
Bismillahirrohmanirrohiin
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
2 minggu kemudian
"Rim, ikut aku!"
Yulia tiba-tiba muncul di rumah Rima. Rima yang sedang berbicara dengan Ratna tentang les murid-muridnya sontak menoleh. Ratna memandang kedua sahabat itu dengan heran. Yulia terlihat agak pucat dan wajahnya sembab.
"Ikut kemana Yul?"
"Nemuin Adhi."
"Yul, duduk dulu yuk. Aku bikinkan teh."
Rima menuntun Yulia untuk duduk di kantor mungilnya. Ratna paham dengan situasi itu, perlahan pamit keluar.
Yulia menopangkan sikunya di meja kerja kayu, dua telapak tangannya menyangga wajahnya.
"Ada apa Yul? Kenapa kamu begini?"
"Aku harus bicara sama Adhi."
"Yul aku ga bisa terlibat lagi,"
Wajah Rima menegang, menunggu respons Yulia. Yulia mengangkat wajahnya. Menatap Rima nyalang. Tiba-tiba dia berdiri dan menarik satu tangan Rima. Menariknya paksa, membawanya ke dalam mobil.
"Yul, apa-apaan sih?!"
Yulia hanya diam, mendorong Rima sedikit kasar sehingga Rima nyaris terjatuh di dalam mobil.
"Yul, aku ga mau ikut!! Kamu kenapa sih?"
Yulia tetap diam, melarikan mobilnya ke arah matahari yang mulai terbenam. Sementara Ratna terpaku melihat adegan itu.
Yuliana Devanti
🥀🥀🥀
Tyo sedang mengemudikan mobilnya menuju kota Batu, ada janji dengan temannya. Mereka berencana memproduksi minuman berbahan dasar strawberry dan apel. Kebetulan kebun Tyo yang cukup luas ditanami apel dan strawberry.
Tyo menatap spion mobilnya, rasanya dia kenal dengan mobil berwarna silver metalik itu. Mobil itu membunyikan klakson dengan tak sabar. Tyo terpaksa mengalah. Sekilas sepertinya dia melihat Rima di dalam mobil itu.
Ah aku lagi kangen Rima kayanya, kebayang wajahnya terus.
Tyo membatin sambil menggelengkan kepalanya, berusaha menepis bayangan wajah gadis yang dirinduinya. Semakin hari sepertinya rasa cintanya semakin besar, Tyo berpikir untuk melangkah maju.
Suara adzan maghrib terdengar dari radio mobil. Tyo menepi dan berhenti di sebuah masjid. Dia heran melihat mobil yang tadi menyalipnya juga parkir disitu.
__ADS_1
Ketika Tyo hendak melanjutkan perjalanan mobil itu sudah tidak ada.
🕌🕌🕌
"Yul, istighfar dulu. Jangan begini."
Rima masih berusaha menenangkan Yulia yang berjalan sambil menarik tangannya. Entah apa yang membuat Yulia seperti ini.
"Cerita dulu Yul, ada apa?"
Yulia diam, berjalan menuju reception desk dan memesan sebuah ruang pribadi.
"Mbak, tolong kalo temen saya datang suruh langsung ke ruang Tulip ya. Namanya Adhitama Zakaria."
Pegawai itu hanya mengangguk, melirik Rima yang seperti kesakitan.
Yulia melangkah lagi, masih menarik tangan Rima yang wajahnya sudah pucat dengan titik-titik keringat di keningnya. Rima benar-benar kuatir melihat Yulia. Ditambah lagi perasaannya yang tak enak sejak mobil Yulia meninggalkan komplek perumahannya.
Mereka masuk ke ruang pribadi itu. Wangi aromaterapi yang menenangkan melingkupi ruang mewah itu. Cahayanya temaram dengan sebuah meja kecil berbentuk lingkaran. Kursi empuk berbentuk huruf L dilengkapi dengan bantal berwarna monokrom, kontras dengan kursi yang berwarna tosca muda. Suasana damai itu bertolak belakang dengan perasaan kedua perempuan yang sejenak saling diam.
Yulia duduk dengan kasar dan menyadarkan punggungnya dengan lelah.
"Ada apa sih Yul?"
"Adhi, dia aneh."
"Aneh gimana?"
"Aku berkali-kali telpon dia ga angkat."
"Dia disini Rim, bukan di Kalimantan."
Rima berhenti menjawab. Dia mulai dapat menerka apa yang terjadi. Dia hanya berharap apa yang dipikirkannya tidak terjadi sekarang, ketika dia ada disini.
