
Bismillah ....
Peristiwa dengan Dani berlalu tanpa kabar. Tak ada cerita tentang mereka berdua. Kehidupan Tyo dan Rima pun berjalan lagi seperti biasa.
Sore itu wajah Rima cemberut. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Rima menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menghela nafas dengan berat. Seolah ingin menyingkirkan kekesalan di hatinya.
"Bunda, ayah sudah pulang," suara Emira membuat Rima bangkit dan berusaha menormalkan kembali wajahnya yang cemberut.
Dengan sedikit tergesa Rima keluar dari kamarnya.
"Mas, mau dibikinkan minum apa?" tanya Rima sembari mencium tangan Tyo.
"Yang anget-anget kalo ada," Tyo menaik turunkan alisnya. Disambut senyum tertahan Rima. Suaminya ini memang suka ngasi kode-kode.
"Serius? Kalo yang anget-anget ada sih air tinggal manasin," balas Rima sambil menjulurkan lidah. Emira tertawa melihat kedua orang tuanya bercanda.
"Kalo air sih aku ga minta kamu, di dapur banyak," Tyo mengacak jilbab Rima. Mereka saling bertukar senyum.
"Tumben ga ada anak-anak belajar Rim?"
"Hari ini libur mas, senin lanjut lagi." Rima menjawab sambil menyeduh kopi. Mereka sudah duduk santai di ruang makan yang menyambung dengan dapur.
Sudah 4 bulan Rima berhenti mengajar karena murid les nya semakin banyak. Dan Emira yang beranjak remaja membutuhkan perhatian ekstra. Tyo sudah begitu sibuk dengan pekerjaannya, Rima tak mau Emira kurang perhatian. Dia melepaskan pekerjaannya dan memutuskan bekerja dari rumah.
"Bu gurunya lagi bad mood kayanya," sambung Tyo. Dia mengucapkan kalimat itu sambil lalu. Tapi Rima tersentak, apa Tyo paham isi hatinya? Dia memang sedang galau.
Rima menundukkan wajahnya, meletakkan secangkir kopi di depan suaminya. Lelaki yang hampir berusia 40 tahun itu menatapnya lekat.
"Kenapa bad mood? Masalah test pack lagi?" Tyo bertanya santai, kemudian menghirup kopinya.
Rima salah tingkah. Dia tidak mau menjawab karena ada Emira di dekat mereka. Tak ingin Emira tahu bahwa Bundanya sedang galau.
"Nanti aja ngomongnya," Rima menopangkan kedua tangannya ke dagu. Ekspresi sedih begitu kentara.
Sudah lebih setahun, tapi dia belum juga hamil. Tadi sebelum Tyo datang dia sempat menggunakan test pack karena tamu bulanannya sudah seminggu terlambat. Berharap dengan penuh semangat bahwa kali ini test pack nya akan menunjukkan dua garis. Tapi ternyata negatif!
Lagi-lagi Rima harus kecewa.
♥️♥️♥️
"Ga usah terlalu mikirin test pack, kalo udah waktunya hamil pasti bakal hamil Rima," Tyo memandang istrinya yang sedang bersandar di kepala ranjang, membaca buku.
"Iya tapi ini sudah setahun lebih Mas, temenku yang baru 3 bulan nikah aja udah hamil sekarang," Rima mulai berkaca-kaca.
"Ya kamu ga bisa samakan dirimu dengan temenmu, takdir manusia itu beda,"
Tyo melembutkan suaranya, dia tidak mau menambah kegalauan istrinya.
"Ibu udah sering nanyain kapan punya bayi, aku capek ditanyain terus. Belum pakde dan budenya mas Tyo,"
"Lain kali kalo mereka nanya bilang aja Mas Tyo ga becus ngehamilin saya. Beres!"
Rima tersenyum tipis menanggapi candaan suaminya. Tyo selalu menanggapi masalah ini dengan santai. Dia juga tidak menuntut Rima untuk segera hamil, malah laki-laki itu terkesan cuek untuk urusan ini. Baginya yang terpenting rumah tangga mereka harmonis. Bersama sampai tua, sehidup sesurga.
"Ayo tidur, apa mau ditidurin?" tanya Tyo dengan jenaka.
"Apaan sih Mas Tyo, orang ngomong serius malah guyon," balas Rima sembari mengusap air matanya.
