
Bismillahirrohmanirrohim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Pagi itu gerimis turun, udara di area perkebunan cukup dingin. Membuat suasana yang sepi semakin sepi. Tempat parkir di dekat area perkebunan itu tak begitu ramai, karena memang hari ini bukan akhir pekan.
Yulia berdiri gelisah, menyandarkan tubuhnya yang langsing ke bagian depan mobilnya. Gerimis turun sore itu, rintik air membasahi rambut Yulia yang berwarna burgundy, dengan tatanan curly di bagian bawah.
Beberapa mata menatapnya dengan kagum, Yulia memang sangat cantik. Dia mengenakan sweater rajut berwarna oranye. Kulotnya berwarna coklat kopi susu dengan flat shoes berwarna senada dengan sweater nya.
Tyo melangkah cepat menuju mobilnya, parkiran hampir sepi karena gerimis yang turun perlahan. Dia baru saja mengecek perkebunan, Bram berjalan agak jauh di belakang.
"Bisa bicara sebentar?"
Tyo menoleh cepat dan melihat Yulia sudah berdiri tak jauh darinya.
"Bicara aja!"
Tyo dengan cepat menguasai keadaan, walaupun masih bertanya-tanya apa yang diinginkan Yulia.
"Pak Tyo jangan deketin Rima lagi!"
"Apa urusannya sama kamu?"
"Saya ga suka!"
Tyo tersenyum miring.
"Yang penting saya dan Rima sama-sama suka."
"Pak, saya serius! Rima itu sahabat saya. Saya tau apa yang baik untuk sahabat saya!"
Yulia merasakan tangannya bergetar.
"Sahabat? Sahabat macam apa yang membuat sahabatnya jadi alibi?! Kamu tu perlu Rima untuk nyembunyikan perselingkuhan kamu! Kamu pikir saya ga tau hah?!"
Tyo murka, wajahnya sudah merah karena menahan amarah. Untung Yulia perempuan, kalo laki-laki sudah habis Tyo menghajarnya.
"Itu bukan urusan pak Tyo!"
"Denger ya, mestinya kamu yang jauhin Rima. Kamu cuma bikin dia sedih, bingung, sakit. Kamu sahabatan model apa sih??!"
Yulia menghentakkan kakinya dengan kesal. Rahangnya mengatup keras dan wajahnya memerah karena marah.
"Kamu ini sakit jiwa ya?! Sahabat macam apa yang ga mau sahabatnya seneng?! Otakmu itu dipakek!! Jangan ditinggal di mobil!!"
Tyo berusaha mengendalikan emosinya.
"Pak, saya ga akan ngasi tau lagi ya. Pokoknya jangan deketin Rima! Gara-gara pak Tyo dia jadi jauh sama saya. Rima cuma boleh deket sama saya!!"
Tyo terkejut mendengar kata-kata Yulia. Betapa posesifnya Yulia pada Rima. Tyo tidak memahami apa yang sebenarnya di pikirkan Yulia. Sejenak Tyo berpikir wanita di hadapannya ini sakit jiwanya!
"Heh denger ya! Itu salah kamu sendiri. Kamu jangan ikut campur urusan saya sama Rima. Atau saya buka rahasia busuk kamu!!!"
Tyo menunjuk pada Yulia dengan wajah murka. Bram yang memperhatikan kejadian itu hanya terperangah, bertanya-tanya ada urusan apa Tyo dengan perempuan modis itu.
__ADS_1
Tyo memberi kode pada Bram untuk masuk ke mobilnya. Dan Fortuner hitam itu pun melaju pergi meninggalkan Yulia dengan emosinya yang tak stabil.
🥀🥀🥀
Yulia PoV
Aku merasa kedua kakiku lemas, tak bisa menahan tubuhku untuk berdiri tegak. Tempat ini semakin sepi, aku berjalan perlahan menuju mobilku. Aku memukul-mukul setir mobilku, ga bisa lagi aku menahan emosi. Aku menangis, kenapa aku jadi kehilangan semua orang yang aku sayang. Adhi dan Rima.
Kehilangan Adhi? Mungkin masih bisa aku tahan. Kehilangan Rima?! Jangan sampe. Sejak SMP aku sudah terbiasa ada Rima. Ketika aku bingung mengerjakan PR, ketika aku putus dengan pacar, ketika Ibu memarahiku karena tingkahku, ketika aku kecewa, sakit, sedih, bahkan ketika aku gugup saat akan sidang skripsi. Rima selalu ada dan menemani.
Rima ga pernah menomorduakan aku. Sekarang setelah Tyo hadir di hidupnya aku takut Rima akan berubah. Aku takut Rima ga akan bisa bagi waktunya lagi buat aku.
Ponselku berdering. Nama Rima muncul di layar.
"Halo Rim,"
"Kamu dimana Yul? Mas Dani nyariin kamu."
"Aku...lagi di jalan,"
"Ini sudah maghrib loh, ga pulang?"
"Engga,"
"Ga baik maghrib-maghrib masih di jalan Yul,"
Aku menyadari aku senang Rima menelponku. Aku senang mendengar suaranya. Dia selalu seperti itu, selalu menjadi Rimaku.
