
Bismillahirrohmanirrohiim
Mulai setiap langkah dengan menyebut nama Allah
❤️❤️❤️
Tyo POV
Aku, Setyo Perwira duda beranak satu, usia 36 tahun. Dari segi finansial aku sudah cukup mapan, pekerjaan di zona nyaman, rumah, mobil dan beberapa tanah perkebunan sudah aku miliki. Belum lagi villa di daerah Batu yang biasanya disewakan pada wisatawan. Bisa dibilang aku sudah ga cemas masalah uang dan masa depan putri semata wayangku Emira.
Istriku, Tiara meninggal ketika Emira berusia 8 tahun. Dia mengalami kecelakaan ketika perjalanan ke tempat kerjanya. Setelah istriku meninggal aku sempat menutup diri dan hanya fokus pada Emira, entahlah aku belum move on. Belum bisa membuka hati pada wanita lain.
Sementara itu aku mulai sedikit kewalahan dengan Emira, aku sadar dia membutuhkan sosok seorang ibu. Sampai suatu hari aku dipanggil pihak sekolah, mereka menyampaikan tentang kondisi Emira yang prestasinya sangat menurun di sekolah. Emira juga sering tidak fokus ketika pelajaran, sedangkan ujian akhir semakin dekat. Aku bingung harus apa. Untunglah Syarifa, keponakanku menawarkan solusi. Dia menceritakan tentang Ibu Rima, gurunya yang sudah berhasil membuat beberapa murid di sekolahnya meningkat hasil belajarnya. Syarifa juga menceritakan gimana Ibu Rima mengajar, dengan cara yang berbeda dengan guru lain. Katanya sih Ibu Rima ini menggunakan banyak pendekatan, sehingga banyak murid yang merasa senang ketika belajar. Aku pun tertarik dan mengajak Syarifa menemui Ibu Rima.
Sore itu Aku mengajak Emira menemui Ibu Rima, tentunya Syarifa juga ikut. Aku berharap Ibu Rima setuju untuk memberikan bimbingan belajar tambahan pada Emira. Yang terjadi justru di luar dugaanku. Ibu Rima ga hanya setuju memberi Emira bimbingan, tetapi aku juga dibuat salah tingkah dengan paras Ibu Rima yang begitu manis dan teduh. Bu guru ini juga sukses membuat detak jantungku jadi ga karuan. Senyumnya yang super manis kelihatannya bisa merontokkan pertahananku.
Aku sadar aku langsung jatuh cinta begitu melihat wajah Karima -aku panggil namanya aja deh, biar akrab 😁- yang manis dan teduh. Dia memang ga secantik wanita-wanita yang aku kenal dan berusaha mendekatiku, tapi entahlah. Ada pesona lain yang seperti menghipnotisku ketika melihatnya. Mungkin...kesederhanaannya dan sikapnya yang ga dibuat-buat.
Aku jadi merasa seperti abg labil yang sedang jatuh cinta, duh wajahnya sering kebayang tanpa diundang. Pengen nanya nomer wa nya sama Syarifa, tapi aku takut diketawain. Umur udah hampir kepala 4 masak iya mau memperlihatkan kalo aku lagi naksir gurunya. Bisa-bisa aku dijadikan bahan guyonan seluruh keluargaku. Ayahnya Syarifa itu kakaku, yang jelas Syarifa pasti ngomong sama Ayahnya kalo aku lagi jatuh cinta. Duhh...gaswat!
Tyo POV end
❤️❤️❤️
Syarifa melirik om nya yang sedang fokus menyetir. Sesekali dilihatnya laki-laki itu tersenyum-senyum.
"Ehemm..ehemm...ada yang lagi hepi nih."
Syarifa mengikik pelan.
Tyo meliriknya sekilas.
"Bu Rima manis ya Om?"
"Hm"
"Halah..bilang aja sudah naksir. Syarifa bukan anak kecil kali. Taulah kode-kode keras macam tadi."
"Kamu memang anak kecil..sok tau lagi."
__ADS_1
Tyo masih menatap jalanan, sedangkan Emira asik dengan komiknya.
"Om..bu Rima itu banyak yang naksir loh. Kalo om memang naksir cepetan dilamar. Ntar telat nyesel loh."
