Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
36 Amarah Dani


__ADS_3

Bismillah...


Dani PoV


Aku melarikan mobilku dengan kencang. Tak mempedulikan jalanan sore itu yang padat. Pikiranku penuh dengan berbagai hal. Terutama tentang Yulia. Aku benar-benar tidak menyangka Yulia akan setega ini. Berselingkuh!! Padahal aku begitu mencintainya, aku tak peduli dia belum bisa memberikan anak, tak peduli dengan kesukaannya keluyuran dan nongkrong.


Aku mengabaikan semua karena cintaku yang begitu besar.


Aku menepikan mobilku di parkiran sebuah resto. Tidak berniat segera keluar dari mobil, aku tertegun menyesali kebodohanku. Hatiku rasanya sakit sekali. Cinta dibalas penghianatan! Apa harga diriku sebagai lelaki memang sudah ga ada lagi?! Terlalu sering menuruti keinginan Yulia. Terlalu banyak kekalahan yang aku terima dengan harapan perkawinanku dengan dia berjalan baik-baik saja.


Tapi apa yang aku dapat?! Penghinaan besar! Ini mempermalukan diriku sebagai lelaki. Apa kurangnya aku sebagai suami. Cinta, pengertian, harta entah apa lagi yang sudah aku berikan. Dan itu hanya untuk Yulia.


Banyak perempuan yang menghampiriku, menggodaku dengan kecantikan dan tubuhnya. Tetapi setiap melihat mereka yang aku ingat adalah istriku. Aku ingin berumah tangga sampai maut memisahkan kami. Entahlah, kalimat itu sekarang terdengar menggelikan.


Sejenak aku berpikir apa yang akan aku lakukan pada Tyo. Aku harus membalas lelaki itu karena sudah membuat Yulia berselingkuh. Bagian lain otakku yang masih waras memintaku bersabar. Mencari bukti lain bahwa Yulia dan Tyo berselingkuh. Menghembuskan nafas dengan lelah aku mencoba menata hati dan pikiranku. Aku harus punya bukti sebelum mendatangi Tyo dan melampiaskan sakit hatiku.


🤔🤔🤔


Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Puput sekretarisnya Yulia. Saat itu aku sedang mengamati Tyo berbicara dengan seorang temannya di lahan yang kelihatannya disiapkan untuk dibangun.


"Loh pak Dani, apa kabar pak?"


"Baik Put, ada urusan apa ke sini?" jawabku.


"Oh ini pak, saya mau ketemu temen. Kebetulan rumahnya deket sini."


Aku diam tak membalas ucapan Puput karena aku sedang memperhatikan Tyo. Aku mengamatinya dengan harapan menemukan ada yang aneh dengan kegiatannya. Entah apa itu, aku hanya ingin mencari bukti. Tapi sudah beberapa hari ini aku mengikuti Tyo dan tidak melihat ada hal yang mencurigakan. Dia hanya pergi ke kantor, mengecek pabrik dan perkebunan kemudian pulang pada Rima. Aku sempat membatin bahwa Rima sangat beruntung memiliki suami seperti Tyo. Lelaki yang berkomitmen penuh dengan pernikahannya.


Aku sempat melihat beberapa wanita mendekati Tyo, tetapi lelaki itu tak menanggapi. Kalau pun menanggapi, itu hanya dengan senyum tipis saja. Apa benar lelaki ini berselingkuh dengan Yulia. Aku mulai bimbang sebenarnya. Tetapi melihat pertemuan mereka berdua di resto siang itu, kecurigaanku kembali muncul. Belum lagi rasa sakit karena ditipu entah sudah berapa lama oleh permainan mereka.


"Pak ... pak Dani." Suara Puput membuyarkan lamunanku.


"Eh iya Put, ada apa?"


"Pak Dani kenal dengan Pak Tyo?" Puput memandangku heran. Pasti dia bertanya-tanya karena melihatku begitu fokus menatap Tyo.


"Kenal, kenapa?"


"Oh makanya dia juga kenal dengan bu Yulia,"

__ADS_1


Deg.


Aku langsung menatap Puput dengan tajam. Apakah ini bukti yang aku cari?


"Tyo kenal sama istriku? Maksudmu gimana Put?" balasku dengan resah.


"Pak Tyo pernah datang ke kantor Ibu pak, tapi saya ga tahu ada urusan apa. Mungkin urusan kerjaan, tapi waktu itu Pak Tyo kelihatan marah sih,"


Puput mengucapkan kalimat terakhirnya dengan takut-takut. Dan aku langsung menoleh padanya dengan tatapan horor. Kenapa Tyo datang ke kantor Yulia? Dan apa yang membuatnya marah? Apa karena Yulia memutuskan hubungan?


Ah aku jadi semakin kalut!!


"Beneran Put? Kapan itu?"


Puput terlihat tidak nyaman karena aku mencecarnya. Tapi aku tak peduli.


"Eh sudah lama sih pak, saya lupa kapan tepatnya."


Aku mengacak rambutku dengan frustasi. Jadi benar Tyo dan Yulia ada hubungan. Egoku sebagai lelaki semakin terluka. Aku seperti tidak punya harga diri lagi. Apa lagi yang aku punya kalau cinta yang aku pertahankan mati-matian malah di sia siakan begini.


