Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Terjebak!


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


Sudah 3 minggu sejak kejadian-kejadian itu. Yulia mulai bersikap 'normal'. Tidak lagi membicarakan Adhi.


"Rim, lama ga hang out ya?"


Sore itu Yulia datang ke rumah Rima. Mereka berdua duduk di gazebo. Menikmati angin sore yang membawa aroma kemarau.


"Hang out kemana?"


"Ya ngopi di Amstirdam atau di mana gitu,"


"Engga ah, aku banyak kerjaan."


Yulia melirik Rima yang asyik dengan bukunya. Ada kekesalan yang ditahannya, Rima ga seperti dulu yang dengan mudahnya mengiyakan ajakan Yulia.


Pasti ini gara-gara Tyo! Apa sih hebatnya laki-laki itu?!


Yulia membatin.


"Banyak kerjaan apa banyak kerjaan?!"


Yulia mencibir sambil memainkan ponselnya.


"Beneran Yul, aku dapat kerjaan proofread artikel. Aku cari duit Yul, emang kamu duit datang sendiri."


"Bukan karena Tyo ngelarang kamu?"


"Hah?! Apa hubungannya sama Mas Tyo?"


"Mas Tyo? Mesra amat manggilnya."


Rima menghela nafas mendengar nada ketus Yulia. Rima sangat paham 'kecemburuan' Yulia pada Tyo. Bagi orang lain itu aneh, bagi Rima tidak lagi. Mereka sudah bersahabat belasan tahun dan Rima sangat mengerti keposesifan Yulia.


"Udah jangan bahas Mas Tyo. Kamu pengen kopi? Aku bikinin deh. Yuk ke dapur."


Rima berdiri mengulurkan tangannya pada Yulia. Yulia diam, memandang uluran tangan Rima.


"Ayoo, ntar keburu dijemput Mas Dani loh."


"Iya,"


Yulia menyambut uluran tangan Rima dengan malas. Dalam kepalanya terpikir sesuatu, untuk menjauhkan Tyo dari Rima.


🥀🥀🥀


"Rim,akuuu..mau..minta tolong."


Rima memandang Yulia dengan tanda tanya.


"Minta tolong apa?"


"Ehm, gini..Adhi pulang minggu besok. Aku..mau ngajak dia ketemu dan ngomong baik-baik."


Rima membelalakkan matanya. Sudah beberapa minggu terlewat tanpa pembicaraan tentang Adhi. Dan Rima berpikir hubungan Yulia dan Adhi sudah selesai. Walaupun berakhir penuh drama.


"Kalian..mau ngapain lagi? Bukannya udah selesai?"


"Jangan salah sangka dulu, aku cuma mau minta maaf karena terakhir kali ketemu..kayanya kami ga baik-baik saja."


"Apa untungnya kalo ketemu? Ga usah ketemu lagi Yul, lebih banyak ga baiknya."


"Rim, aku mau kita bertiga tuh tetep temenan, bersahabat gitu."


"Laki-laki dan perempuan itu ga bisa bersahabat Yul, iya dulu kita masih SMP. Tapi sekarang kita udah sama-sama gede. Apalagi kamu udah married."


"Ck..masak ketemu aja ga boleh sih Rim?"


"Ga usah Yul, semuanya sudah tenang jangan bikin masalah baru,"


Rima menyesap kopinya perlahan. Benaknya sibuk memikirkan ajakan Yulia, dia sangat takut Yulia akan bertingkah lagi.


Angin sore perlahan membawa senja, Rima menghembuskan nafas disertai lirihan doa. Semoga tidak ada lagi dilema yang memerangkapnya.


🌷🌷🌷


"Rim, tolongin aku dong,"


Yulia menelpon Rima, sambil merintih kesakitan.


"Ada apa Yul? Kamu kenapa?"


"Aku..perutku tiba-tiba sakit,"


Terdengar suara Yulia menahan sakit.


"Kamu dimana Yul? Aku telponin mas Dani ya?"


"Eng..eng..engga usah Rim, Mas Dani lagi keluar kota."


