Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Growing Pain


__ADS_3

#Kenzie


Aku terduduk lemas dipinggir trotoar setelah membaca lebaran terkoyak itu. Air mataku terjatuh—sangat deras. Aku tidak menyangka Olivia berbuat seperti itu— berupaya keras melupakannku.


Apa yang sudah kau lakukan? Ini bukan tulisan mu kan? Kamu baik-baik saja kan? Kamu masih menjaga cinta mu kan... Olivia... Jangan membohongi ku dengan tulisan ini. Sungguh ini lelucon yang payah...


Kata-kata dalam lembaran ini seakan membunuhku— Aku menghapus air mata.


Aku masih terduduk lemas di trotoar, seorang menghampiriku dan menanyakan sesuatu dalam bahasa mandarin. Aku tersadar dan hanya memberikan senyum, lalu dia membantuku berdiri—masih setengah sadar. Setelah ku rasakan tubuhku bisa di ajak kompromi, aku melangkah dengan pasti, walau langkah itu berat. Kertas yang ku pegang kini kembali terkoyak. Aku berlari dengan air matanya yang menetes deras.


           Tidak mungkin! Tidak mungkin ini pasti mimpi!


Aku berlari sekuat tenaga. Tidak terasa aku sudah mendekati rumah yang ku tuju. Aku melihat Olivia yang duduk di depan pintu pagar. Aku menghentikan langkahku. Aku sungguh tidak kuat untuk menatap wajahnya. Ku kuat hati dan pikiran ku. Ku lanjutkan langkah, menemuinya. Sebelumnya ku perbaiki pakaianku dan menyeka mataku.


Hari ini dimana H-3 hari sebelum kepulanganku ke Indonesia. Dan hari ini pula, hari yang membuatku sangat berat dengan tujuan ku.


“Kau sudah lama menunggu?” Ujarku memaksa untuk tersenyum, mendekati Olivia.


“Wuah, jam karet ya..” ujarnya bercanda. “Ayo! keburu malam.” Keluh Olivia dengan wajah lembutnya itu.


“Emm… Maaf…Ayo...” Aku melirik ke sekeliling Olivia. “Tidak menggunakan sepeda?”


“Ah tidak. Kita jalan kaki saja ya. Badan ku hari ini tidak enakkan.”


“Oh baik lah…”


Kami menyusuri jalanan di kompleks ini. Memandangi disetiap penjuru daerah. Olivia masih memandang lurus, sedangkan aku mencoba menahan perasaan— dilema.


“Ayo kesana. Kita ketaman aja. Sekalian lihat anak-anak main.”


“Umm…” Aku binggung dengan apa yang harus aku katakan.


Kami menghampiri bangku taman. Dan duduk dengan sangat canggung.


“Hari ini, kita gak jauh-jauh dari komplek ya. Adrian sebenarnya melarangku untuk keluar rumah. Namun aku tidak mau mengingkari janji untuk menemani mu jalan-jalan. Akan ku pastikan besok lebih seru dari hari ini.”


“Umm…”


“Kau kenapa? Maaf, kau marah padaku?” Aku menggelengkan kepala dengan tersenyum singkat. “Lalu…?”

__ADS_1


Aku tertunduk. Aku masih belum bisa menahan kecewaku. Nafasku berat. Air mataku tumpah lagi. Dengan segera aku menyekanya. “Apa aku melakukan kesalahan… Maaf.” Ujarnya lagi, lalu memegang lengan ku. Dia tampak khawatir dengan ku.


Aku hanya menggelengkan kepala dan menyeka mataku kembali. “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir begitu.” Suaraku terdengar bergetar, aku berusaha kuat dan segera menghapus air mata yang masih saja terus mengalir—aku menatapnya—aku binggung—apa yang sebenarnya ku lihat sekarang? —Olivia atau kekecewaan?


“Lalu kenapa kau seperti ini? Ada yang salah?”


Aku mengeleng dengan pasti. “Kita pulang saja. Bukankah kau sedang tidak enak badan.”


“Ah, tidak juga sih. Maaf, ada apa sebenarnya? Jika ada yang perlu kau ceritakan. Cerita saja.”


Aku bangkit dari tempat duduk. Olivia serba salah, dia hanya bisa mengikuti keinginan ku. Tanpa ada kata-kata yang terlontar.


