
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai dengan nama Allah yang Maha Agung
π»π»π»
Setelah akad nikah, besoknya Rima pindah ke rumah baru Tyo. Rumah itu tidak jauh dari rumah Rima bersama Ibu dan Hanif, juga dekat dengan perkebunan Tyo di kabupaten Malang.
Tyo memasukkan koper yang berisi barang-barang Rima ke dalam bagasi. Sedangkan Rima berpamitan pada Ibu dan Hanif. Tangan Emira seakan ga bisa lepas dari Rima. Kemanapun Rima pergi, gadis kecil itu mengikuti.
"Bu, Rima pamit ya."
"Iya, hati-hati. Manut sama suami ya, layani suamimu dengan baik. Kalo perlu dengan layanan kualitas super."
"Iya bu,"
Mata Rima mulai berkaca-kaca.
"Kalo pelayanannya ga super nanti saya jewer ya bu,"
Tyo ternyata sudah berdiri di belakang Rima.
"Apaan sih?"
Rima cemberut.
"Tuh belum apa-apa sudah cemberut,"
Tyo mengikik usil.
"Ya habisnya mas Tyo godain terus,"
"Ya daripada godain orang lain, mending godain istri sendiri."
Tyo terkekeh lagi, sedangkan Ibu hanya tersenyum sambil geleng-geleng.
Tak lama mobil Tyo melaju meninggalkan rumah Rima, meninggalkan Ibu dan Hanif yang masih berdiri sampai mobil itu hilang dari pandangan.
πππ
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, eh Pak Tyo sudah sampai."
"Iya bu, ini istri saya."
Rima memperkenalkan diri pada wanita berjilbab itu.
"Saya Rima bu, "
"saya Warti Nya. Yang bantu-bantu di sini."
"Panggil Rima saja ya bu, biar akrab."
"Eh ga sopan kalo langsung panggil nama, saya panggil mbak saja ya. Keliatan masih muda."
Rima mengangguk dan tersenyum.
"Iya dia muda, saya yang tua bu,"
Tyo pura-pura kesal.
"Ya engga to pak, masih sama-sama muda, cocok serasi pokoknya."
Bu Warti mengacungkan dua jempolnya sambil terkekeh. Membuat Rima ikut terkekeh.
Tak lama dia meninggalkan Tyo untuk membereskan barang-barangnya. Tyo sudah menunjukkan kamar mereka dan kamar Emira. Sehingga Rima bisa langsung menata barang-barangnya. Sedangkan Tyo masuk ke ruang kerjanya, ada pekerjaan yang harus dibereskan.
"Kak bantuin bunda yuk,"
Rima mengajak Emira yang sedang mengacak buku-bukunya.
"Bantuin apa bund?"
"Bantuin beresin lemarinya ayah,mau?"
"Mau bund,"
Mereka pun sibuk merapikan lemari. Memang lemarinya Tyo berantakan. Khas lelaki, kalo ambil baju langsung aja tarik. Akibatnya tumpukan baju itu miring kesana kemari.
"Yang, ada mama sama papa tuh,"
Tyo melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
"Iya mas sebentar,"
Tak lama Rima keluar menemui mertuanya. Mereka asyik mengobrol. Tak terasa sampai menjelang ashar. Tyo pun meminta kedua orang tuanya beristirahat di kamar tamu.
πΊπΊπΊ
Tyo baru saja pulang dari mesjid setelah sholat ashar. Rima sedang melipat mukenahnya ketika Tyo masuk kamar.
__ADS_1
"Ehem,"
"Eh sudah pulang mas."
"Iya, kangen sama istri."
Rima tersenyum.
Tyo mendekatinya. Rima mulai gugup, jantungnya berdebar. Belum lagi malu berdekatan dengan suaminya. Malam pertama kemarin mereka memang belum 'ngapa-ngapain'. Gimana mau 'ngapa-ngapain' kalau Emira minta tidur bersama Rima di kamar pengantin. Jadilah Tyo cuma bisa tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang ga gatal.
"M-m-mau ngapain mas?"
Tyo diam, memperhatikan wajah Rima yang merona. Rima bergerak mundur, sampai menabrak lemari. Tyo semakin dekat, dua tangannya mengunci Rima. Wajah mereka semakin dekat, sampai keduanya bisa saling merasakan nafas masing-masing.
"Boleh?"
Tyo berbisik lembut dan Rima hanya mengangguk.
Bibir Tyo menyentuh bibir Rima, manis. Mereka berciuman dengan lembut. Rima belum membalas, ini pertama kali untuknya. Ciuman pertama untuk kekasih halal. Tyo semakin menuntut, menarik pinggang Rima semakin rapat.
"Mas,"
Rima mendorong Tyo perlahan.
"Aku ga bisa nafas."
Mereka tersenyum.
Tyo menciumnya lagi, tangannya bergerak di punggung Rima. Menarik Rima semakin dekat.
"Sekarang ya?"
"Ada mama papa lo mas,"
"Gapapa, sebentar aja."
Tyo sudah berbisik dengan suara serak.
Tok tok tok
"Yo..ada tamu tuh."
