Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Hujan Meninggalkan Satu Kenangan, yaitu Senyum Mu..


__ADS_3

# Diary Olivia


24 November 2000,


Hari berganti hari, berjalan begitu cepat tanpa menyapa. Hari ini akan diadakan pentas seni alias PENSI di SMP BK Jaya. Seperti biasanya kegiatan ini akan didahului dengan kegiatan agama. Setiap ada kegiatan besar, para OSIS berinisiatif untuk memulai dengan kegiatan agama terlebih dahulu, setidaknya ide ini bertujuan memperbaiki akhlak kami melalui kegiatan agama yang jarang di adakan.


Langit kelabu membuat hari ini menjadi sayu.


Hari ini sekolahan sedikit bernuansa religi. Di satu sisi para muslim berpakaian kebesaran mereka dimana para siswa memakai baju koko, dan memakai peci begitu juga dengan siswi yang berhijab dan memakai baju muslim. Tidak kalah ketinggalan pula, para agama kristiani yang ikut serta dengan pakaian yang sering mereka pakai ke gereja, berkemeja rapi dan yang siswi mengunakan rok, kemeja ataupun blazer. Mereka juga mengisi waktu untuk beribadah di dalam ruangan agama mereka dengan khusyuk. Begitu pula yang beragama muslim yang tengah bersiap mengikuti kegiatan ceramah agama. Nantinya, kami semua akan dikumpulkan dalam satu keberagaman yaitu Pentas seni. Semua siswa berhak menyumbangkan bakatnya dalam bermusik maupun bernyanyi. Tapi tunggu dulu, PENSI akan berlangsung setelah kegiatan ceramah agama yang akan dilaksanakan di Musollah di SMP tempat ku bersekolah.


Langit mulai menampakkan kelam kelabunya, begitu pula dengan hujan. Para siswa-siswi muslim berlarian memasuki Musollah untuk mendengarkan ceramah agama yang akan di mulai.


Sudah hampir tiga bulan aku merajut hari di SMP BK Jaya, tidak hanya Terfin saja yang mengukir sejarahnya bersama ku, tapi masih ada dua sahabat yang tak luput dari hariku, senin sampai senin kembali, kami selalu bersama-sama mengukir sejarah. Dia Dila dan Reisa. Dila adalah anak yang sempat ku bully sewaktu SD padahal sebenarnya kami masih bisa di bilang bertetangga, namun pada akhirnya kami malah jadi sahabat, aneh, aku pun tidak menyangka bisa seperti ini. Dan jangan salah, Terfin bukan orang pertama yang menjadi sahabatku, tapi Reisa lah sahabat pertama ku saat menginjakan kaki di SMP BK Jaya. Sayangnya aku tidak terlalu dekat dengannya, mungkin karena kami tidak cocok itu mengapa aku tidak sering bersamanya. Reisa sangat bertolak belakang dengan karakter ku, dia terkesan serius, feminism—dan juga takut dengan kodok. Karena hal itu juga aku sering menjahilinya, dengan sering membawa kodok atau benda-benda yang yang berhubungan dengan kodok, itu mengapa kami sukar sekali nempel seperti aku dan Terfin. Dia lebih cocok dengan Dila. Bahkan saat Reisa memilih kabur dari tempat duduknya— saat pertama kali masuk SMP—Reisa sebenarnya duduk disebelahku— justru memilih pergi duduk bersama Dila. Begitupun Terfin, yang menjadikan bangku keramat yang ditinggalkan Reisa sebagai bangku penyelamatnya dari teman duduk pertamanya yang selalu menyontek. Meskipun aku sudah berulang kali mengusirnya secara halus maupun secara kasar dia tetap saja kekeh memperjuangkan bangku keberuntungannya itu untuk didudukinya, hingga akhirnya justru kami menjadi sahabat sedekat ini.


