
Putih, akankah selamanya bersih.
Seperti lembar kertas yang belum tersentuh, dan bernoda.
Seperti awan yang mengumpal menjadi satu, lalu tertiup angin entah kemana.
Seperti jiwaku…
Kata mereka ini menyakitkan.
Mencintaimu, aku terjebak bersama harapan didalamnya.
Aku hanya bisa berkhayal tentang dirimu.
Akankah khayalan itu membentuk sebuah kenyataan..,
Kau datang menjemputku.
Menyapaku dalam kesendirian.
Memelukku, menenangkan ku saat terluka.
Sayangnya hanya luka itu yang berhasil menjelma menjadi kenyataan dari seluruh khayalanku. Ketika aku mencari tahu letak luka itu,
ternyata sebuah duri menancap di sana. Sungguh menyakitkan.
Duri ini sudah menetap, menjelma menjadi satu dengan dagingku.
Rasa sakit itu menjelma menjadi sebuah rindu.
Aku merindukan mu, walau itu menyakitkan.
***
#Kenzie
Pukul 9.30 am
Salju masih saja turun, para mobil pengeruk salju sudah selesai untuk membersihkan jalanan-jalanan yang tertutupi oleh salju, seakan sia-sia. Langit tampak cantik ketika ia menjatuhkan debu-debu kristal esnya. Tapi kecantikan itu tidak sebanding dengan dingin yang kurasakan.
Hampir satu jam aku berada di luar, tepat di depan pagar ini. Dari jam enam tadi hingga sekarang aku memantau bahwa baru wanita paruh baya itu yang keluar di jam tujuh. Sedangkan Olivia belum menunjukan batang hidungnya. Berulang kali aku menekan bel, tapi tetap saja tidak ada respon. Hingga akhirnya ku rasakan mataku mulai kabur dan...
#Olivia
Bi Arum sudah pergi bersama kegiatan rutinnya sejak dua jam lalu. Sedangkan aku, baru saja selesai bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Aku sengaja telat masuk kekantor. Hari masih saja bersalju. Aku begitu buruk berurusan dengan dingin. Meskipun seratus pemanas ruangan dinyalakan di rumah, mungkin hanya aku saja yang masih merasakan hawa dingin. Entah mengapa, dingin senang sekali berdekat-dekatan dengan ku. Setelah mengecek rumah telah kosong oleh penghuni, aku pun bersiap untuk meninggalkan rumah.
Berbekal roti bakar serta susu untuk mengisi perut, aku bergegas kekantor. Aku menutup pintu rumah dengan perlahan, jadi pasti pintu terkunci secara otomatis.
Semenjak tidak ada kehadiran Adrian di rumah, salju menumpuk begitu saja di pekarangan, menyulitkan untuk berjalan. Aku kesulitan berjalan keluar rumah. Salju-salju mengusik perjalanan ku hingga menempel di bootku bagaikan lumpur berwarna putih.
Brukk…
Tiba-tiba saja seseorang terjatuh ketika aku membuka pintu pagar. Aku hampir saja pingsan dibuatnya. Seseorang yang tadinya bersandar di pintu, jatuh meringkuk tepat di kakiku. Wajahnya pusat pasi, bibir membiru bagaikan mayat. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada disini. Mataku terpaku ke hidung orang ini. Ya tuhan! Mungkin dia sudah mencoba memencet bel sewaktu aku didalam, sayangnya aku menggunakan earphone, sehingga tidak mendengarkan.
__ADS_1
“Dia lagi dia lagi!” Pekik ku panik. Dengan cepat ku buka mantel dan shal tebal ku. Lalu, ku selimuti orang asing ini agar kembali hangat. “Hei bangun lah…” Mengoyangkan lengannya, membangunkan. Tapi dia hanya bergumam dalam pingsannya. Hidungnya mengeluarkan darah hangat saat wajahnya memiring. Panik, pasti! Siapa yang tidak panik melihat seperti ini. “Hei... tidak ada kah penginapan mu hingga kau tidur disini? Bangun lah!” Panik ini mengacaukan pikiranku, ku rogoh kantong mencari ponselku. Berharap ada nomor yang bisa ku hubungi untuk membantu.
