Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Pertanyaan Adhi


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah


❤️❤️❤️


Mohon vote dan komennya ya temans..karena itu sangat berarti sangat author 💐💐


❤️❤️❤️


Siang menjelang sore itu matahari bersinar cukup terik. Karima tadi sudah diingatkan Syarifa bahwa Tyo mau menemuinya untuk membicarakan tentang Emira. Syarifa akan menemani Karima menemui Tyo di sebuah kedai burger di dekat sekolah. Karima sedang membereskan buku-buku di atas mejanya ketika Syarifa melongokkan kepalanya ke dalam ruang guru yang nyaris kosong.


"Bu Rima..saya sudah disini."


Syarifa tersenyum manis.


"Hei..iya sebentar ya dikit lagi selesai."


Rima melambai dengan satu tangan, sambil terus membereskan mejanya.


"Kamu pulangnya gimana Sya?"


Rima sudah berdiri di dekat Syarifa.


"Saya sama om Tyo bu. Oh iya..Emira ga ikut bu. Soalnya takut dia tambah down kalo tau lagi diomongin."


"Owh ga ikut..padahal saya pengen liat Emira, lucu. Ngangenin."


"Pengen liat Emira apa liat Ayahnya?"


Syarifa menutup mulutnya yang keceplosan. Dia menggaruk kepalanya yang ga gatal. Sementara Rima membelalakkan matanya terkejut dengan pernyataan Syarifa.


"Eh..saya..ya kangennya sama Emira lah. Masak kangen sama suami orang."


Rima segera menguasai keadaan dan pura-pura menjewer Syarifa.


"Om Tyo itu bukan suami orang bu."


"Lah terus? Suami macan?!"


Syarifa terbahak sambil menatap gurunya yang polos itu.


"Maksut saya, om Tyo itu duda. Istrinya meninggal kecelakaan."


"Oh gitu, kasian ya."


"Iya bu kasian kan om Tyo, dia lagi cari calon istri loh bu."


Syarifa menatap Rima sambil senyum-senyum.


"Oh ya baguslah..biar Emira ga kesepian lagi."


"Emira..sukanya..sama bu Rima."


Syarifa memasang tampang polos sambil menautkan jarinya.


"Yang suka ke saya Emira..bapaknya kan belum tentu suka Sya, kamu ini ada-ada aja."


Rima memasang tampang marah pada Syarifa.


"Kalo..bapaknya Emira..juga suka sama bu Rima gimana??"


Syarifa senyum-senyum pada Rima yang sekarang tertegun.


"Udah ah..yuk kita pergi keburu sore."


Rima menarik tangan Syarifa untuk bergegas karena hari sudah semakin sore.


"Buu..jawab dulu dong pertanyaan Ifa."


"Nanti aja Sya..yuk ah."

__ADS_1


Dua perempuan itu pun berlalu meninggalkan ruang guru yang sudah kosong.


💐💐💐


Tak lama mereka bertiga sudah duduk di kedai burger yang ga begitu ramai. Terlihat beberapa anak berseragam putih abu-abu duduk dan menikmati burger di kedai itu.


Tyo sudah menunggu, duduk di salah satu kursi di dekat jendela yang mengarah ke taman kecil di belakang kedai itu. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu terang, dengan lengan yang sudah digulung sampai siku. Cambang tipis mulai muncul di dagu dan pipinya,memberikan kesan matang dan macho.


Tyo tiba-tiba merasa gugup melihat Rima yang berjalan masuk bersama Syarifa. Rima tersenyum sambil mengucap salam pada Tyo, dibalas Tyo dengan senyuman tipis dan ucapan salam. Syarifa mulai senyum-senyum, kemudian duduk di antara Tyo dan Rima . Tyo meneguk kopi cappucino panasnya beberapa kali untuk meredakan gugup.


Kenapa jadi nervous gini sih?! Lebih parah dari jatuh cinta jaman muda dulu.


Tyo membatin, sambil sesekali mencuri pandang pada Rima yang sore itu mengenakan jilbab berwarna hijau muda, serasi dengan seragam batiknya.


"Jadi gimana pak cerita tentang Emira? Eh iya..Emira apa kabarnya?"


Syarifa menyenggol Tyo yang masih bengong.


"Eh..iya..baik. Emira baik, dia lagi sama neneknya."


"Oh gitu, sampaikan salam saya ya Pak untuk Emira."


Rima tersenyum pada Tyo yang langsung terpaku.


"Iya,ntar saya sampein bu."


"Emmmmm..buu, gimana kalo manggilnya Mas saja, jangan pak."