"Aku serius mau nidurin, kalo ga mau ya udah. Nanti kalo ga hamil nangis," balas Tyo sambil merebahkan tubuhnya membelakangi Rima. Sebuah cubitan mendarat di lengan Tyo, membuat lelaki itu berbalik dan tertawa.
__ADS_1
"Ngasi kode ya? Jadi gimana? Mau dihamilin sekarang apa besok?" Tyo terbahak keras. Rima semakin mendaratkan cubitan bertubi-tubi.
"Mas, kalo ... aku ga bisa hamil, apa ... Mas Tyo masih cinta sama aku?" tanya Rima yang sekarang meletakkan kepalanya di dada Tyo.
"Pertanyaan itu lagi, ga bosen apa nanya itu melulu? Pertanyaan yang lain ga ada ya? Apa kek yang bikin seneng gitu," Tyo membelai rambut istrinya yang beraroma shampoo.
"Dijawab dong Mas," ucap Rima.
"Kalo ga dijawab kenapa? Ga boleh tidur disini? Apa jatahku dipotong?"
Lagi-lagi Rima tertawa karena jawaban suaminya yang penuh kode.
"Kamu ga perlu mikirin itu sayang, cintaku sama kamu ga ada urusan sama bisa punya anak apa engga. "
"Tapi kalo aku ga bisa punya anak artinya aku ga sempurna Mas," Rima menggigit bibirnya.
"Mana ada yang sempurna di dunia ini sayang, kita emang ga sempurna. Makanya saling menyempurnakan. "
Tyo menatap istrinya begitu dalam dan membelai lembut rambutnya. Rima pun balas menatapnya, kemudian memeluk erat suaminya. Sementara dia melupakan kegalauannya karena Tyo begitu piawai menghibur.
🧁🧁🧁
Puluhan hari berlalu lagi. Dan sejenak Rima melupakan keinginannya untuk memiliki seorang anak. Hari itu tiba-tiba dia teringat Yulia, entah kenapa.
"Rim, besok kita diundang Bu Yuan," Tyo muncul di belakang Rima yang sedang menggoreng pisang.
"Oh ya? Acara apa emangnya?" tanya Rima.
"Syukuran, Bu Yuan sama Bang Ali mau berangkat umroh," jawab Tyo. Kini dia bersandar di meja bar di belakang istrinya yang sedang memainkan spatula.
"Alhamdulillah, seneng denger kabarnya. Mas Tyo dikabarin siapa?"
"Jadi ... kita pergi?" Rima bertanya ragu, dia takut suaminya tidak mau datang karena ada kemungkinan mereka akan bertemu Yulia.
"Ya pergi lah, emang kamu ga mau?"
"Mau banget. Udah lama ga ketemu Mbak Yuan,"
"Ya udah, besok jam 10 acaranya, di resto Green Barn,"
Rima melirik Tyo, senyumnya terbit karena membayangkan akan bertemu Yuanita dan ... Yulia.
🍓🍓🍓
Jam 10.00 tepat Tyo dan Rima sudah sampai di resto Green Barn. Rintik gerimis setia menemani sejak pagi buta, membuat udara Malang semakin adem.
Merek berdua memasuki area resto yang terlihat mulai ramai dengan tamu undangan. Yuanita menyambut Rima dan Tyo dengan hangat. Begitu pula dengan suaminya. Sedangkan Rima mengedarkan pandangannya ke sekeliling resto, mencari Yulia. Dia tidak berani bertanya karena Tyo berdiri di sampingnya.
"Kapan berangkat umrohnya mbak?" tanya Rima.
"Hari Rabu Rim, aku sama Mama dan Bang Ali. Kamu mau titip apa?"
"Titip kurma muda sama doa ya mbak, biar aku cepet hamil dan nyusul ke sana," Rima menjawab lirih.
"Ck ... hamil lagi yang dibahas," ternyata Tyo mendengar ucapan Rima. Lelaki itu tak begitu suka Rima sering membahas tentang kehamilan, dia hanya ga mau Rima sedih.
"Duh Pak Tyo langsung sewot tuh, udah ga usah diomongin. Makan sana gih," Yuanita tertawa sembari mendorong Rima dengan lembut.
Rima pamit pada suaminya untuk mengambil makanan, Tyo mengiyakan dan kemudian bergabung dengan sesama tamu laki-laki.
