Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Tyo vs Adhi


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


Tyo berjalan ke parkiran di basement gedung kantornya. Tangannya sesekali memerhatikan layar ponselnya, dia sedang mengetik pesan untuk Rima. Sambil sesekali tersenyum membaca balasan Rima yang dibuatnya cemberut karena kalimat-kalimat usilnya.


"Kita perlu ngomong, sebagai laki-laki,"


Tyo mendongak dari layar ponselnya, dan menemukan Adhi sedang berdiri menatapnya.


"Ngomong apa?"


Tyo membalas dingin.


"Tentang Rima,"


"Kamu mau apa?!"


"Aku mencintai Rima, dan aku yakin dia juga cinta sama aku."


"Pede banget!"


"Kenapa kamu ga ngasi dia kesempatan untuk memilih?"


"Memilih? Maksudmu?"


"Dia milih aku atau kamu?!"


Tyo tersenyum sinis, Adhi begitu percaya diri. Entah setan apa yang membuat dia berani menantang Tyo. Tapi tak urung Tyo merasa dadanya sedikit bergetar mendengar perkataan Adhi. Bukankah memang Rima mencintai Adhi?! Bagaimana kalau Rima berubah pikiran.


"Rima layak mendapat yang lebih baik."


Tyo mengerutkan keningnya.


"Maksudmu? Kamu lebih baik gitu?!"


Adhi tersenyum puas.


"Aku masih single, dan umur kami cuma beda beberapa bulan."


Tyo tersenyum lagi mendengar penjelasan Adhi.


"Oh jadi itu yang membuat kamu ngerasa lebih baik..lucu banget ya. Ternyata kamu memang masih kecil.”


Tyo tertawa mengejek Adhi.

__ADS_1


"Itu fakta Yo, kamu sudah kalah dalam segi apapun. Apa susahnya batalin lamaran kamu dan serahin Rima sama aku."


Tyo mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Menahan emosi yang nyaris meledak.


Tyo mendekati Adhi, meletakkan satu jari telunjuk di dada Adhi dan menekannya kuat.


"Rima bukan barang, dia ga bisa dengan gampang diserahkan ke kamu atau ke siapapun juga."


"Aku juga tau itu, masalahnya hati Rima itu cuma buat aku. Dia milih kamu cuma sebagai pelampiasan karena dia kecewa."


Adhi merasa di atas angin.


"Kamu pede, aku akui itu!! Tapi aku bukan tipe lelaki yang dengan gampang menjilat ludahku sendiri!! Aku berjuang untuk mendapatkan Rima, jadi kalo kamu ingin Rima, silahkan perjuangkan dia. Kamu boleh nemuin dia. Bilang apa yang kamu mau, dan kita lihat Rima milih siapa!"


Kalimat terakhir diucapkan Tyo dengan sangat tegas. Tyo merasa darahnya mendidih berhadapan dengan Adhi. Dia meninggalkan Adhi yang masih termangu, memacu mobilnya dengan cepat.


Di benaknya terbayang wajah Rima, dengan cincin emas putih darinya. Apa dia akan kehilangan Rima?


Tyo mengusap wajahnya kasar.


Adhi merasakan tubuhnya sedikit gemetar. Tyo terdengar begitu yakin. Apakah Rima akan berbalik memilihnya?! Adhi merasa ada ragu yang terselip di hatinya.


🙁🙁🙁


Ibu mengetuk kamar Rima, sambil memanggilnya.


Rima keluar dari kamar masih dengan mukenahnya.


"Ada nak Tyo di bawah, gih temuin dulu."


"Mas Tyo? Sendirian?"


"Iya, sana temuin dulu. Ibu ada di dapur kok. Ga ninggal kalian berduaan."


Rima mengangguk dan segera mengenakan jilbab instannya. Sedikit heran karena ga biasanya Tyo datang tanpa memberi tahu.


Rima keluar dengan secangkir kopi untuk Tyo. Dia tahu Tyo pasti baru pulang kantor dan langsung datang. Pasti ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Secangkir kopi mungkin dapat menenangkan Tyo, Rima berpikir cepat.


"Mas, minum dulu."


Tyo tersenyum, setelah galau sesorean ini melihat Rima membuat jantungnya bersenandung.


"Mas udah sholat kan?"


"Sudah, di mesjid."


Rima hanya ber oo.

__ADS_1


"Aku...mau ngomong sesuatu Rim,"


Rima menautkan alisnya.


"Tentang apa mas? Apa ada masalah?"


"Tentang Adhi."


Rima menggigit bibirnya. Apalagi sekarang? Rima takut Adhi akan membuatkan kekacauan lagi. Dia seakan sudah lelah dengan drama-drama yang diciptakan dua sahabatnya.


"Tadi dia datang nemuin aku, dia...pengen ngomong sama kamu."


Rima semakin heran.


"Mau ngomong sama saya?! Kayanya udah ga ada lagi yang perlu diomongin sama dia mas,"


Rima teringat pertemuan terakhirnya dengan Adhi. Pertemuan yang membuatnya kehilangan rasa yang sekian lama tumbuh pada Adhi. Ketika Adhi muncul di benaknya Rima sudah ga merasakan apapun. Hambar!


"Rim, Adhi cinta sama kamu. Adhi...ingin tahu perasaanmu sama dia."


Rima semakin bingung.


"Saya ga mau ketemu sama Adhi mas, dan lagian saya sudah jadi calon istrinya mas Tyo. Saya ga mau berdua-duaan sama laki-laki yang bukan mahrom saya."


Tyo tersenyum, jawaban Rima sesuai dugaannya. Diam-diam dia merasa semakin menyayangi Rima. Merasa yakin Rima adalah orang yang tepat untuk menemaninya membangun rumah tangga, berbagi kasih sayang, merajut dan mewujudkan visi mereka untuk bersama meraih surga. Tetapi, ada sudut hatinya yang lain yang tiba-tiba merasa nyeri, takut untuk kehilangan.


"Aku tau Rim, tapi...aku rasa kamu berhak menemui Adhi dan membicarakan semuanya sebagai orang yang sudah sama-sama dewasa."


"Aku juga...memberi kamu kesempatan, jika..jika saja kamu masih belum menetapkan pilihanmu ke aku."


Rima menatap Tyo dengan mata membulat. Dia ga percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Maksut mas Tyo?!"


Tyo menghela nafasnya. Dia merasa berat, ada ketakutan jika Rima tiba-tiba memutuskan memilih Adhi. Tapi Tyo tidak bisa egois, walaupun dia sangat ingin egois dan memiliki Rima hanya untuknya. Ada bagian dari hatinya yang ingin memberikan Rima kesempatan untuk berpikir tanpa terbebani. Tyo memang mencintai Rima, tapi memutuskan bahwa Rima harus memiliki perasaan yang sama dengannya terdengar sangat tidak bijaksana.


"Aku cinta sama kamu Rim, aku ga mau kehilangan kamu. Tapi aku juga ga bisa egois, aku ga bisa cuma mikirin perasaanku, aku emang lupa satu pertanyaan sebelum aku melamar kamu."


"Pertanyaan apa mas?"


Rima menatap Tyo heran.


"Apa kamu cinta sama aku?"


Rima merasa tenggorokannya mendadak tercekat. Dia meremas gamisnya dengan risau, menatap Tyo yang juga menatapnya sendu.


Terima kasih sudah membaca..like dan vote nya ya 😉

__ADS_1


__ADS_2