
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
πΊπΊπΊ
Tyo membuka smartphonenya yang berkali-kali berbunyi. Tanda notifikasi pesan. Dia mengernyitkan kening melihat nomer tak dikenal mengirimkan 10 gambar.
Tyo membuka pesan itu dengan perasaan tidak enak. Entahlah, dia tiba-tiba memikirkan Rima.
Dan..10 foto muncul membuat darah Tyo langsung mendidih. Dia meremas smartphone nya kuat. Kemudian membanting benda itu dengan murka!
"Brengsekk!!"
"Yo, ada apa?"
Bram tiba-tiba muncul di ruang kerja Tyo. Mereka sedang rapat tentang pembangunan pabrik. Rumah Tyo sepi, Emira sedang di rumah neneknya. Untunglah, gadis kecil itu tak perlu melihat keributan dan kemarahan ayahnya.
"Gapapa Bram,"
Tyo duduk di kursi kerjanya, meremas rambutnya dengan kesal. Cemburu campur marah.
Bram memungut smartphone Tyo di atas karpet. Tidak pecah, hanya screen guard nya retak dan batrenya lepas. Bram memperbaiki dan menghidupkan lagi benda itu.
"Nih hape mu, kenapa sih marah-marah?"
Tyo diam.
Bunyi notifikasi pesan membuat Tyo menoleh ke smartphone itu.
[Kalo ga percaya datengin rumah Rima sekarang!]
Apa sih maunya orang ini?!
Tyo membatin, dia masih marah pada Rima. Buat apa juga datang ke rumahnya? Tapi satu pesan datang lagi.
[Wah rumah Rima lagi sepi, bener-bener pas situasinya!]
Tyo menyambar kunci mobil dan smartphone nya. Kemudian terburu-buru mengemudikan mobilnya di bawah hujan yang turun deras.
Bram hanya melongo menatap semua itu.
π€π€π€
Adhi baru saja memarkirkan mobil di depan rumah Rima. Rumah Rima terlihat sepi, hujan deras dan malam yang mulai turun membuat suasana semakin sepi.
"Rim kok sepi rumahmu?"
Adhi celingukan.
"Iya, Ibu lagi pergi, Hanif juga ke rumah sakit."
"Oh gitu, Aku belum sholat magrib Rim."
Rima sedang menghidupkan lampu-lampu di rumahnya, sedangkan Adhi berdiri di teras.
"Sholat ke mesjid sana Dhi,"
"Yah sepi Rim, mana sholat maghribnya juga udah bubar."
"Ya gapapa, sholat sendiri."
Rima muncul di teras.
"Ga boleh sholat di sini?"
Adhi nyengir.
__ADS_1
"Ga boleh! Di rumah ga ada orang. Udah sana ke mesjid."
"Ya ampun Rim, tega banget. Ini hujan deres loh, ntar aku masuk angin kalo kehujanan."
Rima menahan senyum.
"Manja amat jadi cowok, nih payung."
Adhi terkekeh melihat ekspresi Rima. Rasanya ini hari terindah buat Adhi. Bisa mengantar Rima pulang dan melihatnya tersenyum. Adhi semakin yakin perasaannya ini bukan cuma sayang pada sahabat. Tapi perasaan yang jauh lebih dalam. Kenapa tidak sejak dulu dia menyadari itu?!
Adhi pulang dari mesjid dan duduk di teras. Rima meletakkan secangkir coklat panas.
"Nih minum dulu terus pulang sana."
"Astaga aku diusir gitu Rim? Tega kamu Rim."
Adhi pura-pura cemberut. Rima terkekeh.
"Iyalah diusir, ngapain lagi kamu disini?!"
"Ck..Aku kira kamu udah ga judes sama aku Rim, ternyata tetep aja."
"Udah jangan ngomong terus, cepetan diminum trus pulang. Aku mau tidur habis ini."
Adhi mengikik. Bener-bener ini perempuan satu. Untung cinta, kalo engga udah dinikahin. Ehπ€
Mereka masih mengobrol beberapa lama, tanpa sadar seseorang sedang mengamati.
πππ
Tyo masih termenung di dalam mobilnya. Hujan menampar mobilnya menimbulkan suara yang semakin membuatnya kesal. Sesekali Tyo menghembuskan nafas dengan berat.
Terbayang lagi keceriaan Rima ketika bersama Adhi. Rima tak pernah seceria itu ketika bersamanya. Teringat lagi kilasan peristiwa saat mereka bersama. Tyo tak bisa menolak bahwa dia sangat mencintai Rima. Jika Rima tak bisa diraihnya mungkin dia akan bersikap biasa saja. Bukankah Rasulullah juga pernah ditolak cintanya dan itu bukan akhir dunia.