__ADS_1
Perempuan berhijab ungu itu asik meneliti setiap hidangan yang ditata apik. Dia mendekati menu andalan resto Green Barn, olahan berbagai sayuran organik. Rima bersiap membawa piringnya ketika sebuah suara yang dirinduinya menyapa.
"Assalamualaikum Rim, apa kabar?"
Rima berbalik perlahan. Dan ... dia meletakkan piringnya begitu saja kemudian menutup mulut dengan kedua tangan. Ini kejutan yang terlalu menyenangkan.
"Waalaikumsalam, Yul!"
Mereka pun berpelukan, mencurahkan semua rasa rindu. Rima serasa tak percaya dengan penampilan baru Yulia. Perempuan itu berhijab!
"Aku kangen banget sama kamu Rim," bisik Yulia dengan suara bergetar menahan haru.
"Aku juga Yul, kangeeennnn bangettt. Kamu kemana aja?" Rima menjauhkan diri ingin menatap Yulia yang memakai hijab berwarna pink.
"Aku ... ga kemana-mana. Kebanyakan di rumah sama di kantor. Pengen ketemu kamu, tapi ..."
Kalimat Yulia sengaja digantung, perempuan cantik itu hanya melirik Tyo di kejauhan. Rima mengerti, tapi tak menjawab sepatah kata pun. Dia tak ingin mengucapkan sesuatu yang buruk tentang suami yang begitu mencintainya itu.
"Eh makan yuk, kistamu udah sembuh Yul? Coba deh cah kailan organik ini. Bagus buat kesehatan."
"Iya Rim, tapi aku lagi ga mau makan itu. Suka mual kalo makan sayur?" jawab Yulia sambil memegang perutnya.
"Kamu ... masih sakit?" tanya Rima dengan khawatir.
"Bukan sakit Rim, aku ... hamil," Yulia menjawab sambil tersipu. Rima mengernyitkan kening, belum memahami maksud Yulia.
"Hamil?" Bukannya Rima tidak mendengar apa yang dikatakan Yulia. Dia hanya ingin memastikan pendengarannya tak keliru.
"Iya hamil, baru 4 minggu," Yulia mengangguk dan tersenyum lebih lebar.
"Ya Allah, senengnya Yul. Selamat ya. Aku ikut seneng dengernya,"
Mereka berpelukan lagi. Kali ini diwarnai tangisan haru Rima.
"Sayang ... kamu disini? Dicariin kemana-mana juga. Jangan capek-capek ya, eh Rima. Apa kabar Rim?"
Rima semakin terkejut ketika Dani muncul di hadapannya. Lelaki itu ketika terakhir dilihatnya begitu penuh dengan pilu. Dan hari ini dia terlihat cerah, sungguh tak sesuai dengan cuaca hari ini.
"Mas Dani? Jadi ... kalian?" Rima tak meneruskan tanyanya.
"Iya Rim, kami memutuskan memulai lagi dari awal. Ya ... kami berdua sama-sama melakukan banyak kesalahan. Dan sejujurnya, Tyo ikut berperan menyadarkan aku." jawab Dani dengan wajah penuh senyum.
Rima menatap mereka dengan tanda tanya. Sentuhan lembut di pundaknya menyadarkan Rima. Suaminya sudah berdiri di sampingnya, menyapa Dani dan Yulia.
"Asyik banget ngobrolnya, kalo udah ketemu temen aku dilupain nih," canda Tyo.
Rima mendongak memandang suaminya yang bersikap biasa. Ah Tyo memang penuh dengan kejutan. Rima sungguh tak menyangka Tyo membuat Dani dan Yulia berdamai. Rima melingkarkan lengannya ke pinggang Tyo, menyurukkan kepalanya ke dalam pelukannya.
Dia tak ingin bertanya apa-apa lagi. Semua yang dilihatnya hari ini begitu membahagiakan. Sahabatnya berubah menjadi lebih baik, dan memutuskan membangun lagi puing cintanya dengan suami yang begitu dicintai dan mencintainya.
Dan untuknya, seorang laki-laki yang tak sempurna tetapi menyempurnakan hidup dan cintanya berdiri begitu dekat.
Rasanya Rima tak ingin meminta apapun. Hanya membiarkan waktu berjalan melambat hari ini. Supaya dia bisa merangkul semua bahagia lebih lama.
END
Terima kasih sudah membaca, like dan vote nya ya 😊
salam hangat dari Malang yang dingin
__ADS_1
Mariana♥️♥️♥️