Suara mama terdengar dari balik pintu.
"Yo, pak RT datang itu loh."
Mama memanggil lagi.
"Ya ampun Tyo, ini masih sore. Jangan curi start malam pertama loh ya."
Suara mama terdengar lagi diiringi tawa geli.
Tyo menghembuskan nafas kesal. Kemudian mencium Rima sebentar dan melepaskan dengan tak rela.
Ada aja cobaannya. Mau mesra-mesraan sama istri sendiri padahal.
Batinnya.
"Hey, nanti malem ya. Awas kalo tidur sama Emira."
Rima terkekeh melihat kekesalan suaminya. Ekspresi kesal Tyo sangat lucu.
"Btw, ciuman pertama kamu udah aku ambil ya,"
Tyo mengedipkan matanya nakal.
"Apaan sih mas, udah sana cepet. Ditunggu pak RT."
Rima tersenyum dengan pipi merona.
"Seneng ya kalo ga jadi, awas nanti malem. Aku uyel-uyel sampe pagi."
Tyo terbahak melihat Rima bergidik.
"Mesumm ih!"
Tyo membuka pintu kamar dan menemukan mamanya yang juga senyum-senyum.
"Duh manten baru, lama amat bukain pintunya."
"Iya nih, lagian mama gangguin aja. Baru juga dapat DP."
Tyo melirik Rima yang mencibir padanya.
Haha..
Begini rasanya jadi pasangan halal, walaupun ada gangguan kecil tapi rasanya campur-campur. Seneng, gemes, kesel..ga bisa dilukiskan pokoknya.
πππ
Sudah hampir jam 9, Rima baru keluar dari kamar Emira. Mama dan Papa mertuanya sudah pulang sehabis maghrib tadi. Emira sudah tertidur, anak itu belum mau tidur tanpa Rima. Kelihatannya masih ingin bermanja pada bundanya.
__ADS_1
"Mas,"
Rima melongokkan kepala ke ruang kerja Tyo setelah mengetuk.
"Mau dibikinin minum apa?"
Tyo mendekat dan menarik tangannya lembut.
"Susu,"
Tyo nyengir.
"Oh iya ntar aku buatin dulu,"
Rima sudah bersiap melangkah, ketika Tyo malah memeluknya. Jantung Rima langsung berdebar. Dia belum terbiasa seperti ini, merasakan berada sangat dekat dengan seorang laki-laki.
"Mau kemana?"
"Katanya bikin susu,"
Rima menatap Tyo dengan polos.
"Ga jadi dibikinin susu, minta yang lain aja."
Ekspresi Rima menunjukkan tanya.
Tangan Tyo bergerak menyentuh bibir Rima lembut. Kemudian pelukannya semakin erat, wajah mereka tak berjarak. Membuat Rima gemetar, kelihatannya 'malam pertama' sudah dekat waktunya.
"Sini duduk dulu,"
Tyo membawa Rima ke arah sofa di ruang kerjanya. Menarik Rima untuk duduk di pangkuannya. Tangan Tyo melingkar di pinggang Rima.
"Ini, punya kamu."
Tyo memberikan sebuah map berlambang Kantor Pertanahan.
"Punyaku?"
"He'em."
"Ini sertifikat rumah, rumah ini atas nama kamu."
Rima menatap Tyo tak paham.
"Kamu dulu kan bilang maharnya terserah, yang ga berat buat aku. Jadinya Aku pengen ngasi kamu sesuatu yang ga biasa. Anggap aja ini hadiah pengantin baru."
"Tapi...ini..apa ga kemahalan mas?"
"Engga..ga semahal cintamu ke aku,"
Tyo terbahak.
"Gombalannya kok ga nyambung sih mas?"
Rima tertawa seru.
"Iya, habis sudah kulakan gombalan ga dapet-dapet,"
Mereka berdua semakin terbahak. Saat tawa mereka berhenti, keduanya berpandangan. Tyo menautkan jemarinya dengan jemari Rima, yang dibalas Rima dengan lembut.
"Kamu...cinta sama aku?"
Rima ingat dia belum menjawab pertanyaan itu dulu.
"Kalo...cinta emang kenapa?"
"Sejak kapan?"
"Sejak dibawa pulang dari sky lounge."
"Kenapa mau nikah sama aku?"
"Karena..mas Tyo maksa"
Rima tersenyum usil. Tyo menarik hidungnya dengan gemas.Kemudian Rima memberanikan diri membelai wajah Tyo. Tyo mencium tangannya. Mereka berpandangan lalu...
Tyo tiba-tiba sudah menggendong Rima, melangkah ke kamar sambil tersenyum lebar.
"Malam kedua..." bisik Tyo.
Rima mengalungkan lengannya di leher suaminya, tersenyum menatap suaminya.
Dia semakin bersyukur memilih Tyo menjadi suaminya.
π€π€π€
Haiii pembaca..selamat membaca part yang manis ini yaa
Paling suka sama suami yang ga pelit hihi..sama kan kita ya?!
Like dan bintangnyaa yaa
__ADS_1
Biar sayah makin semangat nulis lanjutan cerita ini πͺπ»πͺπ»πͺπ»