
Bismillah ....
"Jangankan berhubungan, memandang Yulia saja saya ga selera!!"
Dani dan Tyo saling menatap tajam. Sore itu menjadi semakin gelap dengan amarah yang siap berlomba untuk dimuntahkan!
"Anda jangan menghina istri saya!" sentak Dani dengan wajah memerah karena marah.
"Kamu yang menghina saya!! Kamu pikir istri kamu itu sangat berharga hah?! Dia itu sampah!!"
Tyo membalas tak kalah sengit. Dan satu pukulan menghantam wajah Tyo dengan sekuat tenaga. Tyo merasakan sudut bibirnya berdarah dan perih.
"Mas!" teriak Rima berlari menghampiri Tyo yang mengusap bibirnya yang berdenyut.
Rima memegang lengan Tyo dengan erat. Berbisik menenangkan Tyo untuk tidak membalas. Dia tidak mau situasi menjadi semakin runyam. Kesalahpahaman ini sungguh menyedihkan untuk Rima.
"Mas, sudah cukup. Ayo kita masuk." Rima menarik tangan Tyo. Suaminya tetap diam masih menatap Dani dengan nanar.
"Mas Dani, ini semua salah paham. Mas Tyo ga ada hubungan sama Yulia. Ga ada mas!" suara Rima yang serak karena bercampur tangis terdengar sedih. Kejadian ini tak pernah terlintas di benaknya. Bagaimana mungkin Dani bisa berpikir Tyo berselingkuh dengan Yulia. Bagaimana semua bisa menjadi salah seperti ini.
"Rim, aku awalnya juga mikir ini cuma salah paham. Tapi aku sudah nyari bukti. Ga mungkin aku nuduh suamimu sembarangan!" balas Dani dengan putus asa.
"Kamu punya bukti apa?! Tunjukkan sekarang kalo kamu emang laki!" Lagi lagi Tyo tak dapat menahan emosi. Dia tidak balas memukul Dani hanya karena tidak mau Rima menyaksikan pertengkaran ini.
"Kamu pernah datang ke kantor Yulia dan hanya berada berdua saja di ruangannya, itu bukti pertama,"
Rima terkesiap. Apakah itu benar? Dia hampir saja menutup telinganya, takut mendengar hal yang tidak ingin diketahuinya.
"Yang kedua, kamu pernah meninggalkan Yulia di sky lounge Hotel Amarta, di saat kamu memutuskan memilih Rima dan mendepak Yulia. Benar kan Pak Tyo yang terhormat?!"
Rima terbelalak dan Tyo mengerutkan kening. Sekarang Rima paham bahwa Dani tidak melihat gambaran besarnya. Informasi yang didapatnya hanya sepotong- sepotong.
"Itu kamu sebut bukti?!" Tyo menatap Dani dengan ekspresi menahan tawa.
"Ga ada yang lebih menggelikan ya Dan?!"
Tidak ada lagi panggilan dengan embel-embel 'pak'. Sopan santun sudah lenyap entah kemana. Dua lelaki itu sedang dibalut emosi.
"Bukti itu bukan cuma omong kosong, kalo kamu kesini datang bawa fotoku sama Yulia lagi di hotel itu baru namanya bukti. Tapi sorry, aku ga nafsu sama istrimu! Tanya sama dia, udah berapa laki-laki yang dia ajak ke ranjangnya!!"
"*******!!" Teriak Dani sambil kembali hendak menghajar Tyo. Tapi kali ini Tyo sudah siap menghindar sehingga tangan Dani hanya menyentuh udara yang pengap.
__ADS_1
Rima berdiri ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
" Cukup Dan!! Kamu datang ke rumahku nuduh aku selingkuh sama istrimu! Itu aja udah kurang ajar. Kalo kamu mau bukti tunggu di sini! Aku akan tunjukkan yang namanya bukti itu kaya apa!"
Tyo melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar. Rima mengikutinya dengan perasaan semakin tak karuan. Bukti apa yang dimaksud Tyo. Dia semakin bingung. Suaminya itu tidak pernah menceritakan apapun tentang Yulia. Rima semakin khawatir. Dia tidak mau terjadi hal buruk pada suaminya terlebih lagi pada Yulia.
Tyo menuju ke ruang kerjanya. Membuka sebuah rak besi tempat dia menyimpan dokumen.
"Mas, Mas Tyo mau ngapain?!" Rima berdiri di belakang Tyo dengan wajah resah.
Tyo tidak menjawab, tangannya sibuk membuka lembaran amplop berwarna coklat yang berbaris rapi dengan label nama arsip.
"Mas, jangan bikin aku kuatir," kata Rima lagi sambil menggigit bibirnya.
Tyo menarik sebuah amplop dan berbalik menghadap istrinya yang sekarang sudah berkaca-kaca.
"Rima, aku ga punya pilihan. Semua ini harus dibongkar. Aku ga mau lagi dituduh yang engga engga. Dani harus tahu semuanya. Ini memang kenyataan pahit buat dia, tapi dengan begini semua akan berakhir. Walaupun berakhir buruk."
Rima menatap Tyo tak mengerti. Sebenarnya apa isi amplop cokelat itu. Mengapa Tyo mengatakan tentang 'kenyataan pahit buat Dani'.