"Ya Allah Yul, kamu dimana sih?"

__ADS_1


"Aku lagi di Klub Bunga, tadinya mau reservasi untuk acara gathering, jemput aku ya Rim. Please."


Terdengar rintihan Yulia lagi. Rima semakin ga tega. Keringat dingin sudah muncul di keningnya. Mana di luar lagi hujan. Duh, bikin khawatir aja Yulia ini.


Rumah sedang kosong, Ibu sedang menginap di rumah saudaranya di Sidoarjo. Hanif juga sedang dapat shift jaga di rumah sakit. Jadilah Rima ga bisa meminta pertimbangan siapapun.


Apa aku telpon mas Tyo aja ya? Sungkan tapi. Tapi perasaanku kok ga enak gini sih?!


Rima membatin. Teringat lagi suara Yulia yang seperti kesakitan. Memang Yulia divonis terkena kista, sehingga seringkali mendadak sakit perut parah.


Ting


Suara notifikasi pesan. Rima mengecek pesannya buru-buru.


[Rim, cepetan donk. Sakit banget ini ]


Pesan dari Yulia membuat Rima buru-buru berganti pakaian dan mengenakan jilbabnya. Dia memutuskan akan menelpon Tyo.


Sudah dua kali mencoba, tapi Tyo tidak menjawab. Ah Rima semakin resah. Dia memutuskan memesan taksi online. Dan tak lama kemudian sudah meninggalkan rumah di bawah guyuran hujan yang kian deras.


25 menit kemudian...


Hujan semakin deras. Rima melindungi kepalanya dengan tasnya dan berlari ke arah resto di hotel bintang lima itu.


Celingukan, dia bingung mencari dimana Yulia.


Rima mendekati booth waiters dan bertanya apakah mereka melihat Yulia.


"Mbak, maaf liat Mbak Yulia engga?"


Waiters sudah cukup mengenal Yulia, perusahaan miliknya sering mengadakan acara di hotel itu.


"Saya baru mulai shift mbak, jadi ga liat."


"Oh ya udah makasih ya,"


Rima mencoba menghubungi Yulia lagi. Nomer Yulia malah ga aktif. Di tengah kebingungan, Rima tersentak ketika matanya menangkap seseorang sedang duduk di dekat tangga menuju kolam renang.


"Adhi?"


Rima mengerjapkan matanya beberapa kali memastikan dia tidak salah. Rima melangkah ragu mendekati Adhi.


"Dhi? Lagi disini?"


Adhi juga terkejut melihat Rima, apalagi dengan baju setengah basah begitu.


"Loh kamu ngapain Rim?"


Rima menangkap sorot mata Adhi yang ga seperti biasanya. Entahlah, sepertinya Adhi senang melihatnya.


Ah aku mungkin cuma gr.


"Eh, aku..aku nyariin Yulia."


"Yulia? Kamu juga nyariin dia?"


"Iya, dia tadi telpon katanya mendadak sakit perut. Makanya aku jemput kesini."


"Loh kok? Dia tadi telpon aku juga, katanya mau ngomong sesuatu."


"Oh gitu,"


Rima merasa ada yang perih di bagian jauh hatinya. Ternyata Adhi memang hanya ingin menemui Yulia, bukan dia. Sama sekali tidak ada tempat untuk Karima Firdausi di hati Adhi.


Oh ayolah Rima. Berhenti saja dengan harapanmu. Adhi ga pernah akan jatuh cinta sama kamu.


Rima terdiam sambil membatin.


"Eh, kalo gitu Yulia dimana ya?"


Rima tiba-tiba tersadar lagi.


"Aku juga ga tau,"


Adhi dengan cueknya mengedikkan bahu.


"Udahlah ga usah dicari, kita minum dulu yuk. Kamu mau minum apa?"


Dalam hati Rima ingin sekali menerima tawaran Adhi. Duduk mengobrol berdua dengan Adhi, ah sepertinya menyenangkan. Sembari menikmati debaran halus dan aliran serotonin yang pasti akan mengalir lebih cepat.