Adhi tiba-tiba muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja coklat susu dan celana berwarna senada. Dia terlihat kuyu walaupun tetap tampan.
Rima melengos, dia sadar jantungnya berdetak lebih cepat dengan kerinduan yang seakan impas. Adhi menatapnya sebentar, tidak tersenyum.
"Rim, apa kabar?"
"Baik, kamu?"
Rima ga sanggup menjawab dengan judes seperti biasanya. Dia ga tega melihat ekspresi Adhi.
"Aku baik,"
Yulia menatap Adhi, sorot matanya penuh kerinduan. Rambut curly nya yang ditata oleh stylist sudah berantakan, blush on di pipinya yang putih tak sanggup menyembunyikan kegalauan wajahnya.
Yulia bangkit perlahan, dan memeluk Adhi dengan erat. Terisak tanpa bisa ditahan.
Rima membuang muka. Sementara Adhi tidak membalas pelukan Yulia.
__ADS_1
"Yul, duduk dulu."
Suara Adhi sedikit gemetar.
Rima berdiri, mencoba mengajak Yulia duduk. Yulia langsung menepis tangan Rima dengan kasar. Rima baru menyadari, Adhi tidak lagi memanggil Yulia dengan 'sayang'.
"Yul, kalo kamu kaya gini aku pulang sekarang!"
Rima tersentak, baru kali ini dia melihat Adhi begitu gusar dan marah. Sampai meninggikan suaranya.
Yulia terpaksa menurut, dia duduk dan bersandar pada bahu Rima yang menepuk punggungnya dan mencoba menenangkannya.
"Rim tolong pesen minum dulu ya,"
Rima melangkah keluar, memesan minuman. Tak terpikir untuk bertanya Adhi dan Yulia ingin minum apa.
Rima berdiri di counter pemesanan.
Sementara itu..
Tyo terpaku melihat Rima juga berada di sky lounge itu. Rima sama sekali tidak menyadari Tyo memandanginya. Sesaat terlintas untuk menyapa Rima, tapi Tyo penasaran apa yang dilakukan Rima di tempat itu. Dia pun memutuskan untuk mengabaikan Rima, sampai dia tahu apa yang dilakukan Rima di sky lounge ini.
Dilihatnya Rima memasuki ruang pribadi, sekilas dilihatnya Yulia dengan wajah sembap dan sosok seorang lelaki.
Tyo merasakan sakit di hatinya sekaligus kekhawatiran yang bukan tanpa alasan. Lelaki itu yang sepintas dilihatnya, pastilah Adhi. Dan Tyo merasakan perihnya cemburu. Tetapi, hasil penyelidikannya membuat dia khawatir pada Rima. Tyo tidak bodoh dan begitu saja percaya dengan apa yang dilihatnya, dia sengaja menyuruh orang kepercayaannya untuk mengikuti Yulia. Awalnya Tyo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, tapi ada cukup banyak foto yang mulai membuat keraguannya sirna.
Rima hanyalah wrong person in the wrong time and place. Tetapi Tyo masih bertanya-tanya kenapa Rima tidak bisa menjauhi Yulia saja, padahal sahabatnya itu jelas-jelas membuatnya melakukan banyak hal yang salah.
Tyo tersadar ketika suara seseorang menyapanya.
"Tyo, kok masih berdiri di sini?"
Tyo berbalik dan melihat Bram-teman yang sedang ditunggunya- berdiri di belakangnya. Saat itu Tyo sedang berdiri membelakangi ruang pribadi tempat Rima baru saja masuk.
Sky lounge itu memang pilihan tempat yang tepat, terletak di roof top sebuah hotel bintang lima yang lokasinya cukup jauh dari keramaian. Dari sky lounge hamparan sawah yang berwarna hijau zamrud menghibur mata pengunjung.
"Eh, Bram. Udah lama nyampe?"
"Baru aja, udah pilih meja?"
"Belum, mau duduk dimana?"
"Deket Tulip itu aja deh, bebas asap rokok."
Tyo merasakan langkahnya berat. Dia takut melihat sesuatu yang akan mematahkan hatinya.
Mereka baru saja duduk ketika terdengar suara sesuatu pecah dari dalam ruang Tulip.
Tyo tersentak dan spontan menoleh ke asal suara. Dia khawatir pada seseorang di dalam sana.
Yuhuu bersambung yaa..
__ADS_1
Komenin dan bintangin yukss guyss
😘😘😘