Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Permintaan Dani


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


"Pak Tyo,"


"Loh pak Dani? Apa kabar?"


"Baik pak,"


Tyo menatap Dani yang kelihatan pucat dan kusut. Tyo baru saja keluar dari kantornya, ketika Dani menghampirinya.


"Mm saya perlu bicara sebentar. Apa pak Tyo ada waktu?"


"Oh boleh, kita ke ruangan saya aja,"


Tyo mengajak Dani masuk kembali ke kantornya. Mereka memasuki ruangan Tyo, kantor itu sudah sepi. Hanya dua orang petugas cleaning service yang terlihat sedang membersihkan ruangan yang mulai kosong.


Tyo meminta seorang OB membuatkan kopi kemudian menutup pintu ruangannya.


"Selamat atas pernikahannya ya pak."


Dani tersenyum tulus.


"Terima kasih pak, kok ga hadir waktu itu? Rima nungguin loh."


"Eh iya, hmm gimana ya. Saya bingung mulainya."


Tyo menatap heran pada Dani. Apa yang akan dibicarakan pria ini sebenarnya?


"Yulia...sedang sakit pak."


Tyo melengos, sudah bisa menebak arah pembicaraan ini akan menuju ke mana. Sejak menikah Tyo melarang Rima untuk berteman dengan Yulia. Dia tidak bisa mempercayai Yulia dan terlalu takut Yulia akan melakukan sesuatu yang berbahaya lagi.


"Sakit apa?"


Demi sopan santun Tyo bertanya dingin.


"Kelihatannya kistanya semakin parah, dia harus di operasi. Sudah beberapa hari ini dia di rumah Mama."


"Oh,"


Tyo berusaha menampakkan bahwa dia ga peduli dan ga akan meminta Rima menengok Yulia. Sebab bisa saja ini trik lain Yulia. Bahkan Dani pun sudah berkali-kali dibohongi.


"Dia..beberapa kali menanyakan Rima pak. Saya ga tau ada masalah apa antara Pak Tyo dan Yulia, sehingga Pak Tyo tidak mengijinkan Rima bertemu Yulia lagi."


Tyo diam. Mencari kata yang tepat untuk menjelaskan tanpa membeberkan kebohongan Yulia. Jika Yulia mencelakai Rima, itu menjadi urusan Tyo. Tapi Tyo ga akan mencampuri urusan rumah tangga Dani dan Yulia. Dia tak ingin terjebak dalam kerumitan baru.


Tok tok


"Maaf pak ini kopinya,"


Percakapan itu terjeda sebentar.


"Makasih mas Budi."


"Nggih pak sama-sama."


OB itu pun keluar.


"Diminum dulu kopinya Pak,"


Tyo mempersilahkan Dani, memperpanjang jeda karena dia belum menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan.


"Jadi...apa Rima boleh ke rumah Mama untuk ketemu Yulia pak? Dengan pak Tyo juga tentunya."


Tyo kelihatan berpikir. Teringat beberapa hari sebelum akad nikah.


Flashback


Rima meninggalkan smartphone nya di kursi ruang tamu, di sebelah Tyo. Saat itu Tyo datang dengan petugas KUA untuk pengecekan sebelum akad nikah. Ada tanya jawab yang harus dilakukan pada calon pengantin.


Tyo melirik smartphone yang menunjukkan notifikasi pesan wa. Dari Yulia.


Perempuan itu mengirimkan pesan ingin bertemu Rima. Dia ingin minta maaf. Banyak emotikon menangis yang dikirimkan. Serta kalimat panjang lebar tentang Adhi. Tyo merasa muak membacanya. Dia tak bisa lagi mempercayai perempuan ini.


Dihapusnya semua pesan itu. Nomer Yulia juga di blokir.


Setelah petugas KUA selesai dengan tugasnya, Tyo mengajak Rima bicara.


"Tadi Yulia kirim wa."

__ADS_1


Rima langsung mengecek smartphone nya.


"Sudah aku hapus dan aku blokir."


"Loh?! Kok gitu mas?"


"Tidak ada lagi urusan sama Yulia ya Rim. Saya ga mau kamu berteman lagi sama dia."


"Tapi mas?"


"Rim, saya ga mau kamu celaka. Memang saya masih calon suami. Tapi saya peduli sama kamu. Dan saya yang tanggung jawab kalo ada apa-apa sama kamu."


"Mas, saya minta ijin sekali aja buat ketemu sama Yulia. Boleh ya?"


Suara Rima terdengar memelas.


"Engga Boleh! Ga ada lagi ketemuan sama Yulia!."


Tyo tahu suaranya terdengar menggelegar menakutkan. Tapi dia tak peduli. Rima harus tahu bahwa dia ga main-main dengan larangannya. Masalah Yulia ini sangat serius buat Tyo.


Tyo menatap Rima yang diam saja. Entah apa yang dipikirkannya.


Flashback off


"Jadi...gimana pak. Boleh kan Rima datang ke rumah Mama?"


"Hmm...untuk sekarang saya ijinkan pak. Rima akan datang dengan saya. Tapi saya ga mengijinkan Rima untuk ketemu Yulia lagi, untuk urusan apa pun. Untuk yang ini saya terpaksa mengijinkan."


