Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Bertemu Adhi


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang maha Agung


❤️❤️❤️


"Cinta itu subjektif, karena itu aku memilih untuk objektif..."


-mh-


Sabtu jam 10 pagi.


Rima duduk di ruang makan, memainkan cangkir kopinya. Pandangannya kosong, satu tangan menopang dagunya.


"Sekolah libur mbak?"


Rima masih diam.


"Mbak woi, jangan ngelamun."


Hanif menepuk pundak Rima.


"Eh apa Nif?"


"Mbak Rima ga ngajar? Libur?"


Hanif mengulangi pertanyaannya.


"Eh iya libur Nif, habis PTS."


"Mbak Rima kok pagi-pagi udah rapi? Mau pergi sama mas Tyo."


"Engga,"


"Terus?"


"Ada janji sama seseorang,"


"Ciee seseorang, udah hampir nikah lo mbak. Jangan maen api, api dunia aja panas apalagi api neraka. Tapi ya ga tau lagi kalo api cintaku padamuh."


Rima tertawa melempar tissue ke arah Hanif yang juga terbahak.


"Nif, anterin mbak ya."


"Kemana?"


"Ke restonya mbak Yuanita, resto Green Barn."


"Kok ga sama mas Tyo?"


"Engga, belum halal ga boleh berduaan."


"Lah emang mbak ketemu sama someone ini ga berduaan apa? Mas Tyo sudah tau?!"


"Cerewet juga ini Hanif, mas Tyo sudah tau. Aku ga berduaan ada mbak Yuanita yang nemenin."


"Kalo masalah keamanan mbak Rima aku harus crewet lah."


Rima tertawa, cukup terhibur dengan tingkah adik satu-satunya itu. Ibu ikut tersenyum mendengar percakapan itu.


"Mau nganterin engga?"


"Iya iya mau, tapi Hanif ga bisa lama-lama ya mbak. Soalnya Hanif harus ke rumah sakit jam 11, mbak Rima pulangnya gimana?"


"Gampanglah, naek taksi online aja. Kamu di rumah sakit sampe jam berapa?"


Hanif memang sedang menjalani masa co-*** di rumah sakit umum. Dia mahasiswa kedokteran tingkat akhir.

__ADS_1


"Ga tau mbak, malem mungkin."


"Ya udah mbak pulangnya sendiri aja."


Tak lama Hanif membonceng Rima menuju resto milik Yuanita.


Flashback


Setelah pembicaraan panjang dengan Tyo, Rima setuju untuk menemui Adhi. Tyo memintanya bertemu Adhi di resto milik Yuanita. Yuanita juga setuju untuk menemani Rima, karena Rima bersikukuh tidak mau hanya berdua dengan Adhi.


Ingatan Rima kembali pada pertemuannya dengan Tyo beberapa hari yang lalu. Ketika Tyo bertanya apakah Rima mencintainya dan Rima hanya terdiam.


"Yaa kamu temuin Adhi dulu aja Rim,"


"Saya ga mau berduaan mas,"


"Ketemu di tempat yang ramai, minta temanmu nemenin. Atau di restonya Bu Yuan aja. Kan kamu kenal baik sama dia."


Rima mengangguk. Mereka kemudian terdiam.


"Mas,"


"Rim,"


Keduanya secara ga sengaja memulai berbicara bersamaan.


"Kamu dulu aja Rim,mau ngomong apa?"


Tyo tersenyum menatap Rima yang menatapnya sekilas.


"Maafkan saya,"


Rima menggigit bibirnya. Tyo masih diam mencoba mencerna apa yang dikatakan Rima. Maaf untuk apa? Tapi Tyo tidak ingin bertanya, dia terlalu takut menerima jawaban yang tidak ingin didengarnya.


"Ya udahlah, saya balik dulu ya. Pamit sama ibu ya Rim."


Flashback off


🌷🌷🌷


Resto Green Barn, jam 10.20


"Rim, kamu yakin mau menikah sama Tyo? Dia ga pantes buat kamu Rim, ga serasi. Dia duda, sedangkan kamu belum pernah menikah. Perbedaan usia kalian juga jauh. Aku juga yakin kamu ga cinta sama dia Rim."


Adhi menatap Rima yang hanya menunduk, pagi itu masih hangat. Langit memang biru diselingi beberapa keping awan putih. Ada sekesiur angin dari area persawahan, menghampiri Adhi dan Rima yang duduk di kursi rotan di area outdoor resto itu.


"Terus? Ada lagi yang mau kamu bicarakan Dhi?"


"Kita akan lebih cocok bersama Rim. Aku sudah lama mengenal kamu, aku tau gimana kamu. Kamu juga sama, akan lebih mudah buat kita untuk membangun rumah tangga. Kalopun kamu belum cinta sama aku, aku yakin pelan-pelan aku bisa bikin kamu mencintai aku."


Adhi masih penuh dengan emosi, ada beberapa titik keringat di keningnya.


"Kamu pikir menikah itu hanya urusan cinta??"


