Menjadi Orang Ketiga

Menjadi Orang Ketiga
Melangkah Maju


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohiim


Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung


❤️❤️❤️


"You cannot always be very best friend, sometimes it's enough just to be good friends and stop giving yourself trouble"


-mh-


3 hari kemudian.


Rima baru saja sampai di rumahnya, jalanan lumayan padat dan melelahkan. Tapi mendung sudah menggelantung di langit.


Rima baru saja keluar dari kamar mandi, kakinya melangkah ke dapur.


"Mau bikin apa Rima?"


"Hehehe kopi bu, Rima ngantuk. Sebentar lagi Emira dan Safitri datang."


"Ya istirahat aja dulu kalo gitu,"


Ibu masih sibuk di dapur, sementara Rima melangkah ke meja dengan secangkir kopi.


Mata Rima membulat melihat sebuah kotak kue dengan label toko cake ternama di kota ini. Kotak berbentuk segi empat itu ada tulisan namanya. Satu kotak lainnya berbentuk memanjang, dengan 6 buah cupcake warna warni.


Rima merasa dia tidak berulang tahun. Walaupun sedang ulang tahun pun dia ga pernah merayakannya.


"Bu, ini kue dari siapa?"


Ibu tersenyum, berjalan mendekat ke meja makan dan duduk.


"Menurut kamu dari siapa?"


"Ih ibu kok main rahasia-rahasiaan?"


Mereka tertawa.


"Mmm, tadi nak Tyo kesini sama Ibunya,"


Rima terdiam. Tyo ternyata bertindak lebih cepat dari dugaannya.


"Emang..ngapain bu? Kok dia sama Ibunya?"


"Yaa,ngelamar kamu."


Rima menelan kopinya dengan susah payah.


"Dia juga bilang kalo kamu ngasi syarat,belajar islam dulu. Makanya nak Tyo secepatnya ngelamar takut keduluan yang lain,"


"Trus Ibu bilang apa?"


Ibu terkekeh, melihat ekspresi Rima yang kelihatan resah.


"Ya ibu bilang, keputusannya terserah kamu kan kamu yang nanti menjalani. Kamu gimana?"


Rima diam lagi.


"Belum tau bu,"


"Rim, ibu ini orang tua. Ibu bisa merasakan mana laki-laki yang baik dan engga buat kamu. Memang nak Tyo duda dan usianya terpaut 10 tahun sama kamu. Tapi ibu yakin dia akan jadi imam yang baik buat kamu."


Ibu menyentuh tangan Rima, menatapnya dengan sayang. Rima merebahkan kepalanya ke pundak Ibunya. Berharap resah hatinya dapat memudar.


"Rim, dipikir bener-bener ya. Jangan gegabah ambil keputusan."


Rima menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, tadi nak Tyo juga bilang mungkin ga bisa sering kesini karena dia harus rutin ikut kajian."


Rima membuka matanya tiba-tiba. Dia tidak menyangka Tyo akan seserius itu.


"Duh, yang ga diapelin langsung kaget."


Ibu terkekeh.


"Apaan sih Ibu,"


Rima mengerucutkan bibirnya.


"Nak Tyo ikut kajiannya agak jauh dari sini. Dia juga takut tergoda katanya kalo terlalu sering liat kamu."


Ibu tersenyum menggoda Rima yang wajahnya sudah merah.

__ADS_1


"Ibuuu, jangan bilang gitu ah. Rima jadi malu."


"Malu tapi seneng kan?"


Ibu meletakkan sebuah kotak beludru berwarna merah di meja.


"Nak Tyo titip pesan, kalo kamu nerima lamarannya nanti pake cincin ini. Trus difoto dikirim ke dia katanya gitu. Biar kekinian."


Rima semakin merona. Duh laki-laki dewasa itu membuat debar jantungnya jadi tak teratur.



🎈🎈🎈


[Sudah terima kuenya?]


Satu pesan whatsap mengalihkan fokus Rima.


[sudah mas, makasih ya]


[jawabannya saya tunggu]


[2 bulan lagi kan?!]


[58 hari lagi 😉]


Rima gugup, Tyo menghitung dengan rinci.


[saya istikharah dulu ya mas]


[semoga hasil istikharahnya bagus buat saya ❤️]


Rima tersenyum, gaya Tyo sangat khas. Sangat to the point.


🌷🌷🌷


Rima baru saja selesai mengajar murid les nya. Emira sedang menunggu jemputan, dia sedang duduk bersama Ibu di ruang makan sambil menikmati burger home made.


Rima dikejutkan dengan kedatangan Yulia. Wajahnya kuyu. Sudah beberapa hari ini Rima mencoba menghubungi Yulia, tapi telpon dan pesan teks nya tak berbalas.


"Yul, kamu baik-baik aja kan?"


"Engga begitu,"


Rima melirik ruang makan, takut ibunya melihat kondisi Yulia yang galau.


Yulia hanya mengangguk lemah dan naik ke lantai 2.


Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Rima.


"Assalamualaikum,"


Tyo muncul dengan Syarifa.


"Waalaikumsalam,"


Rima langsung paham tatapan mata Tyo pada mobil Yulia.


