Miracle Is Hope

Miracle Is Hope
Aku bahkan tidak melihatnya untuk terakhir kali dan aku hanya membiarkannya pergi....


__ADS_3

Aku megalami fase perubahan karena patah hati—putus asa. Bahkan tubuhku semakin mengecil saja. Ini semenjak kepulangan ku dari Beijing. Untung saja perusahaan ku tidak mengalami penurunan kinerja yang buruk karena ketiadaan ku di tempat selama kurang lebih sebulan lamanya—Aku tidak membawa pulang apa-apa kecuali rasa penyesalanku yang mendalam.


Fase perubahan hidupku berubah semenjak ku terima paket dari Beijing yang ternyata membawa dampak yang buruk bagi ku. Didalamnya terdapat ponsel berwarna putih dan beberapa surat yang terlipat rapi.


Surat yang tertulis rapi oleh tangan Adrian.


“Hi... Kenzie. Sebelumnya...Maaf kalau selama ini aku menekan mu di Beijing. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. To the point saja. Ya, aku mengakui juga mencintainya. Olivia. Nama yang sangat ku hormati dalam hati ku.


Maaf, Aku menjadi terlihat buruk dimata mu, tidak bermaksud untuk membuat hubungan kita menjadi persaingan. Aku harap kau mengerti kenapa aku seperti ini. Ini masalah mengenai kondisi Olivia, kondisi kesehatannya. Aku hanya takut aku begitu cepat bersamanya—Aku menjaganya sepenuh hati, mencegahnya untuk tidak begitu cepat pergi meninggalkan kita semua. Maaf jika aku lancang mengambil sesuatu yang seharusnya bukan aku miliki. Namun, dia begitu berharga untuk ku. Di dunia ini—Walau pada akhirnya dia masih memikirkan mu.

__ADS_1


Aku masih binggung apa yang harus ku katakan kepadamu—Sungguh aku tidak mengharapkan kehadiran mu. Begitu juga dengan Olivia—Aku tidak menyangka akan berlebihan seperti ini. Setelah mengetahui kepribadiannya, aku sangat ingin menjaganya. Menjaganya agar tidak selamanya terpenjara dalam keterpurukan yang selama ini menderanya.


Aku menyukainya. Dia memiliki kepribadian yang sangat kuat. Dia juga bukan seorang wanita yang feminim. Seperti yang selama ini kita lihat. Banyak di mata orang lain yang mengharap sesuatu yang lebih darinya. Namun jika dari mereka mengetahui tentang masa lalunya, mungkin mereka akan mundur secara cepat menjahuinya. Dan seperti itu juga dia. Dia selalu berangapan dia akan selamanya buruk karena masa lalunya, bahkan dia menganggap hidupnya sudah tidak berarti apa-apa.


Dan ketika kau datang—hanya sekedar menghukumnya dengan perkataan mu, —aku sangat marah sekali—Aku sudah memperingatkan mu. Namun tetap saja kau kukuh dengan dirimu yang seperti itu. Aku tidak mengerti dengan prisnsip mu mengenai sesorang yang tidak bisa menjaga kehormatannya. Mungkin bagimu dia adalah wanita yang kotor dan tidak pantas di cintai, di hargai bahkan di kenali. Namun aku tidak— Perinsip tidak akan mengenal orang yang begitu kotor itu, sekalipun tak pernah terlintas dikepala ku tentang prisnip itu—Ketika aku mengetahuinya, memang itu sangat membuatku sangat terpuruk. Aku berpikir lama tentang hal itu. Dan sekian lama aku menyadari bahwa itu yang menjadi penyemangatku. Menjadi acuanku. Kenapa aku bisa tergila-gila terhadapnya—Karenanya lah aku tau tentang apa itu…Cinta.


Ada sebuah Note yang dia tulisakan sebelum dia mengalami kecelakaan. Aku sengaja menyimpanya—Kau bisa mengecek di Notenya—Ada sesuatu yang aku harap kau juga mengetahuinya.


Sekali lagi. Aku minta maaf. Aku harap kita saling mengerti dan tidak bertemu lagi.

__ADS_1


........Adrian.”


Setelah membaca dengan saksama surat itu, aku langsung mengambil alih ponsel itu. Ponsel ini banyak sekali lecetnya. Aku segera memeriksa aplikasi note yang ada di ponselnya.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2