
Bismillah...
Sebulan kemudian.
Tyo memasuki cafe dan resto yang terletak di tepi jalan raya menuju ke Batu itu. Resto dua lantai itu terlihat asri dan sejuk karena dihiasi tanaman merambat di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Sebuah kolam ikan dengan air mancur kecil juga di letakkan di tengah, tepat sebelum tangga yang mengarah ke pintu masuk. Jalan untuk difabel di letakkan di bagian kanan pintu masuk juga dihiasi tanaman hijau yang ramah untuk mata.
Matahari bersinar garang, bahkan Malang yang biasanya sejuk tak mampu bersaing dengan panasnya hari. Angin yang bertiup pun terasa panas, untunglah pepohonan yang ditanam cukup rapat di halaman resto membuat suasana sedikit teduh.
Tyo celingukan mencari Alfian. Hari ini mereka ada janji bertemu untuk membicarakan pemasaran minuman sari buah yang sudah mulai diproduksi. Sudah sekitar 3 bulan pabrik minuman buah itu beroperasi. Strawberry, apel dan paduan antara keduanya diolah menjadi minuman segar. Cocok untuk dipasarkan di area wisata seperti Batu. Rencananya Tyo dan Alfian juga akan membuat kafe yang khusus menjual minuman sari buah. Kebetulan teman Alfian juga seorang pengusaha kafe. Perhatian Tyo teralihkan ketika seorang pelayan menghampirinya.
"Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang pelayan pria dengan wajah ramah.
"Saya nunggu pak Alfian, apa beliau sudah pesen meja?"
"Oh sudah pak, mari saya antar," balas si pelayan sembari mengarahkan Tyo ke sebuah meja di dekat tangga. Tempat yang tenang untuk membicarakan pekerjaan.
Tyo memesan kopi dan si pelayan itu pun berlalu. Dengan wajah lelah Tyo membuka ponselnya menghubungi Alfian. Ternyata Alfian baru saja keluar dari kantornya. Artinya Tyo harus menunggu kira-kira 15 menit lagi. Tyo pun membuka aplikasi whatsap, mengirimkan pesan pada Rima. Sejak tadi pagi dia belum menyapa Rima. Tiba-tiba dia kangen pada perempuan yang selama 6 bulan ini menemaninya berumah tangga. Wajahnya yang manis dan sifatnya yang pengalah, membuat rumah tangga mereka adem ayem. Dan membuat Tyo semakin mencintainya.
"Saya ada perlu sama kamu!" suara khas perempuan membuat Tyo mendongak. Dan wajah Yulia yang tersenyum miring mengisi ruang pandangnya. Tyo ikut tersenyum miring. Sedikit sebal karena dia yakin Yulia akan merusak moodnya. Seperti biasa.
"Ada apa lagi hah?" sentak Tyo.
"Kamu ga ada hak ngelarang Rima berteman sama aku," ucap Yulia dengan lirih.
Tyo mengerutkan kening. Menurutnya perempuan modis ini sangat lucu dan mengesalkan. Bagaimana bisa dia mengatakan Tyo tidak ada hak untuk melarang Rima. Sedangkan Rima adalah istri sahnya.
"Kamu mabuk ya?" balas Tyo sedikit kasar.
Yulia hanya melengos.
"Rima itu istri saya, dan saya punya hak penuh melarang dia melakukan hal-hal yang berbahaya buat dia. Kamu itu bahaya besar buat Rima!! Ngerti?"
Tyo masih duduk dengan tenang, wajahnya sedikit mendongak menatap Yulia yang terlihat gusar.
__ADS_1
"Kamu mestinya sadar diri, Rima itu ga pantes temenan sama perempuan kaya kamu!" sentak Tyo lagi sambil menatap Yulia dengan tajam.
Yulia tertegun. Ingin sekali dia balas meneriaki Tyo, tapi itu tidak dilakukannya. Dengan perlahan Yulia duduk di samping Tyo. Wajahnya melembut dan kemudian dia meletakkan tangannya di atas tangan Tyo.
"Saya mohon, jangan jauhin Rima dari saya. Please," jawab Yulia dengan mata berkaca-kaca.
Tyo sejenak terkesiap. Otaknya dengan cepat merespon, tingkah gila apalagi yang direncanakan Yulia. Tyo menarik tangannya dengan kasar.
"Tyo, aku ga bisa pisah dengan Rima. Cuma dia temenku satu-satunya. Tolong jangan larang kami ketemu ya." Yulia berbicara lagi, kali ini dengan setetes air mata jatuh di pipinya.
Sementara Tyo merasa tidak nyaman. Apa jadinya kalau ada yang melihat kejadian ini. Mereka tidak tahu siapa Yulia, bisa-bisa beredar gosip yang tidak jelas tentang mereka. Dengan tergesa Tyo bangkit dan melangkah ke lantai 2 resto itu. Dia menghampiri pelayan, menitipkan pesan bahwa dia akan pindah duduk di lantai 2. Pelayan berseragam cokelat itu pun mengangguk paham.
Yulia hanya memandangi Tyo yang meninggalkannya begitu saja. Saat ini dia tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya untuk meraih simpati Tyo. Dia hanya ingin bisa kembali dekat dengan Rima. Dan cara satu-satunya tentu saja lewat Tyo.