Olivia berjalan mendahului ku. Aku tidak kuat untuk melangkah. Rasanya badaku mati rasa ketika mengingat kata-kata dalam sobekan di kertas diary Olivia. Badanku bergetar hebat. Kali ini aku tidak sanggup menahannya. Aku hanya menatap punggung Olivia dari belakang. Seketika juga Olivia membalikkan badannya kearah ku.


“Ada apa?” Tanya Olivia serba salah.


Lagi—Aku hanya mengeleng dengan menyuguhkan senyum hangat dan mempersilahkannya untuk berjalan duluan. Olivia membalas senyum itu.


Kakiku seakan tak bertulang, aku terduduk berlutut—dibelakang Olivia. Mataku kosong, air mataku masih saja mengalir. “Katakan semuanya hanya mimpi. Aku belum bisa menerima kenyataan ini.” Olivia berbalik arah mendengar ucapan ku.


***


#Olivia


Lima belas menit berlalu dia belum datang juga. Sepertinya, kebiasaan jam karet sudah mendarah daging di hidupnya. Langit sudah mulai mendung. Dia tak kunjung datang. Hingga aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah.


Ku dengar langkah kaki yang mengarah kepada ku. Akhirnya. Ingin saja aku memarahinya. Tapi pancaran wajahnya membuatku tidak ingin melanjutkan kata-kata ku.


Kami hanya berjalan tanpa ada perkataan yang terlontarkan. Hari ini sangat dingin. Terlebih lagi sifatnya seperti itu semakin membuatku merasakan suasana lebih dingin. Dia hanya berdiam. Bahkan dia hanya menatap kosong ke depan. Ada apa sebenarnya dengannya?


Sesampainya di bangku taman, kami berdua terasa sangat canggung. Aku sudah menanyakan beberapa hal tentang keadaannya. Namun dia hanya menjawab singkat dan tersenyum—di paksakan.


Tidak lama dia tertunduk. Aku semakin ragu. Air mata terjatuh di ujung dagunya— membuatku semakin serba salah.


Dia sangat aneh hari ini. Dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang tidak tahu harus ku jawab apa. Suaranya yang bergetar membuatku semakin khawatir tentang dirinya. Sepertinya, dia sedang menanggung beban yang berat.


Dia hanya menggeleng dan menyeka mata. “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir begitu.” Untung saja dia memutuskan untuk pulang, jadi aku tidak terlalu khawatir tentang keadaanya yang seperti ini. Sesampai di rumah nanti, mungkin aku akan meminta tolong kepada bi Arum. Agar dia membantu masalah yang di hadapai Kenzie.


“Katakan semuanya hanya mimpi. Aku belum bisa menerima kenyataan ini.” Spontan aku berbalik arah ketika mendengar ucapan Kenzie, yang tidak bisa ku cerna dikepalaku.

__ADS_1


“Ada apa sebenarnya dengan mu?” Tanya ku pelan, memegang salah satu lengannya. Dia menatap ku sangat dalam. Aku takut dengan tatapan itu. “Apa kali ini aku benar-benar datang terlambat? Apa sedikit saja kau tidak bisa menungguku? Kenapa kau harus seperti ini. Kenapa kau lakukan hal bodoh untuk merusak seluruhnya bahkan kehormatan mu.” Aku hanya terdiam di tempat ku mendengarkan pertanyaan-pertanyaannya. Aku kembali teringat dengan perkataannya beberapa hari lalu mengenai kedatangannya kemari. Mungkin dia seperti ini karena masalah perempuan yang membuatnya seperti ini. Mungkin juga perempuan itu sudah mengecewakannya. Jadi kupikir dia sedang kecewa dan terjadilah seperti ini...


“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud? Kehormatan?” aku tidak mengerti kenapa dia menuding ku seperti itu. Aku apa orang yang pernah dimaksudnya waktu itu...


“Apa sebegitu sakitnya kau mencintaiku?... Kalau begitu kenapa kau yang harus merasakan itu. Kenapa bukan aku?”


Aku hanya terdiam, masih tidak mengerti.