"Mas, apa isi amplop itu?" Rima menatap Tyo dengan tatapan memohon.
"Mas, engga jangan! Jangan kasi itu ke Mas Dani, kasian Yulia mas!" Teriak Rima dengan air mata yang sudah berlinang membanjiri wajahnya.
"Mas, jangan! Aku mohon!"
Tapi permohonan Rima sama sekali tidak digubris Tyo.
"Ini! Buka sekarang juga!" Tyo sudah berhadapan dengan Dani. Keduanya saling menatap dengan tak bersahabat. Dani terlihat ragu ketika menerima amplop itu.
"Apa ini?!" ucap Dani.
"Bukti ... yang kamu minta."
Rima berusaha mengambil amplop itu. Tapi Tyo menahannya. Membuat Rima tak lagi bisa bergerak.
Perlahan Dani membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Kemudian selembar foto berhasil ditarik dari dalamnya. Membuat Dani terbelalak. Rima ikut tersentak dan menutup wajahnya. Pasti ada banyak foto karena amplop itu begitu tebal. Rima tak sanggup membayangkan foto apalagi yang ada di situ. Bagaimana suaminya bisa memiliki semua foto itu.
Sebuah foto Rima, Yulia dan Adhi di kafe. Yulia dan Adhi duduk berdempetan, sementara Rima terlihat menutup separuh wajahnya dengan buku. Foto lain hanya menampakkan Adhi dan Yulia di lobi sebuah hotel.
Mata Dani mulai berkaca-kaca. Lelaki itu kini terlihat menyedihkan. Suara hujan yang mulai turun menambah pedih suasana di teras itu. Rima semakin keras menggigit bibirnya. Dia merasa sangat bersalah telah membohongi Dani dan menyembunyikan perselingkuhan Yulia. Apa yang akan dilakukan Dani padanya? Rima tak sanggup membayangkan. Jika setelah ini Dani membencinya dia akan berusaha menerima.
__ADS_1
Satu persatu isi amplop itu dikeluarkan. Dan Dani semakin terdiam.
"Jadi ... selama ini kamu tahu Rim?" suara lelaki itu terdengar tak berdaya.
"Ma-maafkan aku mas, aku salah ikut berbohong sama Mas Dani, maafkan aku mas,"
Tyo meraih Rima ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan istrinya yang semakin terisak.
"Kamu ikut bersekongkol dengan Yulia, kamu ga tahu gimana aku hancur gara-gara ini Rim," Dani mengucapkan itu semua dengan lirih. Sepertinya dia sudah kehilangan energinya. Pengkhianatan membuat semangat hidupnya terkuras habis. Tak ada lagi perasaan hangat ketika mengingat Yulia, dia merasa seperti sampah tak berguna. Ditipu dan dipermainkan seperti orang dungu!
"Sudah berapa lama Rim?"
Rima menggeleng, dia tak sanggup menjawab.
"Dan, ayo masuk. Tenangkan dirimu dulu." kata Tyo sambil mengulurkan tangan, mengajak Dani untuk masuk. Tetapi Dani menggeleng.
"Dan, jangan salahkan Rima karena perbuatan Yulia. Istriku juga terjebak. Yulia memaksanya melakukan ini semua. Bahkan kami nyaris berpisah karena ulah Yulia,"
Dani mendongak menatap Tyo. Semakin bingung dengan apa yang dikatakan Tyo. Dia selama ini begitu buta karena cintanya yang begitu besar pada Yulia. Sampai tidak melihat sisi lain dari kepribadian istrinya itu. Sikap Yulia yang egois dan susah diatur dirasanya sudah sangat keterlaluan, tapi memisahkan Tyo dan Rima? Ini sungguh sudah keterlaluan.
"Aku memang ke kantor Yulia Dan, karena dia sudah memfitnah Rima. Dia menjebak Rima untuk berduaan dengan Adhi. Itu nyaris bikin kami berpisah."
"Aku ga tahu masalah itu, sorry." kata Dani dengan lirih.
"Minggu kemaren Yulia nyamperin aku ke resto di Batu. Dia memohon supaya bisa bertemu Rima lagi. Tapi sorry, aku udah terlanjur ga percaya sama dia. Aku ga mau istriku terlibat masalah lain gara-gara dia Dan,"
Dani terkejut kali ini. Jadi ini yang dibicarakan Yulia dengan Tyo ketika dia melihat mereka bicara. Dani tak pernah berpikir sejauh itu. Sekarang dengan foto-foto dan penjelasan Tyo, semuanya menjadi jelas. Jelas dan sangat menyakitkan bagi Dani.
Lelaki berkulit putih itu merasa tulang-tulang di kakinya terasa lemah. Hatinya hancur, dan harga dirinya sebagai lelaki sudah menghilang seiring penghianatan istrinya.
Dani tak mengatakan apapun untuk menjawab Tyo. Dia hanya berbalik menggenggam amplop dari Tyo. Berjalan menuju mobilnya di bawah guyuran hujan.
Sudah tidak ada lagi yang perlu diperjuangkannya. Rumah tangga impiannya samar-samar menjadi seperti kabut. Yang kelak akan menghilang ketika cuaca menghangat dengan munculnya matahari.
Makasih sudah baca
Like dan vote nya yaa ππ
With love
M
__ADS_1