Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Pertengkaran


__ADS_3

Bismillah...


Tyo menginjak gas dalam-dalam. Tak ada pembicaraan dengan Rima. Tyo tak ingin kehilangan kontrol dan berakhir membentak Rima seperti kemarin. Dia sebenarnya marah pada Rima yang membiarkan Yulia memperlakukannya dengan buruk. Lebih marah lagi pada kegilaan Yulia.


Jadilah mereka melewatkan perjalanan pulang dalam diam.


Rima serba salah, ingin memulai berbicara tetapi takut Tyo tidak menggubrisnya. Sesekali diliriknya Tyo yang kelihatan fokus menyetir, wajahnya terlihat serius. Tak sekalipun menoleh pada Rima. Tyo bukannya tak menyadari bahwa Rima menatapnya sejak tadi. Hanya saja dia sedang malas berbicara. Dia ingin kejadian hari ini membuat Rima sadar untuk tak lagi bertemu dengan Yulia.


"Mas, kok diem aja."


"Nyetir."


Jawaban Tyo yang dingin dan hanya satu kata membuat Rima kembali diam. Menatap keluar, jalanan sudah basah oleh rintik hujan yang semakin lama semakin deras.


πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘


Sudah dua hari dan Tyo masih mendiamkan Rima. Dia hanya berbicara sesekali saja membuat Rima semakin resah. Rima sudah mencoba beberapa cara untuk mendekati Tyo dan mendinginkan hatinya. Membuatkan makanan kesukaan Tyo, menemani Tyo bekerja atau nonton bola.


Tapi Tyo rupanya masih betah dengan sikapnya.


Malam itu akhirnya Rima memberanikan diri. Dia sudah tidak tahan lagi dengan suasana rumah yang sunyi.


Tyo sedang menonton berita di televisi. Lampu ruangan sengaja dimatikan karena Tyo tidak suka jika lampu terlalu terang. Emira baru saja tidur, gadis kecil yang beranjak remaja itu sudah beberapa kali bertanya mengapa bunda dan ayah tidak saling bicara seperti biasa. Dan Rima bingung harus menjawab apa.


Malam ini semua harus diselesaikan. Rima lelah dengan acara diam-diaman ini.


"Mas, ini kopinya."


Rima duduk di sofa, agak jauh dengan Tyo yang hanya meliriknya.


"Boleh ngomong ga?"


"Ngomong aja."


"Sampai kapan kita diem-dieman gini?"


Tyo menatapnya sebentar kemudian pandangannya beralih ke televisi lagi. Rima menghela nafas kesal, ternyata suaminya kalau marah lebih parah dari Emira. Jadi kaya anak kecil, ga gampang dirayu.


"Kamu maunya gimana?"


Tyo akhirnya bersuara, tapi matanya tetap pada televisi.


"Aku maunya kita tu kalo ada masalah diomongin, jangan diem-dieman gini. Jangan sampe Emira tau kalo kita berantem. Kita kan orang tuanya, ya harus ngasi contoh yang baik lah sama Emira."


"Aku masih males ngomong."


Tyo menatap Rima sebentar, kemudian membuang muka.


"Sampe kapan males ngomongnya? Aku udah berusaha dengan segala cara loh mas. Aku juga udah minta maaf kan?!"


"Rima, ya gitu rasanya ketika kamu sudah dikasi tahu tapi masih tetep aja ngotot mau ketemu Yulia. Ga enak kan? Sebel, kesal, kecewa. Ya begitulah perasaan aku sekarang."


Rima kalah, dia tidak menemukan jawaban untuk merespon Tyo.


"Aku ngelarang kamu ketemu Yulia bukannya apa-apa, aku cuma ga mau kamu terjebak lagi. Yulia itu sinting. Orang kaya gitu kok dijadiin sahabat?? Cari teman yang lebih baik lah, yang stabil, ga egois, ga berdrama kaya sinetron murahan begitu!"


"Maaf mas, aku salah."


"Kamu bilang maaf tapi trus masih ketemuan sama Yulia. Aku ini suamimu Rim. Aku ga mau terjadi apa-apa sama kamu! Kalo kamu kenapa napa aku yang tanggung jawab."