“Tiga belas tahun kau menahan rasa itu. Apakah seakan itu membunuh mu? Kenapa kau lakukan itu Oliviaaa… kenapa kau tidak katakan dari awal? Kenapa? Andai saja kau katakan, dan andai saja aku tidak menahan rasa gengsiku. Semuanya tidak akan terjadi seperti ini. Maafkan aku...” Terisak.


Aku menarik bahu ku yang tadi agak mendekat ke Kenzie. Badan ku tiba-tiba saja terasa dingin. Desiran darahku seakan berhenti. Aku bisa merasakan badanku bergetar hebat. Kepalaku ku seakan terikat tali tambang dan di tarik dengan keras dari dua sisi sehingga akan memecahkan kepalaku dan mengeluarkan isi-isinya. Kata-kata “Tiga belas tahun” dan “Kehormatan” itu lah yang membuatku seperti ini. Di kepalaku seperti ada rol film yang terputar kembali. Aku teringat kembali dengan kecelakan yang menimpaku setahun lalu. Mengenai bisnisku. Dan mengenai kehidupan ku di Indonesia.


Aku terpaku di tempat.


“Sedikit pun kau tidak mengingatku. Sedikitpun kau tak merasakan itu. Selama ini kau anggap apa kehadiranku ini. Penganggu mu!? Penguntitmu?” sambungnya dengan suara bergetar dan tinggi. “Lupakah kau dengan nama ku… Lupa kah kau siapa pemilik nama Kenzie Shandy?!”


Kepalaku tiba terkoneksi dengan nama yang baru saja disebutnya. Aku kembali menatapnya dengan sadar. Tanpa di perintah tanganku menyentuh wajahnya agak lama dan menarik kembali hingga menutup mulutku yang bergetar tidak percaya dengan apa yang ku hadapi sekarang. Aku berdiri lalu berbalik arah dan memutuskan pergi dari hadapannya. Jika aku berlama-lama di hadapannya mungkin ini akan berakhir buruk nantinya.


Kakiku seakan berat untuk diangkat.


Deg…Jantung ini seakan berhenti berdetak semenjak detik itu. Ku rasakan badan ku menghangat didetik itu. Sebuah tangan mengait dari pundak dan leherku. Kurasakan air yang membasahi pundaku.


Kenzie memelukku dari belakang.


Mulutku kaku. Mataku terbelalak kaget tidak percaya. Diam beribu bahasa. Aku terpaku ke bumi. Kaki ku kali ini tidak menurut untuk di perintah. Ingin rasanya aku segera meninggalkan orang asing ini. Meninggalkannya untuk selamanya. Aku benci dengannya. Kenapa dia seperti ini. Seharusnya sudah dari awal aku tidak akan bertemu dengannya. Aku benar-benar terperangkap.


Dia menjebak ku...


Angin berhembus pelan, membuat dingin setiap sekujur tubuhku. Kurasakan daun-daun berterbangan di sekelilingku.


“Tidak kah kau mengingat nama ku? Tidak ingatkah kau ingin mendengar suara ku? Bukan kah kau mengingikan aku selalu disamping mu. Setidaknya kita bisa berteman baik. Bukankah kau menunggu keajaiban itu.” Ujar Kenzie, masih memelukku. Dia tidak bisa menahan airmatanya yang begitu saja tumpah di bahu ku yang tengah terdiam seribu bahasa, aku tidak tahu kenapa aku masih terpaku di posisi ini.


“Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan?” Ujar ku datar dan melepaskan pelukan itu—aku berjalan meninggalkan Kenzie tanpa menatapnya lagi.


Kini hanya angin yang berselimut mendung. Seakan langit ikut termenung. Butir-butir air perlahan jatuh dari langit, membentuk hujan.


“Kita mungkin tidak bisa kembali ke waktu itu, aku juga tidak perduli sudah berapa banyak waktu yang berlalu. Yang aku pikir kita akan bersama. Aku hanya ingin melihat masa depan yang sama dengan mu. Jika dalam sekejap itu akan berbeda. Mungkin kita akan berjalan di takdir yang terpisah.” Ujarnya dengan nada suara yang agak meninggi. Aku berupaya tidak ingin mendengarkan kata-kata itu. “Akankah kau mencintaiku lagi….?” Teriaknya.


Aku takut.

__ADS_1


Air mata ku terjatuh.


***


__ADS_2