Poin yang ketinggalan, sebenarnya aku sudah lama menaruh dendam kepada Terfin sewaktu pertama kali pendaftaran sekolah. Aku yang tidak pernah-pernahnya mengajak orang kenalan apalagi dengan Reisa yang tidak sengaja bertemu denganku dan mengajak jalan bersama saat itu, dan aku ikut saja. Tapi beda dengan Terfin, untuk pertama kalinya dalam sejarah aku mengajak orang berkenalan, dan itu dengan Terfin, dan sangat menyakit ialah saat dia menggapku orang aneh dan mencampakan perkenalan ku saat itu. Itu mengapa saat dia bersikeras mau duduk di sampingku aku selalu menolak. Meskipun aku sering bertolak belakang dengan sahabat-sahabatku, aku bersyukur mempunyai sahabat-sahabat seperti mereka, yang mau bersama tanpa syarat sedikit pun.


Aku dan ketiga sahabatku berjalan perlahan menuju Musollah. Kami berlari untuk menghindari hujan. Sesampainya di dalam, ku sadari sepertinya aku melakukan dosa besar.


Dari awal masuk kedalam Musollah hingga pertengahan ceramah. Pandangan ku terus teralihkan ke objek yang aku rasa dosa akan mengeluti jiwaku karenanya. Setan sepertinya berpihak untuk menggodaku hari ini.


Seorang yang memakai baju koko berwarna biru membuyarkan pandangannku. Aku mencoba menepis tapi selalu saja gagal. Tak henti-hentinya aku mengucapkan igstifar untuk mengusir setan yang berada disampingku.


“Hayo, lagi liatin apa nih?” goda Terfin, menangkap ku sedang gelisah.


“Ah, kagak… Fokus eh, Fokus…” tepis ku mengalihkan, agar pembicaraan ini tidak lari ke arah yang tidak semestinya.


Satu jam kemudian acara ceramah agama pun berakhir. Para pelajar segera membubarkan diri untuk segera ke lapangan, menyiapkan diri dengan segala aktivitasnya. Terutama untuk berpastisipasi dalam pentas seni yang sudah dipersiapkan para pengurus OSIS. Sembari menunggu pentas seni yang akan di laksanakan, aku dan ketiga sahabatku mengisi kekosongan waktu sambil bercanda gurau di bangku taman di depan kelas. Hujan masih saja turun, dan membuat acara pentas seni sedikit terkendala. Untuk itu acara kini di alihkan kedalam ruang aula.


Asik-asiknya bersenda gurau, Terfin sekretaris kelas dipanggil untuk ikut serta sebagai perwakilan melayat kerumah duka. Hari ini orang tua dari salah satu teman sekelas ku berpulang ke pangkuan sang pecipta. Mau tidak mau, aku, Reisa dan Dila harus ditinggal dulu oleh Terfin.


Satu jam berikutnya, persiapan pentas seni pun akhirnya kelar, siswa-siswa pun berbondong-bondong memasuki aula tak sabar menonton pentas seni. Sedangkan aku, Riesa dan Dila dengan sabar masih menunggu Terfin untuk segera bergabung bersama kami kembali didepan kelas.


“Masuk duluan gak?” Tawar Dila.


Aku menggelengkan kepala. “Nanti aja, tunggu Terfin.”


“Iya entar aja deh. Sekalian sama-sama.” sambung Reisa.


“Emm… baiknya teman-temanku nih.” Ujar Terfin yang tiba-tiba nonggol di belakang kami bertiga. Matanya terlihat sembab. Anak itu memang gampang terharu, itu mengapa sekarang matanya sembab.


“Ayo buruan gih, masuk.” ajak ku tidak sabaran.


“Masih ditunda acaranya, sabar-sabar. Guru dan anak-anak OSIS masih pada melayat tuh.” Jelas Terfin.


“Ya ampun di tunda lagi?”


“Emm…”


“Sabar atuh non’.” sambung Dila.