Tapi lagi-lagi Rima mengingatkan hatinya untuk tidak bertingkah.


"Eh bentar ya Dhi, aku harus cari Yulia, kasian kalo sakit perutnya kambuh."


"Yulia itu udah gede kali Rim, dia pasti bisa ngurusin dirinya sendiri, udahlah kamu duduk dulu. Baju kamu basah tuh, nanti masuk angin loh,"


Rima tersenyum tipis, Adhi begitu perhatian padanya.


"Ehmm,aku coba telpon Yulia dulu ya Dhi,"


Rima mengangkat ponselnya lagi, ketika dia merasakan pergelangan tangannya hangat.


"Rim, sambil duduk yuk."


Adhi menatap Rima sambil tersenyum. Ah lagi-lagi pandangan matanya, seperti...menyimpan rindu?

__ADS_1


Rima menatap pergelangan tangannya yang sekarang digenggam Adhi. Dia terpaku sejenak,menikmati aliran hormon serotonin. Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa disadarinya.


Suara dering ponsel Rima.


Rima tersadar dan langsung menarik tangannya dari Adhi. Diliriknya nama di layar ponselnya.


Tyo.


"Assalamualaikum, iya mas,"


"Waalaikumsalam, kamu nelpon aku?"


"Ehm, iya mas maaf. Tadinya mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Ehmm,saya...harus jemput Yulia di Klub Bunga,"


Di ujung sana Tyo mengerutkan keningnya. Mendengar nama Yulia membuat detak jantungnya berdetak tak tenang.


"Emang dia kenapa lagi?"


"Eh dia tadi mendadak sakit mas, tapi udah kok."


"Udah kamu jemput?!"


Tyo mengerutkan kening semakin rapat. Dia terkadang heran dengan Rima yang terlalu peduli pada Yulia yang 'hanya' sahabatnya.


"Udah kok mas,"


"Apa aku jemput ke sana?"


"Ga usah mas, Yulia bawa mobil kok,"


"Oh, yaudah cepet pulang ya. Hati-hati."


"Iya mas, makasih."


Rima menutup telpon. Tyo, seperti biasa selalu mengkhawatirkannya. Rima ga menyadari tatapan penuh cemburu Adhi mendengar percakapannya dengan Tyo.


Tring


Suara notifikasi pesan di ponsel Rima.


[Rim, sorry aku udah di rumah. Tadi ada temen di Klub yang bisa aku mintain nganter pulang,]


Huffff


Rima bernafas lega campur kesal. Apa-apaan sih Yulia ini?!


"Rim, kenapa?"


"Eh, ini Dhi. Yulia ternyata udah pulang."


Adhi mengerutkan kening.


"Udah pulang? Kok dia ga ngabarin sih."


"Udahlah gapapa Dhi, aku pulang aja kalo gitu."


"Eh aku anterin ya?"


Adhi menatap Rima penuh permohonan.


"Ga usah Dhi, aku naek taksi online aja."


"Mana ada taksi online ujan-ujan gini."


"Aku coba pesen dulu ya,"


Rima sedikit khawatir, dia senang Adhi peduli. Tapi rasanya hari ini dia melanggar banyak hal. Menelpon Tyo untuk mengantarnya, membiarkan Adhi menggenggam tangannya, dan sekarang dia harus berduaan dengan Adhi menunggu taksi online.


Huffff


Rima menghela nafas sambil menyilangkan tangan.


Sudah 20 menit dan belum ada taksi online yang bisa mengantarnya pulang. Rima hampir menyerah.


"Gimana? Dapet taksol?"


Rima menggeleng.


"Ya udah aku anter kalo gitu,"


Adhi tersenyum menang.


"Tapii, aku duduk di belakang ya."


Rima mencoba menawar.


"Iya..iya terserah."


Mereka ga sadar, seseorang yang bersembunyi sedang memotret interaksi mereka. Dan foto-foto itu sekarang sudah terkirim ke whatsap Tyo.


__ADS_1


Yuk ramein like dan komennya


Makasih ❤️❤️❤️


__ADS_2