
Bismillahirrohmanirrohiim
Memulai setiap langkah dengan nama Allah yang Maha Agung
❤️❤️❤️
'Sahabat itu seperti mata dan tangan. Ketika mata menangis, tangan mengusap. Ketika tangan terluka, mata menangis.'
-anonymous-
Flash back
Kejadian di sky lounge
"Yul, kamu apa kabar?"
Adhi baru saja duduk, menatap Yulia yang menyandarkan kepalanya dan menutup mata.
"Capek.."
Yulia menjawab pendek.
"Kangen juga,"
Yulia membuka matanya, menatap Adhi dengan sendu.
"Kita..harus bicara Yul,"
"Tentang apa?"
"Kita ga bisa teruskan hubungan ini Yul,"
"Kenapa? Kamu takut sama mas Dani? Atau...kamu sudah punya yang lain?"
"Yul, hidupmu harus terus berjalan. Dan kita ga bisa selamanya begini."
"Aku sudah minta cerai dari Mas Dani."
"That's not the point Yul, cerai itu ga semudah yang kamu pikir."
"Kamu jadi aneh sih Dhi? Kenapa jadi muter-muter gitu sih ngomongnya. Bukannya bagus ya kalo aku cerai?!"
Yulia membelalakkan matanya yang indah, dihiasi eyeliner yang dilukis sempurna.
"Aku ga mau melanjutkan hubungan kita Yul, sudah cukup. Aku..aku..mau hidupku berjalan normal Yul."
Adhi memelankan suaranya yang gemetar. Rima menangkap dengan jelas semua yang diucapkan Adhi. Ada kelegaan sekaligus kerisauan, dia sungguh risau dengan respon Yulia.
"Normal?! Jadi selama ini hidupmu ga normal gitu?! Trus apa artinya aku selama ini?! Apa Dhi?! Barang mainan yang bisa kamu tinggal kalo udah bosan gitu?!"
Yulia menatap Adhi dengan marah. Sementara Rima sudah mulai gelisah, dia takut situasi jadi ga terkendali. Dia tahu betul bagaimana Yulia ketika marah. Atau lebih tepatnya murka!
__ADS_1
"Jawab Dhi!! Kenapa diem aja hah?!"
Adhi diam, mengusap wajahnya kasar. Dia kehilangan kata untuk menjelaskan.
"Yul, kita bicara baik-baik. Kita sama-sama sudah dewasa kan? Aku cuma pengen kamu kembali ke suamimu. Kita lupakan semuanya."
"Gila kamu Dhi!! Setelah semuanya kamu bilang lupakan?! Kita tu bukan pacaran runtang runtang ala anak SMP Dhi, I have given my all to you, kamu lupa?! Tiba-tiba amnesia?! Dulu kamu selalu bilang pengen punya anak dari aku!"
Rima melotot, shock. Apa yang baru dibilang Yulia? Memberikan semuanya? Maksudnya? Rima merinding.
"Yul, maksutnya apa? Kamu ngasi apa ke Adhi?"
Rima menatap Yulia, bersiap untuk mendengarkan kenyataan yang menurut dia menjijikkan.
"Kami..kami..yaa kami sudah tidur bersama Rim."
Yulia menjawab lirih, dia pun takut pada respons Rima.
"Apa?!! Gila ya kalian berdua!!"
Adhi menunduk, dia belum pernah melihat Rima marah seperti ini.
"Yul, sudahlah. Cukup Yul, kita selesai."
"Aku engga mau Dhi!"
"Yul, aku mau mulai hidupku dari awal lagi, aku cinta sama orang lain Yul bukan kamu!!"
Rima merasakan ada sesuatu yang meremas dadanya. Perih. Mendengar Adhi mencintai orang lain, Adhi yang sudah jauh berhubungan dengan Yulia. Dia hanya menahan semua sakitnya sambil beristighfar lirih. Hatinya sudah ga sanggup menampung kecewa. Dia sudah muak dengan semua yang di dengarnya!
Yulia berdiri, menatap Adhi tajam dan mulai mengamuk. Gelas dan cangkir minuman dilemparkan ke arah Adhi. Rima yang sudah tahu ini akan terjadi, menangkap tangan Yulia, berusaha memeluknya.
"Yul, sudah Yul, malu. Yulia, istighfar!"
Yulia mendorong Rima dengan kasar. Dia masih terus mengamuk, mencakar Adhi dan menarik bajunya. Dan...plak!
Adhi menamparnya, menyadarkan Yulia dari kemarahannya. Perempuan itu menangis, terduduk di lantai.
Dan saat itulah Tyo mendobrak masuk.
🍂🍂🍂
Adhi PoV
Bodoh! Satu kata yang tepat untukku. Memulai hubungan dengan Yulia adalah kesalahan sekaligus kebodohan terbesarku.