“Mendingan kita ikut ke kuburan yuk! Tuh pak Abdi ngajakin anak kelas kita ikut kesana.” sambung Terfin.


“Ayo…!” seru Dila menyetujui.


Ke makam adalah suatu hal yang langkah bagiku. Aku tidak pernah ke makam sama sekali. Mendengarnya saja aku langsung bergidik merinding. “Sa’ kau ikut?” tanyaku ragu-ragu.


“Enggak.” Singkat Reisa.


“Iiiiih, kau takut ya?” ledek ku. Sebenarnya akulah yang penakut dalam hal seperti ini.


“Ih, engak lah. Adat kami dilarang ke makam, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh kesana.” Jelasnya.


“Alah, bilang aja takut, kan?” tuduhku. Agar aku mempunyai teman yang senasib.


“Kau ikut gak, Fi?” Tanya Dila.


Menoleh kaget kearah suara. “Emm, aku juga enggak?” tersenyum.


“Ah, ternyata kau kan yang takut?” ledeknya.


“Iya bilang aja takut!” Sambung Terfin.


“Bukannya aku takut, aku memang gak pernah pergi ke kuburan. Jadinya aku gak mau ikut.” Ujar ku membela diri.


“Alah… pokoknya ikut ya…” paksa Terfin.


“Ikut pokoknya. Awas loh gak ikut!” Dila ikut-ikutan memaksa.


“Umm.., aku gak berani.” ujarku tersenyum menahan malu.


“Hahaha… takut ternyata.” ledek Dila lagi.


“Korban Film horror.” Sambung Reisa.


“Alah, kaya kamu gak?”


Sembari menunggu perintah untuk pergi ke pemakaman, kami berempat mengisi kekosongan dengan bergosip ria. Entah mengapa, dari halnya bergosip, fokus ku justru teralihkan keseorang cowok yang sebenarnya telah ku lihat sebelumnya di Mussolah. Cowok yang memakai baju koko berwarna biru, bercelana jeans longar dan sedang megang stick drum, yang saat itu pula sedang meniru hampa—menaburkan drum sambil berjalan menuju anak tangga di depan kelas tiga-C, tempat dimana para senior putra sedang berkumpul.

__ADS_1


Cowok itu bercanda dengan teman di sampingnya, dengan mencoba memukul temannya dengan stick drumnya, sekali dia berlari kecil menghindari kejaran temannya, lalu kembali berjalan biasa. Aku seperti orang gila yang tertawa sendiri dimoment yang tidak pas, itu karena melihat tinggkah konyol ‘nya’ dari jauh.


“Eh… eh... kalian liat gak senior kita yang pakai baju warna biru, yang lagi megang stick drum?” tanyaku tiba-tiba beralih ketopik pembicaraan. Sebenarnya aku kelepasan untuk menanyakan hal ini. Aku menunjuk cowok itu. Namun seketika aku tersadar lalu menurunkan tangan, agar orang disekeliling tidak terfokus dengan apa yang aku tunjuk.


“Yang mana?” Tanya Terfin, Reisa dan Dila bersamaan.


Aku memberi kode menunjuk dengan cara mengisyaratkan dengan mataku. “Itu, yang baju biru— mau ke kelas tiga-C.”


“Oh, itu bukannya Ricki ya temannya Angga?” Jelas Dila.


“Iiih bukan! Itu bukannya Robby ya, kakak kelas kita?” Lanjut Reisa. Aku mengira orang itu satu angkatan dengan Eky, tapi sepertiya tidak.


“Owh…” aku hanya meng-O kan mulut mendengar penjelasan nama yang mereka ketahui. Tatapan mata ku masih tertuju ke cowok itu.


“Itu bukannya, si anu ya… anu… itu…?” sambung Terfin sok ikut-ikutan.


“Siapa yoo?” sambung Reisa.


“Hahaha. Gak tau. Kan aku ikutan, mau ngasih tahu juga…” tertawa.


