Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
34 Honeymoon


__ADS_3

Bismillah...


Rima berbaring sambil menatap layar ponselnya. Ikut tersenyum melihat unggahan seorang teman kuliahnya yang baru saja melahirkan bayi perempuan. Komen berisi ucapan selamat memenuhi grup wa itu. Rima juga ikut mengucapkan selamat, sembari menyelipkan harap bahwa dia juga akan segera hamil seperti Syifa, temannya.


Dipandanginya foto bayi mungil dengan mata terpejam itu. Seperti keajaiban saja rasanya, seorang makhluk mungil yang kelihatan rapuh terlahir setelah 9 bulan meringkuk di dalam rahim Bundanya.


Rima menyusut air matanya yang tiba-tiba mengalir. Dia tiba-tiba menjadi melankolis. Begitu merindukan bayi, buah cintanya dengan Setyo.


"Rima?"


Tyo baru saja memasuki kamar dan melihat Rima kelihatan khusuk dengan hapenya. Rima segera menghapus sisa sisa air matanya begitu mendengar suara Tyo.


"Iya mas?"


"Ngapain? Kamu nangis?"


"Engga," kata Rima. Mencoba menutupi perasaannya yang tiba-tiba berwarna biru.


"Ga usah bohong, tuh hidungmu merah."


Tyo ikut berbaring di sebelah Rima yang kini duduk bersandar di kepala ranjang.


"Hey, kenapa? Aku ada salah ya?" Tyo mengelus punggung tangan Rima.


"Aku ... pengen ... punya bayi."


Rima ternyata belum mencurahkan isi hatinya melalui tangis diam-diamnya. Karena pertanyaan Tyo dia pun menangis lagi. Terbayang bayi mungilnya Syifa yang tadi diperhatikannya lama.


Tyo sejenak diam, dia tidak tahu harus berbuat apa. Istrinya menginginkan bayi dan itu wajar. Tetapi sampai saat ini Allah belum mengabulkan doa mereka.


Dua minggu yang lalu Tyo dan Rima sudah berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan. Mereka berdua menjalani pemeriksaan dan hasilnya tidak ada masalah. Mereka berdua merasakan lega bercampur bingung karena itu.


"Hey, sini aku peluk." Tyo menarik Rima ke dalam pelukannya. Dan istrinya semakin tergugu.


"Gimana kalo sampe tahun depan aku belum hamil mas?"


"Ya gapapa Rim, itu bukan salah kamu. Kan hasil cek dokter kita ga ada masalah."


"Iya tapi kalo aku ga hamil juga pasti yang akan jadi sasaran aku. Aku yang akan disalahkan mas."


Tyo menghembuskan nafas dan membelai rambut Rima yang berombak.


"Ga usah mikir kejauhan dulu, yang penting kita usaha terus."


Rima mendongak menatap Tyo. Dia bersyukur Tyo tidak ikut-ikutan panik menanggapi masalah anak. Malah suaminya lebih santai dan sering menanggapi kegelisahannya dengan bercanda.


"Kita coba cara lain ya mas?"


"Gaya lain? Gaya apa? Kamu punya ide?"


"Ihh bukan gaya, cara."


Rima mencubit Tyo yang terbahak keras.


"Ga usah terlalu serius mikirin ini, nanti juga hamil. Pokoknya jatah ku jangan dikurangin."


Tyo terbahak lebih keras.


"Mas Tyooo!! Ini ngomong serius loh."


"Aku malah lebih serius sayangg,"

__ADS_1


Tyo menarik hidung Rima yang merah karena habis menangis.


"Hmm kalo manggil sayang ada maunya nih, udah ah aku mau ngerjakan nilai dulu," Rima beranjak dari tempat tidur.


"Eits, jangan alasan ya. Katanya mau punya bayi. Sekarang malam apa? Hayoo jangan ngeles,"


Tyo menarik tangannya dan membuat Rima tak bisa beranjak. Malah sekarang posisi mereka lebih dekat.


"Inget aja kalo waktunya,"


Rima tertawa lirih sembari mendorong Tyo yang semakin mendekatinya dengan usil.


"Kan kamu tulis gede-gede tuh di kalender,"


Rima tertawa lagi melirik lingkaran spidol merah di kalender duduk. Tulisan besar bertuliskan 'masa subur' terlihat jelas. Pantas saja Tyo sudah memberi kode keras sejak beberapa menit yang lalu.


