi kamu ajaib banget ya hari ini, nyebelin! Udah deh aku ga mau berdebat masalah ginian."


Rima melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Rim..tunggu dulu. Aku mau ketemu ibu."


"Ini maghrib, sholat dulu sana ke mesjid."


Rima terus melangkah, perasaannya campur aduk antara heran dan sebal dengan interogasi Adhi.


"Nif ajak Adhi ke mesjid tu."


Hanif yang berpapasan dengan Rima di ruang tamu melongo. Tanpa banyak tanya dia pun mengajak Adhi yang masih tertegun untuk segera ke mesjid.


Adhi sudah duduk selama 15 menit di ruang tamu, tapi Rima tak kunjung turun dari kamarnya di lantai 2. Sementara itu Hanif yang tadi pamit ke dapur belum nongol lagi. Jadilah Adhi galau sendiri di ruang tamu yang sepi, ditemani rintik hujan yang mulai turun satu persatu.


[Rim, aku tunggu di ruang tamu]


Akhirnya Adhi mengirimkan pesan whatsap. Pesannya belum dibaca.


"Loh nak Adhi, kapan datang?"


Ibu tiba-tiba sudah berdiri di ruang tamu.


"Eh Ibu, sudah tadi bu."


Adhi bangkit dan mencium punggung tangan Ibu Anisa -ibunya Rima-.


"Rima sudah tau kalo nak Adhi datang?"


"Sudah sih bu, tapi dia belum turun lagi."


"Oh mungkin dia ngaji, biasanya kalo habis maghrib begitu."


Adhi hanya ber oo pendek.


"Oh iya bu..ini saya bawain Ibu oleh-oleh dari Kalimantan."


"Wah terima kasih ya, jadi repot nak Adhi."


"Engga kok bu, maaf cuma sedikit."


Hanif muncul membawa nampan dengan dua cangkir yang kelihatannya berisi minuman panas.


"Mas maaf lama, masih ganti gas tadi."


"Eh iya gapapa Nif, kirain kamu ketiduran di dapur."


Hanif nyengir sambil garuk-garuk kepala. Mereka pun mengobrol hangat. Dalam hati Adhi bertanya-tanya mengapa Rima belum turun.


Rima lama banget sih?! Aku kok rasanya pengen liat wajahnya dia, bentar aja. Kangen.

__ADS_1


Adhi tergagap sendiri menyadari perasaannya yang aneh.


"Nak Adhi, ibu panggil Rima dulu ya."


Ibu berdiri dan hendak melangkah ke lantai dua.


"Ga usah bu, Rima udah disini kok."


Rima muncul, berdiri di anak tangga terakhir. Entah mengapa Adhi merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya.


Akhirnya dia nongol juga. Gapapalah dia cemberut, yang penting bisa liat wajahnya sebentar.


Lagi-lagi Adhi bingung dengan perasaannya yang tak seperti biasanya.


"Ya udah Ibu tinggal ke dapur dulu ya, nak Adhi makan bareng kita ya. Jangan pulang dulu."


Ibu berlalu dari ruang tamu, meninggalkan Rima, Hanif dan Adhi. Rima lebih banyak mendengarkan obrolan Adhi dan Hanif, dia masih enggan menanggapi obrolan. Tuduhan Adhi tadi membuatnya kesal.


"Mas bentar ya, Hanif mau ambil ponsel dulu."


Hanif pun meninggalkan Rima dan Adhi dalam suasana canggung.


"Kamu marah sama aku Rim?"


"Ga tau. Pikir aja sendiri."


"Astaga galak amat sih jadi orang."


Rima merengut.


"Hmmm besok ada waktu?"


"Belum tau."


"Temenin aku dan Yulia yuk."


Rima menatap Adhi dengan tajam.


"Kamu tu ya!! Ahh taulah, capek ngomong sama kalian berdua"


Rima membuang tatapannya. Sedangkan Adhi, entah kenapa wajah Rima yang sedang kesal membuatnya betah memandang.


"Aku kenapa emangnya Rim? Ganteng?! Ya iyalah."


"Pede amat."


"Rim..ayolahh."


"Aku ga bisa Dhi, besok aku mulai ngajarin Emira."


"Emira siapa?"


"Makanya lain kali jangan suka menyimpulkan sendiri, laki-laki tadi itu Ayahnya Emira. Murid les ku."


"Oh jadi dia sudah punya anak?! Baguslah, aku jadi lega."


"Lega?! Maksut kamu apa sih?!"


"Yaa maksutnya..aku lega karena dia ga akan godain kamu gitu."


"Tumben banget sih kamu peduli."


"Kan udah lama aku peduli, kamunya aja yang ga nyadar."


Rima merona. Dia ga pernah berpikir bahwa Adhi peduli padanya.


"Jadi..besokk bisa ya nemenin aku dan Yulia?"


Rima menatap Adhi lagi, sorot matanya terluka. Baru saja dia merasa senang mendapat perhatian Adhi, sekarang posisinya sudah kembali menjadi alibi.


"Kalo besok ga bisa, lusa gapapa Rim."


Rima berdiri dan melangkah lebar, meninggalkan Adhi yang menatapnya dengan sorot mata sendu. Sesungguhnya Adhi masih rindu pada Rima, tetapi di satu sisi ada perasaan rindu juga pada Yulia.


Rumit. Ga bisa dilukiskan dengan mudah!


Adhi nyebelin banget ya?! Menurut kalian sebenarnya Adhi cinta engga sih sama Rima?


__ADS_1


Adhitama Zakaria 🤭


__ADS_2