Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Rima PoV


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


Memulai dengan nama Allah yang Maha Agung


πŸ’πŸ’πŸ’


Rima PoV


Drama! Kata apalagi yang tepat untuk menggambarkan hidupku. Dari persahabatan, ketemu jodoh sampai menikah. Penuh naik turun, dan aku lumayan ngos-ngosan...hehehe


Yulia buat aku adalah sahabat selamanya. Selain karena aku sudah janji sama papanya, ada ikatan yang ga bisa kami lepaskan. Aku juga ga tau ikatan apa? Ini ga ada hubungannya sama sekali dengan sesuatu yang astral ya. Mungkin memang hati kami sudah saling bertaut.


Padahal dalam Islam jelas-jelas disampaikan larangan bergaul dengan teman yang buruk. Ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi, kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan harumnya. Sedangkan berteman dengan pandai besi, engkau akan terkena percikan apinya.


Hufff


Aku memang sudah lama memikirkan ini. Tapi menjauhi Yulia terasa sangat berat. Alasan apa yang harus aku pakai?


Pernah aku curhat tentang persahabatanku ini dengan Mbak Sari, akhwat seniorku di kajian. Beliau bilang kalau ga bisa menjauhi, ajak Yulia untuk berubah lebih baik. Berjilbab misalnya. Aku sudah pernah ngajak Yulia berjilbab, tapi ujung-ujungnya malah bete sama jawaban dia. Dan bukan sekali dua kali aku mengajaknya, berkali-kali aku lakukan. Setiap ada kesempatan.


"Yul, jilbab itu wajib hukumnya untuk perempuan muslim,"


"Aku belum siap Rim,"


"Emang mau nyiapin apa sih?"


"Ya hati lah, aurat ketutup tapi hatinya jelek sama aja boong."


"Trus sampe kapan kamu mau nyiapkan?"


"Ya mana aku tau,"


"Tutupin dulu aurat kamu, nanti yang lain ngikutin."


Yulia menjawab dengan santainya.


"Yang penting jilbabin hati dulu Rim, urusan jilbabin yang lain belakangan. Lagian mas Dani ga nyuruh juga kok."


"Mana ada hati dijilbabin, bisa pake acara pembedahan segala donk,"


Aku ingat saat itu aku langsung pening. Sepertinya jalan untuk mengajak Yulia jadi baik alot.


"Sebelum mas Dani nyuruh juga kamunya kudu nyadar. Kamu mau ayah dan suamimu digantung di neraka gara-gara kamu ga nutup aurat."

__ADS_1


"Ah udahlah, nyari topik berat amat. Ngopi yuk."


Aku melengos. Sudah tahu ga akan mudah menghadapi Yulia.


Saat yang paling bikin aku shock adalah perselingkuhannya dengan Adhi.


Aku tahu Yulia memang banyak bertingkah. Tapi selingkuh sama Adhi??! Sama sekali ga ada dalam otakku.


"Jangan teruskan Yul!! Nanti kamu juga yang sakit. yang kamu lakukan itu juga dosa besar!"


Aku memasang tampang marah saat mengatakan itu, sedangkan dia hanya tersenyum kemudian merangkulku.


"Jangan mikir kejauhan dulu lah Rima,"


Tuh dia malah cekikikan.


"Kalo mas Dani tau gimana Yul? Bisa berantakan rumah tanggamu."


"Ya dia ga bakalan tau lah. Asal kamu ga buka rahasia aja."


Dia mengerling. Aku mendengus kesal.


Dan yang terjadi aku malah terjebak semakin dalam. Aku harus pura-pura sedang dekat dengan Adhi, demi menutupi perselingkuhan Yulia.


Memang dia akhirnya melamarku, tapi ketika itu hatiku sudah mulai mengukir nama orang lain. Ya, aku mulai jatuh cinta sejak Mas Tyo menarik tanganku dari sky lounge malam itu.


Sosok lelaki itu seperti..apa ya? Seperti sosok suami yang aku butuhkan. Seharusnya setelah dia melamar aku jaga jarak aman kan? Tapi setiap aku perlu bantuan malah wajahnya yang muncul.


Itu bukan karena aku ga ada yang naksir ya. Ada beberapa yang ngasi sinyal mau deketin, tapi ga ada yang seperti Mas Tyo.


Baiklah, kalian boleh bilang aku bucin 😁


Tapi sebucin-bucinnya aku, aku masih waras.