Malam yang dingin pun mereka lalui dengan kehangatan penuh cinta. Dengan seuntai doa, akan segera hadir calon bayi di rahim Rima.


πŸ’πŸ’πŸ’


Sebulan kemudian, rencana honeymoon yang selalu tertunda akhirnya tercapai. Tujuan Tyo dan Rima adalah Thailand. Kebetulan mereka pergi bersama Bram dan istrinya yang baru saja menikah. Di Thailand mereka akan bertemu Alfian dan Rhea, juga pasangan suami istri dari Malang. Alfian rekan bisnis Tyo yang akan ikut berinvestasi di pabrik minuman sari buah.


Pagi itu Patong beach, Phuket belum terlalu ramai. Tyo dan Rima sengaja memilih waktu sebelum sarapan untuk berjalan-jalan menikmati salah satu pantai yang ramai dikunjungi wisatawan itu. Memang sebelum menuju Bangkok, mereka singgah di Phuket, salah satu pulau terbesar di Thailand yang memang menjadi destinasi wisata populer.


Tyo menarik Rima ke pelukannya sambil menikmati laut yang biru. Ombak yang tenang berkejaran berlomba mencapai pasir yang berkilauan ditimpa sinar mentari.


"I love you Rima," Tyo mencium kening Rima dan menautkan jemari mereka.


"I love you too, I love you three, I love you four," balas Rima dan tersenyum ke arah suaminya.


"Kok cuma sampe 4 Rim?"


"Kalo diterusin ga selesai-selesai, cintaku padamu tak terbatas," Rima terkekeh.


"Dulu apa hayo? Jangan mulai ya mas,"


Tyo tertawa sembari menahan tangan Rima yang mencubit pinggangnya.


"Nyubitnya entar malem aja sayang, kalo sekarang bahaya. Nanti kita ga jadi jalan lagi."


"Aku nanti malem mau tidur lebih awal," Rima melirik Tyo dengan lucu. Sengaja menggoda suaminya.


"Tidur aja, paling tengah malem aku bangunin," jawab Tyo datar. Rima langsung tertawa, suaminya ini memang bisa aja menjawab dan memancing Rima untuk tersenyum. Padahal hati Rima masih gundah memikirkan dirinya yang tak kunjung hamil.


"Ga usah mikirin yang sedih-sedih, kita disini ceritanya honeymoon jadi nikmatin aja dulu. Hamil atau engga itu urusan Allah. Dan aku ga peduli kamu bisa hamil atau engga ... aku tetap cinta."


Tumben Tyo berbicara begitu panjang. Sampai Rima menatapnya tanpa berkedip. Bagaimana suaminya tahu apa yang sedang dipikirkannya? Tyo balas menatapnya, membelai pipinya dengan sayang. Sementara di depan mereka tarian laut Patong yang gemulai menyajikan pemandangan riang. Seolah ikut merayakan cinta keduanya yang semakin dalam.


πŸ’πŸ’πŸ’


Menjelang jam 10 tiga pasang suami istri itu sudah berada di atas kapal yang akan membawa mereka menikmati pemandangan di Phi Phi Island. Pulau itu menjadi semakin populer setelah dipakai untuk lokasi syuting film The Beach yang dibintangi aktor hollywood Leonardo di Caprio.


"Mbak Rhea, udah berapa bulan hamilnya?"


Rima mendekati Rhea, istri Alfian yang sedang hamil. Rupanya dia tidak tahan untuk bertanya.


"Ini sudah mau masuk 6 bulan mbak,"


"Oh gitu, senengnya." Rima membalas sembari mengelus perut Rhea yang kelihatan sedikit buncit.


"Moga mbak Rima cepet nyusul," balas Rhea sembari mengelus perut Rima dengan cepat.

__ADS_1


"Hehehe aamiin, maunya gitu mbak. Pengen cepet. Tapi ...," Rima tidak jadi meneruskan kalimatnya.


"Mbak, saya dulu juga engga langsung hamil. Malah nunggu sekitar 1,5 tahun dulu. Sempet galau juga sih. Apalagi umur saya waktu itu udah 30 tahun. Mas Fian juga udah 35 kan, jadi saya kepikiran banget."


Rima menatap Rhea dengan mata melebar. Dia tak menyangka bahwa Rhea pun mengalami kisah yang mirip dengannya.


