
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Jam menunjukkan pukul 8.45 ketika mobil Yulia memasuki halaman rumahnya. Rumah mewah dua lantai itu terlihat sunyi, ditambah dengan hujan yang masih setia turun membuat suasana semakin sendu.
"Sayang..dari mana aja tadi?"
Dani berdiri di ambang pintu, menatap Yulia yang terlihat lelah.
"Nongkrong sama temen."
Yulia menjawab tanpa semangat.
"Katanya pergi sama Rima? Kok Rima ga jadi ikut?"
"Rima mendadak ada kerjaan di sekolahnya mas."
"Oh..makanya tadi ketemu aku di toko ATK."
Yulia terus berjalan, melemparkan tas nya ke sofa dan melangkah lunglai ke kamar mandi.
Dani menatapnya dengan sayang. Istrinya akhir-akhir ini sering begitu, cuek dan ga begitu merespons pertanyaan atau obrolannya.
"Aku mau tidur duluan ya mas,"
Yulia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
"Kamu sakit yang?"
"Cuma capek aja."
Yulia melangkah menaiki tangga tak mempedulikan tatapan Dani yang sendu.
Dani menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang TV, meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan berwarna hijau.
[Assalamualaikum, Rima sorry ganggu. Aku mau ngomongin sesuatu]
Pesan terkirim.
Rima sedang menyusun materi, khusuk di depan laptopnya. Suara notifikasi pesan dan nama pengirim mengusiknya.
Tumben mas Dani wa jam segini?!
[Waalaikumsalam, iya mas silahkan aja]
[Kapan bisa ketemu?]
Rima menggaruk kepalanya yang ga gatal. Dani ngajak ketemu? Pasti serius nih topiknya. Apa Yulia dan Adhi ketahuan?! Berbagai tanya muncul di benak Rima.
[Eh kenapa ga lewat telpon aja mas?]
[Kurang pas kalo lewat telpon Rim, Aku perlu bantuanmu]
Deg
Mas Dani perlu bantuan apa?! Duh gawat kalo aku ditanya-tanya tentang Yulia. Stok alasan sudah habis.
[Maaf mas, saya ga bisa kalo ketemuan]
[Kita ketemuan di restonya mbak Yuanita aja, aku ajak mbak Yuan sekalian]
Akhirnya Rima menyetujui permintaan Dani. Dia mengenal Yuanita dengan baik, karena Yuanita adalah kakak sulungnya Yulia. Yuanita memiliki beberapa resto di kota ini. Dia cukup sukses dengan usahanya. Rima kembali fokus pada laptopnya, mencoba menghilangkan resah karena ajakan Dani untuk bertemu.
Di bagian lagi kota itu, Dani terduduk lunglai. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan rumah tangganya. Tapi dia ga tahu apa. Karena itu dia membutuhkan seseorang yang dipercayanya untuk diajak bicara. Dani sudah lama mengenal Rima, dan yakin Rima bisa dipercaya. Entah kenapa hatinya yakin bahwa Rima akan bisa memberikan dia saran-saran yang akan meredakan kegundahannya.
Seringkali Dani berharap Yulia bisa dewasa dan stabil seperti Rima. Tidak kekanakan dan egois seperti selama ini.
Dani menghela nafasnya, mencoba menghilangkan beban yang menghimpit di dadanya.
😔😔😔
Hari sabtu, sekolah Cahaya Iman pulang jam 11.00. Syarifa melambaikan tangan dari ambang pintu ruang guru. Rima tersenyum dan bergegas menghampiri Syarifa setelah berpamitan pada rekan-rekan gurunya.
__ADS_1
"Yuk bu, Om Tyo udah di depan sama Emira."
Mereka pun melangkah keluar dari halaman sekolah.
Emira langsung menghambur ke pelukan Rima dan Rima menyambutnya dengan senyum lebar. Tyo melihat adegan itu dengan perasaan hangat.
Hari sabtu ini Emira meminta Tyo mengajak Rima makan di resto Java Park. Sudah dua minggu Emira belajar bersama Rima, gadis kecil itu mulai kembali bersemangat. Walaupun masih banyak yang harus dilakukan untuk mengembalikan semangat Emira, tapi kelihatannya Rima berhasil membangun kedekatan dengan Emira. Mungkin karena ketulusan Rima pada gadis kecil itu.
"Bunda guruu...Mira kangen deh?"
"Eh iya ta? Bunda guru juga kangen sama Mira, gimana bukunya? Udah dibaca belum?"
"Belum selesai bunda, baru dibaca 2 lembar sama Mira."
"Besok kita baca bareng deh kalo gitu."
"Bacanya sama Ayah juga ya bunda.."
Rima diam tercekat. Sama Ayah juga?! Duh bikin salah tingkah aja Emira.
"Eh..itu...iya nanti tanya ayah dulu ya sayang."
Emira dan Rima saling menautkan kelingking.
Tyo menghampiri Rima dan Emira.
"Ehem..ayok kita berangkat. Ntar keburu macet."
Tyo mengulurkan tangannya pada Emira, disambut Emira dengan ceria. Gadis itu juga ga melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rima. Rima sedikit kikuk. Mereka terlihat seperti Ayah, Ibu dan anak dengan posisi itu.