Aku kembali menangis, entahlah aku seperti merindukan Rima yang begitu mengkhawatirkan aku. Sudah lama dia ga seperti ini, gara-gara Tyo semua perhatian Rima ke aku jadi ga sama lagi.
"Aku sendirian Rim,"
Aku masih tergugu.
"Kamu share loc ya, aku telponin mas Dani biar kamu dijemput,"
"Aku ga mau dijemput mas Dani, kamu aja yang jemput."
Rima terdiam.
Aku yakin Tyo melarangnya deket-deket sama aku.
"Yul, aku ga bisa jemput kamu."
Tangisku semakin menjadi. Ketakutanku jadi kenyataan.
"Kenapa? Kamu dilarang sama Tyo?! Emang dia apa mu sih?! Sekarang semua mua Tyo, ini itu Tyo!!!"
Aku berteriak histeris. Sementara Rima diam saja.
"Tunggu di situ Yul jangan kemana-mana!"
Percakapan kami berakhir. Aku masih menempelkan kepalaku pada setir, mengeluarkan semua bebanku lewat air mata.
Aku ga tau berapa lama aku nangis, karena ketika aku melihat sekeliling tempat ini sudah sepi. Lampu jalan sudah menyala remang-remang.
Aku menahan silau dengan tanganku ketika lampu sebuah mobil menyorot dari depanku.
__ADS_1
Sial!! Itu si Tyo lagi. Ngapain lagi dia??
Aku terkejut ketika Rima ikut turun dari mobil si Tyo dan seorang lelaki juga ikut turun. Rima mengetuk jendela mobilku. Aku sudah ga tahan, aku keluar dan memeluk Rima. Terisak dalam pelukan sahabatku. Pelukan Rima begitu menenangkan buatku. Aku menumpahkan semua tangisku. Aku cuma ga pengen perhatiannya terbagi.
"Ayo pulang, kasian Mas Dani bingung nyariin."
Aku mengangguk dalam pelukannya.
Yulia PoV End
Yuliana Devanti
🥀🥀🥀
Rima PoV
Mas Dani menelponku menanyakan Yulia. Oke, kalian boleh bilang aku lemah tapi kalo sudah menyangkut Yulia aku ga bisa menolak atau ga ambil pusing.
Aku menelpon Yulia, dia kedengaran sedang galau. Aku sudah hafal dengan sifatnya. Aku melacaknya dengan number finder. Dan...aku ga tau harus minta tolong siapa...kalo bukan Mas Tyo.
Awalnya dia ga mau bantuin, sesuai dugaanku. Aku akhirnya pasrah, aku pamit pada Ibu. Aku terpaksa bohong pada beliau, duh betapa berdosa aku sama Ibu.
Aku sudah siap melajukan motorku, ketika mas Tyo muncul di depan rumah. Sebenernya aku ga enak harus semobil dengan dia, apalagi aku sudah bilang ga mau berduaan. Ternyata dia datang dengan temannya, Bram.
"Aku anter Rim,"
"Tapi mas, saya mau jemput Yulia."
"Saya tau,"
"Tadi...mas Tyo bilang...mmm"
"Saya ga melakukan ini untuk dia, tapi untuk kamu,"
Mas Tyo menatapku lembut, jantungku berlarian. Kadang aku heran kenapa pria ini selalu membuatku merasa hangat. Apa aku cinta sama dia? Entahlah aku belum punya jawabannya.
Mobil berhenti di sebuah lahan parkir di dekat area perkebunan. Aku cepat-cepat turun dan menghampiri Yulia yang kemudian menghambur ke dalam pelukanku. Aku sangat mengerti, dia sedang rapuh. Malam semakin pekat, aku memaksa Yulia pulang, dan dia mengangguk lemah.
Aku mengucapkan terima kasih pada Mas Tyo dan Bram. Mas Tyo hanya mengiyakan dan meminta aku berhati-hati. Aku merasa..apa ya? Senang? Ada seseorang yang peduli dan seakan selalu menjagamu, menurut kalian gimana perasaanku? Apalagi ketika aku sedang kecewa pada seseorang yang menghuni sudut merah jambu hatiku.
Di bawah rintik hujan, aku mengantar Yulia pulang. Aku menyetir mobilnya, sementara dia duduk meringkuk di sebelahku dengan wajah kacau. Apa yang akan aku bilang ke mas Dani. Aku lelah terus-terusan berbohong.
Aku melirik Yulia dan dia sudah tertidur. Sementara aku sibuk memikirkan cara menjelaskan pada mas Dani.
Huff
Aku benar-benar lelah sekarang ini. Hanya ada satu hal yang menghiburku, wajah Mas Tyo yang tiba-tiba hadir di benakku dengan senyum khas nya.
Astaghfirullah. Zina pikiran. Aku menghalau bayangan wajah mas Tyo, beristighfar berkali-kali. Apa itu artinya aku harus menerima lamarannya?
🌺🌺🌺
Ramaikan like dan komen yaa pembaca
Love u all to de moon n back 😘
__ADS_1