Cukup lama memang menunggu. Untung saja rumah sakit langsung tanggap untuk mengirimkan ambulan ke alamat rumahku setelah ku hubungi nomor darurat.
Gelisah menyelimuti ku. Aku duduk berjongkok menemani orang asing ini. Aku juga tidak mampu membawanya masuk kedalam rumah, badannya pasti berat. Aku juga tidak punya tenaga apalagi cuaca sangat-sangat membuat tulang ku ngilu. Jadi ku putuskan untuk masuk ke dalam rumah, sendiri. Ku ambil selimut tebal dan ku buatkan teh gingseng untuknya. Sungguh merepotkan!
Ada perasaan ragu, was-was bersebelahan dengan orang asing ini. Wajah tampannya tak membuatku luluh meskipun dia seperti ini di depan ku, hatiku bergejolak ingin segera menyingkirkannya. Orang ini sungguh membuatku kesal. Aku berjongkok di depannya. Berharap dia segera sadar setelah aku meminumkannya teh gingseng ini. Namun tetap saja. Masuk kedalam kerongkongannya saja tidak. Ah, tuhan! Kenapa kau tambah beban hidupku dengan orang ini. “Kurang kerjaan saja! Huhh!! Jika kau mati disini jangan repotkan keluarga ku ya!”
Hampir setengan jam berlalu. Ambulans belum juga datang. Aku hanya memeluk diri sendiri mengahalau dingin yang akan mengambil alih pelukanku. Tatapan ku masih sama seperti pertama kali, kesal! Namun, tanpa ku sadari tangan ku bergerak menyentuh wajannya. Gila! Gila! Hatiku memaki-maki, tapi tetap saja tangan ku semakin mendekat kewajahnya. Ada sesuatu yang tidak bisa ku mengerti, ada apa denganku?
Orang ini masih tetap dalam tidurnya. Tiba-tiba saja sesuatu menyerang dadaku ketika tangan ini telah menyentuh pipi dingin itu. Kepalaku seakan ditusuk ratusan jarum. Sejenak ku bersihkan darah yang mulai mengering itu, tanpa jijik, tanpa berpikir yang tidak-tidak. Dengan segera ku tarik tangan ini. Mencoba mengontrol kembali perasaan yang tiba-tiba aneh. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi binggung seperti ini. Siapa kamu? Kenapa kamu membuat ku seperti ini, setelah kau membuat ku merasa kesal. Apa benar aku mengenal mu?
Tubuh ku bergetar, antara takut atau karena sesuatu yang tidak ku mengerti menyerang kalbuku.
***
“Dàifū zěnme yàng? (Bagaimana dok’)” Tanya ku sedikit peduli. Meskipun aku tidak senang dengan orang ini, namun aku berupaya untuk peduli dengan nyawa seseorang.
“Tā yào duō xiūxí (dia harus banyak istirahat). Wǒ xiǎng kāi yàofāng. Měitiān chī sāncì, fàn hòu chī (Saya akan membuatkan resep. Minum tiga kali sehari, sesudah makan).” Dokter itu menuliskan resep dan memberikan kertas itu kepadaku. “Dia terkena Hepertemia, kondisi tubuhnya belum terbiasa menyesuaikan dengan cuaca. Jaga dia dengan baik…"
“Aah… Xièxiè dàifū (terima kasih dokter).” Aku mengangguk mengerti. Lalu segera kembali kekamar inap orang asing itu. “Orang ini menyulitkan ku saja!” gumamku memandangi orang asing yang kini terbaring di depan ku. Dan lagi, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku merasa … Aku ingin marah—rasanya perih sekali—Ku pandangi dia lekat-lekat penuh pertanyaan, siapa sebenarnya orang ini?
Ah sudahlah... aku berharap tidak bertemu dengan orang ini lagi.
Semoga...Semoga...
