
Bismillah...
Tyo baru saja melangkah keluar dari kantornya. Dia sedang terburu-buru. Setelah ini harus mengecek perkembangan pembangunan pabrik. Suara seorang lelaki menghentikan langkahnya.
"Pak Tyo,"
Tyo mengurungkan niat untuk membuka pintu mobilnya. Dani baru saja keluar dari mobilnya dan melangkah cepat ke arahnya. Tyo menghela nafas, dia sedang malas melayani Dani. Pasti pertanyaan yang sama, kapan akan menjenguk Yulia. Entahlah, Tyo masih enggan mengajak Rima bertemu Yulia.
"Ada waktu sebentar pak?"
"Iya pak Dani, ada apa?"
"Maaf kalo saya mengganggu, saya...apa saya bisa ngajak Rima untuk ke rumah Mama?"
Tyo sebenarnya ingin meledak. Apa hak Dani mengajak istrinya? Atau lebih tepatnya memaksa.
"Saya ga ngasi ijin pak."
"Pak, saya mohon. Tolong ijinkan Rima ketemu Yulia. Setengah jam sudah cukup pak. Rima mungkin bisa menenangkan Yulia."
Tyo diam. Sepertinya ga ada kesempatan untuk mengelak. Walaupun rasanya berat untuk membawa Rima menemui Yulia. Bahkan tadi pagi Tyo sudah emosi karena Rima juga meminta ijin untuk menemui Yulia. Tyo menyesal karena membentak Rima.
Sampai kapan urusan Yulia ini akan menghantui rumah tangganya dengan Rima?
"Gimana pak? Saya sangat berharap pak Tyo mengijinkan."
"Yaa..oke. Besok sabtu saya ajak Rima ke sana."
Dani terlihat lega. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Terima kasih Pak, saya tunggu pak Tyo di rumah mama."
Tyo hanya mengangguk dengan wajah muram. Entahlah setiap nama Yulia disebut perasaannya jadi tak enak.
πππ
Rima berdiri di ambang pintu, menunggu suaminya turun dari mobil. Tyo baru saja sampai, wajahnya terlihat lelah. Rima tersenyum ketika Tyo sudah di hadapannya. Mau tak mau Tyo ikut tersenyum, merasa bersalah karena pagi ini membentak Rima.
"Mas, capek ya?"
Rima mencium tangan suaminya.
"Iya, lumayan."
"Mau dibikinin kopi apa teh jahe?"
"Kopi aja,"
"Aku ke dapur dulu kalo gitu,"
Rima baru hendak melangkah, ketika Tyo menarik tangannya.
"Hey, sini dulu."
Tyo tiba-tiba sudah memeluknya. Rima melingkarkan tangannya di pinggang Tyo. Menghirup aroma tubuh suaminya. Dan diam-diam tersenyum.
"Maaf ya, tadi pagi aku marah-marah."
Rima mengangguk.
"Aku yang salah mas,"
Ah bagaimana Tyo tidak meleleh kalau begini. Walaupun usia Rima jauh di bawahnya, dia selalu mau mengalah. Kelihatannya Rima sangat paham karakter Tyo keras dan tak mau dibantah.
"Aku juga salah, ingetkan aku kalo marahku keterlaluan ya. Dan satu lagi..aku ga suka dibantah. Apalagi urusan Yulia."
"Iya aku ngerti. Mandi dulu gih. Aku mau bikin kopi."
Tyo melepas pelukannya, menatap Rima yang berjalan ke dapur.
"Emira kemana Rim?"
"Main di rumah sebelah mas, mbak Enni punya bayi. Emira liat bayinya mbak Enni."
"Kamu ga ikut nengok?"
"Udah mas, tadi kesana trus Emira belum mau pulang."
"Yaa cepet dibikinin bayi aja kalo gitu, biar ga liatin bayinya orang."
Rima senyum-senyum sambil menatap Tyo yang memasang ekspresi datar.
"Rim...sabtu aku anter."
Rima mendongak, sembari membawa secangkir kopi. Wajahnya memperlihatkan tanya.
"Kemana mas?"
"Ke rumah ibunya Yulia."
Rima hampir saja melonjak senang. Tapi langsung teringat kemarahan Tyo pagi tadi. Dia memutuskan bersikap biasa.
"Mas Tyo ngasi ijin?"
"Terpaksa,"
__ADS_1
Tyo meliriknya, tanpa senyum.
"Dani tadi nemuin aku lagi. Dia mau ngajak kamu ketemu Rima. Ya daripada kamu berdua sama Dani mending aku anter."