"Ngapain dia disini?"


"Mas masuk dulu, mau maghrib. Emira juga lagi makan sama Ibu."


"Hmm,"


"Om ga sholat ke mesjid dulu?"


Tyo langsung melangkah tanpa berpamitan. Rima tersenyum masam pada Syarifa yang heran kenapa Om nya seperti bad mood.


Sementara Yulia mengamati dari jendela lebar di lantai 2.


Selesai sholat magrib, Tyo langsung pulang. Wajahnya datar, tanpa senyum. Sementara Rima terlihat salah tingkah. Syarifa memandang semua itu dengan bingung.


🍁🍁🍁


[kenapa masih sama Yulia?]


Pesan teks dari Tyo hanya dibaca Rima, dia ga tahu harus membalas apa. Tidak mungkin bagi Rima menolak Yulia yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMP.


[kok ga dibales sih?]


Tyo gemas.


[saya ga tau mau bales apa mas]

__ADS_1


[friendship is good, it's not good anymore when your bestfriend let you do bad things, turn you into someone else]


Rima paham betul dengan pesan Tyo. Dia sadar Yulia memaksanya melakukan hal-hal yang salah. Tapi yang Tyo tidak tahu, Rima sudah berjanji pada seseorang tidak akan meninggalkan Yulia, apapun yang terjadi.


[I know Mas, thank u for reminding me]


Tyo membaca pesan dari Rima dan melempar ponselnya ke laci dashboard. Tyo kesal, melihat Yulia masih datang pada Rima. Ada perasaan kuatir Rima akan bertemu Adhi lagi.


Tetapi kekuatiran terbesarnya adalah dia takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada Rima. Tyo yakin Yulia bisa nekat dan melakukan apapun. Termasuk mencelakai Rima.


Tyo menghela napasnya dan menginjak pedal gas lebih dalam.


🍁🍁🍁


"Adhi sudah bilang selesai Rim,"


"Itu lebih baik buat kalian Yul,"


"Lebih baik apanya? Aku kehilangan semangat."


"Yul, coba kamu rasakan lagi pake hati. Kamu punya mas Dani yang sayang banget sama kamu."


"Dia ga sama dengan Adhi,"


"Tapi kan itu pilihanmu dulu Yul,"


"Aku sudah bilang minta cerai Rim,"


"Apa?!!"


Rima merasakan tangannya gemetar karena jantungnya berdetak keras.


"Yul kamu sudah pikirin bener? Cerai itu ga semudah yang kamu bayangin."


"Terserahlah Rim, aku cuma mau sama Adhi."


Rima diam, ga tahu lagi mau bilang apa.


"Tapi...Adhi ga mau nikah sama aku Rim."


Rima hanya menggelengkan kepalanya dengan lelah.


"Rim, kamu jangan deket-deket sama Tyo."


"Loh?! Ini apa lagi sih Yul?"


"Rima! Gara-gara dia kamu jauhin aku kan?!"


Yulia mengguncang bahu Rima dengan keras. Dia tiba-tiba marah membuat Rima terpaku.


"Yul, ssttt jangan keras-keras nanti Ibu dengar."


"Pokoknya aku ga mau kamu deket Tyo,"


Rima semakin bingung dengan tingkah Yulia. Topiknya yang berpindah-pindah cepat membuat kepala Rima ngilu. Ada apa dengan Yulia? Dia cemburu pada Tyo, resah karena diputusin Adhi. Ini saat-saat paling susah menghadapi Yulia. Rima teringat perkataan seseorang, bertahun yang lalu.


"Rima, saya titip Yulia. Jaga dia karena dia cuma percaya dan nurut sama kamu."


"Saya..saya ga yakin bisa jaga Yulia. Saya ga bisa janji."


"Saya yakin kamu bisa, tolong jangan menolak. Ini permintaan terakhir saya."


Pria itu tersenyum sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan Rima dengan kegamangan karena pesan terakhirnya itu.


"Rim kamu harus bantu aku, sampai aku nikah sama Adhi."


Rima tersentak kaget dengan suara Yulia. Lamunannya buyar begitu saja.


"Engga Yul! Sudah cukup Yulia!"


"Kamu juga ga boleh bilang tentang Adhi sama Mas Dani Rim,"


"Yul, aku ga buka rahasia. Ga akan. Tapi aku juga lelah dengan rahasia baru. Dan aku ngerasa bersalah bohongin mas Dani terus."


"Sekarang ini Yul kamu pakai otak kamu yang logis, pikir masa depan kamu. Kamu ga akan muda dan cantik terus. Pikirin itu! Kalo kamu sakit, tua, siapa yang akan ngerawat."


"Kamu ngomong apa sih Rim?"


"Sekarang kamu ga ngerasa Yul, karena kamu sehat, cantik, kaya. Kamu seperti ga butuh mas Dani. Tapi pikirin jangka panjang donk."


"Aduhh cara pikirmu itu rumit Rim,"


Huffff

__ADS_1


Rima bernafas lelah. Dia tahu ini waktunya berhenti bicara. Yulia terlalu keras kepala.


Yuk di like dan komen..like dan komenmu sangat berarti untuk author 🥰🥰🥰


__ADS_2