
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
Dear pembaca..mohon like nya yaa supaya semakin semangat nulisnya ❤️
"Sayang..aku boleh nanya engga?"
Dani memberanikan diri, melihat mood istrinya sepertinya sedang bagus. Mereka sedang makan malam.
"Nanya aja mas,"
"Rima sama Adhi itu...hubungannya gimana?"
Yulia sontak menoleh pada suaminya.
"Hubungannya? Maksud mas Dani?"
"Yaa..kan kamu bilang Adhi pdkt sama Rima. Trus gimana mereka?"
"Oohh itu, setauku sih masih berjalan pdkt nya."
Yulia sedikit resah, kenapa suaminya tiba-tiba sekepo itu.
"Kenapa sih mas?"
"Yaa gapapa, penasaran aja."
"Kok tiba-tiba penasaran?"
"Mmm..gini loh yang, kamu tahu pak Tyo kan?"
Yulia mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Aku ketemu pak Tyo sama anaknya, mereka sama Rima juga. Kelihatannya pak Tyo suka sama Rima dan Rima juga suka."
Deg
Jantung Yulia berdetak lebih kencang. Kalau ada yang mendekati Rima dan mereka jadian, artinya Rima ga akan lagi bisa menjadi alibinya. Bagaimana hubungannya dengan Adhi nanti? Dia ga bisa pisah dari Adhi. Dan ga bisa membayangkan gimana dia tanpa Adhi. Yulia menggelengkan kepalanya tanpa sadar.
"Kenapa yang?"
"Eh..gapapa mas, mmm Rima kok belum cerita apa-apa ya tentang Pak Tyo. Mungkin aja cuma temen biasa."
"Kayanya bukan temen, pak Tyo jelas-jelas keliatan cemburu ketika tau Rima kenal sama aku."
"Yaa nanti aku tanyain deh sama Rima."
Mereka pun melanjutkan makan dalam diam. Dani diam-diam merasakan suatu gelagat aneh pada istrinya. Ah, mungkin itu cuma perasaannya saja.
💐💐💐
Sore itu Rima sedang mengajar Emira di gazebo taman belakang. Sedang Ratna, teman Rima mengajar dua murid yang lain.
__ADS_1
"Rim..sibuk?"
Rima menoleh mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.
"Loh Yul, udah lama nyampe?"
Rima sedikit heran karena dia ga sedang janjian dengan Yulia. Memang akhir-akhir ini Rima agak menghindar dari Yulia, dia sedang tidak ingin masuk ke dalam drama perselingkuhan yang menguras emosinya.
"Baru aja, habis ngobrol sama Ibu tadi."
"Oh, sorry aku ga denger kamu datang. Bentar ya aku ngajar dulu."
Yulia mengangguk dan berjalan masuk ke rumah, samar-samar didengarnya suara gadis kecil yang memanggil Rima dengan sebutan 'bunda'. Ada kekhawatiran yang semakin besar di hati Yulia.
💐💐💐
Menjelang maghrib Tyo datang menjemput Emira. Tyo heran ada sebuah mobil yang belum pernah dilihatnya, parkir di depan rumah Rima.
"Eh tuh ayah sudah jemput,"
Rima menggandeng Emira.
"Ayahh!!"
Emira melambai senang pada Tyo.
"Haii cantik, gimana belajarnya?"
"Seruu Yah, Mira mau belajar sama bunda guru teruss ya Yah. Kalo bunda guru tinggal sama kita boleh engga Yah?"
"Ya tanyain aja sama bunda gurunya, mau engga tinggal sama kita?"
Tyo berjongkok menyejajarkan dirinya dengan tinggi Emira.
"Bunda guru, mau kan tinggal sama Mira dan Ayah?"
Duh Rima semakin salah tingkah, apalagi ditambah tatapan Tyo yang sekarang sudah berdiri lumayan dekat.
"Eh...nanti bunda tanya sama Oma dulu ya sayang."
"Oh gitu, biar nanti Ayah yang bilang ke oma. Mau bawa bunda guru ke rumah kita."