Syarifa ikut berbicara. Wajahnya sedikit ragu dan menatap Rima takut-takut. Rima kelihatan salah tingkah karena saran Syarifa.


"Eh jangan Sya, ga sopan ah kalo saya manggil mas."


"Gapapa bu, saya lebih seneng dipanggil Mas. Dan kalo boleh saya panggil ibu dengan Rima saja gimana?"


Tyo memasang wajah datar, karena memang aslinya wajahnya begitu dan dia tipe laki-laki yang serius. Padahal aslinya jantungnya sudah berlarian di dalam sana.


"Eh..kalo gitu terserah bapak saja..eh maksut saya Mas."


"Jadi..gimana...mas...ceritanya Emira?"


"Oh..iya..jadi gini Rima,"


Tyo menceritakan tentang kondisi Emira yang sering melamun di sekolah,sehingga prestasinya menurun. Dia pun meminta Rima untuk mengajari Emira dan setuju dengan pendekatan mengajar yang akan dilakukan Rima. Tyo sedikit lega setelah bercerita, ada harapan untuk menyelesaikan masalah Emira di sekolah.


"Ifa..ngapain masih disini?!"


Seorang gadis berseragam SMA Cahaya Islam, memanggil Syarifa, yang dipanggil langsung menoleh ke arah pintu masuk.


"Eh Dini..aku lagi sama bu Rima."


Syarifa menoleh pada Rima dan Tyo, meminta ijin untuk menghampiri Dini. Dua gadis itu pun memilih duduk di meja terpisah dan asik mengobrol. Sementara itu Tyo dan Rima menjadi canggung karena hanya berdua saja.


"Kalo..saya boleh tau,sejak kapan Rima ngajar di SMA nya Syarifa?"


Tyo berusaha berbasa basi mengatasi kecanggungan.


"Ehhmmm, sudah sekitar 3 tahun mas,"


"Oh lama juga ya, tapi kita baru ketemu sekarang."


Tyo langsung menyadari kesalahannya. Dia langsung memasang wajah datarnya, mengatasi kegugupan.


"Maksutnya gimana mas?"


Rima mengerutkan keningnya.


"Yaa..maksut saya ketemunya ga dari dulu-dulu."


Rima menahan tawanya, menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Kenapa ketawa?"

__ADS_1


"Lucu aja mas."


Tyo ikut tersenyum kikuk.


"Saya ga pinter basa basi emang. Jadi aneh kalo mau basa basi."


Rima tersenyum semakin lebar.


"Maaf mas saya ga maksut ngetawain."


"Gapapa, kamu manis kalo ketawa gitu."


Deg


Rima terdiam dan merona. Sementara Tyo juga langsung terdiam. Berusaha mencari kalimat lain untuk merevisi kesalahannya.


"Maaf ya Rima, jangan marah."


"Engga marah kok mas."


"Saya..boleh engga kapan-kapan ngajak jalan? Sama Emira juga maksutnya, ga berduaan."


"Eh..mm gimana ya mas. Saya ijin sama ibu dulu ya."


Rima mulai gugup, serangan Tyo langsung dan to the point.


"Biar saya yang ijin sama Ibumu."


Hah?!


Rima langsung menatap Tyo, kehilangan kata-kata. Sejenak mereka saling menatap kemudian Rima memalingkan wajahnya.


Apa aku terlalu cepet pdkt nya? Tapi kalo ga gercep dia bisa diambil orang.


Tyo membatin. Dia semakin pede dan terus menatap Rima yang sekarang menunduk dengan pipi memerah.


"Gimana Rima?"


"Eh apanya mas?"


"Ngajak jalan?"


"Kapan?"


"Secepatnya."


"Eh kok secepatnya?!"


"Iya..takut keduluan yang lain."


Tyo masih menatap Rima dengan intens. Percakapan mereka terpotong karena kehadiran seseorang yang menatap Rima dan Tyo dengan wajah penuh tanya.


"Rima..bener Rima. Lagi sama siapa?"


Seorang pria berkulit putih dan bermata sipit tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja tempat Tyo dan Rima duduk.


"Adhi?! Kok sudah di Malang?"


Rima menatap Adhi dengan ekspresi kaget dan senang. Tyo dapat melihat wajah Rima yang berbinar senang melihat pria yang dipanggil Adhi itu. Tyo berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Adhi.


"Kenalkan, saya Tyo."


"Saya Adhi,"


Dua pria itu berdiri saling menatap dan menilai.


"Anda..ada hubungan apa sama Rima?"


Deg


Adhi tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya. Tyo tersenyum, sedangkan Rima terpaku melihat adegan itu.

__ADS_1


__ADS_2