Mereka tidak menyadari seorang pria bermata sipit melihat adegan itu dari kejauhan.
Adhi merasa ada sesuatu yang meremas dadanya melihat interaksi Rima dan Tyo.
Kenapa aku jadi panas gini sih ngeliat Rima sama laki-laki itu?! Siapa sih dia? Kok bisa sedekat itu sama Rima?!
Adhi menghela nafasnya dan memukul setir mobilnya. Tadinya dia ingin menemui Rima, menceritakan tentang Yulia, tapi sepertinya dia terlambat hari ini.
❤️❤️❤️
"Mau makan apa Rima?"
Tyo bertanya melirik pada Rima yang sedang asik berbicara dengan Emira.
"Mm..saya sama dengan Emira aja deh,"
Rima memandang Emira sambil tersenyum.
"Miraa juga mau sama dengan bunda guru."
"Kita makan ini ya bundaa."
Gadis cilik itu menunjuk sebuah gambar di buku menu. Nasi ayam bakar dan berbagai pelengkap.
"Boleh..kayanya enak tuh."
Tyo beranjak menuju tempat pelayan. Dari tadi dia celingukan, tapi ga menemukan seorang pelayan pun yang bisa mencatat pesanan mereka.
"Mas, ke meja 9 ya, kita udah siap pesen."
Pelayan itu mengangguk sopan pada Tyo.
"Eh..pak Tyo?!"
Tyo berbalik.
"Pak Dani? Wah kebetulan nih ketemu disini, apa kabar pak?"
Mereka saling berjabat tangan dengan akrab.
"Tadi saya kira salah liat, baik pak alhamdulillah. Pak Dani sama siapa nih?"
"Sama anak saya dan...temen, kalo pak Dani sama siapa? Ada acara?"
"Lagi nemuin klien aja pak, kebetulan mereka bisanya meeting hari Sabtu aja."
__ADS_1
"Oh gitu, eh saya kenalin sama anak saya yok."
Mereka berdua berjalan menuju meja no 9. Dani melihat Rima yang sedang bercanda dengan Emira dan menautkan alisnya.
"Rima?!"
"Eh ada mas Dani."
Rima berdiri menghampiri Dani.
"Loh, kalian sudah kenal ya?"
Tyo juga menautkan alisnya.
"Iya pak Tyo, Rima ini sahabatnya istri saya. Kami kenal sudah lama banget."
"Oh gitu, baguslah. Apa pak Dani mau gabung dulu sama kita?"
"Terima kasih pak, tapi saya sudah ditunggu klien.
Rim, aku duluan ya,"
Dani menatap Rima.
"Iya mas,"
Rima tersenyum dan melambai pada Dani. Tyo melirik dengan perasaan cemburu dan penasaran.
"Om..cemburu ya?"
Syarifa berbisik dan mengikik usil.
"Tenang aja om, bapak itu cuma teman kok sama bu Rima. Jangan gampang cemburuan gitu napa?!"
"Sok tau kamu Fa."
Tyo meliriknya dengan ekspresi datar.
"Ya taulah, gini-gini Ifa ahli body language tau?!"
Tyo mengacak kepala Syarifa yang tertutup jilbab. Membuat perhatian Rima dan Emira beralih pada mereka.
"Kenapa mas?"
"Anu bu..om Tyo cemburu tuh."
Syarifa mengikik lagi sementara wajah Rima sudah blushing.
"Ya..kan wajar saya cemburu."
Tyo menjawab dengan datar, menatap Rima dengan intens. Rima langsung menundukkan wajahnya.
"Mas Dani itu suaminya sahabat saya mas, saya sudah lama kenal mas Dani, kalo sama istrinya malah sejak SMP sudah bersahabat."
Rima ga tahu kenapa dia jadi menjelaskan pada Tyo.
"Ohh..jadi posisi saya aman ya."
Rima mau tak mau tersenyum geli, begitu juga Syarifa yang langsung ngakak mendengar Om nya to the point.
"Amaann kok Om, apalagi Syarifa yang jaga. Asal ongkosnya sepadan aja."
Rima tertawa sambil menggelengkan kepala melihat ulah Syarifa. Sementara Emira yang belum memahami percakapan itu hanya memperhatikan.
Pokoknya Rima harus jadi istriku. Titik!! Ga ada seorang pun yang bisa merebut dia.
Tyo membatin sambil menatap Rima, rasanya ingin berlama-lama di tempat itu. Demi apa?! Demi cinta yang mulai bersemi pada Rima.
Dani, masih menatap interaksi Tyo dan Rima dari jarak aman. Dani sedikit heran, kenapa Rima terlihat akrab dengan putri Tyo. Sedangkan menurut Yulia, Rima sedang dekat dengan Adhi.
Tapi dari yang terlihat sepertinya Tyo sedang mendekati Rima dan Rima begitu welcome. Dani bertanya-tanya apakah hubungan Rima dan Adhi sudah selesai, atau ada masalah lain. Dia ingin menanyakan hal itu pada Yulia nanti.
❤️❤️❤️
Haii readers tercintah 🤗🤗
__ADS_1
Cus bintangin dan kasi komen yaaa...kritik, saran atau apalah gitu ya