***
#Kenzie
Sebenarnya aku berada dimana?
Suara pintu terbuka, menyadarkanku. Sepertinya aku berada di rumah sakit. Dan memang benar aku berada di rumah sakit, tanganku ternyata terhubung dengan selang infus. Ah, ini menyebalkan sekali! Akhirnya aku memecahkan rekor ku, untuk pertama kalinya aku dirawat inap seperti ini. Meskipun aku sering sakit ataupun pernah kecelakaan, aku tidak pernah-pernahnya di rawat inap dan mengunakan alat infus seperti ini.
Suara langkah kaki membuatku segera memejamkan mata kembali. Ternyata Olivia yang baru saja masuk ke dalam ruanganku. Aku mengintip Olivia yang berjalan menuju tempat aku berbaring. Dia berdiri mematung di samping ku. Memandangku. Jantungku berdebar bersamaan dengan tatapan itu. Sayang, aku baru mendapatkan tatapan itu sekarang, dengan kondisi yang tidak tepat. Dia membuat sesuatu yang lain di dalam dadaku. Berharap ada sesuatu akan ku buat untuk merubah hatinya. Tapi, itu tidak pernah dan akan terjadi.
Olivia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu, dia menaruhnya di meja dan meninggalkan sesuatu didekat surat itu. Perlahan Olivia meninggakanku sendirian. Setelah memastikan dia benar-benar meninggalkan ku. Aku segera meraih kertas itu.
“Ini resep obatnya, jangan lupa diminum ada petunjuknya. Ku harap kau bisa baca. Ini ada uang, pergi lah cari penginapan kalau bisa pulang lah segera.” Tulis Olivia. Aku tidak percaya dia menuliskan ini lalu meninggalkan ku begitu saja. Terlebih lagi, aku seakan diolok-olok olehnya, setelah aku mengetahui dia meninggalkan sebuah cek dengan nominal yang sangat besar.
#Olivia
Aku mengetuk-ngetuk ujung bolpoin di mejaku, berharap rasa bosan ini segera berlalu dari hidupku. Tidak lama kemudian telepon di ruangan ku berbunyi. Seakan melodinya menghiburku yang sedang bosan saat ini.
“Wèi…” sapaku.
“Ibu, ada yang ingin bertemu.” Jawab resepsionisku menggunakan bahasa mandarin.
“Sudah ada janji?”
“Belum bu.”
“Ada perlu apa?”
__ADS_1
Samar-samar ku dengar resepsionisku bertanya dengan tamu itu menggunakan bahasa Inggris.
“Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan ibu.” sambungnya.
“Ya sudah. Suruh tunggu di lobi, saya akan kesana.” Jawabku singkat tanpa pikir panjang lalu beranjak dari kursiku.
Hanya butuh dua menit untuk sampai ke lantai dasar menggunakan lift. Di lantai dasar di penuhi oleh anak-anak yang sedang belajar. Setiap kelas tentu akan memiliki suasana yang berbeda. Contohnya saja yang aku lewati sekarang, ada kelas yang sunyi senyap karena sedang fokus belajar, di kelas selanjutnya penuh canda tawa—Aku tidak melewati kelas tiga, biasanya aku akan mendengarkan dentingan tuts piano dari kelas itu. Aku menyukai kelas itu, kelas musik. Penuh dengan suasana klasik. Aku sudah lama ingin mengabungkan kantor dan sebuah tempat kursus, dan jadilah seperti ini.
Kini tujuanku, Resepsionis.
Aku memberi kode ke resepsionis. Seakan bertanya yang sudah dapat diartikan dengan baik olehnya. Resepsionis itu menujuk sopan kearah seorang yang duduk menghadap keluar. Dia sedang berada di kafe mini yang sengaja disediakan sebagai ruang tunggu para tamu.
Punggung yang bidang, gaya berpakaian dan potongaan rambutnya membuatku mengetahui bahwa tamu ku adalah seorang pria. “Ni hao… Bù hǎo yìsi, nǐmen yào jiǔ děngle (Hallo. Maaf, membiarkan Anda menunggu lama). Wǒ zěnme néng bāngzhù nín ma? (ada yang bisa saya bantu?)” Sapa ku hangat ke arah punggung tamu yang membelakangiku.
