
Bismillahirrohmanirrohim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
πΊπΊπΊ
Tyo duduk di kursi kerjanya. Komputernya menyala, tapi pandangannya tidak tertuju kesitu. Dia sedang merenung bagaimana akan memberitahu Rima bahwa dia akan menarik lamarannya.
Rima bebas menentukan dengan siapa dia akan menikah. Tyo tidak akan membebani Rima dengan lamarannya lagi.
Tapi kenapa rasanya berat sekali?! Di satu sisi dia ingin Rima bahagia, di sisi lain dia pun begitu menginginkan Rima. Dimana lagi dia bisa bertemu perempuan yang begitu pas untuk hatinya seperti Rima.
Sudah lama Tyo mencari tahu tentang Rima. Tentang masa remajanya, pertemanannya dan keluarganya. Rima ternyata sangat menjaga diri, ga pernah pacaran apalagi bergaul bebas seperti Yulia.
Gimana Tyo ga semakin kesengsem?
"Yo, ini IMB pabrik sudah keluar. Coba dicek dulu."
Bram muncul di ambang pintu.
"Yo, kamu kenapa sih? Ngelamun?"
Bram heran melihat Tyo tidak merespon.
"Bro, kamu kenapa?"
Bram menepuk pundak Tyo, menyadarkan Tyo dari pikirannya.
"Ada apa Yo? Kamu akhir-akhir keliatan lesu gitu? cerita sama aku, sapa tau aku bisa bantu."
"Aku..lagi banyak pikiran."
"Tentang Rima?"
"Kok kamu tau?"
Tyo menatap Bram heran.
"Yaelah, kalo ekspresi kaya gitu apalagi kalo bukan karena cinta..ck..ck..ck. Ada apa Yo?"
Tyo membuka galeri di smartphone nya, menunjukkan foto-foto yang dikirim nomer tak dikenal beberapa hari yang lalu.
Bram terbelalak tak percaya.
Terlihat Rima yang sedang menoleh pada Adhi, sedangkan tangan Adhi menggenggam pergelangan tangan Rima.
Foto lain menampakkan Adhi membukakan pintu mobil untuk Rima. Dan satu foto memperlihatkan Rima dan Adhi yang sedang berpandangan.
"Ini..Rima? Sama siapa?"
"Ah udahlah ga usah dibahas."
Bram langsung paham.
"Emang foto ini dari siapa Yo?"
"Ga tau,"
Pandangan Tyo masih menerawang.
"Yo, istighfar dulu deh sama baca taawudz banyak-banyak,"
Tyo menghembuskan nafas, kemudian beristighfar lirih.
"Nih minum, tenangin dulu kepala kamu. Baru mikir lagi. Udah sholat maghrib?"
Tyo menggeleng kemudian berdiri hendak berwudhu. Bram hanya menggelengkan kepala. Ikut sedih melihat sahabatnya terlihat kuyu dan tak bersemangat.
"Gimana, masih mau lanjut bahas proyek kita?"
Mereka baru selesai sholat maghrib, rumah Tyo sepi karena Emira sudah masuk kamar sedari tadi.
"Kayanya aku lagi ga konsen Bram."
"Sorry Yo, aku ga ada maksud ikut campur. Tapi, pikir lagi ya. Kenapa tiba-tiba ada foto Rima dikirim ke whatsap mu? Apa ga aneh?"
"Aneh gimana maksutmu? Aku sudah mutusin mau mundur aja Bram. Mungkin aku terlalu banyak berharap sama manusia, jadinya kecewa kaya gini."
"Oke, dalam hal itu kamu bener. Berharap itu hanya sama Allah bro!"
"Iya, bener."
"Tapi, apa ga aneh ada orang ngirim foto Rima lagi sama cowok ke kamu? Maksudnya apa coba?"
Tyo mengernyitkan keningnya. Merangkai kejadian demi kejadian hari itu.
"Apa ada yang ga suka kalo kamu deketin Rim?"
__ADS_1
Tyo memandang Bram sekilas. Seperti mendapatkan pencerahan.