“Itu nah Fin’, kalau gak salah yang satu tim bareng abang ku pas gerak jalan—Masih ingat Sasa nunjuk cowok di foto timnya Eky—sewaktu kita di tawarin Foto sama ibu kantin.” Jelas ku yang lagi-lagi kelepasan.


“Oh iya!” Ujar Terfin mengerti.


“Manis ya...” saat mengatakan itu tanpa aku sadari aku tersenyum. Sepertinya aku terlalu jujur untuk menggungkapkan hal ini.


“Yeeeee…!” Semprot ketiga sahabat ku bersamaan sambil menoyor kepala ku.


“Iya tau…” lanjutku masih tersenyum-senyum sendiri.


“Mulai, kesambet apa nih Sa’ temen mu?” Tanya Terfin.


“Gak tahu tuh… Kan temen mu?” jawabnya melemparkan kembali pertanyaan.


“Oh, curiga itu yang dilihatnya di Musollah! Pantesan gak fokus?” sambung Dila.


“Hehe kalian ini, bisa aja…” malu.


Waktu ziarah ke pemakaman tiba. Ketua kelas pun mengintruksikan untuk segera berkumpul. Begitu pula Wali kelas yang ikut serta untuk memimpin kemakam datang memberikan sepatah dua kata sebagai bekal perjalanan kami. Nantinya, perjalanan ke pemakaman hanya ditempuh dengan berjalan kaki saja, dikarenakan jarak makam yang tidak terlalu jauh dari sekolahan.


Asik mengecek daftar siswa yang ikut kemakam. Tiba-tiba terdengar riuh dari segerombolan senior putra yang datang dari arah samping kantor para guru. Dimana saat itu kami berada di depan lapangan yang berada di depan ruangan kantor.


“Kau deh!” ujar seorang cowok yang familiar dimata ku, ia menahan tarikkan temannya. Tiba-tiba saja aku menjadi gugup. Nafasku terasa berat. Aku salah tingkah.


“Kau aja deh...” Kata seorang lagi lalu mendorong badan cowok itu kedepan, yang tidak lain adalah cowok berbaju biru yang selama ini menjadi pusat perhatian ku.


Senyumnya…membuat aku begitu bahagia.


“Emm…” ada jeda sebentar sebelum dia memulai pembicaraannya. “Pak kami boleh ikut ke makam?” tanyanya, meminta izin karena menjadi perwakilan dadakan teman-temannya. Suaranya yang lembut menyulitkan ku untuk merekam suaranya ke dalam otakku.


“Boleh! Ikut aja!” sahut ku spontan, lalu menutup mulut dengan cepat, sebelum yang lain menyadari suara ku barusan. Wajahku memanas karena malu.


“Ikutlah nak. Lebih banyak lebih bagus.” jawab pak Abdi.


“Kami boleh naik motor gak pak?”


“Iya, tapi hati-hati ya.”


“Makasih pak! Kami duluan ya?” Tersenyum, lalu berlarian menuju keparkiran.


Aku tidak tahu mengapa suasana hati ku berubah menjadi seperti ini. Aku terus-terusan mengigit bibir bagian dalam. Sambil menahan senyum ku yang terus-terusan mengembang, tak mau mengembalikan keadan bibirku menjadi semula.


***


Sesampainya di makam. Pelajar mulai memisahkan diri. Ada yang berziarah kemakam keluarga, sahabat dan sebagainya. Sedangkan aku… mematung… tidak ada yang bisa ku lakukan. Bulu kudukku naik, merinding. Kali ini tidak ada satu pun teman yang menemani. Tidak tahu juga kemana mereka semua pergi. Tubuhku ikut-ikutan bereaksi mengentarkan semua sarafku, saat ku edarkan pandangan ke sekeliling penjuru, hanya ada makam dan makam.