Pria itu berbalik arah.
#Kenzie
Aku menatap kosong kearah taman kecil yang di tengahnya terdapat air mancur mini, sembari menunggu Olivia. Setelah ku pastikan badanku agak baikkan, aku memutuskan untuk menyusulnya. Alih-alih kabur dari rumah sakit dan segera menyusulnya ke rumah, justru aku tidak bertemu dengannya. Untung saja malaikat menyelamatkanku melalui Arum, dia memberitahukan ku alamat kantor tempat Olivia selama ini berkerja.
Suara perempuan dengan logat Mandirin membuyarkan lamunanku. Aku spontan bangkit dari tempat dudukku lalu menoleh kesumber suara. “Maaf saya tidak mengerti dengan bahasa mu. Indonesia please.” Aku tersenyum memelas.
#Olivia
Aku membeku. Menatap orang yang berada di depanku dengan tidak percaya. “Kau lagi! Kenapa kau bisa kesini?!”
“Sebelum kau bertanya dari mana dapat alamat kantor mu. Aku akan menjawab. Dari bi Arum. Hehe…” Ujarnya mulai sok asik.
Aku menghela nafas, kesal. “Huhh…Gak penting! Ada apa! Kenapa kau selalu mengikutiku.”
Ia menyodorkan paper bag ke depanku. “Shal, mantel dan uangmu. Haha, kau mengada-ada, aku tidak pernah mengikutimu. Aku hanya menyusulmu.” Aku mengambil paket paper bag itu dengan kasar.
“Umm...Thanks.” Singkatku lalu berbalik arah meninggalkan pria asing itu tanpa melanjutkan kata-kata.
Tapi langkahku kalah cepat dengan tangannya. Ia memegang pergelangan tangan ku lalu mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat ku pahami. “Kenapa kau seperti ini denganku?” Tatapan tajam itu seakan mengipnotis ku yang seketika berbalik arah karena peganggannya, aku hanya terpaku dan tidak bisa berpikir apa-apa karena tatapannya yang semakin dalam menatapku. Jatungku seketika berhenti berdetak, tatapan itu seakan membawanya kesatu tempat… tempat yang sangat curam.
Aku segera menyadarkan diri. “Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau seperti ini denganku?! Bukan kah aku sudah menawarkan beberapa hal agar kau pulang ke Indonesia. Kenapa kau malah menguntitku hah!” Rasa nyeri tiba-tiba menyerang kepalaku. “Arrgh…” rintihku pelan, spontan memegang tengkukku yang terasa semakin sakit.
“Kau lupa menghapus jejak mu—Aku mencari mu, bukan menguntit mu—Secara tidak langsung kau juga yang menuntunku bertemu dengan mu—Ah, sudah lah...” Dia tertunduk, lalu tertawa kecil. “Karena kau sudah menolongku. Balasannya, mau kah kau makan malam dengan ku? Ya sekedar mengobrol.” Dia kembali menetralkan suasana dengan senyumanya.
Argh! Aku sangat membenci senyuman orang ini!
Aku menyentak tanganku dari gegangamannya. “Apa bedanya menguntit?! Kau gila apa! Aku tidak akan berjalan dengan orang asing seperti mu—Bukannya kau harus dirawat inap?”
“Oh, ya? Surat mungil mu itu tidak memberitahu.” Dia tersenyum lagi dan lagi.
“Nǐ kě hǎo hútú wa! (kau ini sangat membinggungkan)”. Erangku kesal dan aku benar-benar meninggalkannya tanpa peduli.
Sesampainya di ruanganku. Aku segera mengirim pesan ke Adrian
™………………………………………SMS……..…………………………………………
Cepat pulang. Ada orang asing mengikutiku dari kemarin. Aku tidak suka dengannya. Pulanglah…
__ADS_1
…………………………………………….…………………………………………………….