"Makanya jangan buru-buru lemes aja, pikir dengan kepala dingin."
"Iya ya, yang aku inget pas hari itu Rima memang telpon aku. Dia mau minta tolong dianter untuk jemput Yulia katanya."
"Trus?"
"Aku lagi di kebun, telponnya ga aku jawab. Tapi pas aku telpon balik dia bilang udah jemput Yulia dan mau pulang."
"Emang pas itu Rima dimana?"
"Katanya sih di klub Bunga,"
Bram mengambil ponsel Tyo dan membuka foto-foto itu lagi.
"Ini kayanya emang di restonya Klub Bunga sih Yo,"
Tyo ikut memperhatikan.
"Iya juga ya, aku jadi curiga Bram."
"Curiga sama?"
"Yulia,"
Tyo mengerutkan kening. Matanya bersinar marah. Jika kecurigaannya benar, dia ga tahu lagi apa yang akan dilakukannya pada Yulia.
π‘π‘π‘
Dua hari kemudian...
"Pak, ini yang bapak minta. Lengkap semua info ada di situ,"
Laki-laki berambut pendek itu meletakkan amplop coklat di meja Tyo.
"Kamu udah selidikin betul-betul Ndik?"
Lelaki yang dipanggil Endik itu mengangguk yakin.
"Sudah pak, seperti biasa."
Tyo membuka amplop itu, memperhatikan beberapa catatan dan foto-foto.
"Jadi emang perempuan itu dalangnya?"
"Saya udah nanyain waiter yang dapat shift pas kejadian sama pas sebelum kejadian pak. Mbak Rima emang datang kesana mau jemput mbak Yulia, tapi mbak Yulianya udah ngilang waktu mbak Rima datang."
"cctv udah kamu cek?"
"Udah pak, foto-foto itu saya dapat dari cctv resto dan selasar menuju kamar hotel. Jadi Mbak Yulia ada di situ, motret Mbak Rima sama cowok itu."
"Tapi aku ga bisa mastikan nomer yang ngirim foto itu nomornya Yulia Ndik."
"Kalo menurut saya sih langsung aja hadapin mbak Yulia. Buat dia ngaku pak."
"Foto-foto yang saya minta dulu ada?"
Endik mengeluarkan satu amplop lagi, berukuran lebih kecil. Tyo membukanya dan tersenyum puas.
π€π€π€
"Selamat siang pak, maaf mau ketemu siapa?"
Sekretaris berpakaian modis itu menyapa Tyo dengan ramah. Memperhatikan penampilan Tyo yang rapi dan wajah maskulinnya dengan lirikan mata penuh arti.
"Yulia ada?"
"Oh ada pak, bapak sudah bikin janji?"
Sekretaris itu mengedip pada Tyo. Tyo menatapnya dengan cuek.
"Belum, perlu?"
"Begini pak, Bu Yulia sekarang sedang...pak..pak, tunggu jangan masuk gitu aja donk."
Tyo menerobos masuk, tak mempedulikan ocehan sekretaris Yulia yang sekarang menyusulnya dengan terburu-buru.
Tyo masuk ke ruang Yulia tanpa mengetuk. Dan Yulia hanya menatapnya dingin.
"Kamu mau apa?"
Yulia mengibaskan tangannya pada si sekretaris, menyuruhnya pergi dan menutup pintu.
"Aku mau kamu pergi dari hidup Rima!!"
Tyo mengucapkan itu dengan lirih, tapi tatapan matanya penuh amarah.
__ADS_1
"Emang kamu siapanya ha? Enak aja nyuruh-nyuruh. Kamu tuh yang harus jauhin Rima."
"Perempuan sinting!!"
"Denger ya!! Kamu tuh cuma orang asing buat Rima, aku dan Rima sudah kenal jauhh sebelum kamu datang. Jadi silahkan angkat kaki dari sini dan dari hidup Rima!!"
Yulia berteriak dengan putus asa. Kepalanya berdenyut sakit. Wajah Rima muncul di kepalanya. Sahabat terbaiknya, yang selalu ada untuk dia. Sekarang dia harus berbagi dengan Tyo?! Itu tidak akan pernah terjadi!!
