
Bismillah...
Pagi itu seperti biasa Tyo sudah sibuk sejak selesai sholat subuh. Dia sudah fokus di depan laptop di dalam ruang kerjanya. Ada beberapa email yang harus di cek dan juga laporan perkembangan pabrik minuman sari buah.
Sementara Rima sudah sibuk di dapur menyiapkan jus buah dan sarapan ringan untuk Emira dan suaminya. Pagi itu memang dingin dan Rima merasa tubuhnya agak greges. Beberapa kali dia memijat pelipisnya untuk menghilangkan pening.
"Bunda, bunda kenapa? Kok sepertinya pucat?"
"Ehm gapapa kok Kak, bunda cuma pusing sedikit nih."
"Mira aja yang nyiapin rotinya kalo gitu ya,"
Gadis itu mengambil alih roti dan selai dari tangan Rima. Tersenyum dan menyentuh pipi Emira dengan sayang.
"Rim, kemejaku yang garis-garis biru mana?"
Tyo muncul dan berdiri di belakang Rima yang sedang sibuk dengan blender.
"Yang mana mas?"
"Ya yang garis biru lengan panjang itu, merknya Alisan, cariin dong yang,"
Tyo hanya sesekali memanggil Rima dengan panggilan 'yang' selebihnya tetap memanggil namanya. Memang dia merasa risih kalau harus memanggil Rima dengan 'sayang' menurutnya itu lebay. Tahu sendirilah Tyo itu tipe lelaki seperti apa.
"Tumben manggil yang, ada maunya nih,"
Rima mencibir disambut gelak tawa Tyo.
"Bentar mas aku cariin di tempat setrikaan ya,"
"Iya, jangan lama-lama ya. Aku harus cabut sebelum jam 7,"
"Iya bapak, baik."
Rima menjawab dengan gaya bawahan pada atasannya, membuat Tyo menjawil dagunya dengan gemas. Dia kemudian melangkah ke ruang setrikaan, meninggalkan Tyo yang duduk di kursi makan menikmati jus dan roti sembari membaca beberapa dokumen yang baru dicetaknya.
Tyo menunggu beberapa lama tapi Rima tak kunjung kembali ke ruang makan.
"Bundamu mana sih kak kok ga balik-balik,"
"Ga tahu Yah, bunda kelihatannya sakit lo yah. Tadi dia mijitin kepalanya terus,"
"Oh ya?"
Tyo terbelalak menatap Emira.
"Iya yah, coba deh dilihat ke ruang setrika Yah,Jangan-jangan bunda pingsan yah?"
Tyo segera berdiri dan bergegas menuju ruang setrika. Ada perasaan khawatir terjadi sesuatu pada Rima. Selama hampir 6 bulan menikah Rima memang belum pernah mengeluh sakit. Paling hanya terlalu capek karena 'kegiatan' mereka di malam hari.
Tapi Rima tidak ada di ruang setrika, dengan sedikit bingung Tyo mencoba mencari di kamar.
"Rim, Rima? Kamu gapapa?"
Tyo mengetuk pintu kamar mandi yang terletak di kamar mereka karena dia mendengar suara kran air yang menyala.
Tidak ada jawaban.
"Rima? Buka pintunya!"
Terdengar suara Rima muntah-muntah. Tyo semakin khawatir. Dia mendorong pintu sekuat tenaga dan merusak grendelnya. Rima terlihat sedang menunduk di depan bak cuci tangan. Mengeluarkan isi perutnya.
"Rima kamu sakit?"
Rima tak menjawab karena tenggorokannya terasa panas. Kepalanya pusing dan badannya lemas. Dia hanya menoleh sekilas pada Tyo kemudian berpegangan pada bak cuci tangan karena dia hampir saja jatuh.
Tyo dengan sigap membopong tubuhnya dan menidurkan Rima di ranjang. Kemudian menyelimuti Rima yang kelihatan kedinginan.
"Mas, itu kemejanya,"
Rima menunjuk kemeja yang digantung menggunakan hanger di dalam lemari yang terbuka.
"Udah ga usah mikirin itu, kamu kenapa? Mana yang sakit?"
__ADS_1
"Pusing mas sama perutku rasanya mual banget,"
"Makanya jangan suka mandi malem-malem,"
Tyo masih sempat bercanda sembari mengedipkan sebelah matanya pada Rima.
"Ih mas Tyo, kan itu gara-gara mas Tyo."
Tyo terbahak sambil mengacak rambut Rima.
"Aku bikinin teh panas dulu ya,"
"Ga usah mas, nanti mas Tyo telat ke kantor. Emira juga nanti telat sekolah loh,"
"Ya ampun aku ga mikirin kantor kalo udah kaya gini. Kamu jauh lebih penting buat aku."
Tyo berlalu meninggalkan Rima yang diam-diam tersenyum senang. Ternyata suaminya perhatian juga walaupun kadang keluar sifat kaku dan tegasnya.
Lagi-lagi dia bersyukur Tyo menjadi suaminya.
πππ
"Istrimu kamu apain aja sih Yo? Sampe sakit begitu?"
"Ya Allah mama, suudhon aja sama Tyo. Aku ga ngapa-ngapain loh Mam, emang aku suami macam apa?"
"Halah kamu tu, kaya mama ga tau aja. Laki-laki seusia kamu tu pasti lagi semangat-semangatnya."
"Mesum nih mama."
Tyo terbahak. Mamanya langsung datang begitu Tyo menelepon untuk memberitahu Rima sakit. Mertuanya itu sangat perhatian pada Rima. Bukan hanya datang tapi juga membawakan bubur ayam lengkap dengan obat dan racikan wedang uwuh buatannya.
