
Bismillah ....
Dani mengendarai mobilnya tak tentu arah, ditemani hujan gerimis yang perlahan menjadi deras. Jalanan menjadi lengang karena hujan membuat banyak orang memilih berteduh. Sebenarnya pun Dani ingin berteduh, pulang ke rumahnya dan bermimpi menemukan kehangatan dari cinta istrinya. Tetapi, ketika perselingkuhan itu terpeta jelas di benaknya, keinginan untuk pulang itu menguap hilang tak berbekas.
Tadi ketika dia menatap foto Yulia dan Adhi dengan marah, dia ingin segera pulang dan mengkonfrontasi Yulia. Bahkan mungkin mengucap talak! Tapi kenangan yang tiba-tiba menghampirinya membuatnya tak ingin pulang. Kenangan masa indah bersama Yulia. Ketika Yulia masih mencintai dan membutuhkannya.
Dani mengemudikan mobilnya ke arah Green Barn, resto milik Yuanita. Sepertinya mencurahkan kegelisahannya pada Yuanita merupakan cara yang tepat saat ini. Yuanita memang lebih dewasa daripada Yulia. Dan jauh sebelum menikah dengan Yulia, Dani sudah mengenal wanita itu dan juga suaminya yang kebetulan kakak sepupu Dani.
Resto milik Yuanita lumayan sepi karena ini bukan hari libur. Dani berlari kecil dari parkiran ke dalam mobil. Amplop cokelat itu dibawanya serta.
"Bu Yuan ada Tin?" tanya Dani pada Tina di bagian kasir.
"Ada Pak, tadi pamit salat. Silahkan ditunggu Pak biar saya panggilkan." Tina tersenyum ramah sambil menunjuk pada sebuah meja di dekat jendela. Pemandangan jalan raya yang sedikit lengang terlihat dari jendela persegi panjang itu. Mengapa rasanya semua menjadi muram hari ini?
"Loh Dan, apa kabar? Lama ga jumpa." Suara berat seorang lelaki menyapa Dani dari arah belakang. Dani menoleh dan matanya bersinar melihat siapa yang menyapanya.
"Wah Bang Ali, kapan datangnya? Sampe kangen nih,"
Kedua lelaki itu berpelukan setelah berjabat tangan ala lelaki. Ali Mufti adalah suami Yuanita, lelaki berusia 46 tahun itu bekerja di sebuah tambang batu bara di Kalimantan.
"Aku udah 3 hari disini, kamu aja yang jarang nongol. Gimana kabar Yul? Baik aja kan? Apa dia masih suka ngambek?" tanya Ali dengan nada bercanda. Tetapi bagi Dani itu membuat hatinya perih lagi. Dia kembali teringat pada Yulia. Apa yang sedang dilakukan istrinya itu sekarang? Seharian ini mereka tidak saling bertukar kabar. Dani tersenyum kecut.
Dia tiba-tiba menyadari betapa tidak hangatnya hubungan mereka. Bertukar kabar lewat telepon atau pesan teks saja sangat jarang. Karena Dani menganggap Yulia tidak akan suka diganggu dengan hal remeh begitu. Dani merasa menyesal.
"Eh kok ngelamun Dan? Duduk deh, ga sama Yul kesini?" Bang Ali berucap lagi sembari ikut duduk di hadapan Dani.
Dani menggeleng dengan enggan.
"Kamu kok hujan-hujanan Dan? Mentang-mentang ada istri sengaja pengen masuk angin ya? Biar dipijetin sama Yul," Bang Ali terkekeh. Lelaki berkulit cokelat itu tak sadar wajah Dani semakin murung.
"Iya Bang, tadi kehujanan pas mau masuk mobil," jawab Dani sambil mengibas rambutnya yang basah dengan tangannya yang terasa dingin.
"Apa ini Dan? Berkas penting? Kok basah gini?" tangan Bang Ali meraih amplop yang diletakkan Dani di meja.
__ADS_1
"Eh itu Bang, file saya," Dani dengan cepat merebut amplop itu membuat Bang Ali heran.
"Kamu mau ketemu Yuan? Nah itu dia ... " Bang Ali menunjuk Yuanita yang berjalan ke arah mereka. Tak lama mereka bertiga pun duduk dan bercakap-cakap santai. Yuanita melihat kegelisahan Dani tapi tak berani bertanya. Dia akan menunggu sampai Dani siap bercerita walaupun hatinya memiliki firasat buruk.
Secangkir kopi hitam yang wangi, teh panas dan wedang jahe gula merah diletakkan seorang waitres di depan mereka. Tak lama sepiring banana fritters, siomay dan singkong keju juga menyusul. Hidangan itu terlihat sangat menggoda, apalagi disajikan saat hujan turun dengan deras seperti sekarang.
Tetapi bagi Dani semuanya terasa hambar dan tak menarik. Dia hanya termangu menatap kosong entah kemana.
"Dan, kamu kenapa? Dari tadi kelihatan ga semangat?" tanya Yuanita yang sudah tak sabar. Dia melirik suaminya yang juga sedang meliriknya.