Rima memeluk Tyo, senang akhirnya diijinkan bertemu Yulia.
"Cuma 1 jam ya, dan ini juga karena terpaksa."
Tyo menegaskan kata 'terpaksa' sambil tersenyum masam.
"Iya mas suami."
"Udah ah aku mandi dulu."
Tyo pun melangkah ke kamarnya dengan pikiran dipenuhi berbagai macam prasangka. Dia tak pernah segalau ini.
π₯°π₯°π₯°
Sabtu itu masih pagi, Rima sudah siap dengan gamis biru muda dipadu ungu di bagian lengan dan bawah. Jilbabnya juga ungu muda. Sambil menyiapkan sarapan, Rima sesekali melongok Emira di kamarnya. Gadis kecil yang beranjak remaja itu sedang mengenakan jilbabnya.
"Bund, udah rapi kan jilbab Mira?"
"Udah kok, udah cantik. Diminum ya susunya."
"Iya bund, bunda yang anter sekolah kan?"
"Iya dong, seperti biasa."
Emira tersenyum. Rima menowel hidungnya dengan sayang. Tak lama Rima pun melaju dengan motor matiknya, mengantar Emira ke sekolah. Jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh. Rima juga lebih suka mengendarai motor karena lebih cepat dan efektif melewati macet di pagi hari.
Mendung sudah menggantung rendah di atas kota Malang. Sepertinya hujan akan turun tak lama lagi. Rima bergegas menyiapkan sarapan untuk Tyo. Dia ingin cepat menyelesaikan tugasnya karena takut Tyo berubah pikiran.
"Mas, jadi kan pergi habis ini?"
Tyo sibuk dengan kopi di depannya.
"Jadi,"
Dani sudah beberapa kali mengingatkan Tyo melalui pesan wa. Pesan-pesan yang dibiarkan tak berbalas. Tyo malas membalasnya.
"Aku titip pesen sama bu Warti dulu ya. Trus berangkat."
"Iya sayang, tumben banget rewel."
Rima terkekeh melihat suaminya sewot.
Tak lama mereka pun sudah melaju di jalanan yang cukup ramai. Diiringi gerimis yang semakin lama semakin deras.
π§π§π§
Mama Dini -ibunya Yulia- menyambut Rima di teras. Mereka berpelukan hangat. Rima sangat akrab dengan keluarga Yulia. Sudah belasan tahun dia bersahabat dengan Yulia, tentu saja keluarga Yulia sangat mengenalnya.
"Iya Ma, Rima juga lama ga main ke sini."
"Iya nduk, apa sekarang sibuk?"
Mama Dini mengerling Tyo yang berdiri dengan ekspresi datar.
"Heheh ya gitu lah Ma, sok sibuk lebih tepatnya."
Mama Dini dan Rima tertawa kecil.
"Gimana rasanya manten baru? Seneng ya nduk?"
Rima melirik Tyo.
"Seneng Ma, eh ini Mas Tyo Ma, suami Rima."
Tyo hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Mama Dini. Dibalas Mama Dini dengan senyuman juga.
"Masuk yuk, tuh Yulia lagi tiduran. Sering tiba-tiba sakit punggungnya."
"Jadi operasi Ma?"
"Jadi, ini udah dijadwal sama dokternya. Kemarin dulu dokternya masih ke luar negri."
Mama Dini tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Tyo yang berjalan di belakang mereka.
"Nak Tyo, monggo duduk dulu. Sebentar lagi Dani dateng kok. Tadi tak suruh beli cenil lopes, deket sini kok."
"Baik bu,"
Tyo duduk di ruang tamu yang ditata apik itu. Tak lama Dani muncul dan menemani Tyo mengobrol. Sementara Rima mengikuti Mama Dini masuk ke ruang keluarga.
"Tuh Yulia, ya gitu sekarang kerjaannya. Tiduran, kadang ngelamun. Makanya Dani kepikiran ngajak kamu ke sini. Kan biasanya kamu yang pinter menghibur dia."
Rima mendekat, melangkah ragu. Dia tidak yakin bagaimana reaksi Yulia. Yulia menoleh ketika dirasanya seseorang mendekatinya. Matanya melebar melihat Rima. Tapi ekspresinya susah ditebak.
"Yul, apa kabar?"
Rima tersenyum, Mama Dini mendekatinya dan merangkul bahu Rima.
"Yul, ini loh Rima datang. Manten anyar nyempatin nengok kamu."
