
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Suara benda pecah terdengar lagi.
Tyo berdiri dan ga sanggup lagi menahan langkahnya. Dia mendobrak pintu dan terbelalak melihat pemandangan di ruang itu.
Rima juga terkejut melihat Tyo.
"Ayo pulang!"
Rima lagi-lagi tak dapat menolak ketika Tyo menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu. Pandangan matanya pada Tyo sulit diartikan, karena Rima pun juga tak memahami perasaan apa yang dirasakannya ketika Tyo mengajaknya pulang. Kelegaan? Cemas? Atau apa?
"Mas, sebentar."
Suara Rima memelas. Tyo menatapnya sebentar, pegangan tangannya di tangan Rima melembut.
"Sudah sayang, kita pulang."
"Mas, sama Yulia."
Rima memohon. Matanya berkaca-kaca.
Tyo menatap Adhi dengan tajam. Jari telunjuknya menekan dada Adhi dengan kuat.
"Kamu!! Anterin dia pulang!"
Tyo memberi isyarat dengan dagunya. Melirik sekilas pada Yulia yang terduduk di lantai dengan wajah basah oleh air mata.
"Heh kamu ga ada hak ngajak Rima ya!"
Adhi membalas Tyo tak kalah sengit.
"Saya berhak! Rima calon istri saya!"
Rima hanya ternganga. Degup jantungnya sekejap berubah harmonis. Calon istri?! Dari mana Tyo mendapat ide itu?!
"Sejak kapan Rima setuju jadi calon istrimu hah?!"
"Bukan urusan kamu!!"
Wajah Tyo memerah. Melangkah lebar dengan tangan Rima di genggamannya.
"Bram, sorry aku pulang duluan."
Bram hanya mengangguk tanpa kata. Terlalu terkejut dengan kejadian itu.
🧨🧨🧨
Mobil Tyo melaju pelan di jalanan kota Batu yang masih ramai. Rima tahu ini bukan rute pulang.
"Sorry Rim, sakit ya tanganmu?"
Tyo melirik Rima yang mengelus pergelangan tangannya.
"Gapapa mas,"
Rima tersentak ketika tangannya sudah digenggam Tyo dengan lembut. Rima memalingkan wajahnya dengan gugup, Tyo mengecup lembut tangannya.
"Mas, jangan!"
"Maafkan aku,"
Tyo tidak melepaskan tangan Rima sampai mobil itu berhenti di sebuah resto jauh dari sky lounge tadi.
"Ayo turun Rim,"
"Mas, saya harus pulang. Nanti ibu nyariin."
"Aku sudah wa Ibu tadi, sebelum kita keluar dari kafe."
Rima ga bisa menolak lagi.
"Mas, maaf..ga usah pegangan tangan ya."
Tyo tersenyum dan melepas pegangan tangannya. Sebenarnya dia masih ingin menggenggam tangan Rima.
"Maaf, sayang."
Rima menundukkan wajahnya yang merona. Di dalam kepalanya bayangan wajah Yulia dengan wajah basah oleh air mata masih berkelebat.
"Kamu ga usah mikirin Yulia, udah ada yang ngurusin juga."
Rima kaget bagaimana Tyo bisa membaca pikirannya.
"Mas, itu..tadi..mmm ga seperti yang mas pikirkan."
"Emang kamu tau saya mikir apa?"
Rima mengedikkan bahunya. Tyo tersenyum lega.
"Saya tu cuma mikirin kamu. Kamu ga ngerasa juga?"
"Emang kenapa mikirin saya mas?"
Rima dengan polosnya bertanya.
"Mikirin gimana caranya ngajak kamu kawin."
Tyo tersenyum lebar. Rima menatapnya dengan mata membulat. Membuat Tyo seakan ingin memeluknya dan membuat Rima mendengar detak jantungnya.
"Saya ga mau ah kalo kawin."
__ADS_1
"Nikah sayang, bukan kawin."
Rima tersenyum. Entah kenapa dia merasa ada perasaan hangat ketika Tyo memanggilnya 'sayang'.
"Sudah berapa lama?"
"Apanya mas?"
"Sudah berapa lama kamu menutupi perselingkuhan itu?"
"Kok?!"
"Rim, saya bukan anak kemaren sore. Jangan bohongi saya."
Rima membuang muka, diam tak menemukan jawaban.
"Apa kamu mau bilang Adhi itu pdkt sama kamu? Kalo bener saya hajar si Adhi."
"Bukan gitu mas,"
"Saya bukan Dani, dia emang naif. Mau aja kawin sama perempuan kaya Yulia."
"Jangan dibahas mas, jadi ga enak suasananya."
Rima mulai gelisah, menopangkan satu tangan ke dagunya.
"Trus mau bahas apa? Nikah yuk."
Rima tersentak. Tyo begitu to the point.
"Emira apa kabar mas?"
"Yang ditanyain malah yang ga ada, bapaknya Emira donk ditanyain."
Rima benar-benar kehabisan topik. Tyo selalu kembali ke topik itu.
"Tau deh, bingung mau ngomong apa."
Rima mengerucutkan bibirnya. Tyo tertawa lirih.
Gemesin banget sih. Jadi pengen nyium.
Tyo membatin sambil menggosok tengkuknya.
Mereka diam, Rima membaca menu di hadapannya. Mencoba mengalihkan perhatian.
