
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, bukan hanya berjalan kadang pun berlari. Hampir 3 minggu berlalu sejak Tyo datang ke rumah Rima membawa terang bulan. Lamaran yang sedianya akan dilakukan dalam waktu seminggu, diundur.
Tyo dan Rima sepakat untuk langsung menikah sesuai saran Ustadz Abdullah. Ketika niat baik di lantunkan, semua jalan terbuka dengan beribu kemudahan.
Urusan administrasi untuk mengurus nikah selesai dengan cepat. Persiapan akad nikah juga begitu, beberapa teman Tyo dan Hanif langsung turun tangan.
Jadilah hari ini di rumah Rima terlihat kesibukan. Tenda bernuansa putih dan emas sedang dipasang. Dekor untuk pengantin juga terlihat sedang ditata. Meja-meja katering sudah diturunkan dari pick up yang mengangkutnya.
Rima melihat semua kesibukan itu dari jendela kamarnya di lantai 2. Ada perasaan lega, persiapan akad nikahnya dimudahkan. Tapi, ada sisi hatinya yang masih berdarah. Teringat pertemuan terakhirnya dengan Yulia. Ucapan Yulia waktu itu.
"Aku benci sama kamu!!"
Rima menghela nafas. Mestinya hari ini Yulia datang, mendampinginya melewati kecemasan menjelang pernikahan. Sama seperti dia dulu mendampingi Yulia saat menjelang pernikahan.
Apa kabar kamu Yul? Aku kangen. Maaf aku ga bisa menjagamu seperti janjiku pada Papamu.
Rima merasa air matanya akan segera jatuh.
"Assalamualaikum, calon manten."
"Waalaikumsalam, Mbak Yuannn."
Rima berlari ke pelukan Yuanita dan menangis tergugu.
"Hey kok nangis sih calon Nyonya Tyo??"
"Mbak, aku kangen Yulia."
Yuanita mengelus punggung Rima lembut. Dia sangat memahami perasaan Rima. Rima memang sudah cerita tentang kemarahan Yulia, tentu saja melewatkan bagian tentang perselingkuhan Yulia dengan Adhi.
"Yulia baik-baik aja kok Rim. Nanti juga dia bakal baik lagi sama kamu. Biasanya juga gitu kan?"
Yuanita merangkum wajah Rima dengan kedua tangannya.
"Udah ya jangan nangis lagi. Besok nikah loh. Masak masih cengeng?"
Rima tersenyum.
"Eh aku mau nata perlengkapan katering di bawah dulu ya."
"Aku bantuin ya mbak?"
"Eh calon manten ga usah kemana-mana, habis ini yang ngelulur sama pasang henna dateng."
Rima tersenyum lagi sembari mengangguk.
"Seneng deh kamu jadi sama Tyo, memang cocok. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik juga,"
Yuanita menepuk pipi Rima lembut, kemudian berjalan keluar dari kamar.
Sementara Rima masih bergelut dengan pikirannya yang dipenuhi Yulia. Dia sudah mengirimkan undangan lewat Dani, berharap Dani akan mengajak Yulia hadir di akad nikah.
__ADS_1
Tapi entahlah...apa Yulia akan hadir?
🥺🥺🥺
Hari H
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh, saya sebagai perwakilan keluarga dari Ananda Karima Firdausi menerima maksud baik keluarga Ahmad Hadi Perwira....dengan demikian acara ini dapat dilanjutkan dengan akad nikah."
Suara Paklik -saudara dari ibunya Rima- yang ditunjuk sebagai perwakilan keluarga terdengar tegas. Membuat Rima yang sedang berada di kamarnya semakin gugup.
Rumah Rima yang biasanya sepi, terlihat ramai dengan undangan yang hari ini hadir. Tetangga, teman-teman Tyo dan Rima tampak hadir. Beberapa kerabat jauh Ibu dan almarhum ayahnya juga hadir.
Tyo duduk dengan sedikit tegang di hadapan petugas KUA. Meja dengan taplak satin berwarna putih berhias bunga-bunga terlihat manis, di atas meja sudah ditata mahar seperangkat perhiasan emas dan perlengkapan sholat.
Hanif sebagai saudara laki-laki Rima yang akan menjadi wali nikah. Sedangkan Bram dan Haryo -kakak sulung Setyo- akan menjadi saksi dari pihak pengantin pria.
"Bu, jangan tegang dong. Make up nya luntur loh kena keringat."
Rima tersenyum tipis, sementara Syarifa menutulkan tisu pada keringat yang muncul di keningnya.
Ratna, Syarifa dan Emira menemani Rima di dalam kamar. Gadis kecil itu tak mau jauh dari Rima. Dari lantai bawah terdengar MC mengumumkan bahwa ijab kabul akan segera dilaksanakan. Suasana mendadak sunyi dan khidmat.
"Sstt, bentar lagi ijab."
Ratna meletakkan telunjuk di bibirnya. Rima merasa tangannya semakin dingin. Digenggamnya tangan mungil Emira. Gadis kecil itu tersenyum seolah menenangkan.