Aku memberanikan diri melangkah menepi, menjauhkan diri dari kerumunan gundukan kecil berdiam itu. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari sisi leherku menunjuk kesebuah arah pohon beringin yang besar. Seketika angin berhembus sangat kuat…. “Disana makamnya mbah kakung.” kata seorang dibelakang ku di ikuti desiran angin membelai tengkukku.


Aku hampir saja pingsan dibuatnya. Jika tidak bisa ‘pingsan’ mungkin aku akan berlari pulang. Jika saja bisa.


Aku masih memandangi tangan yang berada di samping ku dengan gugup. Sontak, respon ku yang hendak berlari tertahan dengan rasa penasaran. Kepalaku menoleh empat puluh lima derajat.


“Errr! Rese nih ya! Buat orang jantungan aja!” Bentakku memarahi seorang dibelakang yang tidak lain adalah abangku sendiri, Eky. Ternyata dia juga datang dengan rombongan kakak kelas.


“Yeee… bilang aja takut. Iya kan?” Ledeknya.


“Siapa yang takut, kaget iya!”


“Ngelak lagi, dasar!” lalu dia maju beberapa langkah disampingku. “Ziarah sana, masa cucu gak pernah ngunjungi makam kakeknya sendiri.”


“Dari dulu aku kan pengen ikut, kamu aja yang gak pernah ngajak.”


“Alah, biasanya diajak malah pura-pura gak denger. Sono pergi, mumpung disini. Kapan lagi?”


“Emm… emm.” Aku mengiyakan, lalu perlahan berjalan hati-hati menuju makam, tepat kearah tunjukan Eky.


“Hati-hati, entar ada tangan muncul tuh…hiiiiii…”

__ADS_1


“Eky!!!”


“Hahaha…. Udah sana buruan, masih aja percaya sama gituan. Kayak pernah lihat aja. Sok takut!”


Selepas membacakan doa di pusara bergunduk yang tertancapkan nisan dengan nama panjang dari kakek ku. Tiba-tiba saja air mata perlahan menetes. “Kenapa di tahun lahir ku? Hanya beda lima bulan sebelum aku lahir.” gumamku melihat nisan almarhum kakek yang meninggal tepat lima bulan sebelum kelahiran ku. Cukup malang diri ku yang tidak pernah melihat sama sekali rupa dari kakek ku sendiri.


Aku berbalik arah, meninggalkan makam kakek ku. Blenkkkk!!! Tiba-tiba saja kepalaku menjadi pusing saat melihat nisan yang berada di hadapan ku.


“Ya tuhan!” pekikku dalam batin. Melihat makam di depan ku yang tertanggal dengan hari kelahiranku. “Hah! Kenapa waktu aku lahir, dia meninggal! Berarti aku sial dong untuk keluarganya.” aku bergidik lalu pergi cepat-cepat meninggalkan pusara itu. Aku kembali untuk mengampiri teman-temanku yang sedang menyambut pengantar jenazah yang barusan datang.


Ketika di perjalanan, aku bertemu dengan gerombolan cowok-cowok dari sekolahan ku yang sama sekali tidak ku kenal. Suatu keberuntungan juga bisa bertemu dengan mereka, setidaknya aku tidak ketakutan saat berjalan sendiri. Dengan memasang wajah polos aku mengikuti rombongan yang berjalan memanjang kebelakang itu. Belum lama dalam barisan, aku menyadari ada satu sosok yang sangat familiar di mataku. Sosok itu tepat berjalan di depan ku.


Cowok dengan postur tubuh atletis, tinggi dan pastinya tampak keren saat ku lihat dari belakang. Dan aku sangat yakin bahwa wajah pemilik tubuh yang memakai baju koko berwarna biru ini sangat—menyerupai orang dalam otak ku. Belum lama aku menghayal mengenai rupa orang di depan ku, tiba-tiba saja tanpa ku sentuh atau ku tegur, dia menoleh kebelakang…. Semburat cahaya terang seakan menyilaukan mata ku.


