
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan menyebut nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Tyo dan Emira sudah pulang satu jam yang lalu. Rima dan Yulia sedang ngobrol di kamar Rima. Ditemani secangkir kopi susu panas racikan Rima. Hujan rintik-rintik membuat suasana malam minggu di kompleks perumahan itu sepi.
"Rim..kamu..suka sama Pak Tyo?"
Rima menatap Yulia.
"Maksudnya?"
"Ya ga ada maksudnya, kamu ada perasaan engga sama dia?"
"Belum tau."
"Kita lama ya ga ketemuan,"
Yulia memainkan ponselnya.
"Hmm."
Rima menyesap kopi susunya.
"Kok hmm? Kamu sengaja ya ngindarin aku?"
"Engga kok."
"Ayolah Rim, kamu tu paling ga bisa bohong."
Rima menghela nafas.
"Aku lagi capek aja terlibat dalam drama mu Yul."
"Sorry,"
"Kamu..ga pengen berhenti Yul?"
"Berhenti gimana maksudmu?"
"Berhenti membohongi mas Dani, mulai lagi dari awal Yul."
"Kita kan sudah pernah bahas ini Rim. Aku ga mau pisah sama Adhi."
"Sampai kapan?"
Yulia mengangkat bahu dengan cuek.
Suara ponsel Yulia menghentikan percakapan mereka. Panggilan video call dari Adhi.
Yulia menerima panggilan itu dengan satu kali sentuhan jarinya.
"Hai sayang, aku lagi sama Rima nih."
Yulia mengarahkan layar ponsel pada Rima yang hanya menarik salah satu ujung bibirnya, ekspresi jengah.
"Hai Rim, lagi ngapain?"
"Lagi males."
Rima menjawab asal, disusul tawa Adhi.
"Ga ada jawaban lain yang lebih manis apa?"
"Males bermanis-manis sama kamu."
__ADS_1
Rima mendorong ponsel Yulia, mengalihkan kamera pada Yulia lagi. Rima keluar dari kamarnya, membiarkan Yulia dan Adhi mengobrol melalui video call. Rima tahu dia seharusnya tetap disana, meminta Yulia cepat-cepat mematikan sambungan video call nya. Tapi hatinya yang berwarna merah muda seakan belum siap menerima nyeri lagi.
🥀🥀🥀
Seminggu kemudian, Rima bersiap melajukan motor metiknya ke arah kota Batu. Dani memintanya bertemu di resto milik Yuanita yang terletak di kota itu. Kebetulan jaraknya lebih dekat dari rumah Rima. Rima berangkat setelah pamit pada Ibunya. Tanpa dia sadari seseorang mengikutinya.
Rima sampai 15 menit kemudian. Yuanita sudah menunggunya.
"Assalamualaikum Mbak,"
Yuanita menjawab salam dan memeluk Rima hangat.
"Lama banget ga ketemu kamu Rim, tambah ayuu gini."
Yuanita menyentuh pipi Rima dan Rima tersenyum malu karena pujian Yuanita.
"Mbak Yuan apa kabar?"
"Baik Rim, kamu gimana? Apa sudah dapet calon suami?"
"Ya Allah mbak, belum kepikiran hehehe masih sibuk cari duit."
"Halah..yang naksir pasti banyak kamunya aja yang ga mau."
Mereka berdua tertawa.
"Apa mau dicariin, mbak punya beberapa kenalan loh. Dijamin sholeh, sesuai kriteria kamu lah."
Rima paham, Yuanita berbeda dengan Yulia. Yuanita berjilbab rapi dan lebih kalem, sedangkan Yulia modis dalam berpakaian dan ber make up. Yang pasti, Yulia belum mau berjilbab.
"Rima sudah punya calon itu mbak, duda keren loh calonnya."
Dani tiba-tiba muncul dari belakang Yuanita yang duduk membelakangi pintu masuk.
"Mas Daniiiii...apaan sih?!"
Mereka melanjutkan obrolan setelah Dani duduk dan Yuanita meminta pelayan menghidangkan minuman dan camilan.
"Jadi..siapa nih calonnya Rima?"
Yuanita tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Mbak Yuan pasti kenal, soalnya beliau juga punya perkebunan di sini."
"Siapa sih Dan?"
"Pak Tyo mbak, Setyo Perwira."
"Wuahh cocok dong. Aku dukung deh Rim."
Rima semakin merona.
"Mas Dani ngaco ah, emang tau dari mana?"
"Ya taulah bahasa tubuh sesama lelaki."