"Iya mas."

__ADS_1


"Iya apa?"


"Iya aku ga akan ketemu Yulia lagi."


"Beneran? Nanti kamu ngerayu rayu lagi pengen ketemu sahabatmu yang sinting itu."


Rima merengut. Diam-diam merasa kesal Tyo tak percaya dengan ucapannya.


"Ya udah kalo ga percaya."


Rima beranjak dari sofa, siap melangkah menuju kamarnya.


Tiba-tiba Tyo meraih pergelangan tangannya.


"Marah?"


"Engga," Rima menjawab sambil melengos lucu. Persis anak kecil yang sedang merajuk.


"Cie cie..gantian nih yang marah."


"Siapa juga yang marah. Udah ah aku mau tidur."


Rima menarik tangannya. Tapi Tyo malah semakin mengeratkan genggamannya. Tyo ternyata khawatir melihat Rima yang tiba-tiba berbalik marah padanya. Bukankah biasanya dia mengalah dan jarang menunjukkan kemarahannya.


"Kalo ga marah cium dulu dong,"


Tyo menunjuk bibirnya.


"Engga ah, aku ngantuk."


"Oh ngantuk, ya udah sini aku yang cium."


Tyo sudah menariknya masuk ke dalam pelukan, dan detik berikutnya Tyo sudah mencium bibirnya dengan rakus. Rima mendorong Tyo tapi suaminya itu lebih kuat.


"Nyebelin!"


Tyo terbahak melihat ekspresi Rima. Dia melepaskan ciumannya karena Rima kehabisan nafas.


"Kamu gemesin deh kalo lagi marah."


"Aku ga mau ya ngerayu rayu mas Tyo lagi. Capek."


"Ga usah dirayu, aku bisa maksa kamu kok."


"Mas, sana ah. Aku lagi marah ini."


Tyo menarik Rima lagi ke dalam pelukannya, tak peduli istrinya itu menolak.


"Masak sih marah?! Sini liat kalo marah kaya gimana?"


Rima tak dapat lagi menahan senyumnya. Ternyata Tyo kelabakan juga kalau Rima marah.


"Katanya marah napa senyum-senyum gitu?"


"Udah ga marah, aku kan ga kaya Mas Tyo kalo marah lama."


Tyo tersenyum, kemarahan dua hari menguap begitu saja. Sebenarnya pun dia merindukan Rima. Hanya saja dia merasa perlu mendiamkan Rima untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Jika dia memaksa berbicara dia takut akan membentak Rima lagi. Tyo tidak ingin lagi membentak istrinya yang lembut itu.


Dia terlalu mencintai Rima.


"Tidur yuk,"

__ADS_1


"Aku belum ngantuk mas,"


"Tadi yang bilang ngantuk siapa?"


Rima nyengir, dan sedetik kemudian Tyo sudah menggendongnya dan membawanya ke kamar.


Mereka berdamai malam itu.


❀️❀️❀️


Yulia PoV


Sudah beberapa minggu aku tinggal di rumah Mama. Diam-diam aku merindukan Rima. Rimaku yang selalu mengalah dan ada buat aku. Mbak Yuana menunjukkan foto-foto pernikahan Rima dan Tyo. Betapa sumringahnya Rima, tersenyum sembari memeluk lengan Tyo.


Sahabatku memang berhak bahagia. Dari dulu dia adalah Rima yang baik. Tapi aku merasa ada sudut hatiku yang tak rela, bukan tak rela melihat senyum Rima. Tapi melihat lelaki yang berdiri di sampingnya. Dengan Rima memilih menikahi Tyo berarti aku harus siap kehilangan dia. Aku yakin Tyo tak akan mengijinkan Rima berteman lagi dengan aku.


Aku sudah dengar reputasi Tyo. Dia memang bukan tipe lelaki yang gampang dirayu. Orangnya teguh dan tak segan-segan mengatasi masalah dengan caranya yang straight.