"Saya ... saya ... Yulia selingkuh mbak." ucap Dani lirih. Lelaki itu kemudian menundukkan kepalanya lelah. Yuanita menghela nafas dengan lelah, kemudian melirik suaminya yang juga meliriknya. Yuanita sangat mengenal karakter adiknya. Yulia yang selalu bertingkah. Hanya Rima yang bisa meredam tingkahnya yang liar.
Dan ... Yuanita pun sudah lama mencium aroma perselingkuhan ini. Dia pernah memergoki Yulia bersama Adhi, pernah juga melihat mereka berdua dengan Rima sebagai 'alibi'. Dia tidak menyalahkan Rima yang menyembunyikan perselingkuhan ini. Yuanita yakin Rima pun terpaksa menuruti kemauan Yulia.
"Dan, aku minta maaf. Sebenarnya ... aku sudah menduga itu." Yuanita mengucapkan itu dengan takut. Dia menggenggam tangan suaminya dengan erat. Seolah meminta dukungan. Ali balas menggenggamnya. Yuanita sudah pernah bercerita tentang ini padanya. Saat itu mereka tidak tahu harus melakukan apa. Jika harus membongkar perselingkuhan itu, mereka belum memiliki bukti dan sedikit ragu untuk mencampuri urusan rumah tangga Dani dan Yulia.
"Jadi mbak Yuan juga udah tau? Mungkin cuma saya yang ***** disini. Rima juga tau tapi dia ikut menyembunyikan perselingkuhan Yulia!"
Dani menatap Yuanita tajam.
Dani merobek amplop itu dan menunjukkan foto-foto Yulia dan Adhi. Yuanita menutup matanya, dia tak sanggup melihat foto-foto itu.
"Kalian semua sekongkol bikin aku kaya orang ******!! Aku dikhianati mbak! Apa mbak memang sengaja ga ngasi tau aku?! biar aku diketawain gitu?!"
"Puas mbak sekarang?! Aku sudah hancur, ga punya harga diri sebagai suami!!"
Ali memberi kode pada Dani untuk tenang. Karena beberapa pasang mata menatap mereka. Tapi Dani kelihatan tak peduli.
"Dan, aku minta maaf. Aku ga ngasi tau kamu bukan karena aku tega. Tapi aku ga mau ikut campur Dan. Aku juga ga ada bukti nuduh adikku sendiri selingkuh. Posisiku sama kaya Rima, kami sama-sama serba salah! Maaf Dan, aku akui ikut andil bikin kamu jadi kaya gini."
Dani melengos mendengar ucapan Yuanita.
"Dan, kamu tenangkan diri dulu. Kami ga punya hak untuk ngasi kamu saran. Aku juga laki-laki Dan, aku tau kamu pasti sakit hati. Tapi sebelum kamu ngambil keputusan penting, pikirkan dulu matang-matang."
__ADS_1
Ali menatap Dani dan menepuk pundaknya dengan lembut. Dani menatap kakak sepupunya itu sebentar. Ali benar dia harus menenangkan diri dulu. Entah keputusan apa yang nanti diambilnya, dia tak harus memutuskan sekarang.
Dengan lunglai Dani berdiri, melangkah menuju mobilnya.
Dia akan pulang. Pulang dan menemui Yulia untuk membicarakan semua.
πππ
Rumah berlantai dua itu terlihat sepi. Dan hujan belum juga berhenti.
"Ini semua bukti perselingkuhan kamu dengan Adhi!"
Foto-foto itu dilempar Dani ke meja kaca di depan televisi. Ruangan itu sunyi, hanya suara isak tangis Yulia yang terdengar.
"Aku juga ga nyangka kamu tega menjebak Rima, selama ini aku buta karena cuma ngeliat kelebihan kamu aja Yul. Dan mati-matian menerima semua kekurangan kamu."
Yulia masih diam.
"Sekarang, aku bebasin kamu Yul. Terserah kamu mau apa. Kamu boleh pergi sama Adhi, atau nongkrong sama temen-temenmu yang ga jelas itu, kamu boleh ninggalin aku Yul! Kamu sudah membuktikan kalo aku memang ga layak buat kamu."
Dani mengucapkan semua itu dengan lelah. Dia sama sekali tidak menatap Yulia. Istrinya itu terlihat pucat melihat semua bukti yang dibawa Dani. Akhirnya aibnya terbuka. Ada sedih yang terselip di hatinya, tetapi entah kenapa dia merasa lega. Lega karena akhirnya dia tak perlu lagi berbohong.
"Sudahlah Yul, aku capek." Dani melangkah pergi meninggalkan Yulia yang masih tertegun entah memikirkan apa.
Melihat Dani melangkah masuk ke kamar tamu, Yulia merasa ada sesuatu yang hilang di hatinya. Tiba-tiba dia merasa tidak ingin kehilangan Dani.
Kisah indahnya dengan Dani berkelebatan memenuhi kepalanya. Dani yang selalu mengalah, menuruti kemauannya, memberi perhatian berlebih padanya. Dani yang tak pernah banyak bertanya padanya, memberi dia kebebasan kemana dia ingin pergi.
Yulia menggigit bibirnya dan merasakan air matanya mengalir semakin deras. Dia baru menyadari betapa Dani mencintainya. Dan dia pun juga begitu.
Terima kasih sudah baca β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
Salam hangat dari Malang yang dingin
__ADS_1
Mariana