"Rima ayo makan dulu, mama suapin ya,"
"Ga usah ma, Rima jadi ngerepotin."
"Ya engga lah, di rumah mama juga ga ngapa-ngapain. Daripada ngurusin Tyo mending ngurusin kamu."
Rima tersenyum geli, sedangkan Tyo pura-pura kesal mendengar komentar Mamanya.
Tyo membalas sewot.
"Mas, Emira jadinya berangkat sekolah sama siapa?"
"Sama Ayah tadi, udah ga usah mikirin Emira,"
"Iya Rim, wes kamu istirahat aja. Pasti gara-gara Tyo ni kamu jadi sakit,"
"Ya Allah aku lagi yang salah. Udah lah aku pergi aja."
Tyo melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah kesal. Sedangkan Rima dan Mama mengikik bersamaan.
"Rim, kamu ga periksa pake test pack? Siapa tahu aja hamil nduk."
Rima terlihat salah tingkah. Dia memang tidak kepikiran untuk tes urine karena dia sendiri tidak tahu apakah sakitnya ini karena hamil atau hanya masuk angin biasa.
"Belum sih ma, cuma ... kayanya Rima belum hamil ma. Baru dua hari yang lalu Rima mens."
Rima terlihat sedih. Sudah hampir 6 bulan menikah tapi dia belum hamil, ibunya juga beberapa kali bertanya tentang ini. Membuat Rima semakin kepikiran.
"Oh ya sudah kalo memang belum, rajin kan bikinnya?"
Mama mertuanya tertawa usil lagi. Memang mama mertuanya ini cara ngomongnya blak blakan banget. Ya 11-12 lah dengan Tyo.
"Mama apaan sih?"
Rima menutup wajahnya yang memerah dengan selimut.
"Eh kamu kok ga minta bulan madu aja sih sama Tyo. Itu bocah duitnya kan banyak, masak ngajak istri bulan madu aja ga bisa."
"Mas Tyo masih sibuk ma, apalagi pabrik baru mulai buka."
"Heleh, sibuk kalo dituruti ya ga selesai-selesai. Tyo kalo ga disenggol memang ga peka. Biar nanti mama yang bilang. Siapa tahu pulang bulan madu kamu isi."
__ADS_1
Mama mengedipkan matanya penuh arti. Rima hanya tersenyum ragu.
πππ
Malam itu Tyo sudah berbaring di sebelah Rima.
Mama dan Ayahnya baru saja pulang setelah berceramah panjang lebar tentang bagaimana memberi perhatian pada istri. Tyo sebenarnya heran, dulu ketika Tyo masih menikah dengan almarhum ibunya Emira mamanya tidak secerewet ini. Tapi sekarang berbeda, kelihatannya mama sangat perhatian pada Rima. Dan ga rela kalo Tyo memperlakukan Rima dengan 'semena-mena'.
"Udah enakan belum?"
"Lumayan,"
Mereka berbaring berhadapan.
"Masih mual ga?"
"Masih, tapi udah ga separah tadi pagi."
"Besok kita periksa aja ke dokter ya,"
Rima diam. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Rim, apa mungkin kamu hamil?"
Tyo bertanya dengan hati-hati seakan takut melukai perasaan istrinya. Rima menatapnya dan matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kalo aku ga bisa hamil gimana mas?"
"Kok gitu ngomongnya?"
"Aku takut mas, sampe sekarang ga ada tanda-tanda aku hamil. Kita sudah hampir 6 bulan nikah."
"Hey, kenapa mikir gitu. Aku ga nuntut kamu untuk cepet-cepet hamil."
"Iya, tapi gimana kalo aku ga hamil juga. Mas Tyo pasti pengen punya anak lagi kan?"
"Iya aku pengen punya anak itu pasti, tapi kalo misal kamu ga bisa hamil aku ga akan menuntut itu. Toh kita sudah punya Emira."
Rima mulai menangis. Dia khawatir dengan dirinya sendiri. Padahal ketika awal menikah dia begitu antusias ingin segera hamil. Dia sudah membaca buku tentang cara supaya cepat hamil ditambah lagi minum susu khusus wanita yang merencanakan untuk hamil.
"Hey sayang, jangan nangis dong. Aku harus gimana biar kamu tenang."
Rima cuma menggeleng, masih dengan deraian airmata. Tyo menghapus air matanya dengan lembut.
"Kamu mau kita periksa ke dokter? Bisa aja aku yang bikin kamu ga bisa hamil kan,"
"Mana mungkin gitu mas, kan sudah ada Emira."
"Ya sapa tahu kurang sering bercintanya makanya kamu ga hamil-hamil sampe sekarang."
Tyo tertawa dan menatap Rima yang ikut tersenyum walaupun masih ada sisa air mata di pipinya.
"Ih apaan sih mas, malah bercanda. Aku lagi sedih ini loh."
"Udah ga usah kuatir sama masalah itu. Kalo bulan depan belum hamil aku rela ngehamilin kamu tiap malam,"
Tyo terbahak sedangkan Rima mencubit lengannya dengan keras. Malu dan salah tingkah.
"Jangan nyubit-nyubit gitu, nanti ada yang protes di bawah situ."
"Duh mesumnya, tahu ah."
Rima membalikkan badannya dan memeluk guling. Tapi Tyo mendekatinya dan memeluknya erat sambil mencium kepalanya.
"Aku cinta sama kamu Rim, dan itu ga ada hubungannya dengan kamu bisa hamil atau engga."
Tyo memeluknya semakin erat. Dan Rima berbalik menghadap Tyo, meletakkan kepalanya di dadanya.
Terima kasih sudah membaca..
Bintang, like dan vote ya π matur nuwun
salam sayang selalu
__ADS_1
-mariana-
πππ