Tyo menatap Yulia dengan kasihan campur muak.
"Ga usah banyak omong, nih liat!! Kalo kamu ga jauhin Rima, aku buka aibmu!"
Tyo melempar amplop coklat ke atas meja dan melangkah keluar ruangan, diakhiri bantingan pintu yang membuat si sekretaris mengkerut ketakutan.
πΊπΊπΊ
Sore itu Tyo menunggu Emira selesai belajar. Rintik gerimis turun, tapi Tyo betah duduk di teras. Dia harus bicara dengan Rima. Sesekali diliriknya Rima yang sedang tertawa bersama Emira di sela-sela waktu belajar. Tyo ikut tersenyum.
"Ayahh, Mira udah selesai."
Emira berdiri di hadapan Tyo, gadis kecil itu menggandeng tangan Rima.
"Hey, sayang. Udah beneran belajarnya?"
Emira mengangguk.
"Ehm, Ayah mau ngomong sama Bunda guru sebentar boleh engga?"
Emira menatap Rima, dan mengangguk. Sedangkan Rima bertanya-tanya dalam hati.
"Eh kalo gitu Emira nunggu sama Savitri dan Tante Ratna ya, mau? Sambil baca buku cerita."
Emira mengangguk dan berlari masuk menghampiri Ratna dan seorang muridnya.
"Ehm, ada apa ya mas?"
"Aku..mau minta maaf. Karena kata-kataku beberapa hari yang lalu.
Rima menunduk. Entah kenapa, tapi dia lega. Beberapa hari ini dia memikirkan Tyo. Ada perasaan yang menurutnya 'aneh'. Dia ga ingin Tyo cuek, ga peduli. Dia ingin Tyo tetap menjadi seperti Tyo nya. Tyonya?? Rima merasa malu dengan pikirannya sendiri.
"Iya mas, gapapa kok."
Tyo lega mendengarnya. Tyo mengulurkan ponselnya pada Rima. Rima menerima ponsel itu masih dengan pikiran bertanya-tanya.
"Ini..apa mas?"
"Liat aja dulu."
Rima memperhatikan foto-foto yang ditunjukkan Tyo. Awalnya dengan ekspresi heran, semakin lama wajahnya menunjukkan ekspresi kaget.
"Kok?! Ini kan pas aku mau jemput Yulia?"
"Trus kamu ketemu Adhi?"
"Iya, dia bilang juga nungguin Yulia."
"Yulianya kemana?"
Tyo bertanya dengan nada setenang mungkin.
"Saya udah telpon Yulia, ponselnya ga aktif. Tau-tau dia wa katanya udah pulang."
"Oh, trus kamu pulang sama Adhi?"
Rima menggigit bibirnya. Dia tahu dia bersalah, terlalu banyak yang dilanggarnya.
"Ehm, saya udah coba pesen taksi online mas, tapi ga dapet-dapet."
Tyo tersenyum, memperhatikan wajah Rima yang kelihatan bersalah.
"Kenapa ga telpon saya?"
"Saya..serba salah mas. Kalo pulang dengan mas Tyo sama aja saya berduaan dengan orang yang ga halal buat saya."
Rima merasakan matanya berkaca-kaca, dia memang harus bertaubat. Apakah memang godaan ketika hijrah semenipu ini. Suatu hal yang membuat hatinya merasa melakukan hal biasa, tapi bisa berujung dosa.
"Berkhalwat itu dosa, makanya nikah aja..sama saya."
Tyo menggodanya, mencoba mencairkan suasana. Rima tersenyum sedikit.
"Tapii..kenapa foto-foto itu bisa di Mas Tyo??"
Rima mengernyitkan keningnya.
"Ini semua karena sahabatmu yang ga waras itu."
Rima memandang Tyo dengan tatatapan 'sahabat-ga waras-siapa?' Mencoba berharap bahwa foto-foto itu bukan ulah Yulia.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Please like, bintang dan love nya yess β€οΈβ€οΈβ€οΈ