"Terus gimana mbak?" tanya Rima tak sabar.


"Kami konsultasi ke dokter dan periksa ini itu, hasilnya semua normal. Saya cari info gimana caranya biar cepet hamil. Saya coba minum jus 3 diva, rutin selama 6 bulan. Sama pijet juga, ya semua usaha dijalani mbak sambil perbanyak istighfar."


Rhea menatap laut, menghela nafas seperti mengingat kembali masa-masanya berjuang.


"Setelah usaha selama 1,5 tahun alhamdulillah akhirnya dikasi sama Allah mbak. Pokoknya ikhtiar terus sama banyakin istighfar mbak. Insya Allah dikabulkan Allah kok,"


Rhea membelai lengan Rima, dan Rima tersenyum seolah mendapat suntikan semangat lagi.


"Sama usaha yang tiap malem juga jangan berhenti mbak," Rhea mengedip usil.


"Usaha tiap malem apa mbak?" Rima belum paham.


"Ya ... itu ... urusan ... ehem ehem," Rhea tertawa sembari menyenggol Rima. Dan mereka berdua pun tertawa bersama. Rima merasa ada sedikit kelegaan di hatinya. Dia pun bertekad akan melakukan saran Rhea.


"Ngobrolin apa sih kok seneng banget?"


Tyo tiba-tiba berdiri di belakang Rima.


"Eh mas, ini berbagi kisah sukses sama mbak Rhe,"


Alfian yang ternyata juga sudah berdiri di dekat Rhea ikut bergabung dalam percakapan. Mereka pun mengobrol santai, sembari berswafoto di tengah laut dengan pemandangan yang memanjakan mata itu.


Tak lama kapal pun berhenti. Dan beberapa orang turis yang sudah siap dengan kostum snorkeling bergantian turun dibantu oleh beberapa pemandu.


Rima menatap air yang mulai berwarna biru itu dengan mata berbinar. Ingin rasanya ikut menceburkan diri dan bersnorkeling bersama Tyo.


"Apa?" Tyo rupanya paham tatapan Rima. Dia tahu istrinya itu suka berenang. Karena itu di rumah mereka dibangun sebuah kolam renang berukuran sedang. Tyo sengaja memilih lokasi rumah agak jauh dari pusat kota supaya bisa memilih lahan yang luas. Sehingga rumah yang mereka tempati memiliki halaman yang luas dengan berbagai pepohonan yang ditanam di sekelilingnya.


"Pengen ikut nyebur mas," Rima nyengir.


"Ga boleh," balas Tyo dengan tegas.


"Kan kostum snorkelingnya bisa pake yang untuk muslimah mas," Rima memandang Tyo dengan tatapan memelas.


"Kan sudah tahu hukumnya, berenang di tempat umum bagi wanita itu ga boleh." Tyo menekankan kata 'ga boleh' supaya Rima tidak merayunya lagi.


"Iya deh," jawab Rima.


Tyo mengelus kepala Rima dengan sayang.


"Ntar aku fotoin pemandangan bawah lautnya ya,"


Rima hanya mengangguk patuh, kemudian bergabung bersama Rhea dan Malika -istri Bram- menyaksikan para suami yang mulai berenang menjauh dari kapal.


Entah kenapa hari ini Rima bahagia. Merasa mendapat semangat baru untuk memulai lagi program kehamilannya. Memandang pemandangan laut yang dibatasi pantai nun jauh disana, Rima tersenyum sembari melafazkan istighfar dengan lirih.


Samar-samar teringat sebuah kisah yang pernah di dengarnya di kajian,tentang seorang 4 orang tamu yang mengadukan 4 permasalahan berbeda kepada Hasan Al Basri. Salah satu permasalahan si tamu adalah belum mendapatkan keturunan setelah beberapa lama menikah. Nasihat yang diberikan sang alim ulama untuk keempat tamunya hanya 'perbanyaklah istighfar'.


Sang ulama merujuk pada QS Nuh [71] ayat 10-12. "Maka, aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun'. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan, Dia akan melipatgandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.'


Rima tersenyum mengingat kisah itu. Ketika doa tak kunjung dikabulkan, pasti Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah. Rima melantunkan istighfar lagi, dengan senyumnya yang lebih merekah.


With love

__ADS_1


-mariana-


__ADS_2