"Emang siapa aja yang naksir?"
Tyo melirik keponakannya sekilas. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul. Gimana kalo Karima sudah ada yang punya.
"Mmm...ada beberapa sih yang suka sama bu Rima. Tau ga om?!"
"Engga!"
Tyo memotong kalimat Syarifa yang belum selesai. Menyembunyikan kegugupannya mendengar info Syarifa.
"Ih..om Tyooooo!! Dengerin dulu aku ngomong."
"Iya..iya..bawel amat sih. Siapa lagi yang naksir?!"
"Yeeeee..ada yang penasaran tapi jaim nih hahahahahaha."
Syarifa terbahak menatap Tyo yang wajahnya sudah memerah.
"Om, yang naksir bu Rima itu high quality jomblo semua loh. Hmmm..ada guru baru sih, ganteng dan imutt. Dan kayanya finacially safe gituh. Dia jelas-jelas pdkt sama bu Rima. Teerrusssss..ada lagi mas-mas ganteng sipit putih yang suka nyegat bu Rima di depan sekolah. Kayanya sih juga naksir."
Tyo berusaha menahan nada suaranya agar tetap biasa saja.
"Kok cuma 'oh gitu'?! Emang om Tyo ga mau deketin juga? Tadi aja ngeliatin mlulu."
"Hmm berisik banget sih kamu Fa."
"Hahahahah..berisik apa berisik?! Naksir engga sih?"
"Iya..iya..Om Tyo suka sama bu Rima."
Tyo menggaruk kepalanya yang ga gatal. Menyerah dengan 'interogasi' keponakannya. Sementara Syarifa terbahak penuh kemenangan.
"Ayah..Mira juga suka sama bunda guru. Bunda guru cantiiiikk banget."
"Tuhh om..Mira sudah setuju. Tunggu apalagi?! Hajarr langsung."
__ADS_1
Syarifa terbahak lagi. Sementara Emira tersenyum memandang Ayahnya.
"Hajar gimana?! Emang tanding tinju. Saya bingung deketinnya Fa. Om ini udah bukan abg. Masak iya mau telpon-telponan ato chattingan kaya kamu kalo naksir."
"Aduhh om ini kuno deh, bu Rima itu mana mau di deketin cara gitu. Langsung aja tanyain mau taaruf engga?"
"Hah taaruf?! Aduhh apalagi itu Fa?!"
Tyo mengerutkan keningnya.
"Ampuunnn deh om Tyo ini. Ntar deh aku jelasin di rumah. Sekarang...akuu laperrr."
Syarifa tersenyum penuh arti pada Tyo sembari mengelus-elus perutnya dengan lebay. Sedangkan Tyo mencebikkan bibirnya.
"Hadehhh...nodongg. Dasar ponakan sableng."
Syarifa pun tertawa dengan respons Tyo.
Sementara bayangan wajah Karima seperti mengikuti Tyo kemana-mana. Tyo berusaha menahan senyumnya ketika mengingat senyum Karima dan bagaimana Karima mendekap Emira tadi. Tyo mulai berpikir tentang langkah apa yang akan dia lakukan untuk mendekati Karima.
Ah..sialnya dia seperti buntu. Ga punya jalan untuk pdkt. Tyo mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Sementara Syarifa melirik om nya dan tersenyum-senyum.
"Om..gini aja deh kalo bingung caranya deketin. Biar Syarifa yang cari cara."
Tyo hanya melirik ponakannnya itu, diam tak menjawab.
"Nih ya..karena om Tyo udah nraktir aku, sebagai balasannya..akuuu...akannn..ngasiiii..nomer wa bu Rima."
Tyo langsung menoleh menatap Syarifa dengan mata berbinar.
"Eh..eh..lihat ke jalan dong Om. Mentang-mentang lagi seneng."
Syarifa mencebikkan bibirnya sementara Tyo tersenyum lebar sambil mengacak kepala Syarifa yang tertutup hijab.
Ga nyangka..maksud hati nyari guru untuk Emira. Apa daya hati Tyo yang bertekuk lutut pada pesona bu Guru.
Follow dulu yuks
Saya tunggu vote dan komennya yaaa 🤗🤗
__ADS_1
Setyo Perwira