Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Pilih Tyo atau Adhi?


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


Rima baru saja masuk ke garasi rumahnya, memarkirkan motor dan hendak menutup pintu pagar. Ketika seseorang menahan pagar itu dan menatapnya tajam.


Rima langsung mundur beberapa langkah.


"Aku ada perlu sama kamu."


Tak seperti biasanya wajah Adhi tegas tanpa senyum.


"Ada apa Dhi?"


"Bisa ngomong di dalam?"


"Di teras aja,"


Rima mengarahkan Adhi ke kursi di teras.


"Kamu habis ketemu sama siapa?"


"Kamu ngikutin aku Dhi?"


Rima mengerutkan keningnya.


"Aku ga bermaksud ngikutin, kebetulan liat kamu."


Rima semakin ga ngerti.


"Trus, kamu mau ngomong apa?"


Adhi menunduk, menghela nafas.


"Yulia."


Rima memiringkan tubuhnya, alisnya bertaut. Sepertinya seharian ini trending topiknya adalah Yulia.


"Dia...mau minta cerai dari suaminya."


"Astaghfirullah! Kok bisa sih Dhi?! Makanya dari dulu aku bilang berhenti bermain api kaya gini. Trus kamu maunya gimana? Mendukung?!"


Wajah Rima memerah karena marah.


"Kamu seneng kan Dhi? Ini kan yang kamu mau?!"


"Rim, dengerin dulu. Aku ga nyangka kalo Yulia akan seserius ini. Aku baru sadar kalo aku ga bisa nerusin hubunganku sama dia."


"Ooo jadi baru sekarang kamu sadar! Kemaren-kemaren kemana aja?! Jadi..Yulia cuma buat mainan ya kan?!"


"Bukan gitu Rim, aku..cuma..akhir-akhir ini aku ngerasain sesuatu yang beda."


"Maksudmu?"


"Aku ngerasa bersalah sama Dani, dan...aku...aku jatuh cinta sama orang lain."


Adhi menatap Rima, sementara Rima menampakkan ekspresi penuh tanya. Adhi jatuh cinta? Bukan pada Yulia? Jadi pada siapa? Rima merasakan gelegak cemburu yang perih di hatinya.


"Rim, bantu aku ngomong sama Yulia. Aku pengen..hubungan ini selesai."


Pandangan Adhi melas dan penuh permohonan. Sementara Rima lagi-lagi ga tahu harus menjawab apa.


"Assalamualaikum,"


Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di gerbang. Rima berdiri dengan canggung, tersenyum tipis dan berjalan mendekati tamunya.


"Waalaikumsalam,"


Dua lelaki itu saling berpandangan tajam.


"Mas Tyo, mm mana Emira?"


"Oh Emira sedang ikut neneknya. Aku..sedang di dekat sini dan..pengen mampir. Boleh?"

__ADS_1


Tyo menatap Adhi lagi, yang di tatap sedang mengeratkan genggamannya karena tiba-tiba ada perasaan perih yang dirasakannya.


"Tapi..kalo kamu sibuk aku lanjut jalan aja."


Tyo melirik Adhi lagi. Rima sejenak bingung, mana Hanif sedang keluar. Di rumah cuma ada Ibu.


"Eh, ada tamu to? Kok ga disilahkan duduk Rim?"


Ibu muncul di saat-saat kritis, memecahkan suasana mencekam.


"Loh ada nak Adhi juga to? Sudah lama nak?"


"Barusan aja bu,"


Adhi melangkah mendekati Ibu dan mencium punggung tangannya. Disusul Tyo melakukan hal yang sama.


"Monggo di ruang tamu aja. Udaranya anyep ini loh, kebetulan Ibu baru selesai goreng pastel. Ayo Rima, diajak masuk."


Ditengah kebingungan, Rima ga punya pilihan selain mengajak kedua lelaki itu masuk.


Dua lelaki itu duduk berjauhan, tidak saling bertegur sapa.


"Saya...bikin minum dulu ya mas,"


Tyo mengangguk, sementara Adhi membuang muka.


"Anda ini siapa?"


Adhi tak dapat menahan keingintahuannya.


"Saya? Kan kita sudah pernah kenalan."


Tyo tersenyum sinis.


"Maksud saya, anda ada hubungan apa dengan Rima?"


"Ooh itu..yaa tanya dong sama Rima."


Adhi semakin kalut mendengar jawaban Tyo. Sementara Tyo merasa berhasil mempermainkan Adhi.


"Rim, kita ga bisa ya ngomong berdua aja?"


Adhi melirik pada Tyo.


"Jangan sekarang Dhi, aku ga bisa."


Rima meremas gamisnya sembunyi-sembunyi.


"Rima, Sabtu depan aku dan Emira mau ngajak kamu jalan lagi. Sama Ibu juga."