"Kamu yakin yang datang itu Tyo Put?" Aku mendesak Puput dengan tak sabar.


"Eh ... ya-yakin pak. Saya ga mungkin lupa orang ganteng,"


"Mereka ngomongin apa Put waktu itu?" tanyaku lagi. Aku tahu Puput pasti heran karena aku terkesan mendesaknya. Tapi aku tak peduli.


"Saya kurang tahu pak, tapi seingat saya kunjungan Pak Tyo ga lama, beliau juga ga bikin janji waktu itu. Dan waktu saya mau menyuruh pak Tyo keluar, malah Ibu ngusir saya pak," Puput menjelaskan panjang lebar. Dan dadaku terasa seperti diremas. Yulia mengusir Puput? Apa yang mereka lakukan berdua di ruangan Yulia?


"Pak, maaf saya duluan ya." Aku tersentak dari lamunanku ketika Puput berpamitan dengan takut-takut. Dan aku hanya mengangguk tanpa tersenyum. Aku tahu keadaanku kacau. Pasti Puput semakin bertanya-tanya tapi aku sudah tidak memusingkan pendapatnya lagi. Hanya kecurigaan yang semakin mendesak otakku dan rasa sakit yang perlahan menular ke seluruh tubuhku.


Aku terdiam lama, masih berusaha mencerna apa yang membuat Yulia berselingkuh dengan Tyo. Aku marah dan terluka tapi kenapa sepertinya ada yang tidak cocok disini. Setahuku Tyo itu bukan tipe lelaki yang disukai Yulia. Tyo yang tegas dan tanpa basa basi, aku merasa aneh jika Yulia tertarik dengan lelaki seperti itu.


Yulia pasti tidak akan tahan dengan lelaki semacam itu. Aku paham betul dengan karakter istriku.


Istriku? Ah ternyata dia masih bertahan begitu awet di hatiku. Padahal dia sudah menyakitiku sedemikian dalam. Aku memilih melangkah pergi meninggalkan lokasi ini. Sore perlahan berubah menjadi senja. Suara tonggeret bersahutan membuat mood ku yang hancur semakin berantakan.


Aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan pada Tyo. Dia harus menjawab semua pertanyaanku!


Dani PoV end.

__ADS_1


🥴🥴🥴


Sore itu Dani sengaja menunggu Tyo pulang. Dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Tyo, sehingga bisa langsung melihat jika Tyo datang sewaktu-waktu.


Kecurigaan Dani semakin menjadi ketika dia menyuruh seseorang menyelidiki Yulia. Orang suruhannya melaporkan tentang kejadian di sky lounge. Ketika Tyo keluar dari private room dengan menarik tangan Rima dan meninggalkan Yulia bersimbah air mata. Dani tidak tahu, bahwa Adhi juga ada di ruang itu. Dan si penyelidik rupanya tak mengetahui fakta itu.


Dani melihat mobil Tyo berhenti di depan rumahnya kemudian masuk ke garasi. Hari mulai gelap diikuti mendung yang menggantung di sebelah timur.


"Mas, mau makan apa mau mandi dulu?" tanya Rima sembari menyambut sang suami di teras. Tyo hanya mengusap kepalanya lembut. Sambutan Rima selalu melegakannya, membuat dia merasa dicintai sebagai suami.


"Mau minta cium dulu boleh?" Tyo nyengir sambil mengusap bibir Rima dengan jarinya.


"Ihh apaan sih, baru juga datang," Rima terkekeh salah tingkah. Apalagi suaminya menatapnya dengan penuh hasrat.


"Karena baru datang makanya masih semangat," balas Tyo.


"Udah ah, jangan ngegombal dulu. Masuk dulu mas ini udah gelap," Rima menggamit tangan Tyo hendak melangkah ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Pak Tyo ..."


Tyo dan Rima menoleh serempak dan menemukan Dani berdiri di luar pagar. Wajahnya datar dan seperti menyimpan amarah. Tyo menatap Rima sekilas kemudian mengernyitkan keningnya.


"Pak Dani? Ada ... yang bisa kami bantu?"


"Boleh saya masuk?" Dani menatap Tyo tak berkedip. Tyo tidak menjawab hanya membukakan pagar dan mengarahkan Dani ke ruang tamu.


"Di sini saja, ga usah masuk rumah," balas Dani dengan dingin.


"Ada hubungan apa Pak Tyo dengan istri saya?!" tanya Dani dengan suaranya yang lirih tapi langsung membuat Rima dan Tyo terkesiap. Tak ada jawaban karena mereka masih berusaha mencerna pertanyaan Dani.


Dani terlihat menahan emosi karena pertanyaannya tidak berbalas. Suasana mencekam melingkupi mereka, ditambah dengan mendung yang sudah datang bergulung gulung. Siap memuntahkan hujan deras kapan saja.


“Saya tanya sekali lagi, apa Pak Tyo memiliki hubungan khusus dengan istri saya?!”


Kali ini suara Dani meninggi dan wajahnya memerah penuh amarah. Rima menggigit bibirnya memandang suaminya yang menatap Dani dengan tajam.


“Jangankan berhubungan, memandang Yulia saja saya ga selera!!”


Dani dan Tyo saling menatap tajam. Sore itu menjadi semakin gelap dengan amarah yang siap berlomba dimuntahkan!

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ☺️


Like dan bintangnya ya


__ADS_2