Namun, jika Rima menolaknya dia tak yakin ada orang lain yang bisa memasuki hatinya lagi.
Tyo membatin. Ada perasaan tak rela, belum ingin mundur apalagi menyerah. Tetapi melihat senyum dan keceriaan Rima ketika bersama Adhi hatinya perih. Tyo mengusap wajahnya, sudah menemukan langkah apa yang akan dia ambil.
πππ
Sore itu Emira baru selesai belajar, gadis kecil itu duduk bersama Rima sambil menikmati jelly buatan Rima.
"Bunda, hari ini ayah yang jemput."
"Oh ya? Emang ayah lagi ga sibuk?"
Rima merasakan desiran halus di dadanya. Dia sudah agak lama tidak melihat Tyo. Mendengar Tyo akan menjemput ada bagian hatinya yang merasa senang. Apa dia merindukan Tyo??
"Sibuk sih, tapi Mira bilang sama ayah kok Mira ga pernah dijemput ayah, gitu."
Rima tersenyum dan mengelus kepala Emira dengan sayang.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Rima.
"Eh itu ayah kayanya udah di depan, abisin dulu jellynya. Bunda guru ke depan dulu ya."
Emira mengangguk.
"Assalamualaikum bunda guruuu,"
Syarifa dengan gaya centilnya menyapa Rima yang tersenyum lebar. Syarifa memeluk Rima, anak itu sudah terbiasa berakrab ria sama Rima.
"Saya mengantarkan pangeran yang lagi kangen sama yayangnya nih,"
Syarifa mengikik.
"Tapi dia kayanya lagi bad mood bu,"
__ADS_1
Syarifa berbisik lagi.
Rima menatap Tyo, memang wajahnya terlihat menyeramkan sekali. Rima sampai bergidik.
"Assalamualaikum mas,"
"Waalaikumsalam,"
Syarifa perlahan minggir dan masuk ke rumah, menyadari bahwa dua orang itu memerlukan privacy.
"Gimana kabarnya mas?"
Tyo menatap Rima, manis sekali Rima sore itu. Gamis dan jilbabnya berwarna salem. Sebenarnya Tyo senang melihat Rima, dia pun merindukan Rima karena sudah beberapa minggu tidak bertemu. Sengaja, karena Tyo sedang serius dengan kajian Islam yang diikutinya.
"Baik,"
Rima bingung meneruskan obrolan. Tyo begitu irit bicara hari ini. Biasanya dia yang menghidupkan suasana dengan menggoda Rima.
"Mas Tyo...kenapa?"
Rima akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Gapapa, emang kenapa?"
Rima tak menjawab hanya menggeleng dengan kaku.
"Saya tau saya terlalu tua untuk kamu, status kita juga ga setara. Kamu single saya duda. Saya paham kalo kamu lebih memilih orang lain yang lebih pantas buat kamu."
Tyo menatap Rima. Gadis itu memasang ekspresi apa-maksudmu-aku-ga ngerti. Keningnya mengernyit.
"Maksudnya apa mas? Kok tiba-tiba ngomong gitu?"
"Gapapa, saya tau diri aja."
Lelaki itu sudah menyiapkan kalimat bahwa dia akan membatalkan lamarannya. Tapi lidahnya seperti kelu. Dia belum siap mengucapkan itu. Ada bagian dari dirinya yang masih berharap Rima akan menerima lamarannya.
Tyo merasa hatinya sakit. Tapi kalau memang Rima tidak memilihnya, dia bisa apa?
Rima tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya diam dengan pikiran penuh. Apa yang terjadi? Rima pun belum paham.
"Ayah ayo pulang, Bunda guru Mira pulang dulu ya. Besok belajar lagi."
Emira keluar bersama Syarifa, menggelayut manja pada ayahnya.
Tyo hanya mengangguk.
Rima ingin memeluk Emira sebelum gadis itu pulang, tapi terlalu takut untuk mendekat.
"Bundaa guru, eyke kombek dulu yess. Assalamualaikum,"
Syarifa memeluk Rima dan bercipika cipiki.
Tyo langsung melangkah dan menarik tangan Emira lembut.
"Ayah kok ga pamit sama bunda guru sih?!"
Tyo menghentikan langkahnya. Terdiam sejenak.
"Ga usah."
Lelaki itu melangkah lagi dan tak menoleh.
πππ
Hai pembaca..like dan love nya please ya
Colek saya kalo ada typo manjah ππ
__ADS_1