Yulia hanya diam, matanya menatap televisi yang entah sedang memutar acara apa. Rima menyadari Yulia terlihat pucat dan kurus. Rambutnya yang biasanya ditata stylist terlihat tak terawat. Belum lagi wajah polos tanpa make up. Seperti bukan Yulia biasanya.
__ADS_1
"Yul ditanyain kabar kok diem aja to?"
Mama Dini menyentuh pundak Yulia, wajahnya terlihat tak sabar.
"Gapapa Ma, biar Yul sama Rima aja."
Mama Dini mengangguk paham dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Yul, kapan operasinya?"
"Ga tahu." Yulia melengos. Rima merasa hatinya seperti diremas, tapi dia bertahan.
"Aku kangen sama kamu Yul, udah lama kita ga ngopi bareng."
Yulia meliriknya sekilas kemudian kembali membuang muka. Rima belum menyerah, dia paham mungkin Yulia masih sakit hati padanya karena Adhi.
"Kamu mau aku bikinin kopi engga? Kopi hitam kesukaan kita."
Yulia diam, kemudian mengangguk lemah. Rima pun beranjak ke dapur dan kembali dengan dua cangkir kopi.
"Nih diminum dulu, punyamu gulanya dua sendok teh seperti biasa."
Rima tersenyum senang melihat Yulia menerima cangkirnya.
"Sini cangkirnya," Rima meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja kopi.
"Aku...pengen ketemu Adhi."
Rima tersentak. Kenapa kembali lagi ke topik ini?
"Yul, lupakan Adhi. Kamu punya mas Dani. Dia cinta banget sama kamu."
Yulia menatap Rima dengan tajam.
"Semua gara-gara kamu!"
"Yul, istighfar jangan kaya gini."
Rima menggenggam tangan Yulia lembut. Tapi Yulia menariknya dengan kasar.
"Adhi ga cinta sama aku, dia cinta sama kamu. Ga ada yang cinta sama aku."
Yulia mulai menangis.
"Yul banyak yang sayang dan cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu Yul. Dan aku ga peduli sama Adhi."
"Tapi aku peduli sama Adhi Rim! Aku ga mau dia pergi!"
"Yul, pikirkan kesehatan kamu. Pikirkan mas Dani. Jangan mikir yang udah ga ada."
Kata-kata Rima seolah berlalu begitu saja karena tangis Yulia semakin keras.
"Aku benci sama kamu!"
Tyo merasa perasaannya tak enak. Dia gelisah dan akhirnya memutuskan akan mengajak Rima pulang.
"Pak Dani, bisa tolong anter saya ke Rima."
"Oh iya, mari pak."
Tyo sudah berdiri beberapa menit, cukup lama untuk melihat reaksi Yulia yang membuatnya muak.
"Aku benci sama kamu Rim! Kamu ga usah nemuin aku!"
Tyo merasa emosinya naik dengan cepat. Dia tidak rela Yulia memperlakukan Rima seperti itu.
Rima tak sadar Tyo sudah di dekatnya dan menarik tangannya.
"Ayo pulang,"
Ingatan Rima seperti kembali pada malam itu, malam di sky lounge. Tatapan Tyo tegas, dan dua kata itu diucapkan hanya sekali dengan tajam.
"Oh jadi kamu datang sama dia?!"
Yulia menatap Tyo dengan penuh benci. Begitu juga Tyo, mual dengan Yulia yang menurutnya penuh drama.
"Pergi sana! Aku ga mau liat kamu lagi!"
Dani terperangah menatap istrinya, begitu juga Mama Dini yang datang karena teriakan Yulia.
"Kita pamit dulu pak Dani,"
Rima mulai berkaca-kaca. Dia masih ingin tinggal tapi Tyo sudah menarik tangannya. Dia tahu Tyo marah. Rahang Tyo mengatup erat.
Teriakan Yulia masih terdengar, Rima semakin terisak. Yulia tetap sahabatnya, dia tak pernah membenci Yulia. Dan Rima yakin Yulia pun tak membencinya.
Tyo menginjak gas dalam-dalam. Tak ada pembicaraan dengan Rima. Tyo tak ingin kehilangan kontrol dan berakhir membentak Rima seperti kemarin. Dia sebenarnya marah pada Rima yang membiarkan Yulia memperlakukannya dengan buruk. Lebih marah lagi pada kegilaan Yulia.
Jadilah mereka melewatkan perjalanan pulang dalam diam.
Like,vote dan komen yaa untuk menyemangati author π
-mariana-
Jangan seperti Rima ya readers, pilih teman yang baik.
__ADS_1