Senyum itu… tatapan itu—bisa saja aku langsung teriak, berlari atau pingsan saat itu juga. Saat dia tersenyum dan menatap ku. Apa daya, aku hanya terdiam, kagok bahkan tidak tau harus berbuat apa. Aku binggung, malu, dan jantungku berdenyut lebih cepat. Mungkin jika ini terus-terusan terjadi, jantung ku bisa pecah karena terlalu cepat berdenyut.


Tak ada yang melihat adegan ini. Mungkin hanya tuhan dan malaikat yang menjadi saksi.


“Yeeee…. Olivia nangis.” ledek Ria yang tiba-tiba menyelip didepan ku, tepatnya dia menjadi pemisah antara cowok berbaju biru dan denganku.


“Ih, apaan sih… enggak lah.” tukasku. Sebenarnya aku kesal karena dia memisahkan ku dengan orang itu.


“Ah, kau takut ya Vi’ sampai-sampai nangis gitu?”


“Hah?! Enggak lah.” Aku merasa sangat-sangat malu karena Ria teman sekelasku meledek seperti itu. Terutama saat ada cowok ‘itu’ didepan ku.


“Ah… Eky… adek mu takut nih, bawa pulang gih. Hahaha.” ledeknya tiada henti, meneriakkan ledekkannya ke arah Eky, Eky hanya tertawa melihat kami dari kejauhan. Sama seperti cowok itu, dia hanya tersenyum lalu berbalik kearah depan, mengatur langkahnya kembali.


Dan saat itu pula, hujan perlahan memisahkan kami…


***


Aula hiruk-pikuk, para penonton heboh meneriakkan nama band-band yang tampil di pangung pentas seni. Tidak dengan satu penonton yang dari tadi berdiam, bersandar di pintu Aula. Reisa, dari tadi memandang kosong hamparan manusia yang berhamburan di depannya. Bosan menjadi topik utamanya hari ini. Bagaimana tidak, hampir dua jam dia hanya melamun menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya.


“Pada basah gini, kasihan.” Ujar Reisa memegang baju ku. Saat aku perlahan memeluknya dari samping. Kami sengaja tidak memberi tahu kepulangan kami yang sebenarnya sudah setengah jam lalu. Setengah jam itu, sebenarnya kami gunakan untuk makan di kantin, mengisi perut kami yang kelaparan karena masuk angin, saat menghadiri acara pemakaman.


Ku edarkan mataku kesegala penjuru saat ketiga sahabatku sibuk bercerita.


Aku tidak bisa membohongi perasaan ku, bahwa kali ini aku sedang mencari cowok berbaju biru itu. Cowok yang membuatku seperti orang gila, entah mengapa aku begitu berambius mencari tahunya walau pertama kali aku hanya mengenalnya dari sebuah foto.


Saat Reisa dan Dila berpamitan memisahkan diri pergi ke perpustakaan, aku memberanikan diri menanyakan cowok itu kepada Terfin. “Fin… kau lihat dia?”


“Siapa pun yang kau tanyakan, aku tidak lihat!” ketus Terfin, saat memandangi seseorang di pojok aula, entah siapa dilihatnya. Kami berdua kembali menonton pertunjukan dengan tenang, walaupun sebagian penonton lain berkoar-koar dengan hebohnya meneriakkan teman-temannya yang sedang pentas.


“Oke, penampilan selanjutnya kita sambut….” Ujar MC terpotong lalu setengah berbisik kearah vokalis yang sedang check sound. “Oke kita sambut Dragon Ball Band…” yang tambah disambut riuh dengan tawa-tawa para penonton karena nama band mereka yang disamakan dengan kartun serial.


“Oke kita kan membawakan lagu yang lagi hits dari Padi-Mahadewi….” kata vokalis memulai.