"Aku sudah nyangka kamu akan bilang gitu Rim, emang ga melulu tentang cinta.."


"Trus kamu pikir menikah itu harus dengan orang yang sudah lama dikenal, harus yang serasi??"


Adhi menatap Rima lagi.


"Iya dong, duda ya nikahnya sama janda lah. Kamu kan bukan janda."


Sekarang Rima balik menatap Adhi dengan tajam. Genggaman tangannya mengerat. Dia kecewa karena pemikiran Adhi ternyata hanya sedemikian sempit. Terbayang lagi peristiwa ketika Adhi menyatakan ingin melamarnya. Reaksi Adhi yang seperti anak kecil membuat rasa cinta Rima tiba-tiba memudar. Ibunya benar, Tyo memang jauh lebih dewasa.


"Menikah itu bukan dikotomi. Kamu ga bisa maksa single menikah dengan single atau duda dengan janda."


"Trus menurut kamu nikah itu apa? Rim, kita itu serasi, aku janji aku sudah berubah Rim. Aku sadar aku sudah melakukan kesalahan besar."

__ADS_1


"Menikah itu ibarat mengayuh bahtera. Suami istri menuju ke arah yang sama, mendayung dengan teknik yang sama, menyempurnakan bahtera mereka bersama-sama."


"Oke..oke..aku paham. Kalo gitu lepaskan Tyo Rim."


"Kamu ga ngerti juga ya Dhi?!"


"Apalagi Rim? Tyo udah ngasi kebebasan kamu untuk memilih kan, dia minta aku datang sendiri dan nanya ke kamu. Itu artinya dia ga serius sama kamu."


"Kamu salah Dhi! Mas Tyo mengijinkan aku menemui kamu karena dia percaya aku. Dia ngasi aku kesempatan untuk memantapkan pilihan. Walau sebenernya aku sudah mantap dengan pilihanku. Dan kamu ga pernah jadi pilihanku Dhi."


Adhi terkejut mendengar jawaban Rima. Bagaimana mungkin Rima tidak memilihnya?! Bukankah dia yang lebih dulu mengenal Rima. Tyo hanya seorang intruder yang tiba-tiba hadir dalam hidup Rima.


"Rim, apa sih hebatnya Tyo?! Kaya? Aku juga sudah kaya Rim, kamu mau minta apa aku turutin. Dia punya kebun, sama aku juga punya, apa?! Rumah? Mobil? Kerjaan mapan?! Apa yang Tyo punya sih?!"


Adhi menaikkan suaranya, dia kecewa.


"Justru itu Dhi, mas Tyo punya semua yang aku butuh, dan kami punya satu misi yang sama, berubah untuk lebih baik. Bukan berubah ketika semua terlanjur salah. Sudahlah Dhi, aku ga mau berdebat lagi. Aku juga ga mau nyakitin kamu."


Adhi merasa tertohok, ucapan Rima menyindirnya.


"Ck..aku heran sama keputusanmu Rim. Milih orang yang jauh lebih tua, duda pula. Kaya stok cowok udah habis aja. Apa kamu bisa bahagia sama dia? Coba pikirkan lagi Rim."


"Bahagia atau tidak itu resiko yang sudah siap aku tanggung, jadi kamu ga perlu bingung lagi dengan kebahagiaanku."


Rima menatap Adhi dengan marah. Dia kecewa dengan semua yang dikatakan Adhi. Seandainya Adhi bersikap lebih dewasa, Rima akan lebih respek padanya.


Yuanita melihat semua itu dari jarak yang cukup dekat. Dia salut dengan ketegasan Rima. Diam-diam dia berharap Yulia bisa setegas Rima, sehingga rumah tangga dan hidupnya tidak kacau seperti sekarang ini. Tanpa Rima bercerita pun Yuanita sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa untuk memperbaiki semua.


"Mbak, aku balik dulu ya."


"Eh iya Rim, naik apa?"


Yuanita tersentak ketika Rima sudah berdiri di dekatnya.


"Naik taksi onlen aja mbak,"


"Lah, tuh sudah ada yang nunggu."


Yuanita menunjuk seseorang yang berdiri di ambang pintu. Tyo tersenyum pada Rima.


Rima menunduk malu, bibirnya sekarang menyunggingkan senyum. Jantungnya berdebar senang melihat Tyo.


"Ga ah mbak, nanti malah berduaan. Trus ga pulang malah kemana-mana."


"Cieee yang lagi kasmaran."


"Apaan sih mbak Yuan,"


Mereka mengikik berbarengan.


🌷🌷🌷


"Hey, sudah?"


"Sudah,"


Rima mengangguk menjawab Tyo.


"Mau dianter pulang atau...?"


"Naik taksol aja mas,"


Adhi tiba-tiba muncul di belakang Tyo. Rima terlihat khawatir.


"Selamat kamu menang! Awas kalo bikin Rima sedih, aku yang bikin perhitungan!"


Adhi langsung melangkah keluar, tak menoleh lagi.

__ADS_1


Terima kasih apresiasinya 💐💐


__ADS_2