Tyo sengaja memancing kemarahan Adhi.


"Oh itu mas...mm saya bilang Ibu dulu ya."


"Aku sudah bilang sama Ibu, beliau setuju kok."


Rima berusaha menyembunyikan kekagetannya. Kapan Tyo minta ijin pada Ibunya.


"Saya telpon Ibu kemaren Rim,"


Tyo seolah tahu apa yang ingin ditanyakan Rima.


"Nak Adhi, Nak Tyo, monggo loh dicicipi."


Lagi-lagi Ibu datang menyelamatkan suasana mencekam itu. Tyo dengan luwes mengajak Ibu mengobrol. Sehingga suasana agak mencair. Sedangkan Adhi sudah gelisah, melihat keakraban Tyo dengan Ibu.


Tyo tak bisa berhenti mencuri pandang pada Rima, dan Adhi melihat hal itu dengan perasaan yang semakin galau. Adhi semakin kesal melihat tatapan memuja Tyo. Adhi masih belum memahami mengapa dia merasa sangat kesal melihat usaha Tyo mendekati Rima dan Ibunya.


"Bu, saya mau pamit dulu."


Adhi berdiri dan menghampiri Ibu yang terperangah. Kenapa Adhi begitu diam dan tiba-tiba pamit pulang hari ini. Biasanya Adhi suka berlama-lama di rumah itu karena Adhi dan Rima memang bersahabat sejak SMP.


"Loh kok buru-buru nak Adhi?"


"Iya bu, besok aja saya janjian lagi sama Rima bu."

__ADS_1


Adhi sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk melihat reaksi Tyo.


"Iya wes, hati-hati ya. Kapan balik ke Kalimantan?"


"Dua hari lagi bu,"


Adhi tersenyum dan melangkah keluar diantar Rima dan Ibu.


Setelah Adhi berlalu, Ibu pamit ke dapur meninggalkan Tyo dan Rima di ruang tamu.


"Dia..naksir sama kamu ya Rim,"


Itu bukan pertanyaan, tetapi pernyataan.


"Engga kok mas, kami memang sahabat sejak SMP."


"Ohh gitu, tapi kayanya dia panas banget liat saya."


"Hehehe, ga usah dibahas deh mas."


"Kalo kamu gimana?"


"Apanya mas?"


"Suka ga sama Adhi?"


Deg


Rima berusaha keras menutupi kekagetannya.


"Ga pernah terpikir mas, saya cuma sahabatan."


Rima menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah.


"Hmm..ya udahlah, saya pamit dulu ya. Udah siang."


Tyo beranjak dari duduknya, sementara Rima memanggil Ibu karena Tyo akan berpamitan.


Tyo melangkah pelan ke tempat mobilnya terparkir sambil berbisik di dalam hatinya. Dia ga akan menyerahkan Rima pada Adhi. Dia harus melangkah lebih berani. Tapi ada satu hal yang membuat Tyo penasaran, dia bertekad akan mencari tahu untuk menjawab rasa ingin tahunya.


🌷🌷🌷


"Gimana Rim?"


"Apanya bu?"


Rima sedang membereskan cangkir dan piring dari meja ruang tamu.


"Kamu pilih Tyo apa Adhi?"


Ibu tersenyum penuh arti. Sementara Rima bengong, bagaimana Ibu bisa tahu?!


"Wes to, ibu ini orang tua. Wes paham banget sama yang begituan."


"Bu, ini ga ada hubungannya sama Adhi."


"Ehh ya ada to, nak Adhi itu juga suka sama kamu. Buktinya tadi dia ngelirik terus waktu Tyo merhatiin kamu."


Rima tidak membantah lagi, dia juga ga mungkin memberi tahu Ibu bahwa Adhi suka pada Yulia.


"Hehehe itu perasaan Ibu aja mungkin,"


"Yo wes kalo ga percaya. Tapi...kalo Ibu sih setuju sama nak Tyo. Sudah matang dan keliatan ngemong. Kamu gimana?"


Rima kelimpungan lagi. Ibu sudah jelas-jelas menyatakan dukungannya. Ada bagian hatinya yang mendesak Rima untuk menerima Tyo. Tapi, ada bagian lain yang masih merindukan seseorang.


"Belum kepikiran bu, Rima kan masih sibuk kerja."


"Pikirkan to Rim, apalagi nak Tyo sudah jelas-jelas menunjukkan kalo ada maksud sama kamu. Emira juga sudah sayang banget sama kamu."


Rima memaksakan sebuah senyum pada Ibu, kemudian melangkah menuju dapur dengan perasaan campur aduk. Jilbab lebar berwarna coklatnya melambai diterpa angin yang tiba-tiba hadir menemani rintik gerimis.


Yuks komenin dan bintangin 😋😋


Maaf kalo masih banyak kekurangan yaa

__ADS_1


__ADS_2