"Pesen apa sayang?"
Rima masih sibuk membaca menu, ketika seseorang menepuk pundak Tyo.
"Eh pak Dani,"
Rima dan Tyo saling berpandangan.
"Wah, lagi nge date nih? Sorry saya jadi ganggu."
"Gabung sini aja Pak, kita cuma berdua kok,"
Tyo berdiri dan menarik kursi di sampingnya.
"Terima kasih, saya ga mau ganggu. Silahkan dilanjut pak."
"Ga ganggu kok mas,"
Rima ikut menjawab.
"Ga usah Rim, aku tadi udah reservasi kok."
"Yaa duduk aja dulu sebentar pak, tamunya pak Dani belum datang kan?"
"Belum sih,"
"Ya udah gabung kita aja dulu,"
Akhirnya Dani duduk dengan Tyo dan Rima. Mereka mengobrol santai beberapa saat.
"Jadi..kapan peresmiannya nih Pak?"
Dani melirik Tyo dan tersenyum menggoda.
"Peresmian ya? Kalo pabrik sih rencana akhir tahun ini pak."
"Bukan pabrik pak, peresmian sama Rima."
Dani terkekeh.
"Oh itu..ya saya sih terserah Rima aja. Kalo saya maunya besok saya nikahin pak."
Dani terbahak.
"Kayanya udah keburu banget ya pak."
"Iya, takut dia diambil orang."
Tyo melirik Rima dengan sayang.
Rima memasang tampang judes. Padahal jantungnya berlarian tak tentu arah.
🎈🎈🎈
Jam menunjukkan pukul 21.15 ketika Tyo akhirnya mengantar Rima pulang. Jalanan mulai sepi, Tyo sengaja mengemudikan mobilnya perlahan. Dia masih ingin bersama Rima.
Rima tersentak ketika lagi-lagi Tyo meraih tangannya.
"Ih, mas. Belum halal tau?!."
__ADS_1
Tyo malah menarik tangan Rima dan menciumnya lembut. Rima semakin deg-degan.
"Mas Tyo, lepasin. Rima turun disini aja kalo ga dilepasin!"
Tyo tertawa geli.
"Galak amat sih."
"Biarin!"
Rima menarik tangannya dan menatap keluar.
"Rim, saya serius pengen nikahin kamu."
Rima diam.
"Kok diem sih?"
Tangan Tyo mengelus pipi Rima. Rima menepisnya.
"Maaf ya, dari tadi nyentuh-nyentuh terus. Makanya nikah sama saya. Biar halal."
"Belum halal aja udah disentuh-sentuh."
Rima masih cemberut.
"Ya kalo sudah halal langsung saya terkam Rim,"
Tyo terkekeh menggoda Rima yang bergidik.
"Ihh mesum."
Rima mulai berkaca-kaca.
"Rim, saya bukan remaja apalagi abg labil. Saya sudah bilang berkali-kali pengen nikahin kamu."
Tyo menepikan mobilnya begitu saja.
"Paling tidak pikirkan lah dulu Rim,"
Rima menghela nafasnya.
"Jawab donk Rim,"
Tyo menatap Rima yang masih memalingkan wajahnya.
"Saya akan pikirkan...tapi ada syaratnya."
"Oke..apapun Rim, saya siap."
"Mas Tyo belajar islam yang bener dulu,"
Rima menatap jalanan yang mulai sepi.
"Trus?"
"Saya ga mau punya suami yang ga paham agama. Dan mulai sekarang ga ada sentuh-sentuh lagi."
"Oke, saya minta waktu 2 bulan. Tapi saya masih boleh nemuin kamu kan?"
"Kalo mau ketemu di rumah saja, harus ada Emira, atau orang lain,pokoknya ga mau berduaan."
Tyo tersenyum, merasa lega mendapat kesempatan.
"Sekarang saya mau pulang, ga baik berduaan kaya gini."
Tyo menarik tangan Rima lagi dan menciumnya lembut.
"Ihh baru juga dibilangin,"
Rima cemberut.
"Buat sangu, ga boleh nyentuh dua bulan sayang,"
Tyo tersenyum, sementara Rima semakin gusar.
"Bibirnya ga usah gitu donk, nanti saya khilaf."
Rima langsung menutup mulutnya dengan tangan. Tyo tersenyum menatap Rima. Ada semangat yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.
Bayangan Rima dengan gaun putih sedang mencium punggung tangannya menari-nari di benak Tyo.
"Mass ayo pulang, nanti di razia dikira pasangan mesum loh,"
"Iya iya sayang,"
Tyo menginjak pedal gas sambil tersenyum, sesekali melirik Rima kemudian berbisik mesra.
"Calon istriku,"
Rima menutup wajahnya yang memerah. Perjalanan pulang terasa panjang...tapi manis.
☺️☺️☺️
Voment yukk gaess ☺️☺️
Saya berusaha nyari cast untuk Tyo, masalahnya saya ga banyak tau aktor indonesia yang lagi in 😅**
Akhirnya saya pilih Ulas Tuna..kalo ga setuju boleh cari cast lain ya**
Ini Karima Firdausi ya..sekali lagi saya mohon maaf karena ga nemu cast yang Indonesia 😅😅Saya bayangin Karima itu rada seperti anak-anak wajahnya, simpel dan manis .
Karima Firdausi
__ADS_1
Setyo Perwira