
Tahun 2014,
#Olivia
Sesuatu telah terjadi kepada hidupku…
Aku tidak pernah menyangka telah melakukan perjalaan sejauh ribuan mill sebelumnya. Tetapi faktanya itu terbukti di paspor ku. Ada lembaran cap yang membuktikan aku pulang ke Indonesia, setahun yang lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?
Aku hampir gila dalam semalam setelah menemukan kenyataan yang sangat aneh di pasporku. Apa tujuanku kesana?
Jika kemungkinan besar ini karena faktor amnesia jangka pendek, rasanya kemungkinan itu sangat kecil sekali—tidak mungkin karena itu. Aku bisa ingat siapa orang tua ku, adik ku, orang tua angkatku…pekerjaan dan calon tunangan ku—bahkan staff di perusahaanku dari tingkat tertinggi sampai terendah.
Aneh, apa yang sedang terjadi? Apa ada yang sedang mempermainkan ku?
***
#Kenzie
Aku rasa hidung dan kupingku sudah membeku. Sudah setengah jam aku berdiri di depan pagar rumah orang. Seperti seorang pencuri yang mengintai rumah incarannya— nyatanya aku sedang kebingungan.
Aku tak pernah berpikir, apalagi tertarik berpergian ke negara ini. Negeri seribu panda ini sungguh menyulitkan ku. Terutama dengan persiapan yang sangat minim. Setelah memastikan perkerjaan ku selesai di kantor, tanpa berpikir panjang lagi aku segera memesan tiket dan terbang ke negeri ini. Hal tergila yang pernah ku lakukan. Bagaimana jadinya nasib ku hanya berbekal Bahasa Inggris di Negara ini, dan terburuknya lagi aku tidak tahu bahwa saat ini di Beijing sedang turun salju!
__ADS_1
Ribuan jenis ketakutan menguasai otakku. Bahkan tak membiarkanku berpikir untuk mencari solusi, bagaimana aku bisa melarikan diri dari musim dingin ini? Apa aku akan tersesat? atau mati sia-sia di Negara orang?
Teeeet....Teet....
Suara bel rumah berdentang berkali-kali namun tidak ada respon dari orang yang berada di dalam rumah itu. Tangan ku juga hampir membeku karena berulang kali menekan bel tanpa menggunakan sarung tangan.
"Qǐngwèn, Ní shì shuí (maaf, dengan siapa)?" Mati aku! Apa yang dia bicarakan? Akhirnya terdengar suara seseorang wanita melalui intercom bell rumah yang ku kunjungi.
"Hmmm, sorry. Can you use English?" ujarku sebisanya dengan suara bergetar menahan dingin yang memeluk tubuh ku.
Cuaca sangat tidak bersahabat, salju semakin bertambah, membenamkan kaki ku. Begitupun dengan tubuhku yang hampir mati rasa. Ku eratkan peganganku memeluk jaket tebal ini, mencoba menghangatkan tubuh yang belum bisa menyesuaikan dengan iklim di Beijing.
"Who are you?” ujarnya lagi. Aku lega, syukurlah dia merespon dengan baik bahasa ku.
Tidak lama kemudian terdengar suara 'klik', kunci pintu pagar terbuka secara otomatis, aku melangkah ragu memasuki perkarangan rumah yang tertutupi dengan salju. Saat berada di depan pintu. Mataku teralihkan ke samping pintu masuk, ada tiga papan nama yang terpajang disana. Aku tersenyum bahagia dengan apa yang barusan ku baca—benar dengan apa yang aku tuju, sang pemilik nama ada dirumah ini!
"Come in..." Ujar seorang ibu paruh baya mempersilahkan ku masuk ke dalam rumahnya. Senyumnya hangat, sehangat ruangan yang ku masuki, menyambutku. Aku menunduk memberi hormat kepadanya. Lalu dipersilahkannya aku duduk di sofanya yang empuk. Ada beberapa heater yang menyala, menambah kehangatan dan kenyamanan ku berada di ruangan ini.
Ku edarkan mataku kesegala penjuru, berharap menemukan apa yang ku cari—Senyum mengembang, setelah ku lihat sesuatu yang membuatku tenang. Aku tak salah kemari. Ketika mata ku alihkan kembali kepada pemilik rumah—Ia justru menatap ku curiga, mungkin saja ia mengira aku punya niat jelek. Padahal, aku sekedar melihat foto yang berada di atas lemari kecil di samping tangga. "Olivia?" Tanya ibu itu dengan tatapan… yang aku rasa kurang nyaman.
"Umm, ya. Can I meet?"
__ADS_1
Dia tersenyum kepadaku. Saat itu aku mulai takut—mencurigakan. "Of course. Dari Indonesia?" aku terkesima saat dia menganti bahasanya.
Whoaah! Aku pikir dia akan menyantap ku dengan tatapan itu. Syukurlah, aku bisa bernafas lega sekarang. "Iya betul sekali! Sepertinya anda juga orang Indonesia ya?" aku ikut-ikutan menganti bahasa.
"Ya benar. Kalau boleh tahu kamu siapanya Olivia, ya?"
"Saya seniornya Olivia dari Indonesia. Kebetulan juga, semalam saya baru sampai di Beijing. Lalu segera mencari alamat ini. Syukurlah saya langsung bertemu dengan anda."
"Memangnya ada apa?"
"Disini cukup membinggungkan. Sulit sekali menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris. Adapun yang bisa, aksen mereka sungguh membinggungkan. Apalagi, saya tidak ada bekal sama sekali untuk kesini, bahkan sim card saya juga belum diganti. Saya benar-benar lost—Untung saja, semalam saya bertemu seseorang. Dia sangat baik, bahkan membantu saya membeli beberapa baju musim dingin dan menuntun saya hingga kesini—Saya hampir putus asa. Tapi syukur lah, saya bisa menemukan dengan cepat kediaman ini karenanya." Keluhku sok akrab.
"Wah, syukurlah nak. Tapi sayang sekali, Olivia sedang tidak ada di rumah. Biasanya sekitar jam dua siang dia baru pulang dari kerjanya."
"Dia kerja?" Ya… aku pikir dia hanya melanjutkan studinya.
"Iya, loh kamu tidak tahu?" Aku mengeleng. Bagaimana aku tahu, kehadirannya saja baru kusadari diminggu-minggu ini. Sudah lama memang aku menggenalnya, tapi untuk mengetahuinya lebih dalam aku tak meluangkan waktu untuk itu. Siapa dia? dan untuk apa ku cari tahu?
Suatu kemunafikan di lidah ku, mungkin otakku menolak sesuatu dari hati tentang peryataan itu. Aku selalu berpikir seperti ini—menolak fakta yang terjadi. Kenyataannya, kini aku malah menyusulnya ke Beijing.
Dia, Olivia, seorang anak perempuan kecil yang kini telah beranjak dewasa (aku tidak tahu bagaimana dia sekarang)—adik dari teman sepermainan ku, dulu. Aku menggenalnya pertama kali di sekolah menengah pertama, berlanjut di sekolah menengah atas. Hanya setahun berlanjut setahun dibeberapa tahun kemudian. Karena perbedaan tingkat di sekolah membuatku tidak terlalu mengenalnya. Sekarang, disini, aku belum tahu tujuan pasti ku. Hanya ego yang membawaku kesini. Perintah dari otak, tidak tahu apa hati ku ikut menyetujui perintah itu. Otak ku hanya memerintahkan saraf-saraf ku untuk menyusulnya, mengingatnya, lalu—
__ADS_1
Gila! Kenapa aku bisa disini?