Tyo akhirnya bersuara walaupun ragu. Dia benar-benar tidak rela Rima bertemu dengan Yulia. Setiap kali nama Yulia disebut,  firasatnya jadi ga enak. Dani tersenyum tipis. Walaupun masih ada tanya di benaknya.


"Sebenarnya ada masalah apa antara pak Tyo dengan istri saya? Saya tau Yulia memang kadang emosinya meluap-luap. Apa ada yang bikin pak Tyo tersinggung?"


Tyo menghela nafas, pasti Dani akan bertanya tentang ini.


"Kenapa pak Dani ga nanya sama Yulia?"


"Saya sudah coba nanya pak, tapi...hmmm gimana ya. Dia itu ga terbuka kalo sama saya. Dia itu cuma cerita semua sama Rima. Ya begitulah."


Dani kelihatan lelah.


"Oke lah pak saya pamit dulu. Saya tunggu pak Tyo dan Rima ya."


Kedua lelaki itu pun berpisah setelah Tyo berjanji akan menghubungi Dani lewat telpon.


❤️❤️❤️


"Emira udah tidur?"


"Udah mas, barusan."


"Duduk sini, aku mau ngomong."


Tyo menepuk tempat di sofa.


"Ngomong apa? Serius amat kayanya?"


Rima duduk di sebelah Tyo, memiringkan tubuhnya untuk menghadap Tyo.


"Tadi Dani nemuin aku di kantor."


"Trus?"


Rima terlihat antusias, dia mendekatkan tubuhnya pada Tyo.


"Trus aku kangen sama kamu yang."


"Yeee ngomong A lari ke B."


Rima mengikik. Sedangkan suaminya menariknya ke pelukan.


"Ya kan iklan dulu yang. Masak ngomong serius mulu. Capek tau ga."


"Kamu ga kangen sama aku?"


"Engga kangen, nanti kalo bilang kangen ga jadi ngobrol langsung ke kamar."


Tyo terbahak.


"Ya bilang ga kangen juga nanti tetep ke kamar yang."


"Udah lanjutin dulu, mas Dani ngapain tadi ketemu Mas?"


"Kamu ini kalo udah nyangkut Yulia jadi ga sabaran ya."

__ADS_1


Tyo pura-pura kesal. Sedangkan Rima mengikik pelan melihat ekspresi Tyo yang seperti cemburu.


"Yulia sakit Rim."


Rima diam hanya menatap Tyo dengan ekspresi 'terus?'.


"Dani pengen kamu nengok Yulia,dia di rumah Mamanya."


"Mas Tyo...ngijinin?"


"Boleh kalo perginya sama aku. Tapi ga ada lagi acara ketemuan berdua sama Yulia ya. Aku ga ngijinin."


"Aku..mau nengok ya mas."


"Yaa tergantung ongkosnya."


"Ongkos? Ongkos apa?."


Rima bertanya polos.


"Ongkos di...situ. Yuk."


Tyo menunjuk ke arah kamar dengan dagunya. Rima menutup wajahnya malu.


"Ayoo..ntar Emira bangun lagi."


Tyo menarik tangan Rima dengan lembut.


"Malu ih mas."


"Udah jadi suami masih aja malu sih yang."


Tyo tersenyum, mendekatkan tubuhnya dengan Rima. Diangkatnya dagu Rima supaya tatapan mereka bertemu. Wajahnya mendekati wajah Rima. Tyo mengusap bibir Rima dengan jarinya. Mata mereka bertemu, saling menatap. Tyo semakin mendekat, Rima hanya diam menutup mata. Merasakan nafas Tyo yang hangat di wajahnya.


"Bundaa..Emira haus."


Mereka sama-sama tersentak dan tertawa lirih.


"Iya kak, ayuk bunda anter ambil minum."


Tyo belum melepas pelukannya, ga rela adegan romantisnya disela Emira.


"Bentar ya mas,"


"Kamu sih diajak ke kamar lama banget."


"Hmmm ngambek, ga mau ngalah sama Emira. Bentar lagi aku ke kamar kok."


Rima sudah berjalan menggandeng Emira ke dapur.


"Awas kalo lama di kamar Emira ya,"


Tyo menatap Rima yang tersenyum usil.


"Yang, jangan lama-lama. Kakak Mira cepet tidur ya kak."


Tyo masih mengekori Rima dan Emira, membuat Rima menahan tawa.


"Iya ayah, ini Mira juga mau tidur lagi kok. Bunda ga usah nemenin gapapa. Tapi besok temenin ya bund tidurnya."


"Nah itu pinter kak, kalo bisa tiap malem tidur sendiri. Kan udah besar kak. Habis ini SMP."


Tyo bersorak sementara Rima senyum-senyum.


Sesaat setelah Emira masuk kamar. Tyo langsung menarik Rima ke kamar mereka.


"Ini malam ke berapa yang?"


Tyo berbisik lembut ketika kamar sudah di kunci.


"Lupa ga ngitung..kenapa mas?"


"Kenapa masih serasa malam pertama aja ya?!"


Tyo mengedipkan matanya.


"Gombal ih."


Mereka saling tersenyum dan semakin mendekat satu sama lain. Malam yang menjadi saksi, percintaan halal yang menghangatkan keduanya.


Makasih sudah baca dan nge like ☺️☺️


Follow akun saya yuks..😉

__ADS_1


__ADS_2