Tyo tersenyum usil, merasa mendapatkan celah. Sementara Rima sudah kelimpungan, menyadari kalimatnya barusan yang malah jadi kesempatan buat Tyo.
"Eh Nak Tyo, masuk dulu yuk. Hampir maghrib, ga baik kalo maghrib-maghrib di jalan."
Tyo langsung menyalami Ibunya Rima.
"Ayuk Emira juga masuk dulu, Oma punya es krim loh. Mau engga?"
Emira akhirnya ikut bersama Ibu Anisa, meninggalkan Tyo dan Rima berdua.
"Rim, boleh saya ajak kamu jalan lagi? Saya yang minta ijin sama Ibu."
Rima bingung. Terlalu sering bersama Tyo akan membuat dia seakan memberi harapan. Padahal ada satu nama yang saat ini menghuni ruang merah muda di dalam hatinya. Walaupun seseorang yang sering dipikirkannya itu sepertinya tidak membalas perasaannya.
__ADS_1
"Saya...ga tau mas."
Rima langsung beranjak hendak melangkah pergi, tapi tangan Tyo meraih tangannya. Rima mencoba menarik tangannya, tapi Tyo malah mengeratkan genggamannya.
"Mas, maaf kita bukan mahram."
"Cuma belum jadi mahram, tunggu tanggal mainnya aja."
Tyo tersenyum percaya diri. Rima semakin salah tingkah.
"Rim, saya serius sama kamu. Saya..cinta sama kamu."
Rima ga tau seperti apa ekspresinya saat ini. Dia tahu kode-kode keras dari Tyo, tapi ga nyangka Tyo akan secepat ini menyatakan cinta.
"Kamu suka sama orang lain ya?"
Tyo masih menahan tangan Rima. Rima menggelengkan kepalanya ragu.
"Saya minta kesempatan Rim, saya akan buktikan saya serius."
Tyo diam, menatap Rima yang menunduk dalam diam. Tyo semakin mengeratkan genggamannya,membuat Rima semakin salah tingkah.
"Rim? Kok ga dijawab?"
"Boleh...saya minta waktu mas?"
Rima menatap Tyo, mereka saling menatap. Rima yang pertama kali mengalihkan pandangannya.
"Boleh, seminggu ya? Tapi...jangan jawab 'engga' ya."
Rima menarik tangannya yang digenggam Tyo dan tersenyum geli.
"Itu namanya maksa, bukan minta ijin."
Rima tersenyum geli, Tyo selalu to the point ketika bicara.Tyo juga tersenyum, menatap senyuman sang pujaan hati membuat detak jantungnya memainkan simfoni cinta yang syahdu.
"Memang saya harus maksa, karena saya ga mau kehilangan kamu."
"Sudah adzan, Mas Tyo ke mesjid aja ya. Laki-laki sholatnya di mesjid."
Rima mengalihkan topik, karena sekarang jantungnya berlarian cepat di dalam sana. Jujur belum ada rasa apapun pada Tyo. Tetapi, melihat keseriusannya, membuat Rima berpikir ulang untuk langsung menolak. Ditambah melihat sikap Tyo yang dewasa dan juga sudah berhasil mengambil hati Ibunya.
Yang membuat Rima ragu adalah di ujung hatinya masih ada nama seseorang.
Sebelum melangkah menuju masjid, Tyo menoleh pada Rima.
"Itu mobilnya siapa Rim?"
"Oh, mobilnya Yulia mas. Istrinya pak Dani yang sabtu kemaren ketemu."
Tyo ber oo pendek dan melangkah ke mesjid. Sempat terbersit tanya, sedang apa Yulia di rumah Rima. Baru kali ini Tyo tahu bahwa Yulia mengunjungi Rima.
Sementara itu, Yulia melihat adegan itu dengan gelisah. Apa jadinya nanti kalau Rima beneran 'jadian' dengan Tyo, atau bahkan menikah.
Yulia merasa dia harus melakukan sesuatu. Menjauhkan Tyo dari Rima.
__ADS_1