"Rim, Aku kenal baik sama Setyo. Dia itu bukan tipe flirt gitu, serius orangnya. Selama menduda ga pernah aku denger gosip miring tentang dia. Aku dukung pokoknya."
Yuanita semakin semangat mempromosikan Tyo.
"Iya ya mbak, setauku juga beliau itu ga gampang digoda. Banyak yang naksir pastinya, tapi baru kemaren itu aku liat dia terpesona sama cewek."
"Dan cewek itu Rima ya Dan?"
Yuanita memasang wajah kepo, sementara Dani sudah melirik Rima sambil tersenyum menggoda. Rima hanya diam sambil sesekali menutup wajahnya yang merona.
Jadilah selama 10 menit ke depan Rima menjadi bahan candaan. Rima ga bisa mengelak hanya bolak balik menutup wajahnya yang sudah bersemu. Sementara Dani semakin bertanya-tanya tentang hubungan Rima dan Adhi, tapi ga berani menanyakan langsung.
__ADS_1
"Udah mas, sekarang kita bahas topiknya mas Dani ya. Jangan saya terus yang dijadiin topik."
"Iya iya..darimana nih mulainya?"
Rima mengangkat bahu, sementara Yuanita menghela nafas.
"Rim, terus terang aku kesini..mau bahas tentang Yulia."
Rima langsung merasakan tangannya berkeringat.
"Iya Rim, Dani sempat cerita ke aku. Dia juga minta aku nemenin karena pasti kamu ga mau ketemuan berdua."
"Emang Yulia kenapa mbak?"
Yuanita memandang Dani yang bergerak gelisah.
"Aku...merasa Yulia berubah Rim. Aku takut cuma su'udhon. Makanya aku ngajak kamu ngomong. Secara kamu sahabatnya yang paling deket."
Rima memalingkan wajahnya, menatap area persawahan yang menghampar hijau.
"Saya...ga tau banyak sih mas. Akhir-akhir ini saya jarang ketemuan sama dia."
"Rim...apa..mungkin Yulia punya pacar?"
Dani menatap Rima dengan tatapan memohon. Sementara Rima merasakan tangan dan kakinya lemas. Apa yang harus dia katakan pada Dani.
"Rim, kamu jangan menutup-nutupi. Aku sebagai kakaknya Yulia, tahu betul gimana dia. Cuma aku ga tau apa dia sekarang ini sedang berhubungan sama seseorang. Aku cuma ga pengen rumah tangganya berantakan Rim."
Suara Yuanita terdengar bergetar. Tangannya menggenggam tangan Rima.
"Saya..saya..eh menurut saya engga mas."
Rima merutuk kebohongannya dalam hati. Menyesal karena tidak menemukan cara lain untuk menjawab pertanyaan Dani.
"Kenapa kamu bisa yakin Yulia ga punya selingkuhan Rim?"
Yuanita ikut menimpali obrolan itu, wajahnya terlihat resah. Yuanita kuatir Rima berbohong untuk menyelamatkan Yulia, seperti jaman mereka sekolah dulu.
"Menurut saya...Yulia cuma merasa kesepian dan kecewa karena belum bisa memberikan keturunan."
Dani dan Yuanita saling memandang.
"Tapi aku ga pernah nuntut dia untuk cepet punya anak Rim."
"Iya mas, tapi mungkin Yulia ngerasa itu tugasnya."
"Trus aku harus gimana Rim?"
"Mmmm..saya ga tau sih mas...saya kan belum menikah, ga bisa kasi saran juga."
Dani tersenyum.
"Makanya cepet nikah, kamu pilih yang mana Adhi apa Pak Tyo?"
"Eh Adhi tu siapa lagi Dan?"
Yuanita ikut bertanya.
Dani ga tahu pertanyaan ga seriusnya membuat Rima merasa nyeri di hatinya. Mengingat lagi sebentuk wajah yang dirindukannya, dan tuntutan dirinya untuk membunuh perasaan cinta pada seseorang. Seseorang yang selalu menerima sikap judesnya dengan tawa renyah.
Sementara itu di kejauhan, seorang lelaki bermata sipit masih bisa melihat siapa yang ditemui Rima di restoran itu. Lelaki itu merasa frustasi melihat Rima yang kelihatannya gelisah, apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan. Lelaki itu merasa harus mengambil keputusan berat.
Haii readers!!
Ceritanya jadi rumit yaa...like dan komennya donk..
Maaf ya kalo masih jelek..☺️☺️☺️
__ADS_1
Jangan lupa ngopi ☕️