Ketika Mas Tyo melamar aku memberi jarak waktu cukup lama, bukan karena aku nunggu Adhi. Tapi aku ingin memantapkan pilihanku. Aku juga ingin melihat kesungguhannya. Ternyata dia serius banget, sampe ikut kajian rutin padahal aku tahu dia sibuk banget.


Baiklah sebenarnya aku sudah meleleh saat itu. Tapi aku harus sabar sambil terus istikharah dan berdoa.


'Ya Allah aku memohon kepada Engkau jodoh yang sholeh, yang menyejukkan hati, yang seiya sekata dalam meraih ridho dan surgaMu'


Doa itu yang kulantunkan berulang, aku tidak berharap pada satu nama. Hanya jodoh yang kelak akan menjadi penyejuk hatiku dan sevisi dalam meraih surga.


Aku pernah membaca kisah Shalahuddin Al Ayyubi.Β  Ayah sang Penakluk Al Quds itu mengucapkan sesuatu yang selalu aku ingat ketika dia ditanya kriteria istri seperti apa yang dicarinya.

__ADS_1


Jawaban Najamuddin Ayyub -ayah Shalahuddin- adalah dia mencari istri yang akan membimbingnya untuk mendekat pada ridha Allah dan surgaNya, serta yang kelak akan mendidik anak yang akan mengembalikan Palestina ke tangan umat Islam.


Kata-kata inilah yang mempertemukan Najamuddin dengan Sarah, yang kelak menjadi istrinya. Kata-kata yang sangat indah dan sarat motivasi menurutku.


Menurutku kesamaan cita-cita dalam menikah adalah ikatan yang paling kuat, jauh lebih kuat daripada sekedar cinta. Cinta pada manusia itu subjektif, makanya bisa pudar kapan aja! Oh no aku ga pengen terjebak cinta macam itu.


Keseriusan Mas Tyo dalam berubah dan belajar Islam membuat aku yakin, dia orang yang tepat untuk mendampingiku dalam mengarungi samudera rumah tangga. Ketegasannya dalam berucap dan bersikap juga menjadi pertimbanganku. Dia tak pernah bertele-tele. Ucapannya selalu to the point. Membuat aku tak perlu mengerutkan kening untuk sekedar memahami.


Sejak saat itu aku yakin. Aku tak akan lagi menunggu cinta Adhi!


Pada hari pernikahanku, aku pengen banget Yulia datang dan mendampingi. Sama seperti ketika aku mendampingi dia di pernikahannya. Tapi sepertinya keinginanku cuma jadi mimpi. Yulia ga hadir. Aku ingat terakhir kali kami ketemu, dia bilang dia benci sama aku. Itu karena dia mendengar Adhi melamarku dan ucapan Adhi tentang memutuskan cinta Yulia demi aku.


Aku ga geer! Justru itu membuatku pening. Aku tahu Yulia akan sangat terpukul dengan ini. Setauku dia begitu serius dengan Adhi, apa cinta seperti itu? Rela melakukan apapun untuk bersama orang yang dicinta, sampai melakukan dosa besar. Melihat Yulia dan Adhi membuat aku semakin tidak ingin terjebak pernikahan hanya karena cinta.


Aku teringat saat-saat Yulia dan Mas Dani pacaran, kemudian menikah.


"Yul, kenapa sih kok akhirnya mutusin nikah sama mas Dani?"


Aku dengan polos dan keponya bertanya.


"Yaa karena aku cinta sama Mas Dani. Dia ganteng, perhatian, baik dan apa ya..ngertiin aku Rim."


"Jadi kamu nikah cuma karena cinta?"


"Iyalah, karena apalagi? Hayoo kamu mau ngajak ngobrol topik ruwet ya?"


Yulia terbahak melihat ekspresi kesalku.


"Kalo besok-besok cintamu pudar gimana?"


"Halaha gampang! Tinggal recharge aja Rim."


Dia terbahak lagi.


Hmmm aku semakin ga ngerti. Apalagi setelah Yulia mulai selingkuh dengan Adhi. Katanya cinta?! Trus kenapa semudah itu selingkuh.


Aku semakin yakin, ga akan menikah cuma karena cinta. Saat itu aku masih gamang apakah aku bisa seperti Najamuddin yang akhirnya menemukan Sarah?


Qadarullah, Allah mempertemukan aku dengan Setyo Perwira. Yang membuatku yakin untuk melabuhkan pilihan, merenda asa dan meraih ridha.


Terima kasih apreasianya


Kasi author semangat Yuk dengan cara like dan vote dan masukkan novel ini di favorite β˜ΊοΈπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2