Seperti ketika dia datang ke kantorku. Jujur aku takut Tyo membocorkan rahasiaku. Bukan cuma pada Mas Dani, tapi juga pada orang lain. Bisa habis karir dan perusahaanku. Klien-klienku mengenal aku sebagai pengusaha wedding organizer profesional yang cukup ternama di kota ini. Apa jadinya kalau perselingkuhanku diketahui publik. Seorang pengusaha WO berselingkuh!


Oh No!! Aku pasti kehilangan banyak klien. Belum lagi reaksi mas Dani yang entah akan seperti apa.


Teringat saat terakhir bertemu Rima di rumahnya. Aku syok dengan pernyataan cinta Adhi pada Rima. Sejak aku bersahabat dengan Rima, hampir semua lelaki yang mendekati Rima pasti karena ingin mencari info tentang aku.


Tapi ini?! Keadaan berbalik. Adhi yang begitu aku cinta ternyata malah memiliki perasaan khusus pada Rima. Jadi itu alasan Adhi memutuskan hubungan denganku!! Karena dia jatuh cinta pada Rima bahkan ingin menikahi Rima. Ya Tuhan kali ini aku kalah bersaing dengan Rima.


Tidak, bukan bersaing. Bahkan Rima tak perlu bersusah payah bersaing denganku.


Teringat ketika aku dan Rima runtang runtung kesana kemari. Sejak kami berseragam putih biru. Rima yang sederhana dan agak tertutup. Sedangkan aku gadis populer yang banyak fans.


"Yul, rok seragammu tuh udah pendek. Beli yang baru dong."


"Engga ah, tau ga Rim? Ini tuh model rok yang lagi ngetren kali. Kalo sepanjang rok mu malah kaya santri begitu."


Aku mengolok Rima sambil terbahak.


"Iya ngerti lagi nge trend. Tapi mata laki-laki jadi bebas ngeliatin betis sama pahamu. Emang kamu rela gitu diliatin dengan bebas?!"


"Ya gapapa lah, itung-itung menyenangkan orang lain."


Aku kembali ngakak, sedangkan Rima berdecak pura-pura kesal. Ya aku tahu Rima tak pernah benar-benar kesal padaku.


Teringat ketika dia mendampingi aku sewaktu ujian skripsi. Betapa aku gugup, karena aku kurang menguasai metode penelitian skripsiku. Rima lah yang banyak membantuku. Dengan tekun dia membaca buku metode penelitian dan menjelaskan padaku. Bahkan jika aku sedang manja dia juga yang mengetik skripsiku. Belum lagi mengantarku menyebar kuesioner, mengajarkan cara menggunakan aplikasi di komputer untuk mempermudah skripsiku. Aku begitu tergantung pada Rima.


Sampai-sampai mama dan papaku begitu menyayangi Rima. Bahkan pada saat-saat terakhir sebelum meninggal, papa ingin bertemu Rima. Entah apa yang dibicarakannya.


Aku ternyata sangat merindukan sahabatku yang tulus itu. Ketika dia muncul di rumah mama, rasanya aku ingin bersorak, kemudian berlari ke pelukannya. Tetapi aku masih jaim, inginnya Rima merayuku.


Sayang ketika tahu Tyo datang bersamanya aku tak bisa menahan emosi. Entahlah aku kesal sekali jika berhadapan dengan lelaki sombong itu.


Sungguh aku masih sangat ingin bertemu Rima, mengobrol dan curhat dengannya. Mendengar sarannya yang sering aku remehkan, atau sekedar bersandar di bahunya.


Rima selalu ada buat aku.


Aku membuka galeri ponsel, mengubah tampilan background. Fotoku dan Rima ketika kami masih berseragam putih abu-abu. Saling merangkul. Aku tertawa lebar, dia tersenyum tipis. Di sebelahku Adhi berdiri dan merangkul leherku.


Ah indah sekali masa itu. Aku ingin mengulang masa-masa itu. Kalau tidak bisa, aku ingin Rima kembali menjadi sahabatku. Seperti dulu...sebelum Tyo datang ke kehidupan Rima.


Terima kasih sudah membaca


Yuk kasi vote dan bintang lima untuk memberi semangat pada author πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2