Sementara itu,ย Dani menyaksikan semuanya dari jarak sekian meter. Lelaki berkulit cerah itu bertanya-tanya apa yang dibicarakan Yulia dan Tyo. Mengapa Yulia sampai menangis? Dani merasakan gelegak cemburu dan amarah. Masih tertegun di tempatnya berdiri, dia menggertakkan rahangnya kuat-kuat menahan perih yang perlahan menjalar di hatinya.
Jadi ini alasan Yulia mengabaikannya. Selama ini Dani bertanya-tanya mengapa semakin hari Yulia bersikap dingin padanya. Padahal dia sangat mencintai istrinya itu dan segala cara sudah dilakukannya untuk meredakan kesedihan Yulia yang entah karena apa.
Dengan lunglai dan kepala penuh dengan pikiran buruk Dani melangkah pergi meninggalkan resto itu. Dia membatalkan janji temu dengan kliennya.
๐๐๐
Yulia sedang sibuk dengan hapenya. Sesekali menghirup kopinya sambil bersantai di teras belakang. Sudah sebulan Yulia kembali ke rumah Dani, sejak dokter menyatakan dia sehat dan kistanya sudah bersih.
Dan rasa rindu pada Rima kembali menyeruak. Seandainya dia dan Rima bisa bertemu pasti mereka bisa bercanda dan mengobrol. Rima pasti dengan semangat akan mencari berbagai macam bacaan tentang kista dan menyarankan ini itu pada Yulia.
Yulia tersenyum sendiri, dia sedang menatap fotonya bersama Rima ketika mereka sedang ngopi di sebuah kafe di kawasan perbukitan.
"Yul, aku mau bicara," kata Dani. Lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapan Yulia.
"Lagi liat apa sih kok seneng banget?" ucap Dani dengan sinis sembari melirik layar ponsel Yulia. Dia sekilas melihat foto Rima dan istrinya sedang tertawa, wajah mereka saling berhadapan. Sepertinya foto itu diambil secara candid.
"Ada apa mas? Aku lagi ga pengen ngomongin yang berat-berat. Males mikir tau." Yulia melengos dan sudah siap berdiri, ingin segera meninggalkan Dani. Semakin lama dia merasa semakin berjarak dengan Dani karena bayangan wajah Adhi yang sering muncul.
__ADS_1
"Duduk Yul," suara Dani terdengar begitu tegas. Matanya menatap Yulia dengan tajam. Yulia tak menyangka suaminya yang biasanya lembut itu, hari ini terlihat marah. Yulia tak jadi berdiri dan memilih duduk sambil menatap Dani dengan perasaan bercampur-campur.
"Ada hubungan apa kamu sama Tyo?!"
Pertanyaan Dani diucapkan dengan nada tajam walaupun dia tidak meninggikan suaranya. Yulia menatapnya heran. Dia tidak menyangka suaminya akan menanyakan hal ini. Tadinya dia sudah takut Dani mengetahui hubungannya dengan Adhi. Tapi kenapa yang disebut malah Tyo. Pikiran Yulia langsung kalut. Dia pun takut Tyo mengadukan perselingkuhannya pada Dani.
"Kamu kenapa sih mas? Ngapain bawa nama orang brengsek itu segala?!" Suara Yulia sedikit gemetar ketika menjawab.
"Sudah berapa lama kamu bohongin aku?! Jawab Yul!!"
Yulia tersentak kaget. Suara Dani menggelegar membuat Yulia semakin mengkerut ketakutan. Selama ini Dani tak pernah membentaknya, malah Dani sangat lembut dan menyayanginya. Yulia benar-benar tidak menyangka Dani bisa bersikap tegas seperti ini.
"Kamu ngaco mas!!" balas Yulia dan bangkit dari kursinya. Dia bergegas berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Tapi Dani tidak melepasnya begitu saja. Dengan kasar ditariknya lengan Yulia.
"Kamu selingkuh iya kan?! Makanya kamu benci sama Rima, apa karena Tyo lebih milih Rima daripada kamu?! Jawab Yul!!"
Yulia tertegun, menatap Dani dengan ketakutan. Dia bingung dengan tuduhan Dani dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku cinta sama kamu Yul, mati-matian aku bertahan menghadapi kamu dan emosimu yang ga stabil!! Tapi kamu selingkuh!! Aku ga nyangka kamu bisa segila itu Yul!! Aku capek sama semua ini!!"
Dani melepas cengkramannya dengan kasar. Meremas rambutnya dan melangkah pergi meninggalkan Yulia yang tertegun.
Sekarang, bagaimana Yulia akan meluruskan semua hal yang menjadi salah ini? Apakah Rima lagi-lagi harus terjebak?! Atau dia harus membuka aibnya sendiri dengan resiko kehilangan Dani.
Tiba-tiba dia merasa tidak rela kehilangan Dani. Rima benar, suatu saat Yulia bisa kehilangan semuanya jika terus-terusan membohongi Dani. Suami yang begitu mencintainya.
Makasih sudah baca๐๐
Cerita ini sudah hampir end yaa โบ๏ธโบ๏ธ
With love
-mariana-
__ADS_1