Aku sudah mengenal Yulia cukup lama, kami bersahabat sejak SMP. Dia memang sangat cantik, ceria dan menarik hati banyak laki-laki. Aku memang sudah jatuh hati sejak itu, tapi aku sadar diri. Yulia itu anak seorang konglomerat di kota kami. Sedangkan aku, aku cuma anak dari seorang pegawai biasa. Ayahku bekerja di kantor pajak, memang kami ga bisa dikatakan miskin. Hidupku berkecukupan, tapi jauh sekali jika dibandingkan dengan Yulia.
Sebenernya bukan hanya aku dan Yulia, Rima juga sahabatku. Kami sering kemana-mana bertiga. Rima, dia anak yang sederhana dan agak introvert. Di antara kami bertiga Rima memang yang paling ga mampu dari segi finansial. Abahnya hanya seorang kepala sekolah Mts di kota kami. Tapi, aku sangat kagum dengan keteguhan hati dan kepeduliannya pada teman.
Di antara sekian banyak teman Yulia, hanya Rima yang sanggup menghadapi Yulia dengan mood dan kebiasaannya yang kadang menguji kesabaran. Seperti ngaret pas janjian, ego nya yang tinggi dan sifat kolerisnya.
__ADS_1
Setelah lulus kuliah aku diterima kerja di sebuah perusahaan pertambangan asing di Kalimantan. Aku sudah bertekad setelah aku cukup mapan akan melamar Yulia. Tapi takdir berkata lain, Yulia menikah dengan Dani Ananta, sesama anak konglomerat di kota kami. Aku sempat patah hati. Saat itu hanya Rima tempat curhatku. Dia selalu menyemangati dan mengingatkan kalo aku harus fokus pada adik dan Ibuku.
Suatu hari kesempatan itu datang, reuni SMP. Kami bertemu kembali, dan Yulia di mataku menjadi jauh lebih cantik dan terlihat dewasa. Aku ga sanggup menolak pesonanya. Dari sekedar chat iseng, akhirnya kami mulai sering jalan bareng. Dan ketika aku menyatakan perasaan, aku ga nyangka Yulia akan menanggapi. Hubungan terlarang itu pun dimulai.
Yulia yang ga pernah merahasiakan apapun dari Rima akhirnya menceritakan hubungan kami. Rima hanya diam waktu itu, dan matanya berkaca-kaca.
"Akhiri sebelum berlanjut terlalu jauh Yul,"
Dia menggenggam tangan Yulia saat mengucapkan itu. Saat itu kami bertiga sedang nongkrong di sebuah kafe di Batu.
"Tenang aja deh Rim, ini ga akan ketauan."
Yulia hanya tersenyum cuek menanggapi Rima.
"Yul, bukan masalah ketauan atau engga. Hubunganmu sama Adhi aja sudah salah, efeknya ga akan baik untuk kamu atau Adhi."
Rima bersikeras.
"Rim, kamu ga perlu kuatir gitu. Aku janji akan jaga Yulia kok."
Aku ikut menenangkan Rima, sembari meletakkan tanganku di punggung tangannya. Rima langsung menarik tangannya. Aku sedikit heran, memang sejak kuliah dia mulai berubah, ga pernah lagi bercelana jeans, baju-bajunya terusan dan longgar. Kerudungnya juga lebar.
"Jangan pegang sembarangan!"
Rima melengos. Aku semakin semangat menggodanya.
"Hadehh, napa sih gitu aja sewot? Kamu udah punya pacar ya?"
Aku terkikik. Padahal aku tahu betul Rima belum pernah pacaran, selama sekolah dia sibuk belajar dan bekerja, mengajar privat di sana sini.
"Eh apa kamu aku kenalin sama Andra? Dia temen kerjaku, asli sini juga sih. Makanya ntar kita bisa double date."
"Ga minat."
Dia menjawab dengan judesnya. Memang dia sering judes sih sama aku, tapi aku malah semakin seru godain dia.
"Ganteng loh dia Rim, aku juga udah kenal."
Yulia ikut menjawab sambil mengerling pada Rima yang sudah manyun.
"Hey, kita disini ga mbahas aku ya. Tapi mbahas kalian. JANGAN TERUSKAN hubungan kalian yang rumit ini! Sudah, ayo pulang Yul. Ntar mas Dani nyariin."
Rima sudah hendak menarik tangan Yulia.
"Rim, justru kalo kamu disini mas Dani ga akan curiga. Aku juga tadi pamit sama mas Dani bilangnya mau hang out sama kamu."
Yulia malah balik menarik tangan Rima yang sekarang tertegun.
Sejak hari itu Rima menjadi alibi bagi kami, karena Dani hanya percaya pada Rima. Dan sejak saat itu Rima semakin menjaga jarak denganku. Aneh, biasanya dia ga seperti ini.
Like dan komennya ya pembaca 🥰🥰
__ADS_1