“Fin…Fin, lagu kesukaan ku.” ujar ku heboh menarik tangan Terfin membuatnya risih. “Kau tahu kan Fin, itu yang sering aku nyanyikan.” Sebenarnya aku suka lagu ini karena terbiasa mendengarkan Rendy bernyanyi.


Terfin tersenyum terpaksa menahan risih yang di timbulkan oleh kehebohan sahabatnya ini. “Iya, aku pun sudah bosan mendengarkannya, gara-gara kau sering menyanyikannya.”


“Ih…” memajukkan bibir, menggerucut.


Saat vokalis mulai membawakan lagu, aku pun tak kalah ketinggalan, ikut-ikutan berdendang.


“Sttt… pales Fi’!” tegur Terfin.


“Dehhh…” Bukannya diam karena di tegur Terfin, aku malah berlonjat heboh saat ku tangkap sosok yang membuat batin ku bergemuruh. Aku tidak tahu kenapa semua saraf-saraf ku bergejolak seperti orang kebelet pipis. Aku salah tingkah sambil *******-***** lengan baju Terfin, memberi isyarat mata agar Terfin melihat arah kodean ku. "Fin, itu eh Fin!"


Cowok berbaju biru itu sudah duduk di kursi, tempat pemain drum. Sambil menginjak pedal untu mengecek drum, dia terlihat berbicara kepada salah satu temannya yang berdiri di sampingnya lalu memutar-mutar kunci tiang simbal. Bagaikan mendapatkan kekuatan magis, seluruh tubuhku seakan berpedar memberikan aura yang tak dapat ku gambarkan. Aku mendadak semangat, lalu berjalan mendekat ke depan panggung….


“Kenapa?”


“Dia nampil Fiiiin!” setengah berbisik. Namun sayang, belum tiga langkah, cowok itu berdiri dari tempatnya dan pergi meninggalkan panggung, kini tempat duduk itu sudah tergantikan dengan teman yang bersamanya beberapa waktu lalu. “Ya kirain dia ikut tampil.” keluh ku.


“Tadi dia sudah nampil.” Jelas Terfin, menyungingkan senyum yang mengerikan.


“Kapan?”


“Sebelum kita sampai disekolah, aku dengar-dengar dia sudah nampil. Gitu…” Terfin menyungingkan senyum ledekannya, seperti biasa dia seakan menang membuat ku frustrasi seperti ini. “Makanya jangan keluyuran! Band ternama gitu… berharap aja dia nampil lagi. Tapi… aku rasa gak deh. Kan jatah pentas cuma satu kali…” Terfin terkekeh.


“Yah…. Pupus dah harapan ku.” Tertunduk lemas lalu berjalan keluar aula. Terfin mengeleng-gelengkan kepalanya dan mengikuti ku pergi.


***


Ini pertama kalinya kami bertemu. Saat melihatnya mata ku tidak lepas-lepas untuk menatapnya. Bibir ku tak berhenti melekuk tersenyum senang karena kehadirannya. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi kepada ku. Aneh, apa aku punya gangguan saraf?


Jika tuhan mengijinkan, tak ingin ku lewatkan sedetik pun untuk melihatnya. Untuk pertama kalinya, aaaah… aku malu. Tapi aku menyukai senyum itu. Aku takut tidak bisa tidur karena memikirkan itu. Ah, lagu favoritku diputar hari itu juga. Bagaikan didalam film-film roman.


Keajaiban 60 detik. Apa aku secepat itu menyukaimu?


Hanya karena sebuah foto?


Terkadang hal-hal kecil sekalipun dapat memicu harapan yang aneh dan sangat indah yang mereka tinggalkan tanpa pesan dan tanpa sengaja. Aku tidak tahu kapan cinta itu lahir. Tapi aku tahu kapan cinta itu hadir di duniaku. Ini adalah kenyataan pahit. Menyadari bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama ku, dan ini menyulitkan di umur muda ku. Ah… kenapa begitu cepat!


***

__ADS_1


__ADS_2