Gaun berwarna putih dengan taburan mutiara terlihat cantik dan simpel. Make up natural membuat Rima terlihat manis, hijab berbahan satin menutup sampai ke dada dihiasi gerumbul melati dan mawar berwarna pink. Sebuah veil dipasang di atas hijabnya, juga bertabur mutiara.
"Wahai Saudara Setyo Perwira, saya nikahkan engkau dengan kakak saya yang bernama Karima Firdausi binti Muhammad Karim dengan mas kawin 10 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Karima Firdausi binti Muhammad Karim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Perjanjian mulia itu bukan hanya sekedar kalimat, tetapi juga kesanggupan seorang suami untuk menanggung tidak hanya kebutuhan istrinya tetapi juga dosa-dosanya di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Dengan kalimat itu, Rima sah menjadi istri seorang Setyo Perwira.
Ucapan sah menggema di ruangan, menambah syahdu suasana.
Tak lama Ibu membuka pintu, menjemput Rima untuk turun.
"Alhamdulillah sudah sah jadi Nyonya Tyo, selamat ya Rim,"
Ratna memeluk lengan Rima dengan lembut. Rima hanya tersenyum, dia ga sanggup berkata karena tenggorokannya kering.
Tak lama Tyo menghampiri istrinya. Emira mengulurkan tangan Rima pada Tyo yang langsung menyambutnya. Rima mencium tangan suaminya untuk pertama kali sebagai simbol bakti istri. Tyo mencium kening Rima. Sungguh Rima merasa sangat gugup, sedangkan Tyo terus tersenyum cerah.
"Rima boleh langsung saya bawa pulang ya bu?"
Tyo menggoda Rima.
"Boleh, tapi sabar ya nunggu acara selesai dulu."
Ibu menjawab kocak, diikuti tawa tamu-tamu yang hadir.
"Kayanya udah ga sabar banget mau begadang nih!"
Haryo berbisik sambil menyenggol Tyo.
__ADS_1
"Iyalah, sudah 3 tahun puasa."
Haryo mengikik. Sementara Rima sudah memerah wajahnya.
Acara dilanjutkan dengan sungkeman pada Ibu, serta Mama dan Papanya Tyo. Rima menangis terharu ketika sungkem pada Ibunya, sebentar lagi dia akan meninggalkan Ibu. Sebagai istri tentu dia mengikuti suaminya.
Mereka masih berpelukan sambil menangis haru.
"Jadi istri yang patuh sama suami ya nduk,"
Rima mengangguk dengan penuh haru.
Acara itu berlanjut dengan ramah tamah dan makan siang. Rima dan Tyo berkeliling menyalami tamu-tamu.
Rima celingukan mencari seseorang yang ditunggunya.
"Nyari Yulia?"
Rima menatap Tyo, kok Tyo bisa langsung tahu gitu?!
"Ehmm iya mas,"
"Ga usah ditunggu, dia ga bakal dateng."
Rima menggigit bibirnya. Dia sangat ingin Yulia hadir menemaninya di hari bahagianya.
"Bibirnya ga usah digigit gitu, nanti biar saya yang gigit."
Tyo berbisik sambil tersenyum geli. Sengaja menggoda Rima. Mereka sedang menghampiri undangan yang mengucapkan selamat sembari menikmati hidangan.
"Apaan sih mas?! Mesum terus ih."
Rima cemberut.
"Kalo sekarang wajib mesum, kan sudah halal."
Rima tak dapat menahan senyumnya, gaya khas Tyo ini selalu membuat dia ga bisa menahan senyum.
Dia bersyukur memilih Tyo sebagai suaminya. Keyakinannya pada Tyo mulai tumbuh ketika Tyo menarik tangannya dari sky lounge malam itu.
Rima tahu dia membutuhkan lelaki seperti Tyo. Lelaki yang tegas dan melindunginya. Yang lebih penting lagi Tyo setuju untuk belajar Islam. Untuk Rima itu adalah bekal penting bagi rumah tangganya kelak. Baginya suami istri harus memiliki visi dan misi yang sama seperti ayah dan ibu Shalahuddin Al Ayyubi, sang Penakluk Masjidil Aqsha. Menikah karena ingin menggapai ridho Allah dan melahirkan generasi yang berdiri tegak membela Islam.
Hal itu hanya bisa diwujudkan jika keduanya memiliki pemahaman yang sama tentang pernikahan bervisi surga.
Tyo tiba-tiba berbisik.
"Rim, kamu cinta engga sama aku?"
"Engga!"
Tyo melotot menatap Rima yang senyum-senyum.
"Ga cuma cinta...tapiii...sebell juga,"
Senyum Tyo terbit, ternyata Rima bisa usil bikin Tyo gemas. Dia menautkan jemarinya dengan jemari istrinya. Rima menatap Tyo dan tersenyum. Semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah.
🌺🌺🌺
__ADS_1